Tuesday, August 26, 2003

ANTARA ANAK DAN BAPAK

Bertanya anak pada bapaknya.
"Mengapa tak pernah kurasakan peluk ciummu?"
"Ketika malam berlabuh di pantaiku, perahu cintamu masih berlayar
entah dimana"
"Kulemparkan sauh tambatan hatiku, namun wujudmu tak tampak
hingga ku cuma menatap gelap lekat-lekat"

*******

"Anakku, perahu bapakmu masih berlayar
wujud pengabdianku belum cukup hingga aku malu
untuk melabuhkan cinta milik kita"

*******

Bertanya putra pada ayah
"Mengapa tak pernah kurasakan harumu?"
"Ketika penatku tiba, setelah kuhajar si Dudi karena berani
mengganggu si Tessy, perempuan yang mengganggu hasrat kelakianku"
"Kupikir kelelakian kita punya bilik kenangan serupa"
"Entah ayah pun bercinta dengan cara yang sama dengan ibu?"

*******

"Anakku haruku kusimpan, bila telah tiba saatnya air mata tak tertahankan
Mungkin ketika rupaku beranjak tua dan aku membutuhkanmu"

*******

"Ah ayahku... " ********


Kantorku, 20.20 WIB, 7312

Tuesday, August 19, 2003

MERDEKA!

Akhir pekan kian semarak
Merah putih bak ganti seluruh warna. Semua setuju
Dan sedari pagi, riuh rendah perayaan tak habis
hingga petang pun menjelang, riang hari ini pun dibawa pulang

MERDEKA!!
Pekik mereka ketika moncong senjata masih hangat
entah membedil siapa
namun ada rasa bangga. "Kubunuh satu musuh, kudapatkan setitik harap"
Kala itu, mereka memimpikan sebuah kebebasan.
Dari ketertindasan, nasib buruk, penjajah, kolonialisme dan imperialisme.

MERDEKA!!
Pekik yang kian menjadi sayup. Formalisme belaka
Tenang suara sang Proklamator jadi penghias upacara.
nadanya tak berubah, meski kini putrinya duduk di tahta
PROKLAMASI
Kami Bangsa Indonesia
Dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan
diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja
Djakarta, hari 17 boelan 08 tahun 1945
Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno - Hatta

Akan tetapi sejurus semua tinggal cerita
kenangan yang tertinggal bersama tawa di batang pinang
atau karung-karung yang hampir robek
menampung badan entah siapa

Lalu kerap terlupakan

Hingga tak pernah sadar

Bahwa KITA TERNYATA BELUM MERDEKA

PROKLAMASI
KAMI BANGSA INDONESIA
DENGAN INI TAK SANGGUP MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
BAHKAN HAL-HAL YANG MENGENAI KEKUASAAN
TAK PERNAH KAMI ATUR SEDEMIKIAN RUPA DAN SELALU JADI REBUTAN
DALAM TEMPO SELAMBAT-LAMBATNYA

JAKARTA 17 AGUSTUS 2003
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA
.................. (Entah Siapa Lagi)

Friday, August 15, 2003

Selayang Pandang Pramukaku

Hari ini, tepat sudah 42 tahun Pramuka berulang tahun. Ibarat pria, maka ini adalah usia yang lagi matang-matangnya, semestinya sudah berada di puncak karir. Tapi entah ada kaitannya atau tidak, Pramuka di usia ke-42nya terlihat lebih seperti manusia yang menjelang tua, tidak produktif.

Aku ingat 13 tahun yang lalu, saat pertama kali seragam coklat itu kukenakan. Ada rasa bangga. Betapa tidak, untuk menjadi anggota Pramuka di SMPku bukanlah perkara gampang. Ada berbagai proses dan persyaratan yang musti di penuhi, dan saat itu tak ada unsur kedekatan dengan pembina atau personil sekolah (Dan memang saat itu aku sama sekali tak punya koneksi). Apalagi pembina di SMP itu terkenal sangat keras dan disiplin.

Terbukti, tempaan yang kualami sangat keras. Tamparan dalam arti sebenarnya entah sudah berapa kali kurasakan. Entah itu saat salah berbicara, atau salah memimpin upacara, atau bahkan saat menguji Syarat Kecakapan Umum (SKU) yang di tempat lain rasanya begitu mudah lulusnya. Atau binaannya yang memacu kami untuk maju dan memperkaya diri dengan berbagai ketrampilan, bak Boden Powell-Boden Powell muda.

Bukan isapan jempol kalau kurasakan bahwa aku ditempa di sini. Kepribadianku dibentuk di sini. Dan bukan sekedar jargon, kalau kutegaskan bahwa Pramuka adalah darah dan dagingku. Hingga kini.

Tapi apa lacur. Kian tua, pramuka tampak kian renta dan ditinggalkan. Di kampus, tak ada Unit Kegiatan Mahasiswa yang memancing tawa sinis selain Pramuka. "Gile Lo masih jadi pramuka, masih baris berbaris dong, Sandi, Morse, Semapore." Di jalanan, ada pramuka-pramuka yang tawuran, saling melempar batu atau menghunus senjata. Tragis dan mengenaskan.

