Thursday, April 03, 2003



awalan


DOA



kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943 - Chairil Anwar

Tiba-tiba saja, malam ketika umat Hindu bersiap menyepi, sebuah sajak terbesit di benak

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu


Anganku meloncat ke masa, ketika sebuah pemberontakan terjadi..
Malam itu, Sang Pemberontak berpeluh bagai titik-titik darah. Katanya, "Tak sanggupkah kamu berjaga satu jam saja?"
Taman di Bukit Zaitun itu bagai termangu. Bahkan makhluk malam pun tak kuasa bersuara bagai biasanya.

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh


Hatiku trenyuh. Duh! Andai aku punya dua nyawa, kan kubagi untuknya, yang malam itu menantikan penghukuman.

cahayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi


Malam itu Sang Pemberontak sempat berkata, "Biarlah Engkau ambil cawan ini daripadaku." Tetapi di hatinya ada rasa gusar pada diri sendiri.
Sebuah penderitaan baginya, kian dekat. Namun laun lambat, menjadi sebuah cahaya, kerdipan memang, tapi merdu suaranya di kelam sunyi yang terhempas.

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Lalu ku pandang diri sendiri. Sungguh! Ada rasa kecewa. Sayapku rasanya tak cukup panjang, untuk mengepak di tengah malam yang kelam.
Tak sebanding dengan sayapnya yang bagai rajawali di permukaan laut dan di atap bumi. Aku bagai mengembara di negeri asing.
Sangat asing sehinga aku bagai kerdil.

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


"Mari! Waktuku sudah tiba!" Kata Sang Pemberontak akhirnya. Jalan panjang ke bukit Tengkorak pun bagai malam tanpa akhir. Darah tertumpah
bagai tak pernah terjaga. Kulit tercabik bagai tak pernah tercipta. Lalu aku pun bertanya pada diri sendiri dengan malu. Ampun! Sesungguhnya aku tak bisa
berpaling, hanya rasanya aku tak lagi kuat melangkah. Aku mengetuk, Sang Pemberontak, adakah tempat di sisimu?




No comments: