Tuesday, October 28, 2003

(Untuk Mahdi dan Fatih Gama)

Sejarah adalah pohon
Meninggi meninggalkan yang lalu menjadi yang baru
tunasnya adalah hari esok
tangkai, batang, dan akarnya adalah kemarin

Seorang teman pun kini menjadi sejarah di kantorku
Sebuah defenisi institusional, memang.

Tapi, ya.. itu tadi. Sejarah adalah pohon
Keberadaannya adalah hari kemarin
Tapi hari esok,
masih ada denyut kehidupan yang sama
Bahwa yang kemarin itu adalah juga hari ini
dan hari esok, dan sampai pohon itu mati
Lalu tak ada lagi sejarah, tak ada pohon

Ketika itu, manusia menjadi tiada

Selamat jalan sobat. Selamat menanam sejarah di tempat lain
sebagaimana dirimu menjadi sejarah di tempat ini
Dan yakinlah, pohon itu belum tumbang dan mati
sehingga tetaplah persahabatan kita.

7312, Kantorku

Thursday, October 23, 2003

Dari Bali Bersama George Bush

Denpasar - Luar Biasa! paranoid! itulah kesan yang bisa disimak saat kedatangan Presiden Amerika Serikat George W Bush ke Denpasar, Bali, Rabu (22/10). Kunjungan sih cuma tiga jam, tapi pengamanannya itu, ALAMAK!

Contoh saja untuk wartawan. Total ada empat titik pemeriksaan yang mesti dilewati mulai dari luar komplek Bandara Ngurah Rai hingga ke Hotel Patra Bali yang tak jauh dari bandara. Bandara sendiri nyaris "tertutup" untuk umum sejak pagi.

Pemeriksaan awal jadi miliknya polisi lalu lintas. Dilakukan di pertigaan jalan raya menuju Bandara. \"Mau kemana mas? oh wartawan,\" kata seorang Polisi. Tak jauh, giliran puluhan anggota Gegana Polda Bali yang ambil alih. Tak cuma isi tas dan pemeriksaan badan, tapi sampai bagasi motor pun tak luput dari penciuman polisi.

Di gerbang Hotel, ada pemindai logam dan pemeriksaan isi tas yang ke dua kalinya. Sampai disini, perlu tanda pengenal khusus yang dikeluarkan oleh sekertariat Presiden RI dan tanda pengenal khusus dari pemerintah Amerika Serikat. Bila lolos, sebuah stiker putih kecil bertuliskan //\"security checked paspampres\"// pun ditempelkan di tas bawaan. Nafas bolehlah sedikit lega, pasalnya kemudian ada jamuan santap pagi kecil-kecilan di restoran. Lumayan melepas lelah, sehabis bekerja tak putus sejak kemarin.

Tak lama sekitar pukul 10.00 WITA, sejam sebelum kedatangan Bush, para wartawan pun digiring menuju tempat \"karantina\", sebuah bungalow kecil di bagian barat komplek. Tepat di depannya terbentang pemandangan lautan lepas

Tapi tunggu dulu, sebelum "Istirahat" di bungalow berlabel //\"press pool\"// itu, wartawan harus melewati dua pemeriksaan lagi. Pertama, mencocokan nama, foto, dan data yang dimiliki petugas keamanan Amerika yang berasal dari pasukan //Secret Service// (SS). Kedua, mengulangi tindakan pertama sesaat sebelum melewati pemindai logam dan pemeriksaan badan satu-persatu.

Sebelumnya seluruh bawaan sudah dipisahkan ke satu tempat dan diendus oleh beberapa ekor anjing milik pasukan SS. Rupanya label security checked itu tak ada gunanya. Seorang anggota paspampres sempat berkeluh kesah. \"Kesannya mereka tidak percaya dengan kita,\" kata dia dengan mimik serius. Betapa tidak, ditengah terpaan panas yang menggigit dan keringat yang mengucur deras, petugas lokal hanya kebagian tugas mengamati thok.
Ditengah pemeriksaan, seorang anggota SS, sempat meminta maaf atas pemeriksaan yang sangat ketat itu, apalagi ditengah terpaan panasnya matahari kota Denpasar. \"Maaf, kita juga sama-sama kepanasan,\" kata pria berbadan kekar itu. Rupanya kulit muka, kepala, dan lehernya mulai memerah.

Lepas dari pemeriksaan yang terasa berlebihan itu, para wartawan pun di \"karantina\" dan dilarang keluar masuk. \"Pintu jangan dibuka, oke!\" kata seorang anggota SS dengan nada agak marah, ketika seorang wartawan membuka pintu kaca yang menghadap pantai.

Paranoid tidak?

Friday, October 17, 2003

Dari Depok ke Kebayoran

Menjelang larut, malam 16 Oktober
Selamat malam cintaku
Kutinggalkan senyummu di balik asap knalpot
"Selamat tidur," kataku. Dan kau pun tersaput
Gelap yang kujelang dan gelap yang kubiarkan bersamamu

Sehabis hujan malam ini
Anginnya menusuk jaket yang tak terlalu tebal
Kupacu deru si dua roda
Tapi tak perlu hingga menyipit mataku.
Biar perjalanan ini kunikmati
Bersama ribuan bola lampu
temanku satu jam nanti

**
"Ups... KURANG AJAR TAXI
Mbelok sembarangan. Tak punya otak kau!
Bung.. biar ini Jakarta, aku masih sayang nyawa!"
**

Kok jalan ini sepi? Tumben tak kulihat
lelaki yang malu menjadi lelaki?
Biasanya mereka menyembul
dari permukaan taman jejualannya Bang Penjual Bunga
Perempatan Cilandak tak seperti biasanya..
"Singgah mas?" kata mereka selalu,
bila ada yang melambatkan laju.
Berharap besok dia bisa makan.
Tapi tak satu pun ada
Ah mungkin semua sudah laku...

**
Eits... Hampir saja.
Wah dua kali nih. Harus konsentrasi rupanya
Tak berharap malam ini menjadi jahanam
Dan perjalanan berujung di atas sprei putih
Ya Tuhanku Aku Hendak Bermazmur BagiMu.."
**

Rupanya hampir tiba...
Lalu sepeminum kopi.
Hai... apa kabar?
Lalu mulailah kutulis....
"Dari Depok Ke Kebayoran"
"Menjelang larut, malam 16 Oktober...

7312, kantorku. 02.14

Tuesday, October 14, 2003

Kutinggalkan kau dengan sejuta tanya
Aku pun melaju menembus keramaian
Padatnya jalanan ibu kota pagi tadi

Hallo... berita pagi ini
Ibunda Bapak Presiden meregang nyawa
Ya Tuhan ampuni dosanya

Andai saja kutiba di persimpangan
lalu bermasalahlah motor tuaku
Dik, mengapa tak kuajak kau menemaniku
Menikmati keringat yang bercucuran
Ternyata menuntun motor berat juga...
Seperti dulu..

Rupanya hari ini berpihak padaku
Tapi meski tuntas perjalananku
Ingatan pada dirimu masih membekas
Karena kutinggalkan kau dengan sejuta tanya
Menembus keramaian ibu kota pagi tadi

7312, kantorku, 09.52

Friday, October 10, 2003

Mama, Papa, katakan
padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?

Michael, "Tulang Rusuk"

Ketika cinta menjadi tanda tanya
Maka takkan pernah ada tawa

Kurenggut perhatianmu sedaya upaya
Namun kau berpaling dan menepis haruku

Duhai ibu-ibu dari harapanku
Melambatnya malam berbintang
pun tak membuat dirimu memesonaku
Katakan padaku, bagaimana caranya memeluk landak?

duhai ayah-ayah dari kerinduanku
Meronanya bunga-bunga seabad
pun tak membuat dirimu wangi terhidu
Katakan padaku, bagaimana caranya memeluk landak?

Maka, ketika cinta menjadi tanya tanya
Takkan pernah ada tawa

Kubiarkan dirimu sendiri lalu tertinggal tanya
"Mengapa cintaku kau anggap sepi?"
Kujawab, "Bagaimana caranya memeluk landak?"

Dan kaupun sepi, aku pun bisu
Sejak kemarin...

7312, kantorku. 09.40

Wednesday, October 08, 2003

-- "Bener kan? Apa kataku? Tomy gitu lagi."
++ "Tapi Tomy nggak gitu deh!"
-- "Gile Lu! Lo orang Tomy ya?"
++ "Enak aja!"
-- "Sialan!"

Malam ini, kegelisahan itu kian menguat. Kapal kami kini berada di tengah gelombang.
"Bagi yang merasa sulit, tak haram memilih untuk pindah kapal," demikian Sang Nahkoda di hadapan ratusan ABK.

-- "Tuh kan? Tomy lagi gara-garanya semua."
++ "..."
-- "Rasionalisasi nggak ya?"
++ "Perampingan saja."
-- "Yang mana?"
++ "..."
Mengejutkan dan mendebarkan!

Kabarnya TEMPO sedang goncang.
Ada apakah?
Inikah sebabnya sehingga di kantor
Ada penghematan habis-habisan?
Mudah-mudahan semua hanya karna Tomy
++"Kayaknya Tomy nggak gitu deh!"
--"Hush! Siapa ngomongin cowok, Tomy lagi." :-)

Friday, October 03, 2003

Dua lelaki dengan dua pistol di tangan

++"Aku atau kau yang mati?"
--"Tidak! Kau saja!"
++"Jangan! Kau saja!"
--"Bagaimana kalau sama-sama kita mati? Lalu kita saling bercerita tentang kematian?"
++"Oke! Satu... Dua.... Ti.... Ups."
--"Kenapa?"
++"Kau saja yang hitung!"
--"Kau saja!"
++"Kau saja!"
--"Bagaimana kalau kita sama-sama menghitung?"
++"Baik, ayo mulai!"
--"Satu.." ++"Satu.."
--"Dua.." ++"Dua.."
--"Tiga.." ++"Ti.."
--"..." ++"Ga... :)"
==================
7312, Kantorku, 02.25