Tuesday, December 16, 2003

Teng-teng-teng
Lonceng berulang kali
sayup membelah fajar
penanda pagi hari itu..

Jauh kini terdengar
lonceng yang sama berdentang
Bagai pagi berganti siang
Waktu yang takkan kembali

Terkenang aku pada dentang senada
Ketika malam hanya bersama segelintir manusia
Mereka berjaga.. menanti sebuah kelahiran
Mbeeeeee... rupanya ada sekelompok domba dan kambing
Malam itu di sebuah kandang
Mereka sepasang ayah dan bunda
Gembala miskin dan trio pedagang dari timur..
Malam itu bintang bertabur bagai tertawa
Sebuah kerlipnya begitu kentara

bulan ini...
Malam-malam dipaksa serupa
Kandang binatang dipoles sedemikian rupa..
Kumuh memang, tapi kehilangan bau khasnya.
Dan kemana para kambing dan domba?

Malam-malam dipaksa syahdunya..
Bersama kidung-kidung bikinan manusia..
Tak lain cuma sekumpulan nada
merunut menyatu menjadi sebuah syair..
Syair yang entah mengapa
Melupakan makna kehadiranNya.

Malam-malam itu tak lagi sepi..
Di pusat perbelanjaan.. malam itu bertabur diskon
"Sale 70 % off!"
Di pasar-pasar bertabur wewangian bumbu dapur dan kue
"Mentega-menteganya.. mumpung murah!"

Malam-malam itu tak lagi senyap dan sunyi..
Di Gereja ada nyanyian dan tari
Di Gedung lain ada pagelaran dan upacara
Di rumah-rumah ada petuah dan sendawa

Duh, sedihnya..
Rasanya malam yang kudus itu
Hanya seperti pucuk cemara
Tumbuh berkembang lalu melupakan batangnya

Malam kudus itu hanya belaka upacara,
senandung dan belanja
Sedang Dia yang menjadi manusia
Kerap terlupa...

Kupandang langit angkasa
Rupanya para bebintang masih bertabur setia
Kerlipnya pun masih serupa
Pertanda harap itu masih ada

7312, kantorku. 15.02 WIB



Friday, December 05, 2003

SHAKHAH

Aku tersungkur
Ketika Engkau menyeru Dunia
Lututku goyah
Tak sanggup menahan diri
Dan Shakhah...
Tuhan... Aku tergugu

Mentaripun jatuh ke pelukan bumi
Gelap.. tiga jam bersama pekatnya
Tetelestai kataMu
Dan Shakhah aku..
Tak sanggup menahan diri..
Tuhan aku menangis

7312, kantorku. 01.13

Tuesday, December 02, 2003

Tiga kata untukmu
Aku Sungguh Mencintaimu

Mungkin kerap bahasa yang harap terucap
Namun bisu yang kau dengar

Tetapi sayangku..
Cinta milikku
Tak perlu kau nilai dengan bahasaku
Karena debarnya
dan hangatnya
Bukankah selalu ada bila kau perlu?

Pagi ini tiga kata untukmu
Aku Sungguh Mencintaimu

7312, kantorku, 10.09

Monday, December 01, 2003

Maafku Untukmu

Mungkin masanya telah berlalu
Tapi bagiku berharap belum terlambat

Karena dari lubuk hati
Ada ujaran yang membuncah
Rasa sesal dan malu
Bahwa terlalu banyak nestapa kau alami

Sebabnya barangkali
Terucapkan melalui mulut ini
Terlakukan melalui bahasa tubuh
terpikirkan dan dihasratkan hati
Entahlah.. rasanya terlalu banyak..

Maafkan aku...

7312, kantorku, 10.21

Monday, November 24, 2003

I Will praise You (Ode untuk Rina dan Triana Sihombing)

Kemarin aku mendengar
Mereka bercerita tentang ayahmu
Rupanya terbaring kembali ia kini
Menghela nafas lambat
dari deru jantung yang memburu

Aku bisa mengerti
gundah hatimu kini
"Tuhanku.. tolonglah Bapakku!"
pintamu selalu

Tapi sahabatku
Kemarin juga ada sebuah dendang
menari di kedalaman hatiku
Tentang kepasrahan
Tentang kesetiaan

My life is in You Lord
My Strength is in You Lord
My Hope is in You Lord
In You is in You

I will praise You with all of my heart
I will praise You with all of my strength
with all of my heart
with all of my strength
Lord my life is in You


Aku yakin
Dipintanya kau berserah hari ini
Bahwa hidup ini
sesungguhnya hanyalah sebuah pemberian
Dan perjalannya sampai pada akhir
hanyalah sebuah anugerah

7312, kantorku, 10.05 WIB

Thursday, November 20, 2003

Tuhanku

Malam berselang pagi
saat gundah melanda dan nyeri
Kutanya diri dan tak kutemu jawabnya
"Di mana haru engkau kini?"

Guruku

Pagi berselang siang
Saat lupa ingatan ini
Mana yang boleh dan mana yang tidak
Rupanya waktu memburu
dan aku pun larut
bagai embun menguap
dan kabut yang tersaput mentari

Allahku

Siang berselang malam
Pun kurebahkan jasad hidupku
Lelah mengitari roda hidup hari ini
Dan aku lupa bersyukur padaMu

Maka aku kian ragu
andai langit dan bumi berakhir
Di mana aku?

Tuhanku,
Kusebut Engkau dalam nyanyian pagi siang dan malam
Tapi lalai aku nikmati
Indahnya berjuang mendapatkan hidup yang menyebut NamaMu

7312, Kantorku, 20.22


Saturday, November 08, 2003

Hari ini, ada enam nyawa lagi yang meregang..

Tadi malam mereka tertidur nyenyak
Mungkin mimpi mereka indah
siapa tahu?
Atau mungkin saja mereka berharap hari ini
Ada sesuatu yang diharapkan indah
dan terus membuat mereka tertawa.

Tadi malam ada cerita..
"Akan kusapa si Monik, teman sekelasku. Hari ini aku sudah membuatnya marah.." tutur Immanuel (7 tahun) dalam hati, di tangannya tergenggam mainan baru, robot-robotan. Murid kelas 1 SD Negeri 03 Lebak Bulus itu baru saja mencoba menanam benih persahabatan di sekolah barunya..

"Kalau aku ingin membeli sebuah kado Natal untuk mama. Mama kan mau pulang dari Amerika bersama papa dan dua adik," ujar Andhika, si sulung yang sedang duduk di kelas 6 sekolah yang sama.

"Baiklah-baiklah... sekarang kalian tidur, besok pagi nenek akan membuatkan sarapan yang sedap," kata Evie Kawet, sang nenek.

Sejurus ada ketukan halus di pintu. Rupanya ada dua gadis manis yang tiba-tiba mengetuk pintu malam itu. "Tante, mama ada?"

"Ada, masuk saja. Kalian menginap kan?"

Kedua gadis berkulit putih itu mengangguk. Seperti biasa, mereka menginap menemani ibunya, Wies (48 tahun) teman sekampung si nenek. "Dan seperti biasa, tolong kalian antar Imanuel dan Andhika besok ya," pinta si nenek. Lagi keduanya mengangguk.

Dan malam itu pun berlalu, seiring mimpi mereka masing-masing.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Saat malam belum beranjak pagi benar. Si Jago Merah pun melahap mereka satu per satu. Hanya menyisakan si kecil, Tabitha, yang sempat diselamatkan tetangganya. Dan malam yang tadinya bersaput harap, menjadi malam jahanam.

Tadi siang aku ada di bekas kematian yang masih membayang itu. Tak ada lagi bau sangit daging terbakar. Tapi sayup teriak mereka masih terdengar dihantarkan angin yang bertiup. Mungkin yang tampak cuma puing. Tapi di sana ada harap yang tertinggal.

Duh Tuhan.. Andainya bisa, akan kubawa selalu harap ini. Tidak tertinggal lalu terbuang, saat aku menjemput mautMu.

Kantorku, 7312. 18.30

Thursday, November 06, 2003

Ngomong-ngomong tentang sejarah.

Rupanya baru-baru ini aku ketemu dengan pohon sejarahku yang lain.
SMP Negeri 1 Pematangsiantar, SUMUT.
Sebuah sekolah tua di kota yang juga tambah tua.

SMP itu bicara banyak hal buatku.
Tentang cinta monyet yang kukejar
Namun kelak redup bagai putri malu
Tentang mimpi seorang penggalang
yang kurengkuh habis tiada sisa..
Aku menyebut diriku beruntung kala itu..

Tentang teman-teman masa muda
Kami bicara tentang cinta, lagu, komik, novel, dan tenda.
Atau tentang harap yang tak kunjung tiba..
suatu kali berharap terbang ke benua lain
namun kandas karena itu cuma mimpi.

Suatu malam, seorang teman menelepon.
Lalu semua kenangan tiga tahunan itu pun melintas
Bagai rol film dengan motor otomatis, kecepatannya 10 frame per detik
Atau kalau mau dilebihkan
seperti putaran film bioskop..

Mencoba menyadari bahwa itu semua tinggal sejarah..
Tapi kubenarkan, kenangan itu tak milik sejarah
Itu milik hari ini, besok, dan mungkin selamanya..
Tanpa itu mungkin aku takkan utuh menjadi manusia.

SELAMAT DATANG TEMAN DARI MASA LALUKU

Setneg, 7312. 10.00 WIB

Tuesday, October 28, 2003

(Untuk Mahdi dan Fatih Gama)

Sejarah adalah pohon
Meninggi meninggalkan yang lalu menjadi yang baru
tunasnya adalah hari esok
tangkai, batang, dan akarnya adalah kemarin

Seorang teman pun kini menjadi sejarah di kantorku
Sebuah defenisi institusional, memang.

Tapi, ya.. itu tadi. Sejarah adalah pohon
Keberadaannya adalah hari kemarin
Tapi hari esok,
masih ada denyut kehidupan yang sama
Bahwa yang kemarin itu adalah juga hari ini
dan hari esok, dan sampai pohon itu mati
Lalu tak ada lagi sejarah, tak ada pohon

Ketika itu, manusia menjadi tiada

Selamat jalan sobat. Selamat menanam sejarah di tempat lain
sebagaimana dirimu menjadi sejarah di tempat ini
Dan yakinlah, pohon itu belum tumbang dan mati
sehingga tetaplah persahabatan kita.

7312, Kantorku

Thursday, October 23, 2003

Dari Bali Bersama George Bush

Denpasar - Luar Biasa! paranoid! itulah kesan yang bisa disimak saat kedatangan Presiden Amerika Serikat George W Bush ke Denpasar, Bali, Rabu (22/10). Kunjungan sih cuma tiga jam, tapi pengamanannya itu, ALAMAK!

Contoh saja untuk wartawan. Total ada empat titik pemeriksaan yang mesti dilewati mulai dari luar komplek Bandara Ngurah Rai hingga ke Hotel Patra Bali yang tak jauh dari bandara. Bandara sendiri nyaris "tertutup" untuk umum sejak pagi.

Pemeriksaan awal jadi miliknya polisi lalu lintas. Dilakukan di pertigaan jalan raya menuju Bandara. \"Mau kemana mas? oh wartawan,\" kata seorang Polisi. Tak jauh, giliran puluhan anggota Gegana Polda Bali yang ambil alih. Tak cuma isi tas dan pemeriksaan badan, tapi sampai bagasi motor pun tak luput dari penciuman polisi.

Di gerbang Hotel, ada pemindai logam dan pemeriksaan isi tas yang ke dua kalinya. Sampai disini, perlu tanda pengenal khusus yang dikeluarkan oleh sekertariat Presiden RI dan tanda pengenal khusus dari pemerintah Amerika Serikat. Bila lolos, sebuah stiker putih kecil bertuliskan //\"security checked paspampres\"// pun ditempelkan di tas bawaan. Nafas bolehlah sedikit lega, pasalnya kemudian ada jamuan santap pagi kecil-kecilan di restoran. Lumayan melepas lelah, sehabis bekerja tak putus sejak kemarin.

Tak lama sekitar pukul 10.00 WITA, sejam sebelum kedatangan Bush, para wartawan pun digiring menuju tempat \"karantina\", sebuah bungalow kecil di bagian barat komplek. Tepat di depannya terbentang pemandangan lautan lepas

Tapi tunggu dulu, sebelum "Istirahat" di bungalow berlabel //\"press pool\"// itu, wartawan harus melewati dua pemeriksaan lagi. Pertama, mencocokan nama, foto, dan data yang dimiliki petugas keamanan Amerika yang berasal dari pasukan //Secret Service// (SS). Kedua, mengulangi tindakan pertama sesaat sebelum melewati pemindai logam dan pemeriksaan badan satu-persatu.

Sebelumnya seluruh bawaan sudah dipisahkan ke satu tempat dan diendus oleh beberapa ekor anjing milik pasukan SS. Rupanya label security checked itu tak ada gunanya. Seorang anggota paspampres sempat berkeluh kesah. \"Kesannya mereka tidak percaya dengan kita,\" kata dia dengan mimik serius. Betapa tidak, ditengah terpaan panas yang menggigit dan keringat yang mengucur deras, petugas lokal hanya kebagian tugas mengamati thok.
Ditengah pemeriksaan, seorang anggota SS, sempat meminta maaf atas pemeriksaan yang sangat ketat itu, apalagi ditengah terpaan panasnya matahari kota Denpasar. \"Maaf, kita juga sama-sama kepanasan,\" kata pria berbadan kekar itu. Rupanya kulit muka, kepala, dan lehernya mulai memerah.

Lepas dari pemeriksaan yang terasa berlebihan itu, para wartawan pun di \"karantina\" dan dilarang keluar masuk. \"Pintu jangan dibuka, oke!\" kata seorang anggota SS dengan nada agak marah, ketika seorang wartawan membuka pintu kaca yang menghadap pantai.

Paranoid tidak?

Friday, October 17, 2003

Dari Depok ke Kebayoran

Menjelang larut, malam 16 Oktober
Selamat malam cintaku
Kutinggalkan senyummu di balik asap knalpot
"Selamat tidur," kataku. Dan kau pun tersaput
Gelap yang kujelang dan gelap yang kubiarkan bersamamu

Sehabis hujan malam ini
Anginnya menusuk jaket yang tak terlalu tebal
Kupacu deru si dua roda
Tapi tak perlu hingga menyipit mataku.
Biar perjalanan ini kunikmati
Bersama ribuan bola lampu
temanku satu jam nanti

**
"Ups... KURANG AJAR TAXI
Mbelok sembarangan. Tak punya otak kau!
Bung.. biar ini Jakarta, aku masih sayang nyawa!"
**

Kok jalan ini sepi? Tumben tak kulihat
lelaki yang malu menjadi lelaki?
Biasanya mereka menyembul
dari permukaan taman jejualannya Bang Penjual Bunga
Perempatan Cilandak tak seperti biasanya..
"Singgah mas?" kata mereka selalu,
bila ada yang melambatkan laju.
Berharap besok dia bisa makan.
Tapi tak satu pun ada
Ah mungkin semua sudah laku...

**
Eits... Hampir saja.
Wah dua kali nih. Harus konsentrasi rupanya
Tak berharap malam ini menjadi jahanam
Dan perjalanan berujung di atas sprei putih
Ya Tuhanku Aku Hendak Bermazmur BagiMu.."
**

Rupanya hampir tiba...
Lalu sepeminum kopi.
Hai... apa kabar?
Lalu mulailah kutulis....
"Dari Depok Ke Kebayoran"
"Menjelang larut, malam 16 Oktober...

7312, kantorku. 02.14

Tuesday, October 14, 2003

Kutinggalkan kau dengan sejuta tanya
Aku pun melaju menembus keramaian
Padatnya jalanan ibu kota pagi tadi

Hallo... berita pagi ini
Ibunda Bapak Presiden meregang nyawa
Ya Tuhan ampuni dosanya

Andai saja kutiba di persimpangan
lalu bermasalahlah motor tuaku
Dik, mengapa tak kuajak kau menemaniku
Menikmati keringat yang bercucuran
Ternyata menuntun motor berat juga...
Seperti dulu..

Rupanya hari ini berpihak padaku
Tapi meski tuntas perjalananku
Ingatan pada dirimu masih membekas
Karena kutinggalkan kau dengan sejuta tanya
Menembus keramaian ibu kota pagi tadi

7312, kantorku, 09.52

Friday, October 10, 2003

Mama, Papa, katakan
padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?

Michael, "Tulang Rusuk"

Ketika cinta menjadi tanda tanya
Maka takkan pernah ada tawa

Kurenggut perhatianmu sedaya upaya
Namun kau berpaling dan menepis haruku

Duhai ibu-ibu dari harapanku
Melambatnya malam berbintang
pun tak membuat dirimu memesonaku
Katakan padaku, bagaimana caranya memeluk landak?

duhai ayah-ayah dari kerinduanku
Meronanya bunga-bunga seabad
pun tak membuat dirimu wangi terhidu
Katakan padaku, bagaimana caranya memeluk landak?

Maka, ketika cinta menjadi tanya tanya
Takkan pernah ada tawa

Kubiarkan dirimu sendiri lalu tertinggal tanya
"Mengapa cintaku kau anggap sepi?"
Kujawab, "Bagaimana caranya memeluk landak?"

Dan kaupun sepi, aku pun bisu
Sejak kemarin...

7312, kantorku. 09.40

Wednesday, October 08, 2003

-- "Bener kan? Apa kataku? Tomy gitu lagi."
++ "Tapi Tomy nggak gitu deh!"
-- "Gile Lu! Lo orang Tomy ya?"
++ "Enak aja!"
-- "Sialan!"

Malam ini, kegelisahan itu kian menguat. Kapal kami kini berada di tengah gelombang.
"Bagi yang merasa sulit, tak haram memilih untuk pindah kapal," demikian Sang Nahkoda di hadapan ratusan ABK.

-- "Tuh kan? Tomy lagi gara-garanya semua."
++ "..."
-- "Rasionalisasi nggak ya?"
++ "Perampingan saja."
-- "Yang mana?"
++ "..."
Mengejutkan dan mendebarkan!

Kabarnya TEMPO sedang goncang.
Ada apakah?
Inikah sebabnya sehingga di kantor
Ada penghematan habis-habisan?
Mudah-mudahan semua hanya karna Tomy
++"Kayaknya Tomy nggak gitu deh!"
--"Hush! Siapa ngomongin cowok, Tomy lagi." :-)

Friday, October 03, 2003

Dua lelaki dengan dua pistol di tangan

++"Aku atau kau yang mati?"
--"Tidak! Kau saja!"
++"Jangan! Kau saja!"
--"Bagaimana kalau sama-sama kita mati? Lalu kita saling bercerita tentang kematian?"
++"Oke! Satu... Dua.... Ti.... Ups."
--"Kenapa?"
++"Kau saja yang hitung!"
--"Kau saja!"
++"Kau saja!"
--"Bagaimana kalau kita sama-sama menghitung?"
++"Baik, ayo mulai!"
--"Satu.." ++"Satu.."
--"Dua.." ++"Dua.."
--"Tiga.." ++"Ti.."
--"..." ++"Ga... :)"
==================
7312, Kantorku, 02.25

Tuesday, September 30, 2003

Besok menurut rencana, Kantor Koran Tempo akan disita
menyusul rumah Sang Dedengkot, Gunawan Muhammad, beberapa hari yang lalu.
Tiba-tiba saja aku ingat sebuah ujar-ujar dari Khopingho. Kira-kira begini bunyinya:

Hidup! Betapa penuh rahasia,
manusia tenggelam timbul
dalam permainannya,
terhimpit di antara suka dan duka,
matang mengeriput di antara
tangis dan tawa.


Selalu mengejar kesenangan
selalu menghindari ketidak-senangan
menimbulkan perbandingan
dan pilihan oleh dwi unsur (im-yang)
manusia dipermainkan.


Mengapa suka?
mengapa duka?
mengapa mengejar kepuasan?
mengapa menghindari kekecewaan?


Hadapilah semua ini
dengan kewaspadaan wajar dan murni,
tidak menolak tidak menerima
hanya memandang apa adanya!


Asmaraman Khopingho, "Dewi Maut"


Tapi di hati kami
Kini hanya tertinggal tanya. "Masih mungkinkah memandang semua apa adanya?"
Tak menolak dan menerima? Ketika sebuah harga diri jadi barang tak berharga?
Entahlah..

Friday, September 26, 2003

TIba-tiba saja kemarin aku teringat lagi falsafah hidup Sang Camar.
"Siapa yang terbang paling tinggi, dia melihat paling jauh"

Rasa-rasanya terbangku kali ini datar-datar saja.
Menyusuri pantai dengan terbang rendah, kian tak punya arti
padahal untuk melakukannya
aku mesti merentang sayap
sehingga desau angin bagaikan bisikan di telingaku

Ah iya...
Semangat itu ternyata sedang surut
hampir saja aku seperti camar lain
terbang untuk makan saja.

