Lalu surat berikutnya:
Jadi setuju ya, aku doain kamu biar cepet punya bayi
perempuan. Tapi di doaku, aku minta yang juga bandel,
jadi bisa lebih berasa kan. hehehe :p
Tgl 12 ini aku tes penerimaan di STF. Sebetulnya aku
nggak terlalu kuatir, tapi masalahnya aku nggak tahu
bahannya apaan, jadi bingung juga musti persiapaan
apaan.
Masalah beda pendapat kan hal yang biasa Ded, apalagi
dalam pernikahan. Kunci keberhasilan dalam pernikahan
hanyalah kedua-duanya punya kemauan untuk terus
mengerti pasangannya dan berubah. That's all. Tanpa
itu, pernikahan jadi susah.
Gimana dengan tulisanmu yang jadi masalah itu? Apakah
sudah selesai? Kadang kalau aku ada masalah kritis
dalam kerjaan, aku berdoa minta Tuhan tolong, dan
sampai detik ini, selalu masalah-masalah itu selesai
dengan cara yang bahkan tidak pernah aku pikirkan.
Tuhan memang ajaib. Semoga kali ini Tuhan juga tolong
kamu sekali lagi.
Take care ya,
lisa
Lisa...
Kesedihan itu sontak menyentak
Saat kisahmu merobek hariku
Kau, seorang sahabat
Kunamakan mu demikian
Oleh karena pertautan hati
Tapi kerap kali terabai
Aku lalai pada kegalauan diri sendiri
Larut pada waktu
yang membunuh hasrat untuk merawat persahabatan
Sampai suatu ketika kabarmu itu datang
Kau pergi
Menembus batas hidup
Menemukan perhentian yang pernah kau bicarakan.
Lelahkah engkau?
Terlukakah engkau?
Kesedihan itu sontak menyentak
Kau, seorang sahabat
Kunamakan mu demikian
Oleh karena pertautan hati.
Tapi ku tak merawatnya.
Maafkan aku Lisa,..
-camar-
Monday, October 05, 2009
Surat 1
Sebuah surat lama di inbox tak sengaja terbaca-baca kembali. Ini salah satunya:
Ded, keputusan itu bukan untuk dipertanyakan, tetapi
untuk dijalani dan terus diyakini, apalagi dalam
urusan married. Keraguan tidak mendatangkan kebaikan
sama sekali, tetapi cuma membuat hati kamu bercabang
dan membuka pintu untuk banyak masalah muncul.
Bukankah semua keputusan selalu punya resiko? Jadi be
tough, dan terus jalan. Bersyukus dan nikmatilah
kehidupan kamu. Aku doain deh biar kamu cepet punya
baby. Mau kan? Pasti kamu tambah seneng :)
Seorang bayi perempuan yang imut dan lucu, tapi
bandel. Good deal, kan? Hehehe :p
Iya deh, aku doain biar kamu punya bayi perempuan
seperti itu.
Ah Lisa.. doamu ternyata ampuh
Aku kini memiliki seorang anak perempuan
Ia imut dan lucu seperti pintamu
Ia juga bandel seperti doamu
Ah Lisa..kesedihanku tak tertahan.
Di surgakah engkau kini? Seperti harapmu?
Bertemukah engkau denganNya, seperti keinginanmu?
Kau lihatkah bayiku?
Bergembirakah kau denganku waktu itu? Dan mungkin hingga kini?
-Camar-
Ded, keputusan itu bukan untuk dipertanyakan, tetapi
untuk dijalani dan terus diyakini, apalagi dalam
urusan married. Keraguan tidak mendatangkan kebaikan
sama sekali, tetapi cuma membuat hati kamu bercabang
dan membuka pintu untuk banyak masalah muncul.
Bukankah semua keputusan selalu punya resiko? Jadi be
tough, dan terus jalan. Bersyukus dan nikmatilah
kehidupan kamu. Aku doain deh biar kamu cepet punya
baby. Mau kan? Pasti kamu tambah seneng :)
Seorang bayi perempuan yang imut dan lucu, tapi
bandel. Good deal, kan? Hehehe :p
Iya deh, aku doain biar kamu punya bayi perempuan
seperti itu.
Ah Lisa.. doamu ternyata ampuh
Aku kini memiliki seorang anak perempuan
Ia imut dan lucu seperti pintamu
Ia juga bandel seperti doamu
Ah Lisa..kesedihanku tak tertahan.
Di surgakah engkau kini? Seperti harapmu?
Bertemukah engkau denganNya, seperti keinginanmu?
Kau lihatkah bayiku?
Bergembirakah kau denganku waktu itu? Dan mungkin hingga kini?
-Camar-
Tuesday, September 01, 2009
Maaf
Tadi malam air matamu terurai
Meski hanya dalam bayangan mimpi
kau tinggalkan getir rasa hati
Pada sesal ia menghakimi
Selaksa tanda seakan tak mengerti
Maafkan aku
Sekian masa ternyata tak bisa memupus rasa bersalah
Saat kutinggalkan kau
Di malam berkabut tanda tanya
Pencarian sesuatu di binar mata
Mestinya waktu itu aku meyakinkan hati
Bahwa ia masih ada di tempatnya
Tapi kubiarkan aku terdiam
Dalam hening yang merobek malam
Lalu melangkah pergi
Tanpa pernah berpaling lagi
Maafkan aku
Sekian waktu ternyata tak mampu
Memupus raut wajahmu dari bayanganku
Sebuah penyesalan
Yang tak pernah bisa kuungkapkan padamu
Meski suatu ketika
Kunikmati lagi binar mata itu
Di saat aku dan kau, tak lagi sendiri.
Maafkan aku..
Camar, 2 September 2009
Meski hanya dalam bayangan mimpi
kau tinggalkan getir rasa hati
Pada sesal ia menghakimi
Selaksa tanda seakan tak mengerti
Maafkan aku
Sekian masa ternyata tak bisa memupus rasa bersalah
Saat kutinggalkan kau
Di malam berkabut tanda tanya
Pencarian sesuatu di binar mata
Mestinya waktu itu aku meyakinkan hati
Bahwa ia masih ada di tempatnya
Tapi kubiarkan aku terdiam
Dalam hening yang merobek malam
Lalu melangkah pergi
Tanpa pernah berpaling lagi
Maafkan aku
Sekian waktu ternyata tak mampu
Memupus raut wajahmu dari bayanganku
Sebuah penyesalan
Yang tak pernah bisa kuungkapkan padamu
Meski suatu ketika
Kunikmati lagi binar mata itu
Di saat aku dan kau, tak lagi sendiri.
Maafkan aku..
Camar, 2 September 2009
Tuesday, August 18, 2009
Semasa
Semasa kubertanya,
Sebutuh apa aku padamu?
Apakah serindu hati
Menanti pertemuan senja dan malam
Waktu yang beranjak
Menggurat kisah demi kisah
Pada tertawa
atau air mata
Sehangat jemari
Terpaut
Serindu apa aku padamu
Demi kisah
atau demi waktu?
Apakah barangkali demi Cinta?
Camar
Sebutuh apa aku padamu?
Apakah serindu hati
Menanti pertemuan senja dan malam
Waktu yang beranjak
Menggurat kisah demi kisah
Pada tertawa
atau air mata
Sehangat jemari
Terpaut
Serindu apa aku padamu
Demi kisah
atau demi waktu?
Apakah barangkali demi Cinta?
Camar
Saturday, July 18, 2009
Porak Poranda Bumi Kami
Kembali tangan-tangan Nista
Memporak-poranda bumi kita
Pongah di balik topeng memuakkan
Tiada miris pada jeritan
Tangis dan teriak
Luka menganga
Tubuh menghangus
Kebisuan sangat
Meledak menjadi bau menyengat
Kutukan apa ini
Bumi kami terpuruk
Pada manusia-manusia serakah
Jiwa-jiwa terpongah
Penyakit apa ini
Tanah kami tersuruk
Pada tangan-tangan sembilu
Wajah-wajah penebar pilu
Aku tak mengerti
Nilai apa yang sepadan dengan bencana itu?
Katakan padaku
Harga berapa yang kalian tawar, untuk membeli semua itu?
Sungguh,
aku tak mengerti
Kecuali nanar pada tangis-tangis
Orang-orang yang kehilangan
Kecuali tergugu pada kesedihan sangat
Orang-orang yang tersengat
Sampai kapan?
Camar, untuk Bom di Mega Kuninganb
Mal Depok, 18 Juli 2009
Memporak-poranda bumi kita
Pongah di balik topeng memuakkan
Tiada miris pada jeritan
Tangis dan teriak
Luka menganga
Tubuh menghangus
Kebisuan sangat
Meledak menjadi bau menyengat
Kutukan apa ini
Bumi kami terpuruk
Pada manusia-manusia serakah
Jiwa-jiwa terpongah
Penyakit apa ini
Tanah kami tersuruk
Pada tangan-tangan sembilu
Wajah-wajah penebar pilu
Aku tak mengerti
Nilai apa yang sepadan dengan bencana itu?
Katakan padaku
Harga berapa yang kalian tawar, untuk membeli semua itu?
Sungguh,
aku tak mengerti
Kecuali nanar pada tangis-tangis
Orang-orang yang kehilangan
Kecuali tergugu pada kesedihan sangat
Orang-orang yang tersengat
Sampai kapan?
Camar, untuk Bom di Mega Kuninganb
Mal Depok, 18 Juli 2009
Kembalikan Sekolah Kami
Dengan cara apa kurawat kenangan di gedung tua itu?
Bila tanpa bicara ia akan menjadi sebuah sisa-sisa?
Tangan-tangan kukuh membenamkannya
Ke dalam perjalanan waktu yang sombong
Seakan kemajuan zaman
Tak lebih dari sehasrat perut
Kudengar jeritan mereka
Kaum putih abu-abu
Terhimpit seng suram
Berteriak parau
Di siang yang kelabu
“Kembalikan sekolah kami!”
Kenangan mungkin tak cukup untuk merawat sebuah gedung tua
Tapi keinginan belajar tentu lebih dari cukup
Untuk mengharapkan si gedung tua tetap ada di tempatnya..
Maka di sinilah kami berteriak
Pada pemilik perut sehasrat nista
Pemilik duit serakah belaka, CIH!
Dengan tangan terkepal
Tinju menembus langit
Tanpa air mata
Tanpa penyesalan
“Kembalikan sekolah kami!”
camar untuk SMA Negeri 4 P.Siantar yang tergusur ruislag jadi hotel dan mal.
Mal Depok
Bila tanpa bicara ia akan menjadi sebuah sisa-sisa?
Tangan-tangan kukuh membenamkannya
Ke dalam perjalanan waktu yang sombong
Seakan kemajuan zaman
Tak lebih dari sehasrat perut
Kudengar jeritan mereka
Kaum putih abu-abu
Terhimpit seng suram
Berteriak parau
Di siang yang kelabu
“Kembalikan sekolah kami!”
Kenangan mungkin tak cukup untuk merawat sebuah gedung tua
Tapi keinginan belajar tentu lebih dari cukup
Untuk mengharapkan si gedung tua tetap ada di tempatnya..
Maka di sinilah kami berteriak
Pada pemilik perut sehasrat nista
Pemilik duit serakah belaka, CIH!
Dengan tangan terkepal
Tinju menembus langit
Tanpa air mata
Tanpa penyesalan
“Kembalikan sekolah kami!”
camar untuk SMA Negeri 4 P.Siantar yang tergusur ruislag jadi hotel dan mal.
Mal Depok
Tuesday, March 31, 2009
R-I-N-D-U
Aku rindu
Pada sebuah masa
Bertiup angin petang
Cerita yang terujar
Menafi waktu dan keadaan
Juga padamu
Camar, 31 Maret 2009
Pada sebuah masa
Bertiup angin petang
Cerita yang terujar
Menafi waktu dan keadaan
Juga padamu
Camar, 31 Maret 2009
Friday, March 27, 2009
Teriakmu
Kudengar teriakmu
Menyelusup dari keindahan yang sirna
Sekejap malam
Menabur kematian
Sungguh tiada kukira
Permukaan yang tenang
Gemericik tepian
maupun senda burung-burung siang
Menyimpan amarah terpendam,
Kau tumpahkan pada fajar menjelang
Kau telan tak pandang siapa
Di saat mereka
sedang larut dalam lelapnya
Teriak-teriakan itu laun parau
Menangisi jasad-jasad diam
Mungkin tak sempat menitip pesan
apalagi berkata cinta
Camar
untuk Situ Gintung, Jumat 27 Maret 2009
Menyelusup dari keindahan yang sirna
Sekejap malam
Menabur kematian
Sungguh tiada kukira
Permukaan yang tenang
Gemericik tepian
maupun senda burung-burung siang
Menyimpan amarah terpendam,
Kau tumpahkan pada fajar menjelang
Kau telan tak pandang siapa
Di saat mereka
sedang larut dalam lelapnya
Teriak-teriakan itu laun parau
Menangisi jasad-jasad diam
Mungkin tak sempat menitip pesan
apalagi berkata cinta
Camar
untuk Situ Gintung, Jumat 27 Maret 2009
Sunday, March 15, 2009
Ulang Tahun
Seandainya bisa..
Aku ingin perayaan itu ada
Lalu melupakan sejenak
Kenyataan yang ada
Tapi yang nyata itu
terlalu menyakiti hati
Hingga ku tak yakin
Bagaimana kita bisa beria-ria?
Tapi walau bagaimana pun,
Selamat ulang tahun adikku..
Teruras sudah rasa itu kemarin
Hari ini aku ingin kau tertawa
Camar
Untuk Roni
Aku ingin perayaan itu ada
Lalu melupakan sejenak
Kenyataan yang ada
Tapi yang nyata itu
terlalu menyakiti hati
Hingga ku tak yakin
Bagaimana kita bisa beria-ria?
Tapi walau bagaimana pun,
Selamat ulang tahun adikku..
Teruras sudah rasa itu kemarin
Hari ini aku ingin kau tertawa
Camar
Untuk Roni
Subscribe to:
Posts (Atom)
