Thursday, October 28, 2004

Jakarta suatu malam menjadi mencekam
Hingar bingar tempat menghibur diri sontak diam

Hari ini buletin Friendster banyak membahas soal FPI
Ada yang setuju para "prajurit" itu meneriakkan seru
Lalu menghantam apa saja dengan benda di tangannya.
Seakan menghela tenaga yang entah dari mana
Ingin membungkam maksiat katanya

Ada juga yang menentang
bahwa pasukan "Perang" itu cuma sekelebatan orang munafik
Tuhan itu bukan makhluk lemah yang patut dibela
Atau... bahwa kemaksiatan itu dibiarkan saja
tokh puasa kian berpahala bila sanggup menahan goda
Dan tak perlu mengayun gada

Manakah lebih baik
Mencela atau berdoa?
Mengancam atau mengucap salam?
Memukul atau merangkul?
Atas nama haru
Atas nama cinta
Atas nama Tuhan

Mudah-mudahan Jakarta suatu malam
Tak lagi mencekam.
Bukankah akan tiba saatnya, menuai setelah menanam?
Maka itulah masanya
yang mencinta, yang dimulia..

7312, kantorku 21.30 28 Oktober 2004

Thursday, October 14, 2004

Banyak Jalan

Pagi ini aku mengerti
Sang Putra berkata, "Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini:
Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah
tilammu dan berjalan?"

Mungkin lebih mudah
membuat orang lumpuh berjalan kembali
Atau mencelikkan mata seorang yang buta
Daripada menunjukkan kemana mereka harus berjalan
atau kemana mereka harus memandang..

Ya Tuhan
ajarku mencinta hari ini
Hingga cinta itulah yang menunjuk jalan
hingga cinta itulah yang menerangi gelapnya

7312, kantorku 14 Oktober 2004 09.30 WIB



Wednesday, October 13, 2004

Akan tiba suatu hari
Engkau memisahkan padi dan ilalang
menuai yang satu
dan membakar yang lain

Hari itu adalah perceraian
anak orang tua
suami istri
kerabat taulan
Mungkin ada air mata
Tapi sesal adalah sia-sia

Maka hari ini aku mengerti
bahwa tiap-tiap hari aku mesti mencinta
kumulai dari engkau yang membaca ini
Aku mencintaimu

7312, kantorku. 13 Oktober 2004 12.15

Thursday, October 07, 2004

Selamat pagi Cinta

Kusapa dunia hari ini
meski dari hati
ada kesal dan rutuk
Tapi aku sadar
Cinta adalah jawaban
hingga damailah di hati

Selamat pagi Cinta
kusapa tangan-tangan kasar
yang merusak gerbang Rumah-Mu kemarin
Kucoba mencinta mereka
meski mereka memaki kita

Selamat pagi Cinta
Kusapa mulut-mulut jahat
yang menyerapahi Rumah-Mu kemarin
Kucoba menyayangi mereka
meski mereka meludahi kita

Selamat pagi Cinta
Kubelai lembut hati mereka yang dengki
yang menyumpahi anak-anakMu kemarin
Kucoba menerima mereka
bagian dari hati yang suka
Meski mereka melempari kita

Kemarin Rumah kita dirusak lagi..
Kucoba mencinta mereka
Entah sampai kapan
Seorang kawan di pengadilan pernah berkata,
"Tak mungkin kami memberi pipi kiri kami untuk ditampar lagi, setelah mereka menampar pipi kanan kami. Sebaliknya kami akan menampar pipi mereka bila mereka menampar pipi kami!"

Tapi pagi ini, Engkau mengajarku tentang Cinta
Cinta untuk mereka yang mengutuki kami
Cinta untuk mereka yang menghina kami
Cinta untuk mereka yang merusak tempat kami bertemu Engkau
Cinta untuk mereka yang menghiasi kediamanMu dengan batu jalanan
Cinta untuk mereka yang mengusir anak-anak kami dari sekolahnya
Cinta untuk mereka yang menghalangi kami bertemu denganMu

Karena bila kami pun menampar mereka
Maka cinta kami telah menjadi benci
maka cinta kami telah menjadi jahat
Dan Engkau telah mengajar kami untuk mencintai
Bukan membenci
Tuhan tolonglah kami... Atau lekaslah datang karena kami ingin segera pulang

7312, kantorku. 7 Oktober 2004 09.03 WIB