Tuesday, December 16, 2003

Teng-teng-teng
Lonceng berulang kali
sayup membelah fajar
penanda pagi hari itu..

Jauh kini terdengar
lonceng yang sama berdentang
Bagai pagi berganti siang
Waktu yang takkan kembali

Terkenang aku pada dentang senada
Ketika malam hanya bersama segelintir manusia
Mereka berjaga.. menanti sebuah kelahiran
Mbeeeeee... rupanya ada sekelompok domba dan kambing
Malam itu di sebuah kandang
Mereka sepasang ayah dan bunda
Gembala miskin dan trio pedagang dari timur..
Malam itu bintang bertabur bagai tertawa
Sebuah kerlipnya begitu kentara

bulan ini...
Malam-malam dipaksa serupa
Kandang binatang dipoles sedemikian rupa..
Kumuh memang, tapi kehilangan bau khasnya.
Dan kemana para kambing dan domba?

Malam-malam dipaksa syahdunya..
Bersama kidung-kidung bikinan manusia..
Tak lain cuma sekumpulan nada
merunut menyatu menjadi sebuah syair..
Syair yang entah mengapa
Melupakan makna kehadiranNya.

Malam-malam itu tak lagi sepi..
Di pusat perbelanjaan.. malam itu bertabur diskon
"Sale 70 % off!"
Di pasar-pasar bertabur wewangian bumbu dapur dan kue
"Mentega-menteganya.. mumpung murah!"

Malam-malam itu tak lagi senyap dan sunyi..
Di Gereja ada nyanyian dan tari
Di Gedung lain ada pagelaran dan upacara
Di rumah-rumah ada petuah dan sendawa

Duh, sedihnya..
Rasanya malam yang kudus itu
Hanya seperti pucuk cemara
Tumbuh berkembang lalu melupakan batangnya

Malam kudus itu hanya belaka upacara,
senandung dan belanja
Sedang Dia yang menjadi manusia
Kerap terlupa...

Kupandang langit angkasa
Rupanya para bebintang masih bertabur setia
Kerlipnya pun masih serupa
Pertanda harap itu masih ada

7312, kantorku. 15.02 WIB



Friday, December 05, 2003

SHAKHAH

Aku tersungkur
Ketika Engkau menyeru Dunia
Lututku goyah
Tak sanggup menahan diri
Dan Shakhah...
Tuhan... Aku tergugu

Mentaripun jatuh ke pelukan bumi
Gelap.. tiga jam bersama pekatnya
Tetelestai kataMu
Dan Shakhah aku..
Tak sanggup menahan diri..
Tuhan aku menangis

7312, kantorku. 01.13

Tuesday, December 02, 2003

Tiga kata untukmu
Aku Sungguh Mencintaimu

Mungkin kerap bahasa yang harap terucap
Namun bisu yang kau dengar

Tetapi sayangku..
Cinta milikku
Tak perlu kau nilai dengan bahasaku
Karena debarnya
dan hangatnya
Bukankah selalu ada bila kau perlu?

Pagi ini tiga kata untukmu
Aku Sungguh Mencintaimu

7312, kantorku, 10.09

Monday, December 01, 2003

Maafku Untukmu

Mungkin masanya telah berlalu
Tapi bagiku berharap belum terlambat

Karena dari lubuk hati
Ada ujaran yang membuncah
Rasa sesal dan malu
Bahwa terlalu banyak nestapa kau alami

Sebabnya barangkali
Terucapkan melalui mulut ini
Terlakukan melalui bahasa tubuh
terpikirkan dan dihasratkan hati
Entahlah.. rasanya terlalu banyak..

Maafkan aku...

7312, kantorku, 10.21