Wednesday, September 08, 2004

Gugur bunga di haribaan bumi, kemarin

Ku dengar kabar itu
sepintas namun menusuk jiwa
seorang kawan telah pergi

Engkau tak mengenalku dekat
jauh pun mungkin tidak
Namun namamu akrab bagiku
Apalagi perjuanganmu
Ketika engkau memilih
bersenggama dengan peluru
darah, air mata, dan derita orang lain
sedang deritamu, tak pernah kau bagi
barang sejumput
biar pun bagai ciuman sekilas

Kawan..

Kemarin berakhir hidupmu
Tak ada air mata di pipiku
Sudah kering telaga mata itu
Diteriki mentari negeri ini
karena masih terlalu panjang kawan
jalan yang harus ditempuh
meski sudah banyak jejak kakimu di situ

Negeri ini menangis
karena derita kaum penderita
belum juga berakhir
pun kian lara
saat bunga itu luruh
di tengah rumpun yang belum jadi
Terlalu cepat kawan
terlalu cepat kau tinggalkan
ranting dan batang, tempat kau menata pengharapan itu
harap mereka belum tumbuh sempurna
asa mereka belum bertunas ceria
>>sejak kemarin aku berpikir, tega nian engkau!>>

Meski begitu,
selamat jalan kawan..
mungkin bukan cuma aku,
namun itu ada mereka dan mereka
yang akan meneruskan jejak kaki itu
sampai perjalanan ini berhenti
di titik, saat langit dan bumi tiada
di titik saat cakrawala tempat kami berdiri
Untukmu ada nyanyian angin
menghembuskan wangimu
yang tak lekang meski kau luruh sebelum kembangmu dewasa
ada paduan suara bambu
mengiringi engkau pulang..

Selamat jalan kawan

untuk Munir yang meninggal kemarin, kantorku 12.30 WIB, 8 September 2004 7312

No comments: