Monday, March 24, 2003



awalan


Suatu Hari Tentang Bom



Suatu hari, sebuah bom jatuh. Dia --katanya- bermata tapi tak melihat. Dia --katanya- terarah tapi tak berhati. Akhirnya bom itu menjadi petaka. Ketika hidup pun menjadi sebuah tanda tanya. Adakah harganya?

Hari ini kawanan Camar di Irak menjadi saksi, hidup yang dipertanyakan. Tirani memang tak pernah memandang hati. Tapi apa daya, mereka pun berdiri di belakang sang tiran ketika tiran lain merengsek tak peduli. Pada akhirnya mereka bertanya sepi, hidup.. adakah artinya?

Hari ini kawanan Camar Irak menjadi korban. Masa lalu ada cerita tentang genosida, tentang pembantaian. Masa lalu ada cerita tentang penjajahan, masa lalu ada cerita tentang perebutan kekuasaan. Pada akhirnya hidup menjadi sebuah pertanyaan. Hidup... adakah artinya?

Hari ini kita menyaksikannya dari Irak. Entah besok atau lusa, mungkinkah terjadi di antara kita? Tapi seorang sahabat menegurku. "Di sini pun sama, kawan! Di Irak mungkin dilatari oleh soal-soal yang lebih politis. Tapi ketika di depan mata kita seseorang dibunuh karena sebiji cincin di jarinya, lalu sang pembunuh dibunuh oleh massa yang beringas, apakah bedanya dengan hidup yang menjadi pertanyaan? Adakah artinya?"

Duh dunia, kapankah kebaikan hati dan Cinta menjadi bagianmu? Saat ini aku betul-betul rindu, Sang Chiang ku datang kembali dan membawaku pulang.











Wednesday, March 19, 2003



awalan


TENTANG HATI



Suatu ketika ketika sedang terbang menempuh hari, aku tercekat pada satu kesadaran. Seberapa sering aku bicara menyadari soal hati? Utamanya hati Sang Creator, empunya langit dan bumi ini? Seketika aku tergugu pada kenyataan pahit, bahwa kerap kali aku tak pernah memikirkannya.

Baru aku mengerti, itulah sebabnya hidup menjadi sedemikian sulit. Itulah alasannya banyak camar tak mengerti mengapa mereka harus hidup, lalu terperangkap pada rutinitas mencari makan. Seakan tak ada lagi makna yang lain dalam hidup itu sendiri.

Bicara tentang hati, tidak bicara fenomena atau tanda-tanda. Tidak bicara soal eksistensi yang perlu dinyatakan. Melainkan bicara soal iman alias kepercayaan. Bicara soal di sini dan sekarang, sehingga tak ada lagi batasan ruang dan waktu.

Suatu ketika hiduplah seorang nabi di daratan timur tengah. Perjalanan hidupnya menghantar dirinya menjadi seorang pelarian. Maklum kala itu dia menantang sang tiran yang di"dekingi" oleh seorang pengikut setan. "Jangan sebut aku Izebel apabila engkau tidak bernasib sama seperti nabi-nabiku yang kau bunuh!" Teriak sang pengikut setan.

Sang Nabi pun melarikan diri. Bukan karena takut, tapi karena pengikutnya ternyata tak memberinya dukungan. Ketika pertanda diperlihatkan, ketika yang supranatural dinyatakan, mereka terheran-heran dan mengamini, "Terpujilah Tuhan!" serunya sambil tersungkur ke bumi. Tetapi saat semuanya seakan baik-baik saja, dan persoalan datang ke hadapan Sang Nabi, mereka pun lalu membisu.

"Duh Gusti! Mengapa ini terjadi padaku?" Seru Sang Nabi, setelah menempuh perjalanan 40 hari 40 malam dan kelaparan, dan tiba di sebuah gunung. Tapi apa lacur? Sang Creator malah balik berkata, "Mengapa engkau ada di sini? Tempatmu bukan di sini! Pulanglah!"

