Tuesday, September 30, 2003

Besok menurut rencana, Kantor Koran Tempo akan disita
menyusul rumah Sang Dedengkot, Gunawan Muhammad, beberapa hari yang lalu.
Tiba-tiba saja aku ingat sebuah ujar-ujar dari Khopingho. Kira-kira begini bunyinya:

Hidup! Betapa penuh rahasia,
manusia tenggelam timbul
dalam permainannya,
terhimpit di antara suka dan duka,
matang mengeriput di antara
tangis dan tawa.


Selalu mengejar kesenangan
selalu menghindari ketidak-senangan
menimbulkan perbandingan
dan pilihan oleh dwi unsur (im-yang)
manusia dipermainkan.


Mengapa suka?
mengapa duka?
mengapa mengejar kepuasan?
mengapa menghindari kekecewaan?


Hadapilah semua ini
dengan kewaspadaan wajar dan murni,
tidak menolak tidak menerima
hanya memandang apa adanya!


Asmaraman Khopingho, "Dewi Maut"


Tapi di hati kami
Kini hanya tertinggal tanya. "Masih mungkinkah memandang semua apa adanya?"
Tak menolak dan menerima? Ketika sebuah harga diri jadi barang tak berharga?
Entahlah..

Friday, September 26, 2003

TIba-tiba saja kemarin aku teringat lagi falsafah hidup Sang Camar.
"Siapa yang terbang paling tinggi, dia melihat paling jauh"

Rasa-rasanya terbangku kali ini datar-datar saja.
Menyusuri pantai dengan terbang rendah, kian tak punya arti
padahal untuk melakukannya
aku mesti merentang sayap
sehingga desau angin bagaikan bisikan di telingaku

Ah iya...
Semangat itu ternyata sedang surut
hampir saja aku seperti camar lain
terbang untuk makan saja.

Aku harus terbang tinggi lagi
dengan sayap rajawali
hingga tiba di kaki langit
Dan menjadi sempurna

7312, kantorku. 09.43

Friday, September 19, 2003

Wahai...
tiba-tiba saja penangkapan sejumlah orang muslim menuai protes bertubi-tubi

"Mematikan demokrasi," kata salah satu ormas Islam.

Aku hanya bertanya dalam hati, "Demokrasi macam apa?"

Wahai.. mohon maaf. Saya tak bermaksud menghakimi
bahwa yang ditangkap itu adalah teroris.
Hanya saja, biarlah waktu yang menentukan.
Betulkah mereka aktivis? Atau sekalangan
dengan seseorang yang setelah menghabisi ratusan nyawa
lantas tertawa dan mengacungkan jempol itu.

Hanya saja, tolonglah beri pencerahan. Demokrasi macam apa yang hendak dibela?
Pikiran awamku cuma sebatas mengangguk. Tolong jangan salahkan
bila ada rasa yang membara. Saat agama dipakai acuan
Untuk membunuh perbedaan.

Apabila polisi memang salah langkah, bukankah ada perangkat hukum untuk membatasi?
Bila memang polisi kesusu, bukankah ada rakyat yang menengahi?

Hahahahahahah
Kadang aku cuma bisa tertawa.
Sebab ternyata tak banyak orang yang menangis.
saat ratusan orang kehilangan nyawanya.
Tak banyak pula orang tercenung
ketika erangan tak putus-putusnya
Aku tak tahu, apakah masih banyak yang ingat
Tangis yang menyayat, sanak yang tertinggal.
Duh, Tuhan... cepatlah datang!

Kantorku, 7312. 08.34

Wednesday, September 10, 2003

Kekasihku

Cinta tak memberiku kesempatan bernafas
Helaannya adalah getar-getarnya
Ketika kucoba membelai rambutmu tadi malam
Dan kau terlelap

Cinta juga tidak memberi aku kesempatan menatap
sapuan mata adalah lukisan derunya
Saat kukecup tepian telingamu tadi malam
dan kau tetap bermimpi

09.30, Setneg. 7312



Monday, September 01, 2003

PARMALIM
Tentang masa lalu

Gerbangmu kunantikan. Masa lalu
menjadi masa kini lewat gerbang yang kunantikan
batasnya tipis, setipis selaput bola mata kita
bening dan bagai teraba meski jauh
dan entah dapat atau tidak kita meraihnya

Alkisah..
Sang kekasih merentang jarak
air mata menjadi penanda rindu
batasnya ingin disobek
dihancurkan, hingga tak ada lagi masa
namun, kematian adalah kematian
pun saat hidup tak lagi berdian

Lalu, rasanya sang kekasih bagai tak pergi
wanginya tercium bagai tadi
senyumnya tertinggal bak abadi
Hingga, yang di masa kini merasa perlu menjaga
wangi dan senyum menjadi dupa sesembahan
"TELAH KUROBEK TIRAI MASA, SAYANG!"

PARMALIM pun menjadi ada
ketika Tuhan disebut tuanku
Katanya,
"Dalam hening sendu, kusebut NamaMu
Wujudmu kusepuh dalam arca kuburku
Hingga kurasa tentram dunia baruku
Dan ku berbahagia dengan kekasihku
Di dunia lamaku, dia menjemputku
lewat selaput bola mata. Tipis tuanku"

7312, kantorku. 02.38 1 Sept. 2003