Tuesday, February 17, 2004

Bhumiku punya cerita
Di atasnya orang baik dan orang jahat
Batasnya kian bagai kulit bawang
tipis, namun memedihkan

Langitku punya cerita
Di bawahnya pejuang dan penjahat
Kini berdamai
Mereka tak lagi seteru
Bahkan mengikat diri dalam pernikahan
Mereka mempelai yang memutuskan tak lagi selibat

Inilah kantata
Mana kebanggaan?
Dihempas ke tubir laut
Dihujamkan ke dasar bumi
Atau dilempar ke kaki langit?

Kawula bumi kami, kini sendiri
Kurawa dan pandawa mengingkari intisari
Mereka berjabat tangan
Mungkin niatnya
Supaya enyah baratayudha
Damai-damailah
datanglah berkat dari Bhumi

Tetapi Di sini kami
kawula hanya bisa bersendawa
oleh Kenyang perut karena tertawa

Di sana pula kami
kawula yang berhenti mengedip mata
oleh rasa perih dan tangis yang tak kunjung usai

7312, kantorku, 15.05 WIB

Thursday, February 05, 2004

Aku Melihat "Itu Tuhan!"

.....

Ada perahu suatu malam
Penghuninya capai kebingungan
Menjala ikan sampai larut
Tapi danau itu sombong, tangkapannya semua luput


Tiba-tiba... "Coba lempar jalamu ke kanan!"


Para penghuni lusuh sederhana itu tersentak
sayup suara itu membelah angin yang lembut
Samar dari tepian sesosok tampak duduk
Berteman dengan sejumput api
menyisakan bayang-bayang
Dia seperti tarian api

....

Namun itu bukan saran, kawan
Itu perintah
Tutur yang satu
Baik, lakukan saja, toh tidak ada ruginya...
tutur yang lain
Meski mengandung nada putus harap

...

Hei! Lihat...
Jala kita penuh
Bagaimana mungkin?

Betul! Seakan isi danau
Berada di batas jaring-jaring ini
Semuanya! Ya! Semuanya!

..

Tunggu dulu! Siapa gerangan yang bicara itu?
"Itu Tuhan!" Aku Melihat dan mengenalnya!
.

7312, kantorku, 10.25 WIB