Tuesday, December 07, 2004

Siang ini ada tayangan menarik dari Oprah Show di Metro TV, tentang romance..
seseorang di sana mengatakan, "Setiap nafas ini, adalah nafas istriku." sederhananya begitu.

Ups.. jadi ingat dia nih. Cintaku padanya, hari ini, sepertinya kian menghangat.

Dulu aku dikenal romantis. Tapi setelah menikah, persoalan hidup dan berbagai pilihan
membuat dunia cintaku mengendap. Inspirasi seakan mati, dan kata-kata tak lagi punya tempat membawa makna yang menguatkan, meneguhkan, dan menghangatkan. Datar, dan bagai waktu yang terlupakan.

Tapi siang ini, di benak banyak rencana.

Hei, You! Mulailah mencinta dengan seluruh nafasmu, hari ini. Ya! Hari ini

kantorku, 7 Desember 2004
7312

Thursday, October 28, 2004

Jakarta suatu malam menjadi mencekam
Hingar bingar tempat menghibur diri sontak diam

Hari ini buletin Friendster banyak membahas soal FPI
Ada yang setuju para "prajurit" itu meneriakkan seru
Lalu menghantam apa saja dengan benda di tangannya.
Seakan menghela tenaga yang entah dari mana
Ingin membungkam maksiat katanya

Ada juga yang menentang
bahwa pasukan "Perang" itu cuma sekelebatan orang munafik
Tuhan itu bukan makhluk lemah yang patut dibela
Atau... bahwa kemaksiatan itu dibiarkan saja
tokh puasa kian berpahala bila sanggup menahan goda
Dan tak perlu mengayun gada

Manakah lebih baik
Mencela atau berdoa?
Mengancam atau mengucap salam?
Memukul atau merangkul?
Atas nama haru
Atas nama cinta
Atas nama Tuhan

Mudah-mudahan Jakarta suatu malam
Tak lagi mencekam.
Bukankah akan tiba saatnya, menuai setelah menanam?
Maka itulah masanya
yang mencinta, yang dimulia..

7312, kantorku 21.30 28 Oktober 2004

Thursday, October 14, 2004

Banyak Jalan

Pagi ini aku mengerti
Sang Putra berkata, "Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini:
Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah
tilammu dan berjalan?"

Mungkin lebih mudah
membuat orang lumpuh berjalan kembali
Atau mencelikkan mata seorang yang buta
Daripada menunjukkan kemana mereka harus berjalan
atau kemana mereka harus memandang..

Ya Tuhan
ajarku mencinta hari ini
Hingga cinta itulah yang menunjuk jalan
hingga cinta itulah yang menerangi gelapnya

7312, kantorku 14 Oktober 2004 09.30 WIB



Wednesday, October 13, 2004

Akan tiba suatu hari
Engkau memisahkan padi dan ilalang
menuai yang satu
dan membakar yang lain

Hari itu adalah perceraian
anak orang tua
suami istri
kerabat taulan
Mungkin ada air mata
Tapi sesal adalah sia-sia

Maka hari ini aku mengerti
bahwa tiap-tiap hari aku mesti mencinta
kumulai dari engkau yang membaca ini
Aku mencintaimu

7312, kantorku. 13 Oktober 2004 12.15

Thursday, October 07, 2004

Selamat pagi Cinta

Kusapa dunia hari ini
meski dari hati
ada kesal dan rutuk
Tapi aku sadar
Cinta adalah jawaban
hingga damailah di hati

Selamat pagi Cinta
kusapa tangan-tangan kasar
yang merusak gerbang Rumah-Mu kemarin
Kucoba mencinta mereka
meski mereka memaki kita

Selamat pagi Cinta
Kusapa mulut-mulut jahat
yang menyerapahi Rumah-Mu kemarin
Kucoba menyayangi mereka
meski mereka meludahi kita

Selamat pagi Cinta
Kubelai lembut hati mereka yang dengki
yang menyumpahi anak-anakMu kemarin
Kucoba menerima mereka
bagian dari hati yang suka
Meski mereka melempari kita

Kemarin Rumah kita dirusak lagi..
Kucoba mencinta mereka
Entah sampai kapan
Seorang kawan di pengadilan pernah berkata,
"Tak mungkin kami memberi pipi kiri kami untuk ditampar lagi, setelah mereka menampar pipi kanan kami. Sebaliknya kami akan menampar pipi mereka bila mereka menampar pipi kami!"

Tapi pagi ini, Engkau mengajarku tentang Cinta
Cinta untuk mereka yang mengutuki kami
Cinta untuk mereka yang menghina kami
Cinta untuk mereka yang merusak tempat kami bertemu Engkau
Cinta untuk mereka yang menghiasi kediamanMu dengan batu jalanan
Cinta untuk mereka yang mengusir anak-anak kami dari sekolahnya
Cinta untuk mereka yang menghalangi kami bertemu denganMu

Karena bila kami pun menampar mereka
Maka cinta kami telah menjadi benci
maka cinta kami telah menjadi jahat
Dan Engkau telah mengajar kami untuk mencintai
Bukan membenci
Tuhan tolonglah kami... Atau lekaslah datang karena kami ingin segera pulang

7312, kantorku. 7 Oktober 2004 09.03 WIB




Friday, September 24, 2004

Mengapa tadi malam kamu datang lagi
Meskipun itu hanya lewat mimpi?

Jujur, kenangan itu tiba-tiba membuncah
membanjiri seisi hati, dan sulit kutahan
membuat seisi kamar ingatanku basah dengan hadirmu
kenangan tentangmu, cerita tentangmu, tawamu
tangismu (dulu sekali), candamu, keringatmu (yang kuhapus dengan ujung jariku)
pintamu (yang manja itu), kerinduanmu (dulu juga).

Aku tak tahan (maaf, jangan bilang-bilang suamimu atau istriku)
Sepanjang hari, kesedihanku tumpah
harapku setitik tiba
tapi tak hendak menguap
meski kupanasi dengan kehangatan cinta yang lain

Mengapa tadi malam kamu datang
meski itu hanya lewat mimpi?

Duh, bersalahnya hati
ketika cinta masa lalu
menjadi temanku hari ini.

Istriku, maafkan suamimu
meskipun kau mestinya mengerti
ini hanya soal selembar kenangan
tak lebih
Karena berdosa bila aku menyiram lagi
bunga hati yang sudah kucabut
karena engkau tahu
sisa akarnya itu tak ingin kubelai

Mengapa engkau datang lagi
meskipun itu hanya lewat mimpi tadi malam?
Karena bila tidak, takkan kutuliskan ini

7312, kantorku 24 September 2004. 20.38 WIB


Thursday, September 09, 2004

BOM

BOM BLUM BLUM
BLUR BLAM BLAM BLAR

BLAM BLAM BOM BLAR BLAR
BLAM BLAM BOM BLUR BLUR
BLUR BLUR BOM BLUM BLUM

BOM

BLAR!!!!!!

6 tewas ratusan luka.. siang itu Kuningan terjaga
Entah dari mana
tapi ribuan mata terhenyak tak percaya
kota ini, berubah menjadi ladang
bom ditanam bencana dituai
darah dan air mata
Santapan siang itu..

BOM

BLAM BLAM BOM BLAR BLAR
BLAM BLAM BOM BLUR BLUR
BLUR BLUR BOM BLUM BLUM

BOM!!! LAKNAT!!!

7312, kantorku 9/9/2004 22.10 WIB

Wednesday, September 08, 2004

Gugur bunga di haribaan bumi, kemarin

Ku dengar kabar itu
sepintas namun menusuk jiwa
seorang kawan telah pergi

Engkau tak mengenalku dekat
jauh pun mungkin tidak
Namun namamu akrab bagiku
Apalagi perjuanganmu
Ketika engkau memilih
bersenggama dengan peluru
darah, air mata, dan derita orang lain
sedang deritamu, tak pernah kau bagi
barang sejumput
biar pun bagai ciuman sekilas

Kawan..

Kemarin berakhir hidupmu
Tak ada air mata di pipiku
Sudah kering telaga mata itu
Diteriki mentari negeri ini
karena masih terlalu panjang kawan
jalan yang harus ditempuh
meski sudah banyak jejak kakimu di situ

Negeri ini menangis
karena derita kaum penderita
belum juga berakhir
pun kian lara
saat bunga itu luruh
di tengah rumpun yang belum jadi
Terlalu cepat kawan
terlalu cepat kau tinggalkan
ranting dan batang, tempat kau menata pengharapan itu
harap mereka belum tumbuh sempurna
asa mereka belum bertunas ceria
>>sejak kemarin aku berpikir, tega nian engkau!>>

Meski begitu,
selamat jalan kawan..
mungkin bukan cuma aku,
namun itu ada mereka dan mereka
yang akan meneruskan jejak kaki itu
sampai perjalanan ini berhenti
di titik, saat langit dan bumi tiada
di titik saat cakrawala tempat kami berdiri
Untukmu ada nyanyian angin
menghembuskan wangimu
yang tak lekang meski kau luruh sebelum kembangmu dewasa
ada paduan suara bambu
mengiringi engkau pulang..

Selamat jalan kawan

untuk Munir yang meninggal kemarin, kantorku 12.30 WIB, 8 September 2004 7312

Monday, September 06, 2004

Suatu siang di gerbang keadilan

Buih mengintip dari bibir menghitam
teriakan mereka kian parau..
Kepalannya tak terlepas sejak subuh
Keringat itu kini membuat kaus lusuhnya
melekat di kulit mereka yang nyaris legam
Bau? entahlah, buktinya dara manis itu tak lekang dari sana.

Suatu sudut aku berdiri
Hanya bisa menatap
Sesekali tersenyum, atau marah


"Bebaskan BHM!"
Teriakan sedikit sumbang
menyembur dari mulut mereka
Tak peduli mentari bagai dua
tak hirau debu dan angin yang bersetubuh
Atau reramaian jalanan
mobil, motor, bus kota, dan pejalan kaki

Suatu sudut aku berdiam
Menyimak kata dalam hening


"Bungkam Pemberangus Pers!"
Serunya lagi.. Sang demonstran
siang itu ingin merangkap raga
Satu raga untuk jiwanya
satu raga untuk masa depannya..

Suatu sudut aku mengiya
satu untuk jiwaku,
satu untuk masa depanku


Hari ini dipertaruhkan
masa depan kebebasan
harapan satu-satunya kemerdekaan
Merdeka bicara, merdeka menilai

Namun nasib kami masih diperbincangkan
Dari ruang kaum pengadil
ditawar dan ditimang-timang
lalu dielus hingga kian gamang

Entah besok, atau lusa
Sang demonstran masih menunggu
Karena bagi mereka hari tak pernah berganti
Sekarang adalah besok dan nanti
Nanti adalah kini dan kemarin
Sampai tak ada lagi ludah yang bisa dimuncratkan
Sehingga tak ada lagi tangan terkepal
Atau bila tak ada lagi nafas menopang sukma

Pun dari suatu sudut
meski diam aku ikut teriak
menoreh kata di baris penuh makna
meski tak bicara aku berkata
Menumpukan harap pada pinta dan doa
Di sini, di suatu sudut
Aku merentang kata dan jala
Karena semangatku sudah ada di sana

Kantorku, 6 September 2004, 15.10 WIB 7312

Friday, August 27, 2004

Kotak Ajaib

Cling...!!
alkisah dari negeri beruang merah
Sebuah kotak ajaib tercipta. Pendaran cahaya yang darinya terbentuk sebuah sketsa..

Nama kotak ajaib itu kini televisi. Anda dan saya --juga mereka, pastilah sangat akrab dengannya. Lebih dari obat yang diminum tiga kali sehari. Bahkan ada yang lebih dari makan, tidur, kencing, dan (maaf) berak! Siapa tahu ada juga yang sudah menjadi bagian dari kebutuhan, seperti nafas ini. Siapa tahu?

Cling...!!
Heiii lihat.. aku melihat bintang di sana
Kerlipnya serupa juga, hanya ini sepertinya lebih dekat..
meski, sama-sama tak terjangkau juga

Sewaktu kecil, televisi adalah barang mahal buatku. Aku baru mengenalnya ketika umurku menjelang delapan. Itupun di rumah tetangga, yang saban malam sabar menungguku sampai layar itu tinggal bagai kunang-kunang tak tampak, kecil-kecil dan banyak pula. "Sudah! Mulak ma ho!(=sudah pulanglah kamu)," kata si pemilik rumah selalu. Kata-kata yang sama, tak bosan diujarkan, meski saban malam aku selalu kembali ke sana.

