Monday, November 24, 2003

I Will praise You (Ode untuk Rina dan Triana Sihombing)

Kemarin aku mendengar
Mereka bercerita tentang ayahmu
Rupanya terbaring kembali ia kini
Menghela nafas lambat
dari deru jantung yang memburu

Aku bisa mengerti
gundah hatimu kini
"Tuhanku.. tolonglah Bapakku!"
pintamu selalu

Tapi sahabatku
Kemarin juga ada sebuah dendang
menari di kedalaman hatiku
Tentang kepasrahan
Tentang kesetiaan

My life is in You Lord
My Strength is in You Lord
My Hope is in You Lord
In You is in You

I will praise You with all of my heart
I will praise You with all of my strength
with all of my heart
with all of my strength
Lord my life is in You


Aku yakin
Dipintanya kau berserah hari ini
Bahwa hidup ini
sesungguhnya hanyalah sebuah pemberian
Dan perjalannya sampai pada akhir
hanyalah sebuah anugerah

7312, kantorku, 10.05 WIB

Thursday, November 20, 2003

Tuhanku

Malam berselang pagi
saat gundah melanda dan nyeri
Kutanya diri dan tak kutemu jawabnya
"Di mana haru engkau kini?"

Guruku

Pagi berselang siang
Saat lupa ingatan ini
Mana yang boleh dan mana yang tidak
Rupanya waktu memburu
dan aku pun larut
bagai embun menguap
dan kabut yang tersaput mentari

Allahku

Siang berselang malam
Pun kurebahkan jasad hidupku
Lelah mengitari roda hidup hari ini
Dan aku lupa bersyukur padaMu

Maka aku kian ragu
andai langit dan bumi berakhir
Di mana aku?

Tuhanku,
Kusebut Engkau dalam nyanyian pagi siang dan malam
Tapi lalai aku nikmati
Indahnya berjuang mendapatkan hidup yang menyebut NamaMu

7312, Kantorku, 20.22


Saturday, November 08, 2003

Hari ini, ada enam nyawa lagi yang meregang..

Tadi malam mereka tertidur nyenyak
Mungkin mimpi mereka indah
siapa tahu?
Atau mungkin saja mereka berharap hari ini
Ada sesuatu yang diharapkan indah
dan terus membuat mereka tertawa.

Tadi malam ada cerita..
"Akan kusapa si Monik, teman sekelasku. Hari ini aku sudah membuatnya marah.." tutur Immanuel (7 tahun) dalam hati, di tangannya tergenggam mainan baru, robot-robotan. Murid kelas 1 SD Negeri 03 Lebak Bulus itu baru saja mencoba menanam benih persahabatan di sekolah barunya..

"Kalau aku ingin membeli sebuah kado Natal untuk mama. Mama kan mau pulang dari Amerika bersama papa dan dua adik," ujar Andhika, si sulung yang sedang duduk di kelas 6 sekolah yang sama.

"Baiklah-baiklah... sekarang kalian tidur, besok pagi nenek akan membuatkan sarapan yang sedap," kata Evie Kawet, sang nenek.

Sejurus ada ketukan halus di pintu. Rupanya ada dua gadis manis yang tiba-tiba mengetuk pintu malam itu. "Tante, mama ada?"

"Ada, masuk saja. Kalian menginap kan?"

Kedua gadis berkulit putih itu mengangguk. Seperti biasa, mereka menginap menemani ibunya, Wies (48 tahun) teman sekampung si nenek. "Dan seperti biasa, tolong kalian antar Imanuel dan Andhika besok ya," pinta si nenek. Lagi keduanya mengangguk.

Dan malam itu pun berlalu, seiring mimpi mereka masing-masing.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Saat malam belum beranjak pagi benar. Si Jago Merah pun melahap mereka satu per satu. Hanya menyisakan si kecil, Tabitha, yang sempat diselamatkan tetangganya. Dan malam yang tadinya bersaput harap, menjadi malam jahanam.

Tadi siang aku ada di bekas kematian yang masih membayang itu. Tak ada lagi bau sangit daging terbakar. Tapi sayup teriak mereka masih terdengar dihantarkan angin yang bertiup. Mungkin yang tampak cuma puing. Tapi di sana ada harap yang tertinggal.

Duh Tuhan.. Andainya bisa, akan kubawa selalu harap ini. Tidak tertinggal lalu terbuang, saat aku menjemput mautMu.

Kantorku, 7312. 18.30

Thursday, November 06, 2003

Ngomong-ngomong tentang sejarah.

Rupanya baru-baru ini aku ketemu dengan pohon sejarahku yang lain.
SMP Negeri 1 Pematangsiantar, SUMUT.
Sebuah sekolah tua di kota yang juga tambah tua.

SMP itu bicara banyak hal buatku.
Tentang cinta monyet yang kukejar
Namun kelak redup bagai putri malu
Tentang mimpi seorang penggalang
yang kurengkuh habis tiada sisa..
Aku menyebut diriku beruntung kala itu..

Tentang teman-teman masa muda
Kami bicara tentang cinta, lagu, komik, novel, dan tenda.
Atau tentang harap yang tak kunjung tiba..
suatu kali berharap terbang ke benua lain
namun kandas karena itu cuma mimpi.

Suatu malam, seorang teman menelepon.
Lalu semua kenangan tiga tahunan itu pun melintas
Bagai rol film dengan motor otomatis, kecepatannya 10 frame per detik
Atau kalau mau dilebihkan
seperti putaran film bioskop..

Mencoba menyadari bahwa itu semua tinggal sejarah..
Tapi kubenarkan, kenangan itu tak milik sejarah
Itu milik hari ini, besok, dan mungkin selamanya..
Tanpa itu mungkin aku takkan utuh menjadi manusia.

SELAMAT DATANG TEMAN DARI MASA LALUKU

Setneg, 7312. 10.00 WIB