Akhirnya ini menyadarkanku bahwa penting bagi kita untuk bertahan di tempat seharusnya kita berada, karena ini bicara soal ketaatan. Serta penting bagi kita untuk mempercayai penyertaan Sang Creator, karena ini bicara soal iman. Itulah maknanya menjadi sempurna.


Monday, March 10, 2003



awalan


Rumahku Diserang


Sabtu siang, sebuah "tragedi" terjadi di tempatku mencari makan. Ratusan camar-camar tak berotak dan berhati, tiba-tiba merengsek, mencoba merenggut satu-satunya kebebasan yang kami miliki, kebebasan untuk memberitakan. Apakah mereka mengingkari kebenaran, atau sebaliknya kami? Entahlah. Siapa yang paling tahu kebenaran selain kebenaran itu sendiri?

Aku memang hanya dari jauh memandang siang itu. Tapi tak urung hatiku trenyuh. Duh Gusti, mengapa masih saja ada camar-camar yang melakukan sesuatu yang dikatakan Yesus di Salib itu, "Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Entahlah! Ketika ini aku tulis, ada rasa marah karena mereka menggangu tempatku mencari makan. Ada rasa geram karena mereka melukai kawananku. Ada rasa gemas karena mereka tak memandang muka, seenak perut mengumbar kata-kata najis. Duh


Saturday, March 08, 2003



awalan


Konyolkah berdosa?


Suatu hari --kerap juga tiap hari-- aku berdosa. Itu terjadi ketika terbang rasa-rasanya tak lagi memberiku semangat. Aku lelah? Mungkin saja. Yang jelas terbang seperti tak lagi menarik.

Kadang-kadang aku ingin seperti burung yang lain. Terbang ke sana kemari tanpa ada yang ambil peduli. Kadangkala terbang melintasi langit menuju perhentian yang lain, tanpa ada yang protes. Ah andai saja rumahku bukan di lautan. Andai saja tempat bermainku bukan di tebing jauh.

Tetapi jujur, sebenarnya ada rasa bersalah yang kuat. Yang membuatku mau tak mau harus mengepakkan sayap kembali, merentang jarak dalam sebuah kecepatan. Demi tujuan yang aku impikan, kesempurnaan dan menjadi agung.

Thursday, March 06, 2003



awalan


Terbang Rendah


Mungkin tidak ada camar lain yang menyadari bahwa terbang rendah memberi banyak keuntungan. Kebanyakan mereka berkata, "Terbang rendah itu milik burung Pelikan!"


Padahal, andai saja mereka mengerti bahwa dengan terbang rendah, jangkauan pandangan mata akan semakin dalam. Terbang rendah membuat aku bisa menentukan kualitas makanan yang akan aku dapatkan. Ikan yang lebih kecil? Atau yang besar.


Tapi jujur, terbang rendah tidak mudah. Menghentikan sayap pada satu kepakan lalu merentangnya lebar-lebar, bukanlah eksistensi seekor camar yang sesungguhnya. Melawan kodrat camar? Sebetulnya tidak juga!


Persoalannya tidak banyak camar yang mau melawan sedikit kebiasaannya. Kebanyakan larut lalu ikut saja tanpa mau sedikit bereksperimen. Padahal kalau mau dicoba, wuih! Luar Biasa!!


Entahlah, di satu sisi aku ingin katakan kepada kawanan lain bahwa belajar terbang --yang salah satunya tentang terbang rendah-- adalah soal yang utama dalam hidup ini. Di sisi lain, aku pun sebetulnya belum sepenuhnya berhasil.


Setidaknya, di dalam hatiku ada kerinduan itu.

Mengepakkan sayap,

sebuah ujaran hati yang tertahan

tersekat pada sebuah keterbatasan

Mengepakkan sayap,

sebuah realitas hati

titik yang terdalam

yang kerap berkata

"TIDAK!" pada kehendak diri sendiri.

6 Maret 2003, 7312