Cling...!!
Benarkah pandangan mataku ini? Bukankah itu si Tarupar? Yang dulu pernah menjadi teman bermainku? Mengapa wajahnya jadi lain ya? Kumal dan kusam. Rambutnya itu lho, dulu dia amat membangganya, mirip (alm) James Dean katanya. Aku pun cuma tertawa membalasnya, karena menurutku rambut itu lebih mirip sarang walet yang tak jadi. Tapi itu lho... kenapa dia ada di kotak itu yaa? Aku lupa membaca di layar bawahnya... Tarupar, (tersangka)

Kotak ajaib itu adalah makananku, juga minumanku, juga pemuas nafsuku. Dari sana hasrat menikmati jamuan terlezat bangkit. Juga jamuan bagi hasrat badani, ah! Mending kuhampiri istriku... Tapi tunggu dulu! Badan cewek itu lumayan juga. Padat berisi dan betisnya itu lho mbunting padi (:-D).. atau coba ganti saluran, barang kali di layar garuda terbang ada pemandangan lebih asyik, kali saja ketemu Inneke dari masa lalu.

Cling...!!
Hoiii bangun.. sudah pagi!


kantorku, 12.30 WIB, 27/8/2004, 7312



Tuesday, August 24, 2004

Aku Percaya

Aku percaya engkau ada
seperti semilir angin
membelai anak telinga

Aku percaya engkau hidup
seperti malam berganti pagi
menyapa nafas baru
hari ini

Tak perlu gunung berpindah
untuk menyebut ajaibmu
tiada juga ara berbuah
sebelum waktunya
untuk memanggil engkau yang perkasa

aku percaya maka aku ada
pun nanti
ketika waktu tak lagi bicara
kemarin dan lusa
karena yang tertinggal cuma kini

aku percaya maka aku hidup
sampai nanti
ketika dunia tak lagi berbatas
siang malam, pagi petang
karena kupuas
menjengukmu
bagai mata air tak binasa
kesejukannya adalah segara
tak habis meski aku, engkau, dan mereka
mereguknya senantiasa..

aku percaya..
maka aku bertahan
sampai bila asa terancam
kami dihela menuju bara
bagai emas kami dimurnikan
biar luruh nista di hati
lalu, ketika engkau tiba
lega hati, mengiringmu pulang

aku percaya..

kantorku, 24/08/2004 12.00 WIB 7312

Monday, August 02, 2004

Bekas Pacarku

Dulu ada bunga di taman hati
Merawatnya seperti biji mata

Bunga itu sudah dewasa
Namun kini tumbuh di taman yang lain..

kantorku, 2 Agustus 2004.
PS. 31 Juli 2004, untuk Lisna dan Olo.. selamat yaaa!!

Tuesday, July 06, 2004

Setahun Sudah..

(Untuk 5 Juli)
Kemarin, kuusap bilik hati
debarnya masih sama
Setahun tak memupus
Cinta itu masih ada

Tengah malam itu..
dengan setangkup harap
berbagai peristiwa
Kurangkai menjadi cerita
tentang kita
rindu itu pun masih sama

Kekasihku, istriku
Kemarin, kuusap ujung rambutmu
Kuselami binar matamu
atau dalam kata-katamu
dengan doa
dengan kidung
berharap utuh

Kemarin pun menjelang pagi
menjemput impian
yang hadir di tidur kita

Selamat ulang tahun sayang

7312, kantorku, 11.40 WIB



Wednesday, June 09, 2004

Rumah Kita

Rumah kita itu kini poranda
tangan-tangan mereka tak punya kasihan
tak dibiarkannya satu bata pun bertindihan

Rumah kita itu tinggal kata
dengung dendang asmaradana yang suci
terpantul di reruntuhannya

Mungkinkah Kau memang membiarkannya terjadi?

Mengapa susah sungguh menyebut namaMu?
dalam keheningan,...
dalam kedamaian,...
dalam kerukunan?

Kalap betul mereka
Padahal cintaMu juga untuknya
Beringas betul mereka
Padahal deritaMu juga untuknya

Sampai kapan Cinta kita
menemukan tempat di hari mereka?

Kantorku, 10.25 WIB 9 Juni 2004

Friday, May 21, 2004

Ketika kritik dikonotasikan sebagai hujat
Itulah awalnya pengingkaran
pada nilai kebebasan berpendapat
Itu pula awal
Matinya demokrasi...

Kematian demokrasi
mati pula kemanusiaan...

7312, 13.20 WIB

Monday, April 26, 2004

Hari ini kudengar kabarmu
Ibu dari kehidupanku
Penabur benih dan masa kanak-kanakku
Terbaring engkau
Mengerang sakit
menahan dera tubuh melemah

Tangisku tercekat
Sakitku tersendat
Dukaku memburai

Aduh Ibu
Kumengerang di antara deritamu
Kumerintih membayang rupamu
Jangan Kau renggut dia Tuhan!

