Tuesday, December 06, 2005

DUA WAJAH

Terhempas aku di atas permukaan ombakmu
mengapung terkatung
Kehilangan haluan

Aku pun tak menemukan dasar
kaki untuk berpijak
Gamang, samar
kengerian memuncak

========

Akulah angin
bertiup kemana suka
Kubawakanmu bau salju Kilimanjaro
atau cerita dari Lembah Buni
Dari Sahara kuhangatkan hati
Bak oase pelipur lara
Ranum kurma
Nirwana sebuah kegersangan

Atau maukah kau mencium bau pucuk bambu
Dari Negeri Embun
Gemerisiknya bagai harmonisasi sebuah liturgi
Komposisi sebuah resital
Gemericik Sungai Mengular

Bila ingin
Aku pun menyimpan wangi rumput
di puncak pegunungan dari tanah negeri
berselimut bunga-bunga abadi

Pun ada nyanyian hujan di Lembah Negeri Senja
Merah yang tak pernah berakhir
Merindukan nyanyian hujan
Dan ringkik kuda, si impian pagi yang terlupakan

Mintalah, maka akan kubawa
serulah, maka akan kutitipkan pada bintang
Bila hadirku tiada kau rasa


========

Aku ingin mati saja

========

Mencintalah
Rangkumlah semua keindahan
dan nikmatilah
sebelum kau pergi

Barangkali kemanusiaanmu
Nista benar,
namun cinta telah membuatnya
Putih benar!

========

.........

========

Baiklah,
kumaafkan kau
hari ini


7312, 6 Desember 2005

Monday, November 28, 2005

Cinta dari masa lalu

Kau Cinta masa lalu
mengapa kemarin malam hadir?
Seulas senyum
si bintang malam
Berbaju merah berambut panjang
Senyum yang melekat
tak pernah kuhapus dari ingatan sayang

Berbaju cinta itulah
kupu-kupuku
Senyum serupa, tawa senada
Cinta yang kau bawa
Melemparku ke lembah tak berdasar
menggamang
Adakah sesal? Pantaskah sesal?
Cinta yang kubiarkan
melarung, kunista
Dulu kucumbu dengan dosa

"Andai,..."
Kupu-kupu melambat
menitipkan sayang pada rembulan
Sebuah perjalanan panjang
Berlari dari kenyataan
Tak berani aku
Tak kuasa aku
Relakah kau
bila sanggupku hanya binar mata?

malam yang tertinggal
menista aku hingga tersengal
Matikanlah aku
Hingga tak sempat kurasa
arti sebuah kehilangan
Cinta masa lalu
yang seperti inkarnasi
Dalam kupu-kupu
dari malam-malamku

Camar, 28 November 2005

Monday, November 21, 2005

Diam

Di rembang senja kutepekur
menatap siang yang beranjak tidur
Peraduannya memerah
Langit memudar
pada malam yang menjemput

Tepekurnya aku pada Cinta
yang membawaku kepada keajaiban
Memandang ke belakang lalu bertanya
"Mengapa?"

Rembang senja menjemput malam
Penanda berakhirnya sebuah masa
Besok menjelang yang silam
Di sinilah aku
Menatap perjalanan itu
Bagai tak percaya
Lalu ber-asa, mudah-mudahan berakhir segera

Tapi itulah kawan
Menghentikan masa bukanlah keahlianku
Perjalanannya, dari sejarah menjadi masa depan
adalah sebuah niscaya tanpa henti

Barangkali aku membutuhkan sebuah deja vu
Perjalanan tanpa henti menafikan yang lalu dan esok

Agar Cinta yang ajaib ini
Dapat kunikmati tanpa ragu

Biarlah kumiliki semua cinta ini
walaupun aku bagai bersembunyi
antara petang dan gelap
Antara binar-binar semata
dan yang senyatanya kureguk
Bersama pelukan tak lekang
Cintalah ini, kuyakinkan hati

7312, suatu pagi di Velbak 19 November 2005

Tuesday, October 25, 2005

Biar bagaimanapun, tugas baru di tempat baru tetap saja tak semudah yang dibayangkan orang. Begitulah yang terjadi hampir dua pekan sejak aku menduduki tempat baru di kantor baru. Semua serba baru, termasuk ritme kerja dan rutinitas.

Kadang-kadang aku terhenyak pada keraguan diri sendiri. Rasanya sulit bisa menelurkan sesuatu yang luar biasa bagi institusi in, selain menjalaninya bak sebuah rutinitas baru. "Pas banderol," kata Faisal, seorang temanku di kantor yang lama.

Barangkali Faisal benar. Hanya itulah yang sanggup aku lakukan setakat ini oleh karena berbagai keterbatasan diri sendiri. Seraya berharap suatu ketika ada mujizat Tuhan, bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang bisa diingat, setidaknya untuk kenangan sendiri.

Di sisi lain, aku bersyukur kini tak ada lagi halangan untuk menikmati akhir pekan di bait Allah. Aku pikir, ini jawaban doa yang seringkali aku sampaikan ke langit. Bahwa aku butuh saat-saat itu sebagai momentum yang tak boleh diganggu atau digugat oleh kegiatan dan acara lainnya. Hari itu saatnya persekutuan dengan yang Illahi dan keluarga CLF.

7312, 25 Oktober 2005

Friday, October 14, 2005

HARAPAN

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. (Mazmur 62: 5-8)

Kau kirim itu kemarin, sayang.
Perlambang cinta dan sayangmu
perhatian dan harap

Aku malu, bahwa kadang aku tak seperti
lelaki yang mengenal Tuhan dan harapan
di depan tantangan aku tergugu

Bila aku seorang musafir
maka aku adalah musafir buta
tak bertongkat dan bersepatu
Onak duri, sudah cukup membuatku urung

Bila aku adalah si tukang bangunan
maka aku adalah tukang yang bodoh
kurang perhitungan
dan enggan untuk membuka mata pada tuntunan
Cetakbiru hidup dari sekitab Firman

Aku lelaki yang kurang beriman
Padahal Allah adalah gunung batuku, keselamatan, dan kekuatanku
Di bawah sayapNya tempatku berlindung
Bak rajawali, menopang anaknya dengan nyawa

Sekali lagi Tuhan, maafkanlah lelaki ini
yang merasa takjub pada kasihMU
tertunjuk melalui cinta kekasihku
Yang tadi malam memelukku dengan sayangnya
mengusap rambutku dengan jemarinya
Menyampaikan getar-getar rindu
Kesetiaan yang tak pupus.

7312
14 oktober 2005

Thursday, October 13, 2005

Bimbang

Ucapan selamat mengalir kepadaku setelah aku diberitakan pindah ke majalah mulai senin pekan depan. Satu sisi hati bersyukur kepada Tuhan bahwa aku mendapat kesempatan menjalani suatu etape baru di dalam karirku.

Akan tetapi, sisi hati yang lain diliputi kekuatiran. Apakah aku sanggup? Masalahnya, mulai pekan depan aku bergabung dengan kompartemen Nasional. Kompartemen yang menjadi momok bagi para M-1ers di institusi kami.

"Belum pernah ada M-1 yang lulus dari nasional," kata seorang petinggi padaku beberapa waktu yang lalu, lama sebelum aku mendapat kepastian soal bergabung ke Nasional itu. Saat itu, hatiku berbisik, mudah-mudahan tak masuk Nasional.

Hati boleh berharap, kenyataannya dan keputusannya Nasional adalah pelabuhan awalku di majalah. Keputusan yang teramat mengagetkanku pada hari senin (10/10) yang lalu.

Apa boleh buat. Kenyataan yang ada di depan mata tak terhindarkan sudah. "Selamat!" kata seorang pentolan kompartemen itu. Duh!

Dua tahun aku menjauh dari isu politik dan sebagainya. Awalnya aku di kompartemen olahraga sebelum dipindahkan ke kompartemen internasional.

Alhasil, narasumber dan lobi yang aku bangun sebelumnya sudah tak ada lagi. Seiring bergantinya pemerintahan, berganti pula orang-orang yang ada di departemen-departemen, termasuk DPR.

Walhasil, aku bak memulai dari nol, bak seorang calon reporter yang berburu ke padang tandus. Taruhannya, bertemu dengan buruan gemuk atau mati kelaparan.

Saat ini aku berada di persimpangan meragu dan kuatir. Jalanan di hadapanku penuh dengan kabut, gulita dan membingungkan.

Tadi malam aku berdoa. Tuhan, Engkaulah pelitaku. Aku percaya keajaiban itu masih ada. Semoga

Camar

Monday, October 03, 2005

NYOMAN

Apa kabarmu Nyoman?
Masih sedihkah kau
saat kemarin bom laknat
kembali menggetarkan bumimu
Memecah hati yang merapuh?

Sudah sembuhkah lukamu hari ini?
Sisa-sisa kebiadaban manusia
Yang merasa dirinya TUHAN

Aih, bumimu TUHAN
Dilaknat ciptaanmu sendiri
Atas namaMU, katanya
Atas kehendakMU, katanya

Tapi benarkah DIRIMU sedemikian kejam?
TUHAN yang pemarah
TUHAN mengijinkan
Manusia memusnah manusia yang lain?

Benarkah TUHAN mengajarkan kebencian?
Bukankah KAU yang meminta
"Bila mereka menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu!"
"Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri!"
"Kasihilah orang lain, meski itu musuhmu?"

Tunjukkanlah padaku FirmanMU
(seperti yang mereka punya)
Firman yang mengijinkan
memburai isi tubuh Nyoman
merajam wajah Stefanus
Tunjukkanlah padaku PerkataanMU
(Seperti yang mereka dengar)
Perkataan Restu dan Cinta
Bagi sang penumpah darah

Benarkah pintu surga terbuka bagi mereka?
Setelah mereka puas di atas air mata orang lain
Setelah mereka tertawa di atas luka-luka orang lain
Setelah mereka girang di atas mayat orang lain

---------------------

(Terdiam Aku, anakKu! Melihat manusia
yang di tubuhnya mengalir nafasKu
Bukankah sudah Kukatakan,
Tidak ada seorang manusia pun yang benar? Seorang pun tidak!)

---------------------

Duh TUHAN!
Maafkanlah aku!

Ajarlah aku Mencinta
Meski harus ku pungut
serpihan-serpihan kecilnya
dari antara reruntuhan


7312 - untuk Nyoman di BALI
3 Oktober 2005

Friday, September 30, 2005

Pergi

Kutinggalkan kalian
dengan enggan
Berbilang cerita
Hari-hari bersamamu

Pun kau
Kupu-kupu kecil
bersayap mungil
merajuk
pada keinginan
yang tak bisa terpuaskan

Aku menjelang
Hari-hari baru
tempat yang baru
dan barangkali
cerita yang pun baru

Tapi yakinlah
aku hanya meninggalkan kalian
dengan jarak yang terentang
tak jauh memang
Pun meski hari-hari tak lagi sama
Bukankah tak mudah hati berubah?
seperti hatiku

Kupu-kupu kecilku
terbanglah kau
Menjadi besar
bersama kesendirian yang baru
meski membuatmu pernah meragu

Tapi jangan pernah
dewasakan dirimu
Hingga memandang hanya yang terlihat mata
Kupu-kupu kecil
memandang dengan hati bocah
melihat jauh dengan hati
kebenaran yang tersembunyi

Aku di sana
pasti akan kembali
meski hanya dengan sebaris doa
pun kerinduan

7312
Menjelang ke Proklamasi
30 September 2005
Pangeran Kecilmu

Andai aku punya
seorang pangeran kecil
seperti milikmu
Aku bisa mengerti
perasaanmu

Barangkali kini aku hanya bicara
dengan sebuah umpama
"Andaikan saja"

Tapi sobat
Hatiku menyimpan bahagia
Setidaknya, kau tidak tergugu
lalu tersungkur pada keadaan
Bahwa pangeran kecilmu
ternyata punya kekuatan
melebihi kekuatan kita sendiri

Itulah kepintarannya
tawanya, candanya, sorot matanya
lincahnya, tangisnya, dan doanya

Pangeran kecilmu
pun dapat menjadi tempat bergantung
mencurahkan kasih sayang
menemukan bahu yang lebih kuat
dari lelaki manapun
Sebab yang terlemah, justru yang terkuat
yang rapuh, justru yang terbaik
Sebab kau akan menjaganya
dengan cinta
yang bahkan tak bisa kau beri dan dapatkan
dari lelaki manapun

7312
30 september 2005

Monday, September 26, 2005

Aku Hanyalah Manusia

Andaikan aku seorang sejarawan
Akan ku buka selubung tanya
akan ku obrak-abrik selaput bimbang
yang dialami begitu banyak manusia

Sejarah butuh bukti
itulah sebabnya akan kugali peradaban kuno
ku beberkan cerita masa lalu
bagai sinetron masa kini
tanpa perlu dramatisasi

Andai aku orang pintar
Akan kutuliskan kitab baru
kitab kebenaran
TentangMu seutuhnya

Sehingga tak lagi ada serapah
Atau upaya membalikkan diri ini,
memunggungiMu Tuhan

--Andai gereja,
tidak kehilangan makna di bumi--
Gereja telah menjadi tahta
sekumpulan monark baru bertameng kitab suci
sehingga pemimpinnya patut disembah dan dipuja

Gereja adalah aku, tubuh ini, jiwa ini, bersemayamnya RohMu
sedari aku ada, hingga tubuh fana ini musnah

Tapi aku hanya manusia biasa
Tuduhan mereka, kadang menggentarkanku
Pernyataan mereka, kadang menggoncang imanku
Mana yang benar? Siapa yang benar?
Bibirku kelu, lidahku kaku
Pikiranku buntu

Tuhan, benarkah aku?
Bahwa aku hanya manusia yang berpikir sederhana
"Mencinta itu lebih baik
daripada sekedar menjabarkannya
Mengasihi itu lebih baik
daripada sekedar bertanya"

Diam tepekur dihadapanMu
Lebih baik daripada mencaci maki orang
Menyumpah serapah agama orang
"Agamamu itu penuh kebohongan!"

TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah (Mazmur 14:2)

Aih, Tuhan! aku semakin mengerti
Bahwa manusia tetaplah sama

Mereka yang mendirikan Menara Babel
adalah juga kami yang meninggikan hati kini
Mereka yang melaknat diri di Sodom dan Gomorah
Adalah juga kami yang bersenda dengan dosa kini

Engkau menciptakan kami dengan akal budi
Tapi kami tak mencariMu

Sampai kemudian aku mengerti oleh kenyataan:
Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap? (Yesaya 2:22)

Manusia adalah sampah
Bukahkah dosa sebabnya?
Tapi hanya cintaMulah yang membuat "sampah" itu berharga
CintaMulah yang membuat "sampah" menjadi permata
agar layak diam di hadiratMu
CintaMulah Yesus
Cintakulah Dia
Seperti Dia mencintaku

Tuhan, matikanlah aku dengan iman ini
Daripada dengan benci di hati
Kuburlah aku dengan cinta ini
Pada mereka kini

7312 --
26 September 2005
(Ditulis setelah membaca isi mailbox seorang teman--maaf ya de)

Friday, September 16, 2005

PENABUR CINTA

Aku penabur Cinta
Cintaku sesederhana sebuah kata
Hanya perlu kau raba
dengan hatimu
agar kau percaya

Tapi cintaku bukanlah batasan-batasan
dalam ikatan-ikatan fana
Cinta berahi, cinta mereka, cinta dunia

Bagiku cinta adalah cinta
sesederhana kata
sesederhana mata
sesederhana hati

Biar tak sakit hati
Pada kenyataan maupun penyesalan
Bahwa cinta tak harus memiliki
Sebab Cinta tak hendak memiliki
Cinta tak mati, ketika pecinta mati
Cinta bukanlah budak sang masa, seperti kita

Jangan kau terluka, bila tak ada kau dapat
Biarkan Cinta selalu memberi
Sebab Cinta tak menyesal, meski ditinggalkan

Sebab cinta
sesederhana kata
sesederhana mata
sesederhana hati

Mari lihat
cintaku disemai
bagai musim menabur
Di ladang-ladang hati
tak hendak menunggu sabar
hingga tiba musim menuai

aku dilahirkan bukan untuk menuai
cinta yang kutabur
biarkan dia tumbuh
bersama mentari dan rembulan
aku hanya menanti saat akhir tiba
di pintu dia memanggil
"Mari masuk pecintaku, engkaulah yang kunanti."

7312, kantorku 16.50 WIB 14 September 2005

Tuesday, August 30, 2005

RumahMU

------
Belakangan ini marak sekali penutupan gereja
Nyaris semarak pembukaan beberapa pusat perbelanjaan di Depok
"Gebyar Penutupan Gereja di Jawa Barat! Diskon puing-puing! Silakan ambil sendiri!"
------

(Bacalah dengan hati)
Ribuan orang tak dikenal merengsek
Menggapai seakan semua milik sendiri
Merusak seenak perut sendiri
Memaki bagai tak punya otak sendiri

RumahMU
Kini menjadi sasaran kemarahan
Tangan-tangan jahil nan nista
mengotori dengan sumpah serapah

Kebenaran dinyatakan dengan batu
parang, golok, dan ludah
Puluhan orang diusir dengan ratusan
Ratusan orang diusir dengan ribuan

