Friday, September 24, 2004

Mengapa tadi malam kamu datang lagi
Meskipun itu hanya lewat mimpi?

Jujur, kenangan itu tiba-tiba membuncah
membanjiri seisi hati, dan sulit kutahan
membuat seisi kamar ingatanku basah dengan hadirmu
kenangan tentangmu, cerita tentangmu, tawamu
tangismu (dulu sekali), candamu, keringatmu (yang kuhapus dengan ujung jariku)
pintamu (yang manja itu), kerinduanmu (dulu juga).

Aku tak tahan (maaf, jangan bilang-bilang suamimu atau istriku)
Sepanjang hari, kesedihanku tumpah
harapku setitik tiba
tapi tak hendak menguap
meski kupanasi dengan kehangatan cinta yang lain

Mengapa tadi malam kamu datang
meski itu hanya lewat mimpi?

Duh, bersalahnya hati
ketika cinta masa lalu
menjadi temanku hari ini.

Istriku, maafkan suamimu
meskipun kau mestinya mengerti
ini hanya soal selembar kenangan
tak lebih
Karena berdosa bila aku menyiram lagi
bunga hati yang sudah kucabut
karena engkau tahu
sisa akarnya itu tak ingin kubelai

Mengapa engkau datang lagi
meskipun itu hanya lewat mimpi tadi malam?
Karena bila tidak, takkan kutuliskan ini

7312, kantorku 24 September 2004. 20.38 WIB


Thursday, September 09, 2004

BOM

BOM BLUM BLUM
BLUR BLAM BLAM BLAR

BLAM BLAM BOM BLAR BLAR
BLAM BLAM BOM BLUR BLUR
BLUR BLUR BOM BLUM BLUM

BOM

BLAR!!!!!!

6 tewas ratusan luka.. siang itu Kuningan terjaga
Entah dari mana
tapi ribuan mata terhenyak tak percaya
kota ini, berubah menjadi ladang
bom ditanam bencana dituai
darah dan air mata
Santapan siang itu..

BOM

BLAM BLAM BOM BLAR BLAR
BLAM BLAM BOM BLUR BLUR
BLUR BLUR BOM BLUM BLUM

BOM!!! LAKNAT!!!

7312, kantorku 9/9/2004 22.10 WIB

Wednesday, September 08, 2004

Gugur bunga di haribaan bumi, kemarin

Ku dengar kabar itu
sepintas namun menusuk jiwa
seorang kawan telah pergi

Engkau tak mengenalku dekat
jauh pun mungkin tidak
Namun namamu akrab bagiku
Apalagi perjuanganmu
Ketika engkau memilih
bersenggama dengan peluru
darah, air mata, dan derita orang lain
sedang deritamu, tak pernah kau bagi
barang sejumput
biar pun bagai ciuman sekilas

Kawan..

Kemarin berakhir hidupmu
Tak ada air mata di pipiku
Sudah kering telaga mata itu
Diteriki mentari negeri ini
karena masih terlalu panjang kawan
jalan yang harus ditempuh
meski sudah banyak jejak kakimu di situ

Negeri ini menangis
karena derita kaum penderita
belum juga berakhir
pun kian lara
saat bunga itu luruh
di tengah rumpun yang belum jadi
Terlalu cepat kawan
terlalu cepat kau tinggalkan
ranting dan batang, tempat kau menata pengharapan itu
harap mereka belum tumbuh sempurna
asa mereka belum bertunas ceria
>>sejak kemarin aku berpikir, tega nian engkau!>>

Meski begitu,
selamat jalan kawan..
mungkin bukan cuma aku,
namun itu ada mereka dan mereka
yang akan meneruskan jejak kaki itu
sampai perjalanan ini berhenti
di titik, saat langit dan bumi tiada
di titik saat cakrawala tempat kami berdiri
Untukmu ada nyanyian angin
menghembuskan wangimu
yang tak lekang meski kau luruh sebelum kembangmu dewasa
ada paduan suara bambu
mengiringi engkau pulang..

Selamat jalan kawan

untuk Munir yang meninggal kemarin, kantorku 12.30 WIB, 8 September 2004 7312

Monday, September 06, 2004

Suatu siang di gerbang keadilan

Buih mengintip dari bibir menghitam
teriakan mereka kian parau..
Kepalannya tak terlepas sejak subuh
Keringat itu kini membuat kaus lusuhnya
melekat di kulit mereka yang nyaris legam
Bau? entahlah, buktinya dara manis itu tak lekang dari sana.

Suatu sudut aku berdiri
Hanya bisa menatap
Sesekali tersenyum, atau marah


"Bebaskan BHM!"
Teriakan sedikit sumbang
menyembur dari mulut mereka
Tak peduli mentari bagai dua
tak hirau debu dan angin yang bersetubuh
Atau reramaian jalanan
mobil, motor, bus kota, dan pejalan kaki

Suatu sudut aku berdiam
Menyimak kata dalam hening


"Bungkam Pemberangus Pers!"
Serunya lagi.. Sang demonstran
siang itu ingin merangkap raga
Satu raga untuk jiwanya
satu raga untuk masa depannya..

Suatu sudut aku mengiya
satu untuk jiwaku,
satu untuk masa depanku


Hari ini dipertaruhkan
masa depan kebebasan
harapan satu-satunya kemerdekaan
Merdeka bicara, merdeka menilai

Namun nasib kami masih diperbincangkan
Dari ruang kaum pengadil
ditawar dan ditimang-timang
lalu dielus hingga kian gamang

Entah besok, atau lusa
Sang demonstran masih menunggu
Karena bagi mereka hari tak pernah berganti
Sekarang adalah besok dan nanti
Nanti adalah kini dan kemarin
Sampai tak ada lagi ludah yang bisa dimuncratkan
Sehingga tak ada lagi tangan terkepal
Atau bila tak ada lagi nafas menopang sukma

Pun dari suatu sudut
meski diam aku ikut teriak
menoreh kata di baris penuh makna
meski tak bicara aku berkata
Menumpukan harap pada pinta dan doa
Di sini, di suatu sudut
Aku merentang kata dan jala
Karena semangatku sudah ada di sana

Kantorku, 6 September 2004, 15.10 WIB 7312