7312, kantorku, 14.35 WIB

Monday, April 19, 2004

Tiga kematian

Tubuhnya renta
Terbalut ulos berukir emas
Penanda akhir yang bahagia
Saurmatua kata mereka..
Perpisahan kataku.

Satu kematian lain
Tentang hati
Pupus sudah harap
Tersimpan meski itu salah
Dua purnama lagi
Dia menjadi milik orang

Kematian ketiga
Tentang kecewa dan sesal
Merutuk diri
Memaki
Menghujam kedalaman
Dia bilang itu permainan
Aku tergugu..

Tiga kematian
Nyaris sepekan
Saat kutilasi kota itu
Air mataku sulit terbagi

tiga kematian
Kutinggalkan
Karena sebuah kehidupan mengajakku bercumbu.
"AKu pulang sayang!"

7312. Untuk Ompung, Lisna, dan Christina.. 19 April 2004. 20.30

Thursday, April 15, 2004

Siapa yang tahu kapan akan menjamu kematian?
Kecuali saat rohnya meninggalkan raga

Ayahku siang kemarin menjadi yatim piatu
Dan aku kini menjadi cucu tak berkakek-nenek
Tunai sudah hidup mereka.
Kakekku hampir 10 tahun silam
Dan nenekku menyusulnya siang kemarin

Siapa yang tahu kapan menjamu kematian?
Kecuali saat nafas menghembus dalam kesia-siaan

Ibuku siang kemarin menjadi yatim piatu
Dan aku kini menjadi cucu tak berkakek-nenek.

Sisa kenangan adalah pangkuannya
Menimang aku.. dalam kenangan yang terpendam
Bagian dari memori yang luput kusimpan
Salamku untuk Kakek, Nek!

untuk inang yang meninggal dunia kemarin siang. 7312. Kantorku 02.30 WIB




Thursday, April 08, 2004

Kemarin tiga tahun sudah dia pergi
Tak terasa memang
Tapi senyumnya yang membayang
masih meninggalkanku tanya
"Sudahkah Kamu seperti yang Dia mau?"

Tangis saja memang tak cukup
Membayar rasa bersalah
Bahwa perjalanan waktu
Belum membuktikan aku menang
"Maafkan aku, karena masih mengecewakanmu"

Tiga tahun kukenang engkau
Chiang terbaik, guru terbangku
Maaf
Karena aku belum berani terbang melebihi cakrawala
yang kemudian menghujam bumi
dengan kecepatan penuh
Menemukan harga terbaik
dari sebuah pengorbanan
Aku masih terbang melayang...
Meragu dan menunggu
Mungkin aku masih takut melepaskan setiap helai bulu ini
Pada sebuah perjuangan...

Dari langit tak berbatas...
Aku merasa engkau sabar menanti
Sampai kutembus batas waktu
Di sini dan di sana... adalah sekarang
pun keyakinan menjadi kesempurnaan
meskipun aku harus terbuang ke tebing jauh..
Namun aku akan pulang
menyongsong petang, terbang rendah menyapu permukaan
memeluk bulan dan memetik bintang
Bersama kerinduanku bertemu engkau
dan terutama Bapa kita itu...
Tunggulah!

Untuk (Alm) Ibu Maria, 7312, kantorku, 10.32 WIB

Tuesday, April 06, 2004

Pada Sebuah Pemandangan

Sebuah pemandangan menantang mata
menyibak malam pengkhianatan
Darahnya tercurah
Dagingnya tercabik
Tapi, mengapa sulit betul
Hati mereka tersentuh?

Jalan setapak, bagai ribuan hasta
sedang kuk tersandang
Di bahu yang lumer berdarah
Mengapa sarat benar
Putra menanggung perintah Abba?

Di tepian jalan itu
ribuan warsa silam
Putra Abba susah sungguh

Kaum cendekia menyebut
pemandangan tragis itu "Hyperrealis"
Vulgarisme, barbarianisme, terlalu!

Kaum suci meragu
mengganti luka-luka sang Putra
dengan aksara dan kata
Sehingga itu...
Luput kami merasai amis darahMu
Lengah kami mengecap getir piluMu
Lamban kami mewarta cintaMu
Lupa kami berjaga menantiMu

Ribuan warsa
genap sudah janji diseru
Abba bertitah, Putra sendika
"Tetelestai"
Sudah selesai, "Ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaKu!"

Abba, Tuhan, sang Empu Shakkah-ku
"Ampunilah aku dan mereka!"
Yang lemah daging kami Lalu berdosa
Alangkah gelap siang itu.
Namun, karenanya terang betul seisi hatiku.

7312, kantorku 12.15 WIB

Wednesday, March 31, 2004

Ketika Ayat Suci Dipolitisasi

"Mereka Yang letih lesu dan berbeban berat, coblos nomor 19"
Bukan buku suci, bukan testamen
Itu tulisan beberapa spanduk yang terpampang di sejumlah tempat hari ini

Dua ribu tahun lebih yang silam. Perkataan yang sama pernah diucapkan.
Dari mulut Anak Manusia bernama Yesus, Tuhan dan juruselamat itu.
Dia berkata, "Marilah kepadaku, engkau yang letih lesu dan berbeban berat."
"Aku akan memberimu kelegaan," kata Sang Mesias lagi.

Tentang spanduk-spanduk itu, jujur, ada apatisme
Sebab saat firman dikerdilkan menjadi jargon
Maka itulah mulanya yang suci dipolitisasi.
Lalu, ketika yang suci dipolitisasi
Itulah awalnya Tuhan diikat lagi di kayu salib.

7312, kantorku. 09.55 WIB

Monday, March 29, 2004

PENGOEMOEMAN ! ! !

DJANGAN LOEPA KOWE ORANG INLANDER-INLANDER JANG MAOE DARIPADA BERPESTA DEMOCRATJIE
DIOEMOEMKAN SATOE AHAD LIWAT BERKOEMPOEL
ITOE TJARI KANTOR KOWE PUNJA ROEKOEN TETANGGA ATAOE ROEKOEN WARGA

EITS..
TAPI KOWE ORANG NIET LOEPA
PILIH ITOE PARTIJ JANG BETOEL-BETOEL
MEMBAWAKAN ITOE KOWE POENJA ASPIRATIP

BAWA KOWE POENJA PAMILIE, SANAK, DAN TOLAN
NIET LOEPA HE.. JOU MOESTI DATANG NIET TELAAT JA

mendjelang 5 april 2004
7312 van tjamar
Batavia

Monday, March 15, 2004

Hingar Bingar Pesta Anu-Anu

21 hari pesta non stop pun digelar
Genderang ditabuh, memanggil Anu-Anu tertidur

Katamu Tuan-tuan, "Mari kita berpesta kawan... Pesta bercinta"
"Perlihatkan Anumu, Kuperlihatkan Anuku!"
"Rentangkan Anumu, Kurentangkan Anuku!"
"Mana jagoan Anumu, Ini jagoan Anuku!"
Kayuhlah biduk cintamu, jangan lupakan Anumu!"
Raihlah tubuh tuanmu, atau tuan mereka. Jangan lupakan Anunya!"

Jalanan mendadak riuh
Nusaku menjelang pesta bernafsu
Hajat Tuan-tuan dan Anunya
Pesta Demokrasi Tuan dan Anu, mereka menyebutnya.

Herannya,
Anu tuan-tuan yang dulu berkubu,
kini bagai sepasang pecinta
Bercinta tak putus, memeluk dan mengelus
Aduh itu kawulo dulu senyap membaur
Kini mendadak ikut-ikutan mengumbar

Jangan lupa, ini juga saatnya bercinta dengan jargon-jargon
Biasanya manis, semanis permainan lidah
seteduh garbha kewanitaan atau seteguh pallus kelelakian

Kata-katanya pun membisik liar
mengumbar janji. Harapnya jiwamu terbang ke awan-awan.
"Koruptor Anu akan ditraktor!"
"Kemiskinan Anu akan dientaskan!"
"Kesejahteraan Anu akan ditingkatkan!"
"Upah buruh Anu akan ditambah!"
"Anu kami berjanji, Anu kami berjanji!!"
"Karena itu jangan lupa pilih partai Anu, pilih caleg Anu, pilih si Anu, jangan Anu kalian sendiri!"

