Tuesday, April 15, 2003

KECELAKAAN

Tak ada yang menginginkan sebuah kecelakaan terjadi atas dirinya. Tapi itulah realitas yang terjadi padaku, jumat (11/4) malam yang lalu. Sebuah tabrakan dengan motor yang tak sempat kuperhatikan nomor polisinya melemparkanku ke sisi jalan yang lain, di mana sebuah gerobak dorong milik tukang mie ayam menantiku. "Sudah diincar seminggu kali, makanya kena sekarang," tutur seorang saudaraku dengan nada bercanda, keesokan harinya.

Alhasil, sebuah luka lebar berdarah tersisa di sisi betis kiriku, berikut luka-luka kecil yang lain. Sebuah rasa sakit juga terasa di tulang ekor, sehingga dudukpun rasanya adalah pekerjaan yang berat.

Tapi entahlah, di balik semua itu, ada rasa syukur kepada Dia yang menciptakanku. Setidaknya malam itu, nafas ini menjadi milikku, kendati pun aku harus mengeluarkan uang yang tak sedikit. Malam itu, aku sempat berpikir sekelebatan, sepersekian detik sebelum motorku menghantam gerobak, "Ah akhirnya aku bertemu denganMU Tuhan."

Tapi, ternyata belum waktunya. Malam itu, aku hanya harus berurusan dengan si Tukang Mie Ayam yang ngotot meminta aku mengganti gerobaknya senilai Rp 1 juta. Jumlah yang mengernyitkan kening, kendati kemudian dia bersedia menerima "hanya" Rp 350 ribu, itupun setelah dibarengi ancaman, membawa persoalan itu hingga ke polisi.

Maklum, setelah membawa-bawa nama polisi, si penjual yang bernama Awi, yang asal Tegal itu, akhirnya lunglai juga, maklum dirinya tak punya satu tanda pengenalpun, dan memarkir gerobak di pinggir jalan, tepat di seberang U Turn alias belokan, juga perbuatan yang melanggar hukum. Begitu kira-kira penuturan seorang polisi yang kebetulan lewat malam itu.

Malam panjang pun berakhir. Ringisan akibat tusukan jarum berisi bius saja malam itu yang masih terasa, hingga dini hari mengantarku terlelap. Duh! Camar ini ternyata harus berhenti dulu belajar terbang dan memikirkan, bagaimana sebaiknya mengendalikan sayap. Andai saja aku bisa tertawa di sini, maka hanya akan terdengar, HAHAHAHAHAHAHAHAHAH

Wednesday, April 09, 2003

Duh!

Adakah yang pernah memikirkan persatuan dua hati seserius ini?

Entahlah, di hatiku ada rasa gundah, berdebar-debar, pusing, bingung. Kadang-kadang juga ada hasrat untuk lari. Benarkah begini memusingkan?

Lalu, hatiku bertanya, mengapa cinta saja tak cukup membuatku lega?

Friday, April 04, 2003



awalan


Sang Chiang


Mungkin kalian tak mengerti apa arti chiang bagi seekor camar seperti aku. Pasti kalian bertanya-tanya mengapa chiang tampak begitu jelas dalam setiap wacana yang aku ungkapkan. Sebabnya hanya satu, sang chiang adalah ibu jiwaku.

Chiang bagi seekor camar seperti aku adalah gambaran kesempurnaan. Di dalam dirinya ada terang yang membuat jiwaku tak diliputi ragu dalam mengepak sayap. Di dalam perkataannya ada madu yang memaniskan hati, seribu makna yang kerap kali tak membutuhkan tafsir.

Ahad besok, genap sudah dua warsa dirinya pergi. Masih terngiang di telingaku, bagaimana pembicaraan kami terjadi dalam setiap kesempatan. Suatu ketika, dia menatapku dengan senyum dan memberiku arah yang benar saat terjadi malapetaka dalam keluargaku. Dia menjadikan dirinya tempat berlabuh hatiku yang kala itu lelah dan membutuhkan istirahat. Di ketika yang lain, dia membuka sayapnya sehingga aku bisa berdiam dalam ketenangan, terlindungi dari kegelapan yang menyambar-nyambar. Dan hampir setiap masa dia mengajarkanku untuk memahami dunia dan tentang terbang.

Hingga akhirnya, Sang Chiang pulang ke rumah Bapa di Surga, Sang Chiang dari Chiangku, yang mungkin begitu merindukannya kembali seperti masa lalu. Kini dia berkata, "Aku akan pergi, kini saatnya bagimu mempelajari yang tersulit dan terberat, yaitu tentang kebaikan hati dan cinta." "Kesempurnaan itu anakku, bukanlah bicara tentang tempat dan waktu. Melainkan di sini dan sekarang!" "Jangan memandang dirimu terbatas, melainkan sebagai makhluk yang bebas. Bebas dari segala macam keterikatan akan masa lalu, bebas dari kelemahan diri sendiri, bebas dari kata hati yang menyimpang. Di sini dan sekarang, hatimu harus kau berikan untuk menyempurnakan diri. Memaknai tentang kebaikan hati dan cinta untuk kawananmu."