Aku harus terbang tinggi lagi
dengan sayap rajawali
hingga tiba di kaki langit
Dan menjadi sempurna

7312, kantorku. 09.43

Friday, September 19, 2003

Wahai...
tiba-tiba saja penangkapan sejumlah orang muslim menuai protes bertubi-tubi

"Mematikan demokrasi," kata salah satu ormas Islam.

Aku hanya bertanya dalam hati, "Demokrasi macam apa?"

Wahai.. mohon maaf. Saya tak bermaksud menghakimi
bahwa yang ditangkap itu adalah teroris.
Hanya saja, biarlah waktu yang menentukan.
Betulkah mereka aktivis? Atau sekalangan
dengan seseorang yang setelah menghabisi ratusan nyawa
lantas tertawa dan mengacungkan jempol itu.

Hanya saja, tolonglah beri pencerahan. Demokrasi macam apa yang hendak dibela?
Pikiran awamku cuma sebatas mengangguk. Tolong jangan salahkan
bila ada rasa yang membara. Saat agama dipakai acuan
Untuk membunuh perbedaan.

Apabila polisi memang salah langkah, bukankah ada perangkat hukum untuk membatasi?
Bila memang polisi kesusu, bukankah ada rakyat yang menengahi?

Hahahahahahah
Kadang aku cuma bisa tertawa.
Sebab ternyata tak banyak orang yang menangis.
saat ratusan orang kehilangan nyawanya.
Tak banyak pula orang tercenung
ketika erangan tak putus-putusnya
Aku tak tahu, apakah masih banyak yang ingat
Tangis yang menyayat, sanak yang tertinggal.
Duh, Tuhan... cepatlah datang!

Kantorku, 7312. 08.34

Wednesday, September 10, 2003

Kekasihku

Cinta tak memberiku kesempatan bernafas
Helaannya adalah getar-getarnya
Ketika kucoba membelai rambutmu tadi malam
Dan kau terlelap

Cinta juga tidak memberi aku kesempatan menatap
sapuan mata adalah lukisan derunya
Saat kukecup tepian telingamu tadi malam
dan kau tetap bermimpi

09.30, Setneg. 7312



Monday, September 01, 2003

PARMALIM
Tentang masa lalu

Gerbangmu kunantikan. Masa lalu
menjadi masa kini lewat gerbang yang kunantikan
batasnya tipis, setipis selaput bola mata kita
bening dan bagai teraba meski jauh
dan entah dapat atau tidak kita meraihnya

Alkisah..
Sang kekasih merentang jarak
air mata menjadi penanda rindu
batasnya ingin disobek
dihancurkan, hingga tak ada lagi masa
namun, kematian adalah kematian
pun saat hidup tak lagi berdian

Lalu, rasanya sang kekasih bagai tak pergi
wanginya tercium bagai tadi
senyumnya tertinggal bak abadi
Hingga, yang di masa kini merasa perlu menjaga
wangi dan senyum menjadi dupa sesembahan
"TELAH KUROBEK TIRAI MASA, SAYANG!"

PARMALIM pun menjadi ada
ketika Tuhan disebut tuanku
Katanya,
"Dalam hening sendu, kusebut NamaMu
Wujudmu kusepuh dalam arca kuburku
Hingga kurasa tentram dunia baruku
Dan ku berbahagia dengan kekasihku
Di dunia lamaku, dia menjemputku
lewat selaput bola mata. Tipis tuanku"

7312, kantorku. 02.38 1 Sept. 2003

Tuesday, August 26, 2003

ANTARA ANAK DAN BAPAK

Bertanya anak pada bapaknya.
"Mengapa tak pernah kurasakan peluk ciummu?"
"Ketika malam berlabuh di pantaiku, perahu cintamu masih berlayar
entah dimana"
"Kulemparkan sauh tambatan hatiku, namun wujudmu tak tampak
hingga ku cuma menatap gelap lekat-lekat"

*******

"Anakku, perahu bapakmu masih berlayar
wujud pengabdianku belum cukup hingga aku malu
untuk melabuhkan cinta milik kita"

*******

Bertanya putra pada ayah
"Mengapa tak pernah kurasakan harumu?"
"Ketika penatku tiba, setelah kuhajar si Dudi karena berani
mengganggu si Tessy, perempuan yang mengganggu hasrat kelakianku"
"Kupikir kelelakian kita punya bilik kenangan serupa"
"Entah ayah pun bercinta dengan cara yang sama dengan ibu?"

*******

"Anakku haruku kusimpan, bila telah tiba saatnya air mata tak tertahankan
Mungkin ketika rupaku beranjak tua dan aku membutuhkanmu"

*******

"Ah ayahku... " ********


Kantorku, 20.20 WIB, 7312

Tuesday, August 19, 2003

MERDEKA!

Akhir pekan kian semarak
Merah putih bak ganti seluruh warna. Semua setuju
Dan sedari pagi, riuh rendah perayaan tak habis
hingga petang pun menjelang, riang hari ini pun dibawa pulang

MERDEKA!!
Pekik mereka ketika moncong senjata masih hangat
entah membedil siapa
namun ada rasa bangga. "Kubunuh satu musuh, kudapatkan setitik harap"
Kala itu, mereka memimpikan sebuah kebebasan.
Dari ketertindasan, nasib buruk, penjajah, kolonialisme dan imperialisme.

MERDEKA!!
Pekik yang kian menjadi sayup. Formalisme belaka
Tenang suara sang Proklamator jadi penghias upacara.
nadanya tak berubah, meski kini putrinya duduk di tahta
PROKLAMASI
Kami Bangsa Indonesia
Dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan
diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja
Djakarta, hari 17 boelan 08 tahun 1945
Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno - Hatta

Akan tetapi sejurus semua tinggal cerita
kenangan yang tertinggal bersama tawa di batang pinang
atau karung-karung yang hampir robek
menampung badan entah siapa

Lalu kerap terlupakan

Hingga tak pernah sadar

Bahwa KITA TERNYATA BELUM MERDEKA

PROKLAMASI
KAMI BANGSA INDONESIA
DENGAN INI TAK SANGGUP MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
BAHKAN HAL-HAL YANG MENGENAI KEKUASAAN
TAK PERNAH KAMI ATUR SEDEMIKIAN RUPA DAN SELALU JADI REBUTAN
DALAM TEMPO SELAMBAT-LAMBATNYA

JAKARTA 17 AGUSTUS 2003
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA
.................. (Entah Siapa Lagi)

Friday, August 15, 2003

Selayang Pandang Pramukaku

Hari ini, tepat sudah 42 tahun Pramuka berulang tahun. Ibarat pria, maka ini adalah usia yang lagi matang-matangnya, semestinya sudah berada di puncak karir. Tapi entah ada kaitannya atau tidak, Pramuka di usia ke-42nya terlihat lebih seperti manusia yang menjelang tua, tidak produktif.

