Wednesday, June 09, 2004

Rumah Kita

Rumah kita itu kini poranda
tangan-tangan mereka tak punya kasihan
tak dibiarkannya satu bata pun bertindihan

Rumah kita itu tinggal kata
dengung dendang asmaradana yang suci
terpantul di reruntuhannya

Mungkinkah Kau memang membiarkannya terjadi?

Mengapa susah sungguh menyebut namaMu?
dalam keheningan,...
dalam kedamaian,...
dalam kerukunan?

Kalap betul mereka
Padahal cintaMu juga untuknya
Beringas betul mereka
Padahal deritaMu juga untuknya

Sampai kapan Cinta kita
menemukan tempat di hari mereka?

Kantorku, 10.25 WIB 9 Juni 2004