Friday, August 27, 2004

Kotak Ajaib

Cling...!!
alkisah dari negeri beruang merah
Sebuah kotak ajaib tercipta. Pendaran cahaya yang darinya terbentuk sebuah sketsa..

Nama kotak ajaib itu kini televisi. Anda dan saya --juga mereka, pastilah sangat akrab dengannya. Lebih dari obat yang diminum tiga kali sehari. Bahkan ada yang lebih dari makan, tidur, kencing, dan (maaf) berak! Siapa tahu ada juga yang sudah menjadi bagian dari kebutuhan, seperti nafas ini. Siapa tahu?

Cling...!!
Heiii lihat.. aku melihat bintang di sana
Kerlipnya serupa juga, hanya ini sepertinya lebih dekat..
meski, sama-sama tak terjangkau juga

Sewaktu kecil, televisi adalah barang mahal buatku. Aku baru mengenalnya ketika umurku menjelang delapan. Itupun di rumah tetangga, yang saban malam sabar menungguku sampai layar itu tinggal bagai kunang-kunang tak tampak, kecil-kecil dan banyak pula. "Sudah! Mulak ma ho!(=sudah pulanglah kamu)," kata si pemilik rumah selalu. Kata-kata yang sama, tak bosan diujarkan, meski saban malam aku selalu kembali ke sana.

Cling...!!
Benarkah pandangan mataku ini? Bukankah itu si Tarupar? Yang dulu pernah menjadi teman bermainku? Mengapa wajahnya jadi lain ya? Kumal dan kusam. Rambutnya itu lho, dulu dia amat membangganya, mirip (alm) James Dean katanya. Aku pun cuma tertawa membalasnya, karena menurutku rambut itu lebih mirip sarang walet yang tak jadi. Tapi itu lho... kenapa dia ada di kotak itu yaa? Aku lupa membaca di layar bawahnya... Tarupar, (tersangka)

Kotak ajaib itu adalah makananku, juga minumanku, juga pemuas nafsuku. Dari sana hasrat menikmati jamuan terlezat bangkit. Juga jamuan bagi hasrat badani, ah! Mending kuhampiri istriku... Tapi tunggu dulu! Badan cewek itu lumayan juga. Padat berisi dan betisnya itu lho mbunting padi (:-D).. atau coba ganti saluran, barang kali di layar garuda terbang ada pemandangan lebih asyik, kali saja ketemu Inneke dari masa lalu.

Cling...!!
Hoiii bangun.. sudah pagi!


kantorku, 12.30 WIB, 27/8/2004, 7312



Tuesday, August 24, 2004

Aku Percaya

Aku percaya engkau ada
seperti semilir angin
membelai anak telinga

Aku percaya engkau hidup
seperti malam berganti pagi
menyapa nafas baru
hari ini

Tak perlu gunung berpindah
untuk menyebut ajaibmu
tiada juga ara berbuah
sebelum waktunya
untuk memanggil engkau yang perkasa

aku percaya maka aku ada
pun nanti
ketika waktu tak lagi bicara
kemarin dan lusa
karena yang tertinggal cuma kini

aku percaya maka aku hidup
sampai nanti
ketika dunia tak lagi berbatas
siang malam, pagi petang
karena kupuas
menjengukmu
bagai mata air tak binasa
kesejukannya adalah segara
tak habis meski aku, engkau, dan mereka
mereguknya senantiasa..

aku percaya..
maka aku bertahan
sampai bila asa terancam
kami dihela menuju bara
bagai emas kami dimurnikan
biar luruh nista di hati
lalu, ketika engkau tiba
lega hati, mengiringmu pulang

aku percaya..

kantorku, 24/08/2004 12.00 WIB 7312

Monday, August 02, 2004

Bekas Pacarku

Dulu ada bunga di taman hati
Merawatnya seperti biji mata

Bunga itu sudah dewasa
Namun kini tumbuh di taman yang lain..

kantorku, 2 Agustus 2004.
PS. 31 Juli 2004, untuk Lisna dan Olo.. selamat yaaa!!