Aku ingat 13 tahun yang lalu, saat pertama kali seragam coklat itu kukenakan. Ada rasa bangga. Betapa tidak, untuk menjadi anggota Pramuka di SMPku bukanlah perkara gampang. Ada berbagai proses dan persyaratan yang musti di penuhi, dan saat itu tak ada unsur kedekatan dengan pembina atau personil sekolah (Dan memang saat itu aku sama sekali tak punya koneksi). Apalagi pembina di SMP itu terkenal sangat keras dan disiplin.

Terbukti, tempaan yang kualami sangat keras. Tamparan dalam arti sebenarnya entah sudah berapa kali kurasakan. Entah itu saat salah berbicara, atau salah memimpin upacara, atau bahkan saat menguji Syarat Kecakapan Umum (SKU) yang di tempat lain rasanya begitu mudah lulusnya. Atau binaannya yang memacu kami untuk maju dan memperkaya diri dengan berbagai ketrampilan, bak Boden Powell-Boden Powell muda.

Bukan isapan jempol kalau kurasakan bahwa aku ditempa di sini. Kepribadianku dibentuk di sini. Dan bukan sekedar jargon, kalau kutegaskan bahwa Pramuka adalah darah dan dagingku. Hingga kini.

Tapi apa lacur. Kian tua, pramuka tampak kian renta dan ditinggalkan. Di kampus, tak ada Unit Kegiatan Mahasiswa yang memancing tawa sinis selain Pramuka. "Gile Lo masih jadi pramuka, masih baris berbaris dong, Sandi, Morse, Semapore." Di jalanan, ada pramuka-pramuka yang tawuran, saling melempar batu atau menghunus senjata. Tragis dan mengenaskan.

Pramuka pun masih belum lepas dari jerat birokrasi (Koran Tempo 14/8). Bagi Pramuka, kehadiran pemimpin dan pejabat sangatlah penting, namun tak sadar itu menimbulkan ketergantungan. Apalagi pengurus Kwartir banyak yang masih dijabat oleh pejabat. Tengok saja Kwartir Cabang Malang, yang dijabat oleh Sekretaris Daerah Kota Malang. Atau di Jawa Barat yang wakil GUbernurnya duduk sebagai Ketua Kwartir Daerah. Gila!

Ini baru di tataran atas. Bagaimana pula di jajaran anak binaan? Selain tatapan sinis, simak pula banyaknya pandangan apatis. Aku yakin, Pramuka bukan lagi pilihan utama anak didik. Tak usah jauh-jauh, setahun setelah aku duduk di SMU. Aku melihat ada praktek pengharusan siswa menjadi Pramuka. Sabtu, adalah hari seragamnya Pramuka sehingga beberapa oknum di sekolah memanfaatkan momentum itu menjadi proyek pengadaan seragam besar-besaran. Setiap ajaran baru, siswa baru diwajibkan membeli seragam dari sekolah. Warna dan jenis bahan harus serupa, kalau tidak jangan harap dudukmu nyaman sepanjang hari Sabtu, karena beberapa guru dan (Bahkan) Kepala Sekolah melakukan patroli bak Kamtib di pasar.

Alhasil, Pramukaku pun menjadi cemoohan.

Duh, 42 tahun. Ternyata belum mengubah apapun.



Friday, August 08, 2003

HUMAN MEAT, SALE 100% OFF !!!

Selasa (4/8) siang. Matahari kian terik mendera ibukota. Sesosok pria misterius tiba-tiba meledakkan dirinya bersama sebuah mobil. BLUM!! Kaca-kaca gedung tinggi itu berdentingan di aspal yang panas membara. Api menjilat-jilat, dan tempat itu pun kian panas. Tak kalah mengenaskan, sebuah kepala melayang ke lantai lima. Tak bertubuh. Tunggu dulu! Tak cuma kepala, serpihan daging panas, genangan darah, pecahan bola-bola mata, jemari putus, tulang gemerutuk patah.

Hotel Marriott, hunian eksklusif di kawasan eksekutif Jakarta, berubah menjadi Oven Raksasa. Berbeque manusia diobral murah siang itu. Beli-beli... Daging asli, masih berdarah. Ada yang punya gadis-gadis perawan. Atau jejaka-jejaka. Atau mau yang agak alot, ada tuh, punya pak Satpam tua, yang nggak bisa pulang lagi. Ada juga kok punya direktur bank, boleh juga daging bule bo! Lumayan untuk pesugihan, mirip maunya Sumanto itu. Atau adakah Sumanto di sini? Silakan berpesta! Gratis dan masih segar-segar!!! Boleh deh, 100 % Off.

Hanya saja, di hatiku tertinggal tanya. Mengapa tak ada yang memungut tangis pilu? Kenapa tak ada yang memakan rintihan demi rintihan? Mengapa membiarkan derita berlalu begitu saja? Bukankah juga gratis dan masih segar-segar? Fresh from the Oven, Man!!

Ah! Siang itu yang ada cuma pesta darah. Tak ada pestanya air mata. Itu cuma milik korban-korban, yang dagingnya diperebutkan. Untung burung bangkai tak ikutan. Coba kalau ikut, daging manusia ternyata tak lebih berharga dari daging Sapi yang harganya membubung itu. Dagingku dan dagingmu ternyata tak lebih bernilai dibandingkan dengan daging babi yang dikatakan haram itu.

Ups, ada lagi sobat! Masih ingat pesta daging yang sama di Bali?

Ternyata, hari ini ujungnya cuma sebatas acungan jempol dan tawa. Sisanya, jihad kata dia, sumpah serapah kata si korban. Yang mana katamu? Maukah kau berpesta dengan dagingnya Amrozy yang akan dicacah peluru tak lama lagi? Atau membeli (gratis juga kali yaaa?) jerit mereka yang tercabut nyawanya?

Buatku, mungkin itulah kalau tak lagi ada cinta.

Friday, August 01, 2003


"Kemanakah Dia Ketika Aku Mencarinya?'
Sepenggal tanya
pemilik hati yang menanti sapa

Wahai... Sang Hati
Mengapa kini tak lagi berhati
pintunya tertutup membenci tegur
apalagi mengakhiri tidur

"Mungkinkah Tawar Hati Dia kini?"
Bertanya pula
si sahabat jiwa yang mengharapnya ada

Duh... Sang Makna
Mengapa kini tak lagi punya kata
hingga hari serasa tak bernyawa

Katakanlah wahai jiwaku
Bunuhlah tidurmu
dan mari..
Ku ingin menyapa pagi
ku ingin memeluk siang
bahkan ku ingin mengarungi malam
supaya kau bahagia.
Bersetubuhlah bersama hatiku yang merindu
Hingga kau dapat tertawa

7312. 1 Agustus 2003
Kantorku


Thursday, July 17, 2003

Friday, June 27, 2003

Ups.. tinggal sepekan
dan akhirnya kan kutinggalkan masa lajang ini.

Jujur, ada rasa gundah. Pertanyaan mengambang
dari hari-hari yang terus berjalan
mendekat di titik saat aku akan berkata. "Aku bersedia!"

Aku ingat kemarin, ketika tanpa sadar aku berkata,
"Rasanya semakin dekat hari itu, semakin banyak godaan."
Dan teman-temanku cuma tertawa. "Kamu yang menciptakan godaan-godaan itu!" Seru mereka.
Lagi-lagi mereka menertawaiku.

Sementara itu kamu,
aku tak tahu apa yang kamu rasakan.

SIAL!





Sunday, May 25, 2003

CUT

Cut, negeri kita membara
ada amarah dari moncong bedil
menghujam nurani bertanya
desamu kini tak lagi pernah damai

Cut, dara manisku
kerudungmu bernoda merah
sisa darah putra tetangga kita
dia terbujur lunglai
ketika amarah
salah sasaran
"Anakmu pengkhianat!"
seru mereka kepada ayahnya
dan kamu cuma bisa menangis
"Bukan tuan," isakmu.

Ya Tuhan
Udaranya kini berbau sangit
kematian menjadi sarapan
santapan siang hingga petang
tak jarang
malam pun menjadi ladang pembantaian

Dua gajah bertarung
pelanduknya pun terhimpit
sesak dan kini sekarat

Cut, kekasihku
baju kurungmu nyaris tak menutup tubuh
kulit putihmu, "Perih," kau bilang.
Telapak kakimu tak lagi mulus
aku ingat dulu kau senantiasa membalurnya
dengan rendaman akar pohon. "Biar halus dan lembut menginjak punggung kanda," ujarmu suatu malam.
Namun kini telapak impianku itu berdarah, sayang.

Mungkin tak lagi nyaman di punggungku
yang kerap sakit itu
Dan itu sisa pelarianmu kemarin malam
"Jangan perkosa saya tuan!" serumu nyaris tak terdengar.

Cut, gadisku
Kusebut namamu, hanya dari jauh
Mungkin malam ini aku yang jadi pengecut
Desing peluru itu membuatku tersungkur
sementara kau sendiri,
menyongsongnya dengan matamu
yang sinarnya kian pudar
"Indahnya matamu kemana sayang?" tanyaku dalam hati.
"Untukmu kanda, biar aku harus menunggumu di pintu kematian."

Minggu, 25 Mei 2003
Kantorku

Monday, May 12, 2003

Kemarin, seorang sahabat melepas masa lajangnya. Seorang teman berkata, "Tumben, ....... (ups, nama disensor) yang biasanya samber sana samber sini, hari ini terlihat santun."

Kemudian hati kecilku berkata, apakah perkawinan membuat seseorang berubah?

Entah, waktu itu sepertinya ada rasa gelisah.

Giliranku dua purnama lagi soalnya. Dan jujur ada tanda tanya, apakah aku bisa?





Tuesday, April 15, 2003

KECELAKAAN

Tak ada yang menginginkan sebuah kecelakaan terjadi atas dirinya. Tapi itulah realitas yang terjadi padaku, jumat (11/4) malam yang lalu. Sebuah tabrakan dengan motor yang tak sempat kuperhatikan nomor polisinya melemparkanku ke sisi jalan yang lain, di mana sebuah gerobak dorong milik tukang mie ayam menantiku. "Sudah diincar seminggu kali, makanya kena sekarang," tutur seorang saudaraku dengan nada bercanda, keesokan harinya.

Alhasil, sebuah luka lebar berdarah tersisa di sisi betis kiriku, berikut luka-luka kecil yang lain. Sebuah rasa sakit juga terasa di tulang ekor, sehingga dudukpun rasanya adalah pekerjaan yang berat.

Tapi entahlah, di balik semua itu, ada rasa syukur kepada Dia yang menciptakanku. Setidaknya malam itu, nafas ini menjadi milikku, kendati pun aku harus mengeluarkan uang yang tak sedikit. Malam itu, aku sempat berpikir sekelebatan, sepersekian detik sebelum motorku menghantam gerobak, "Ah akhirnya aku bertemu denganMU Tuhan."

Tapi, ternyata belum waktunya. Malam itu, aku hanya harus berurusan dengan si Tukang Mie Ayam yang ngotot meminta aku mengganti gerobaknya senilai Rp 1 juta. Jumlah yang mengernyitkan kening, kendati kemudian dia bersedia menerima "hanya" Rp 350 ribu, itupun setelah dibarengi ancaman, membawa persoalan itu hingga ke polisi.

Maklum, setelah membawa-bawa nama polisi, si penjual yang bernama Awi, yang asal Tegal itu, akhirnya lunglai juga, maklum dirinya tak punya satu tanda pengenalpun, dan memarkir gerobak di pinggir jalan, tepat di seberang U Turn alias belokan, juga perbuatan yang melanggar hukum. Begitu kira-kira penuturan seorang polisi yang kebetulan lewat malam itu.

Malam panjang pun berakhir. Ringisan akibat tusukan jarum berisi bius saja malam itu yang masih terasa, hingga dini hari mengantarku terlelap. Duh! Camar ini ternyata harus berhenti dulu belajar terbang dan memikirkan, bagaimana sebaiknya mengendalikan sayap. Andai saja aku bisa tertawa di sini, maka hanya akan terdengar, HAHAHAHAHAHAHAHAHAH

Wednesday, April 09, 2003

Duh!

Adakah yang pernah memikirkan persatuan dua hati seserius ini?

Entahlah, di hatiku ada rasa gundah, berdebar-debar, pusing, bingung. Kadang-kadang juga ada hasrat untuk lari. Benarkah begini memusingkan?

Lalu, hatiku bertanya, mengapa cinta saja tak cukup membuatku lega?

Friday, April 04, 2003



awalan


Sang Chiang


Mungkin kalian tak mengerti apa arti chiang bagi seekor camar seperti aku. Pasti kalian bertanya-tanya mengapa chiang tampak begitu jelas dalam setiap wacana yang aku ungkapkan. Sebabnya hanya satu, sang chiang adalah ibu jiwaku.

Chiang bagi seekor camar seperti aku adalah gambaran kesempurnaan. Di dalam dirinya ada terang yang membuat jiwaku tak diliputi ragu dalam mengepak sayap. Di dalam perkataannya ada madu yang memaniskan hati, seribu makna yang kerap kali tak membutuhkan tafsir.

Ahad besok, genap sudah dua warsa dirinya pergi. Masih terngiang di telingaku, bagaimana pembicaraan kami terjadi dalam setiap kesempatan. Suatu ketika, dia menatapku dengan senyum dan memberiku arah yang benar saat terjadi malapetaka dalam keluargaku. Dia menjadikan dirinya tempat berlabuh hatiku yang kala itu lelah dan membutuhkan istirahat. Di ketika yang lain, dia membuka sayapnya sehingga aku bisa berdiam dalam ketenangan, terlindungi dari kegelapan yang menyambar-nyambar. Dan hampir setiap masa dia mengajarkanku untuk memahami dunia dan tentang terbang.

Hingga akhirnya, Sang Chiang pulang ke rumah Bapa di Surga, Sang Chiang dari Chiangku, yang mungkin begitu merindukannya kembali seperti masa lalu. Kini dia berkata, "Aku akan pergi, kini saatnya bagimu mempelajari yang tersulit dan terberat, yaitu tentang kebaikan hati dan cinta." "Kesempurnaan itu anakku, bukanlah bicara tentang tempat dan waktu. Melainkan di sini dan sekarang!" "Jangan memandang dirimu terbatas, melainkan sebagai makhluk yang bebas. Bebas dari segala macam keterikatan akan masa lalu, bebas dari kelemahan diri sendiri, bebas dari kata hati yang menyimpang. Di sini dan sekarang, hatimu harus kau berikan untuk menyempurnakan diri. Memaknai tentang kebaikan hati dan cinta untuk kawananmu."

Lalu tubuhnya tampak berpendar-pendar dalam selimut cahaya menyilaukan, bagai permukaan laut di kala senja. Dan sesungguhnya dia sendiri telah menjadi laut itu sendiri karena cahaya itu larung didalamnya. Permukaannya menjadi tempatku mencari makan. Dan gelombangnya menjadi penuntun aku pulang.











Thursday, April 03, 2003



awalan


DOA



kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943 - Chairil Anwar

Tiba-tiba saja, malam ketika umat Hindu bersiap menyepi, sebuah sajak terbesit di benak

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu


Anganku meloncat ke masa, ketika sebuah pemberontakan terjadi..
Malam itu, Sang Pemberontak berpeluh bagai titik-titik darah. Katanya, "Tak sanggupkah kamu berjaga satu jam saja?"
Taman di Bukit Zaitun itu bagai termangu. Bahkan makhluk malam pun tak kuasa bersuara bagai biasanya.

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh


Hatiku trenyuh. Duh! Andai aku punya dua nyawa, kan kubagi untuknya, yang malam itu menantikan penghukuman.

cahayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi


Malam itu Sang Pemberontak sempat berkata, "Biarlah Engkau ambil cawan ini daripadaku." Tetapi di hatinya ada rasa gusar pada diri sendiri.
Sebuah penderitaan baginya, kian dekat. Namun laun lambat, menjadi sebuah cahaya, kerdipan memang, tapi merdu suaranya di kelam sunyi yang terhempas.

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Lalu ku pandang diri sendiri. Sungguh! Ada rasa kecewa. Sayapku rasanya tak cukup panjang, untuk mengepak di tengah malam yang kelam.
Tak sebanding dengan sayapnya yang bagai rajawali di permukaan laut dan di atap bumi. Aku bagai mengembara di negeri asing.
Sangat asing sehinga aku bagai kerdil.

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


"Mari! Waktuku sudah tiba!" Kata Sang Pemberontak akhirnya. Jalan panjang ke bukit Tengkorak pun bagai malam tanpa akhir. Darah tertumpah
bagai tak pernah terjaga. Kulit tercabik bagai tak pernah tercipta. Lalu aku pun bertanya pada diri sendiri dengan malu. Ampun! Sesungguhnya aku tak bisa
berpaling, hanya rasanya aku tak lagi kuat melangkah. Aku mengetuk, Sang Pemberontak, adakah tempat di sisimu?




Tuesday, April 01, 2003



awalan


PRAMUKA



1 April 2003. Tadi siang, gemericik air mengucur dari keran yang sedikit terbuka. Tanganku menggapai gayung dan mulai menyiram diri, sesaat ada rasa dingin yang merayapi kepala hingga ujung kaki. Tiba-tiba sebuah kenangan terbesit di benak. Rasa-rasanya aku mencium bau tanah. Ajaib, ketika wangi sabun mandi mulai memenuhi rongga hidung, malah yang tercium bau debu dan tanah. Bau keringat, aroma kehangatan tubuh di antara gerimis hujan.

Ternyata aku sedang terbang menembus ruang waktu, ke masa sekitar sepuluh tahun silam. Saat masih bercelana pendek coklat, sebuah tetampan tersampir di pundak kanan menyilang ke pinggang kanan. Di atasnya tersemat hampir seratus tanda kecakapan khusus.

Ketika itu, di saku kiri bajuku yang coklat muda, terjahit sebuah tanda dengan tiga balok merah, dan tiga baris mayang kelapa di lengan kiri. Di kepalaku terpasang sebuah baret coklat, sebuah lagu yang tiba-tiba terlintas di benak, �Baret Coklat Baret Pramuka�. Pramuka Indonesia�dari seluruh nusantara menjadi satu. Untuk mempersiapkan diri masa depannya�.�

Hm, bau tanah ketika debu menguap dari sepatu yang menghentak-hentak bumi. Atau bau keringat ketika dinginnya hujan tak mampu menutup pori yang melebar bersama suara yang menggema seluruh penjuru langit. Sebuah lapangan luas, hijau, namun bak dirumputi manusia-manusia berbaju coklat. Sebuah bumi perkemahan di kaki bukti kebun teh, suatu ketika.

Sang Pramuka kini telah terbang di angkasa. Kenangan bagai tertinggal di lembah masa lalu. Terbang menembus awan, menjadi seekor camar muda, menggapai langit, meraih bintang, kendati entah sampai kapan. Ah, indah benar ketika kenangan menjadi sebuah sisi hidup yang tak lekang. Masa lalu memenuhi ruang hati, yang aku sebut memori.

Di tengah-tengah hutan, di bawah langit biru, tenda terpancang ditiup sang bayu..

Api menjilat-jilat menerang rimba raya, membawa kenangan dalam impian..

Dengarlah.. dengar.. sayup-sayup suaramu merdu memecah malam..

Jauhlah dari kampung, menurut kata hati, guna bakti pada ibu pertiwi












Monday, March 24, 2003



awalan


Suatu Hari Tentang Bom



Suatu hari, sebuah bom jatuh. Dia --katanya- bermata tapi tak melihat. Dia --katanya- terarah tapi tak berhati. Akhirnya bom itu menjadi petaka. Ketika hidup pun menjadi sebuah tanda tanya. Adakah harganya?

Hari ini kawanan Camar di Irak menjadi saksi, hidup yang dipertanyakan. Tirani memang tak pernah memandang hati. Tapi apa daya, mereka pun berdiri di belakang sang tiran ketika tiran lain merengsek tak peduli. Pada akhirnya mereka bertanya sepi, hidup.. adakah artinya?

Hari ini kawanan Camar Irak menjadi korban. Masa lalu ada cerita tentang genosida, tentang pembantaian. Masa lalu ada cerita tentang penjajahan, masa lalu ada cerita tentang perebutan kekuasaan. Pada akhirnya hidup menjadi sebuah pertanyaan. Hidup... adakah artinya?

Hari ini kita menyaksikannya dari Irak. Entah besok atau lusa, mungkinkah terjadi di antara kita? Tapi seorang sahabat menegurku. "Di sini pun sama, kawan! Di Irak mungkin dilatari oleh soal-soal yang lebih politis. Tapi ketika di depan mata kita seseorang dibunuh karena sebiji cincin di jarinya, lalu sang pembunuh dibunuh oleh massa yang beringas, apakah bedanya dengan hidup yang menjadi pertanyaan? Adakah artinya?"

Duh dunia, kapankah kebaikan hati dan Cinta menjadi bagianmu? Saat ini aku betul-betul rindu, Sang Chiang ku datang kembali dan membawaku pulang.











Wednesday, March 19, 2003



awalan


TENTANG HATI



Suatu ketika ketika sedang terbang menempuh hari, aku tercekat pada satu kesadaran. Seberapa sering aku bicara menyadari soal hati? Utamanya hati Sang Creator, empunya langit dan bumi ini? Seketika aku tergugu pada kenyataan pahit, bahwa kerap kali aku tak pernah memikirkannya.

Baru aku mengerti, itulah sebabnya hidup menjadi sedemikian sulit. Itulah alasannya banyak camar tak mengerti mengapa mereka harus hidup, lalu terperangkap pada rutinitas mencari makan. Seakan tak ada lagi makna yang lain dalam hidup itu sendiri.

Bicara tentang hati, tidak bicara fenomena atau tanda-tanda. Tidak bicara soal eksistensi yang perlu dinyatakan. Melainkan bicara soal iman alias kepercayaan. Bicara soal di sini dan sekarang, sehingga tak ada lagi batasan ruang dan waktu.

Suatu ketika hiduplah seorang nabi di daratan timur tengah. Perjalanan hidupnya menghantar dirinya menjadi seorang pelarian. Maklum kala itu dia menantang sang tiran yang di"dekingi" oleh seorang pengikut setan. "Jangan sebut aku Izebel apabila engkau tidak bernasib sama seperti nabi-nabiku yang kau bunuh!" Teriak sang pengikut setan.

Sang Nabi pun melarikan diri. Bukan karena takut, tapi karena pengikutnya ternyata tak memberinya dukungan. Ketika pertanda diperlihatkan, ketika yang supranatural dinyatakan, mereka terheran-heran dan mengamini, "Terpujilah Tuhan!" serunya sambil tersungkur ke bumi. Tetapi saat semuanya seakan baik-baik saja, dan persoalan datang ke hadapan Sang Nabi, mereka pun lalu membisu.

"Duh Gusti! Mengapa ini terjadi padaku?" Seru Sang Nabi, setelah menempuh perjalanan 40 hari 40 malam dan kelaparan, dan tiba di sebuah gunung. Tapi apa lacur? Sang Creator malah balik berkata, "Mengapa engkau ada di sini? Tempatmu bukan di sini! Pulanglah!"

Akhirnya ini menyadarkanku bahwa penting bagi kita untuk bertahan di tempat seharusnya kita berada, karena ini bicara soal ketaatan. Serta penting bagi kita untuk mempercayai penyertaan Sang Creator, karena ini bicara soal iman. Itulah maknanya menjadi sempurna.


Monday, March 10, 2003



awalan


Rumahku Diserang


Sabtu siang, sebuah "tragedi" terjadi di tempatku mencari makan. Ratusan camar-camar tak berotak dan berhati, tiba-tiba merengsek, mencoba merenggut satu-satunya kebebasan yang kami miliki, kebebasan untuk memberitakan. Apakah mereka mengingkari kebenaran, atau sebaliknya kami? Entahlah. Siapa yang paling tahu kebenaran selain kebenaran itu sendiri?

Aku memang hanya dari jauh memandang siang itu. Tapi tak urung hatiku trenyuh. Duh Gusti, mengapa masih saja ada camar-camar yang melakukan sesuatu yang dikatakan Yesus di Salib itu, "Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Entahlah! Ketika ini aku tulis, ada rasa marah karena mereka menggangu tempatku mencari makan. Ada rasa geram karena mereka melukai kawananku. Ada rasa gemas karena mereka tak memandang muka, seenak perut mengumbar kata-kata najis. Duh


Saturday, March 08, 2003



awalan


Konyolkah berdosa?


Suatu hari --kerap juga tiap hari-- aku berdosa. Itu terjadi ketika terbang rasa-rasanya tak lagi memberiku semangat. Aku lelah? Mungkin saja. Yang jelas terbang seperti tak lagi menarik.

Kadang-kadang aku ingin seperti burung yang lain. Terbang ke sana kemari tanpa ada yang ambil peduli. Kadangkala terbang melintasi langit menuju perhentian yang lain, tanpa ada yang protes. Ah andai saja rumahku bukan di lautan. Andai saja tempat bermainku bukan di tebing jauh.

Tetapi jujur, sebenarnya ada rasa bersalah yang kuat. Yang membuatku mau tak mau harus mengepakkan sayap kembali, merentang jarak dalam sebuah kecepatan. Demi tujuan yang aku impikan, kesempurnaan dan menjadi agung.

Thursday, March 06, 2003



awalan


Terbang Rendah


Mungkin tidak ada camar lain yang menyadari bahwa terbang rendah memberi banyak keuntungan. Kebanyakan mereka berkata, "Terbang rendah itu milik burung Pelikan!"


Padahal, andai saja mereka mengerti bahwa dengan terbang rendah, jangkauan pandangan mata akan semakin dalam. Terbang rendah membuat aku bisa menentukan kualitas makanan yang akan aku dapatkan. Ikan yang lebih kecil? Atau yang besar.


Tapi jujur, terbang rendah tidak mudah. Menghentikan sayap pada satu kepakan lalu merentangnya lebar-lebar, bukanlah eksistensi seekor camar yang sesungguhnya. Melawan kodrat camar? Sebetulnya tidak juga!


Persoalannya tidak banyak camar yang mau melawan sedikit kebiasaannya. Kebanyakan larut lalu ikut saja tanpa mau sedikit bereksperimen. Padahal kalau mau dicoba, wuih! Luar Biasa!!


Entahlah, di satu sisi aku ingin katakan kepada kawanan lain bahwa belajar terbang --yang salah satunya tentang terbang rendah-- adalah soal yang utama dalam hidup ini. Di sisi lain, aku pun sebetulnya belum sepenuhnya berhasil.


Setidaknya, di dalam hatiku ada kerinduan itu.

Mengepakkan sayap,

sebuah ujaran hati yang tertahan

tersekat pada sebuah keterbatasan

Mengepakkan sayap,

sebuah realitas hati

titik yang terdalam

yang kerap berkata

"TIDAK!" pada kehendak diri sendiri.

6 Maret 2003, 7312


Tuesday, February 18, 2003



awalan


Panggil Aku Jonatan Camar


Hmm.. Ini baru pertama kali aku mengepakkan sayap di lautan yang berbeda. Biasanya aku terbang di sekitaran tebing jauh. Maklum, kala itu aku terbuang dan dikucilkan kawananku. Tapi hari ini aku terbang di permukaan yang berbeda. Dunia terasa lain. Tapi jujur, aku hanya ingin terbang. Entah kalau kemudian terbangku mempertemukan dengan kawanan lain, yang tentu saja tak memaling muka. Atau bahkan bertemu dengan si rusuk yang membuat selama ini terbang bagiku bagaikan melangkah yang timpang.