Lalu tubuhnya tampak berpendar-pendar dalam selimut cahaya menyilaukan, bagai permukaan laut di kala senja. Dan sesungguhnya dia sendiri telah menjadi laut itu sendiri karena cahaya itu larung didalamnya. Permukaannya menjadi tempatku mencari makan. Dan gelombangnya menjadi penuntun aku pulang.











Thursday, April 03, 2003



awalan


DOA



kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943 - Chairil Anwar

Tiba-tiba saja, malam ketika umat Hindu bersiap menyepi, sebuah sajak terbesit di benak

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu


Anganku meloncat ke masa, ketika sebuah pemberontakan terjadi..
Malam itu, Sang Pemberontak berpeluh bagai titik-titik darah. Katanya, "Tak sanggupkah kamu berjaga satu jam saja?"
Taman di Bukit Zaitun itu bagai termangu. Bahkan makhluk malam pun tak kuasa bersuara bagai biasanya.

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh


Hatiku trenyuh. Duh! Andai aku punya dua nyawa, kan kubagi untuknya, yang malam itu menantikan penghukuman.

cahayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi


Malam itu Sang Pemberontak sempat berkata, "Biarlah Engkau ambil cawan ini daripadaku." Tetapi di hatinya ada rasa gusar pada diri sendiri.
Sebuah penderitaan baginya, kian dekat. Namun laun lambat, menjadi sebuah cahaya, kerdipan memang, tapi merdu suaranya di kelam sunyi yang terhempas.

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Lalu ku pandang diri sendiri. Sungguh! Ada rasa kecewa. Sayapku rasanya tak cukup panjang, untuk mengepak di tengah malam yang kelam.
Tak sebanding dengan sayapnya yang bagai rajawali di permukaan laut dan di atap bumi. Aku bagai mengembara di negeri asing.
Sangat asing sehinga aku bagai kerdil.

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


"Mari! Waktuku sudah tiba!" Kata Sang Pemberontak akhirnya. Jalan panjang ke bukit Tengkorak pun bagai malam tanpa akhir. Darah tertumpah
bagai tak pernah terjaga. Kulit tercabik bagai tak pernah tercipta. Lalu aku pun bertanya pada diri sendiri dengan malu. Ampun! Sesungguhnya aku tak bisa
berpaling, hanya rasanya aku tak lagi kuat melangkah. Aku mengetuk, Sang Pemberontak, adakah tempat di sisimu?




Tuesday, April 01, 2003



awalan


PRAMUKA



1 April 2003. Tadi siang, gemericik air mengucur dari keran yang sedikit terbuka. Tanganku menggapai gayung dan mulai menyiram diri, sesaat ada rasa dingin yang merayapi kepala hingga ujung kaki. Tiba-tiba sebuah kenangan terbesit di benak. Rasa-rasanya aku mencium bau tanah. Ajaib, ketika wangi sabun mandi mulai memenuhi rongga hidung, malah yang tercium bau debu dan tanah. Bau keringat, aroma kehangatan tubuh di antara gerimis hujan.

Ternyata aku sedang terbang menembus ruang waktu, ke masa sekitar sepuluh tahun silam. Saat masih bercelana pendek coklat, sebuah tetampan tersampir di pundak kanan menyilang ke pinggang kanan. Di atasnya tersemat hampir seratus tanda kecakapan khusus.

Ketika itu, di saku kiri bajuku yang coklat muda, terjahit sebuah tanda dengan tiga balok merah, dan tiga baris mayang kelapa di lengan kiri. Di kepalaku terpasang sebuah baret coklat, sebuah lagu yang tiba-tiba terlintas di benak, �Baret Coklat Baret Pramuka�. Pramuka Indonesia�dari seluruh nusantara menjadi satu. Untuk mempersiapkan diri masa depannya�.�

Hm, bau tanah ketika debu menguap dari sepatu yang menghentak-hentak bumi. Atau bau keringat ketika dinginnya hujan tak mampu menutup pori yang melebar bersama suara yang menggema seluruh penjuru langit. Sebuah lapangan luas, hijau, namun bak dirumputi manusia-manusia berbaju coklat. Sebuah bumi perkemahan di kaki bukti kebun teh, suatu ketika.

Sang Pramuka kini telah terbang di angkasa. Kenangan bagai tertinggal di lembah masa lalu. Terbang menembus awan, menjadi seekor camar muda, menggapai langit, meraih bintang, kendati entah sampai kapan. Ah, indah benar ketika kenangan menjadi sebuah sisi hidup yang tak lekang. Masa lalu memenuhi ruang hati, yang aku sebut memori.

Di tengah-tengah hutan, di bawah langit biru, tenda terpancang ditiup sang bayu..

Api menjilat-jilat menerang rimba raya, membawa kenangan dalam impian..

Dengarlah.. dengar.. sayup-sayup suaramu merdu memecah malam..

Jauhlah dari kampung, menurut kata hati, guna bakti pada ibu pertiwi