Pramuka pun masih belum lepas dari jerat birokrasi (Koran Tempo 14/8). Bagi Pramuka, kehadiran pemimpin dan pejabat sangatlah penting, namun tak sadar itu menimbulkan ketergantungan. Apalagi pengurus Kwartir banyak yang masih dijabat oleh pejabat. Tengok saja Kwartir Cabang Malang, yang dijabat oleh Sekretaris Daerah Kota Malang. Atau di Jawa Barat yang wakil GUbernurnya duduk sebagai Ketua Kwartir Daerah. Gila!

Ini baru di tataran atas. Bagaimana pula di jajaran anak binaan? Selain tatapan sinis, simak pula banyaknya pandangan apatis. Aku yakin, Pramuka bukan lagi pilihan utama anak didik. Tak usah jauh-jauh, setahun setelah aku duduk di SMU. Aku melihat ada praktek pengharusan siswa menjadi Pramuka. Sabtu, adalah hari seragamnya Pramuka sehingga beberapa oknum di sekolah memanfaatkan momentum itu menjadi proyek pengadaan seragam besar-besaran. Setiap ajaran baru, siswa baru diwajibkan membeli seragam dari sekolah. Warna dan jenis bahan harus serupa, kalau tidak jangan harap dudukmu nyaman sepanjang hari Sabtu, karena beberapa guru dan (Bahkan) Kepala Sekolah melakukan patroli bak Kamtib di pasar.

Alhasil, Pramukaku pun menjadi cemoohan.

Duh, 42 tahun. Ternyata belum mengubah apapun.



Friday, August 08, 2003

HUMAN MEAT, SALE 100% OFF !!!

Selasa (4/8) siang. Matahari kian terik mendera ibukota. Sesosok pria misterius tiba-tiba meledakkan dirinya bersama sebuah mobil. BLUM!! Kaca-kaca gedung tinggi itu berdentingan di aspal yang panas membara. Api menjilat-jilat, dan tempat itu pun kian panas. Tak kalah mengenaskan, sebuah kepala melayang ke lantai lima. Tak bertubuh. Tunggu dulu! Tak cuma kepala, serpihan daging panas, genangan darah, pecahan bola-bola mata, jemari putus, tulang gemerutuk patah.

Hotel Marriott, hunian eksklusif di kawasan eksekutif Jakarta, berubah menjadi Oven Raksasa. Berbeque manusia diobral murah siang itu. Beli-beli... Daging asli, masih berdarah. Ada yang punya gadis-gadis perawan. Atau jejaka-jejaka. Atau mau yang agak alot, ada tuh, punya pak Satpam tua, yang nggak bisa pulang lagi. Ada juga kok punya direktur bank, boleh juga daging bule bo! Lumayan untuk pesugihan, mirip maunya Sumanto itu. Atau adakah Sumanto di sini? Silakan berpesta! Gratis dan masih segar-segar!!! Boleh deh, 100 % Off.

Hanya saja, di hatiku tertinggal tanya. Mengapa tak ada yang memungut tangis pilu? Kenapa tak ada yang memakan rintihan demi rintihan? Mengapa membiarkan derita berlalu begitu saja? Bukankah juga gratis dan masih segar-segar? Fresh from the Oven, Man!!

Ah! Siang itu yang ada cuma pesta darah. Tak ada pestanya air mata. Itu cuma milik korban-korban, yang dagingnya diperebutkan. Untung burung bangkai tak ikutan. Coba kalau ikut, daging manusia ternyata tak lebih berharga dari daging Sapi yang harganya membubung itu. Dagingku dan dagingmu ternyata tak lebih bernilai dibandingkan dengan daging babi yang dikatakan haram itu.

Ups, ada lagi sobat! Masih ingat pesta daging yang sama di Bali?

Ternyata, hari ini ujungnya cuma sebatas acungan jempol dan tawa. Sisanya, jihad kata dia, sumpah serapah kata si korban. Yang mana katamu? Maukah kau berpesta dengan dagingnya Amrozy yang akan dicacah peluru tak lama lagi? Atau membeli (gratis juga kali yaaa?) jerit mereka yang tercabut nyawanya?

Buatku, mungkin itulah kalau tak lagi ada cinta.

Friday, August 01, 2003


"Kemanakah Dia Ketika Aku Mencarinya?'
Sepenggal tanya
pemilik hati yang menanti sapa

Wahai... Sang Hati
Mengapa kini tak lagi berhati
pintunya tertutup membenci tegur
apalagi mengakhiri tidur

"Mungkinkah Tawar Hati Dia kini?"
Bertanya pula
si sahabat jiwa yang mengharapnya ada

Duh... Sang Makna
Mengapa kini tak lagi punya kata
hingga hari serasa tak bernyawa

Katakanlah wahai jiwaku
Bunuhlah tidurmu
dan mari..
Ku ingin menyapa pagi
ku ingin memeluk siang
bahkan ku ingin mengarungi malam
supaya kau bahagia.
Bersetubuhlah bersama hatiku yang merindu
Hingga kau dapat tertawa

7312. 1 Agustus 2003
Kantorku