Sudah kian dekat waktunya
Hajat menunggu tuntas
Lega dari balik perut mendesak
Lega dari kantung pendulum menjerit. Ugh

Tapi tunggu dulu, Tuan! Tahan puncak kenikmatanmu!
Bagaimana bila Anu Tuan yang menang?
Maukah Tuan menepati janji?
Jangan-jangan tuan hanya tengah memuaskan berahi semata?
Setelahnya, tertidurlah tuan kembali. Juga Anu Tuan itu.
Tinggal kami, memandang Anu tuanku,
yang lemah dan usai orgasme. Lalu
menunggu orgasme lima tahun lagi
Atau biarkan kami yang kini orgasme, sebelum membunuh tuan?



kantorku, 15/03/2004. 10.17 WIB 7312

Tuesday, February 17, 2004

Bhumiku punya cerita
Di atasnya orang baik dan orang jahat
Batasnya kian bagai kulit bawang
tipis, namun memedihkan

Langitku punya cerita
Di bawahnya pejuang dan penjahat
Kini berdamai
Mereka tak lagi seteru
Bahkan mengikat diri dalam pernikahan
Mereka mempelai yang memutuskan tak lagi selibat

Inilah kantata
Mana kebanggaan?
Dihempas ke tubir laut
Dihujamkan ke dasar bumi
Atau dilempar ke kaki langit?

Kawula bumi kami, kini sendiri
Kurawa dan pandawa mengingkari intisari
Mereka berjabat tangan
Mungkin niatnya
Supaya enyah baratayudha
Damai-damailah
datanglah berkat dari Bhumi

Tetapi Di sini kami
kawula hanya bisa bersendawa
oleh Kenyang perut karena tertawa

Di sana pula kami
kawula yang berhenti mengedip mata
oleh rasa perih dan tangis yang tak kunjung usai

7312, kantorku, 15.05 WIB

Thursday, February 05, 2004

Aku Melihat "Itu Tuhan!"

.....

Ada perahu suatu malam
Penghuninya capai kebingungan
Menjala ikan sampai larut
Tapi danau itu sombong, tangkapannya semua luput


Tiba-tiba... "Coba lempar jalamu ke kanan!"


Para penghuni lusuh sederhana itu tersentak
sayup suara itu membelah angin yang lembut
Samar dari tepian sesosok tampak duduk
Berteman dengan sejumput api
menyisakan bayang-bayang
Dia seperti tarian api

....

Namun itu bukan saran, kawan
Itu perintah
Tutur yang satu
Baik, lakukan saja, toh tidak ada ruginya...
tutur yang lain
Meski mengandung nada putus harap

...

Hei! Lihat...
Jala kita penuh
Bagaimana mungkin?

Betul! Seakan isi danau
Berada di batas jaring-jaring ini
Semuanya! Ya! Semuanya!

..

Tunggu dulu! Siapa gerangan yang bicara itu?
"Itu Tuhan!" Aku Melihat dan mengenalnya!
.

7312, kantorku, 10.25 WIB

Tuesday, January 27, 2004

Aku Telah Mati

Semuanya sia-sia...
Semuanya adalah sampah!

Kuberikan waktu terlalu lama
untuk jiwa ini mengembara...
Mencari dan mencari
entah apa...

Rupanya dunia ini tak menjanjikan apa-apa... bahkan masa depan
bagi jiwa yang memapasi antara kehidupan dan kematian
dunia hanya diam, bila di seberang sana hanya akan kutemukan penyesalan

++"Maka carilah yang Kekal itu, dan semuanya akan ditambahkan kepadamu"

7312, kantorku 10.26 WIB

Friday, January 02, 2004

Terompet tiba-tiba saja membahana
Di awal dini hari yang sedikit mendung

Saat itu, masa rupanya sedang berganti
Tahun silam menjadi kini
Dan kini menunggu untuk ditapaki

Kutoleh sejenak
pada rentang sejarah warsa silam
Begitu banyak episode yang berlalu
Yang haru biru, atau yang duka kelam
Sejarah mencatatnya menjadi "Yang kemarin"

"Segala perkara dapat kutanggung
Dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku"

Bukan kesimpulan sesaat..
Bukan pula pikiran yang sesat
Bahwa bagiku, itulah tanda perjanjian
Antara aku dan yang Kekal

Lalu, di depan mata ada setangkup harap
pada waktu yang menunggu

"Ajarlah aku menghitung hari-hariku sedemikian, hingga aku menjadi bijaksana."

SELAMAT TAHUN BARU

Kantorku, 7312, 2 Januari 2004, 16.15 WIB