Monday, April 26, 2004

Hari ini kudengar kabarmu
Ibu dari kehidupanku
Penabur benih dan masa kanak-kanakku
Terbaring engkau
Mengerang sakit
menahan dera tubuh melemah

Tangisku tercekat
Sakitku tersendat
Dukaku memburai

Aduh Ibu
Kumengerang di antara deritamu
Kumerintih membayang rupamu
Jangan Kau renggut dia Tuhan!

7312, kantorku, 14.35 WIB

Monday, April 19, 2004

Tiga kematian

Tubuhnya renta
Terbalut ulos berukir emas
Penanda akhir yang bahagia
Saurmatua kata mereka..
Perpisahan kataku.

Satu kematian lain
Tentang hati
Pupus sudah harap
Tersimpan meski itu salah
Dua purnama lagi
Dia menjadi milik orang

Kematian ketiga
Tentang kecewa dan sesal
Merutuk diri
Memaki
Menghujam kedalaman
Dia bilang itu permainan
Aku tergugu..

Tiga kematian
Nyaris sepekan
Saat kutilasi kota itu
Air mataku sulit terbagi

tiga kematian
Kutinggalkan
Karena sebuah kehidupan mengajakku bercumbu.
"AKu pulang sayang!"

7312. Untuk Ompung, Lisna, dan Christina.. 19 April 2004. 20.30

Thursday, April 15, 2004

Siapa yang tahu kapan akan menjamu kematian?
Kecuali saat rohnya meninggalkan raga

Ayahku siang kemarin menjadi yatim piatu
Dan aku kini menjadi cucu tak berkakek-nenek
Tunai sudah hidup mereka.
Kakekku hampir 10 tahun silam
Dan nenekku menyusulnya siang kemarin

Siapa yang tahu kapan menjamu kematian?
Kecuali saat nafas menghembus dalam kesia-siaan

Ibuku siang kemarin menjadi yatim piatu
Dan aku kini menjadi cucu tak berkakek-nenek.

Sisa kenangan adalah pangkuannya
Menimang aku.. dalam kenangan yang terpendam
Bagian dari memori yang luput kusimpan
Salamku untuk Kakek, Nek!

untuk inang yang meninggal dunia kemarin siang. 7312. Kantorku 02.30 WIB




Thursday, April 08, 2004

Kemarin tiga tahun sudah dia pergi
Tak terasa memang
Tapi senyumnya yang membayang
masih meninggalkanku tanya
"Sudahkah Kamu seperti yang Dia mau?"

Tangis saja memang tak cukup
Membayar rasa bersalah
Bahwa perjalanan waktu
Belum membuktikan aku menang
"Maafkan aku, karena masih mengecewakanmu"

Tiga tahun kukenang engkau
Chiang terbaik, guru terbangku
Maaf
Karena aku belum berani terbang melebihi cakrawala
yang kemudian menghujam bumi
dengan kecepatan penuh
Menemukan harga terbaik
dari sebuah pengorbanan
Aku masih terbang melayang...
Meragu dan menunggu
Mungkin aku masih takut melepaskan setiap helai bulu ini
Pada sebuah perjuangan...

Dari langit tak berbatas...
Aku merasa engkau sabar menanti
Sampai kutembus batas waktu
Di sini dan di sana... adalah sekarang
pun keyakinan menjadi kesempurnaan
meskipun aku harus terbuang ke tebing jauh..
Namun aku akan pulang
menyongsong petang, terbang rendah menyapu permukaan
memeluk bulan dan memetik bintang
Bersama kerinduanku bertemu engkau
dan terutama Bapa kita itu...
Tunggulah!

Untuk (Alm) Ibu Maria, 7312, kantorku, 10.32 WIB

Tuesday, April 06, 2004

Pada Sebuah Pemandangan

Sebuah pemandangan menantang mata
menyibak malam pengkhianatan
Darahnya tercurah
Dagingnya tercabik
Tapi, mengapa sulit betul
Hati mereka tersentuh?

Jalan setapak, bagai ribuan hasta
sedang kuk tersandang
Di bahu yang lumer berdarah
Mengapa sarat benar
Putra menanggung perintah Abba?

Di tepian jalan itu
ribuan warsa silam
Putra Abba susah sungguh

Kaum cendekia menyebut
pemandangan tragis itu "Hyperrealis"
Vulgarisme, barbarianisme, terlalu!

Kaum suci meragu
mengganti luka-luka sang Putra
dengan aksara dan kata
Sehingga itu...
Luput kami merasai amis darahMu
Lengah kami mengecap getir piluMu
Lamban kami mewarta cintaMu
Lupa kami berjaga menantiMu

Ribuan warsa
genap sudah janji diseru
Abba bertitah, Putra sendika
"Tetelestai"
Sudah selesai, "Ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaKu!"

Abba, Tuhan, sang Empu Shakkah-ku
"Ampunilah aku dan mereka!"
Yang lemah daging kami Lalu berdosa
Alangkah gelap siang itu.
Namun, karenanya terang betul seisi hatiku.

7312, kantorku 12.15 WIB