-- Sampai kapan? Cinta
* Sampai memutih rambutmu
* Sampai bibirmu kelu di ujung nafas
* Sampai tenagamu sirna dari belulang tua
* Sampai kau tak mampu lagi berkata, selain menyebut namaKu
-- Mau kah Kau menjagaku, sampai ketika saat itu tiba dan aku tersenyum, bukan meradang dan terhimpit sesal?
* Mau..
-- Karena itu, hari ini. Tolong maafkan aku.
* Baiklah, bukankah kemarin-kemarin selalu begitu?
-- Ya, aku tau. Aku memang bebal. Tapi, detik ini juga. Maafkanlah aku.
* Baiklah. Sudah. Dari tadi, bahkan, sebelum kau bertanya.
-- Terima kasih. Sungguh. Juga seperti sebelumnya, karena kutahu Engkau pasti begitu.
(bicaradalamdiam, 14 Maret 2011) Buncit-75
Terbanglah Camar, Terbang!
Ketika Terbang adalah untuk Terbang
Wednesday, March 14, 2012
Thursday, December 22, 2011
Besok Natal
Besok Natal, aku masih sibuk belanja.
Besok Natal, aku masih sibuk mempersiapkan jamuan malam.
Besok Natal, aku masih sibuk dalam perayaan demi perayaan.
Natal bukan pesta dan jamuan.
Natal adalah malam perpisahan.
Natal adalah ketika bagian terkasihmu direlakan pergi menuju kefanaan.
Sungguh, karena Cinta sahaja. Maka pada Natal, tak semestinya aku berpesta pora.
Besok Natal, aku masih sibuk mempersiapkan jamuan malam.
Besok Natal, aku masih sibuk dalam perayaan demi perayaan.
Natal bukan pesta dan jamuan.
Natal adalah malam perpisahan.
Natal adalah ketika bagian terkasihmu direlakan pergi menuju kefanaan.
Sungguh, karena Cinta sahaja. Maka pada Natal, tak semestinya aku berpesta pora.
Wednesday, November 09, 2011
Selamat Tinggal, Selamat Datang
Seperti bandul raksasa
Menggelantung di kaki
Sehingga langkah tersaruk
dalam perih yang tersirat
Ingin kuungkapkan, tapi
nanti kau bilang aku cengeng
Sedang, aku tak malu bila mau menangis
Tapi baiklah
Mungkin air mata terlalu murah
untuk menceritakan sebuah garis
yang kugores dalam permukaan daun talas
Agar sengkarut bulir air
Menemukan tempat untuk berarti
Atau maukah kau bantu aku
Menorehkan luka di permukaannya
Luka yang tak membikin perih
Maka, di sini
kuseret diri melangkah
Dengan menengadah ke langit
Bahwa pertandaNya sudah tiba
Inilah saatnya
Inilah waktunya
Dengan gumam dalam bisik
meyakinkan hati
Sudah selesai
Tetelestai satu perjalanan
Bermulalah yang lain
Pada mulanya adalah percaya
Maka terpisahlah yang samar dan kabut
dengan terang benderang
Selamat tinggal
Selamat datang
7312, kantorku 10 November 2011
Label:
kabut,
percaya,
puisi,
samar,
tetelestai
Wednesday, October 26, 2011
Sayangku
Sayangku.. Lipurlah laramu. Demi cinta yg debarnya kupertahankan di gantungan langit.
Ke langit, aku terhujam. Untuk kau nikmati meski kabut menghantam. Aku tetap di sana
Biarkan cinta terawat. Bintang yg tumbuh menjadi kerlap. Indahnya tiada terlewat
Maafkan, jika meragu kau. Dengan hasrat yang terendap kala. Pun hasrat ini tak pernah berganti tempat dengan kehampaan.
Maka biarkanlah kutitian waktu, sampai nanti tiba kugumuli nafasmu dengan waktu yg diam.
Tunggulah, di beranda malam. Sampai tiba nanti beradu siang yg hangat dan tubuh yg panas.
Ke langit, aku terhujam. Untuk kau nikmati meski kabut menghantam. Aku tetap di sana
Biarkan cinta terawat. Bintang yg tumbuh menjadi kerlap. Indahnya tiada terlewat
Maafkan, jika meragu kau. Dengan hasrat yang terendap kala. Pun hasrat ini tak pernah berganti tempat dengan kehampaan.
Maka biarkanlah kutitian waktu, sampai nanti tiba kugumuli nafasmu dengan waktu yg diam.
Tunggulah, di beranda malam. Sampai tiba nanti beradu siang yg hangat dan tubuh yg panas.
Monday, June 27, 2011
Maafkanlah
Kau memintaku merangkul ingatan,
Meski ia terasa di sekujur badan
Tapi luka hati terpukul kala
Karena kita tak lagi serupa
Maafkanlah..
Enyahkanlah aku dengan cinta
yang wujudnya takkan nyata
Meski kuakui, tergugu
Terhenyak aku dihimpit hasrat
Angin dari lereng Singgalang
masih punya cerita lama
Di naungan pepohonan rimbun
lalu tergerus deras sungai Sianok
jejak yang kita tinggalkan
Masih, semua masih tersimpan sayang
Di sudut terbaik.
Tapi mungkin tak bisa diuras
Karena kita melangkah
Di jalan yang berbeda.
Maafkanlah
Meski ia terasa di sekujur badan
Tapi luka hati terpukul kala
Karena kita tak lagi serupa
Maafkanlah..
Enyahkanlah aku dengan cinta
yang wujudnya takkan nyata
Meski kuakui, tergugu
Terhenyak aku dihimpit hasrat
Angin dari lereng Singgalang
masih punya cerita lama
Di naungan pepohonan rimbun
lalu tergerus deras sungai Sianok
jejak yang kita tinggalkan
Masih, semua masih tersimpan sayang
Di sudut terbaik.
Tapi mungkin tak bisa diuras
Karena kita melangkah
Di jalan yang berbeda.
Maafkanlah
Label:
maaf,
puisi,
Sianok,
Singgalang
Subscribe to:
Posts (Atom)