Di negeri bernama Indonesia
Kebenaran adalah suara orang terbanyak
Suara kami
hanya desau pucuk bambu
Selintas berlalu

-----
(Kutulis dengan amarah)
Belakangan ini marak sekali penutupan gereja
Nyaris semarak pembukaan beberapa pusat perbelanjaan di Depok
"Gebyar Penutupan Gereja di Jawa Barat! Diskon puing-puing! Silakan ambil sendiri!"
"Atau gemas memukuli? Silaken, silaken, tersedia tongkat dan broti."
"Atau,... ingin yang lebih sadis? Silaken, silaken, tersedia pedang dan belati."
"Cincang saja, bantai saja, atas nama Tuhan ini!!"

----

(--kucoba--Kutulis dengan hati)
"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu." (Yohanes 15:18)
"Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah." (Yohanes
16:2)
"Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat." (Yohanes 17:14-15)


Abba, Engkau mengajarku (dan kami semua) untuk mencintai
Meski Cinta itu menghanguskanku (dan kami semua)
dalam arti sesungguhnya
menjadikanku (dan kami semua) bara
lalu tiada

Sebab menurutMu
Hanya cinta yang bisa mendamaikan dunia

Cinta membuatku tak bisa membenci
Meski mereka membakar rumah dan gereja kami
atau mungkin mereka melaknat kami

Hanya cinta
Yang dapat menyatukan mereka denganMu
Bagai cakrawala
Tempat langit dan bumi bercumbu

"Ajarilah kami bahasa CintaMu
Agar kami dekat padaMu."


7312
TADI MALAM

Tadi malam aku bermimpi
bersama pecinta dari masa lalu

Nyaris saja cintaku porak poranda
Bersama sakit
yang menggores akibat sesal

Bayangnya menyata
Bagai puluhan purnama silam

Hadirnya tak perlu kata
sebaris senyum
saat pandang bersinggung

Duhai pecinta masa lalu
Ajarku menerima hadirmu
bagai bunga lelap sahaja

Biarkan aku
jadi pecinta yang nyata
Dia,...
"Dia disebut perempuan
karena dia adalah tulang dari tulangmu
daging dari dagingmu"

7312

Tuesday, August 02, 2005

Cinta aku padamu
Meski tadi malam
Kau sirami dadaku
dengan air mata

Sembab kelopak matamu
"Maaf, apakah engkau sayang padaku?"
Katamu saat itu..

Sebenarnya ingin
kujawab saja tanyamu
melalui selisan kata

Akan tetapi
aku mengerti
ucapmu belum berhenti
Kunanti sebait kata lagi

Itu sebelum sepi

.........

Kekasihku
Cinta aku padamu
meski tadi malam
kau temani aku
dengan diam yang panjang

Aku bilang
Cinta tak mesti kata
bisa jadi ia butir air mata
Seerat peluk
pula gemetar
Saat kubungkam bibirmu
dengan kecupku

7312
2 Ags 2005

Monday, August 01, 2005

Kasihan Kau

Hari ini
kabar itu menyentak jantung
berakhir sudah kebersamaan
Kamu dan mereka

Jujur sayang
tak terbayang
apa yang akan kita hadapi besok
Gemetar aku

Hanya saja
Setindak aku teringat
bahwa ketakutan
bukanlah milik mereka yang punya cinta

Bahwa kekuatiran hari ini
biarlah untuk hari ini
Sesaat yang pasti berlalu
dalam tidur kita nanti malam

Sementara besok adalah harap
bagi mereka yang berdoa
mereka yang juga mencinta
dan mereka yang setia

Kekasihku,
pun meski semua itu harus berlalu
Aku punya CINTA
seperti milikmu
Yang akan menopang kita
Membawa kita meniti hidup

Meski ada kerikil dalam sepatu
Atau getar di dalam kalbu
biarlah itu hanya menjadi pertanda
bahwa kita hanyalah manusia

7312, for my wife

Wednesday, July 27, 2005




Hari ini melambat
dalam kenangan
setangkup penuh
kawan sejalan

Terkenang aku
pada sebuah perjalanan
aku dan kau
menyusuri dua kota
Berbicara tentang mu
dan aku
Sampai engkau tertidur

Di..
Aku masih merasakan terpaan angin sejuk itu
aku masih merasakan hangatnya baju rajutanmu
yang kau pinjamkan saat itu
pun
aku masih terkejut
akan cerewetnya dirimu

Di...
inikah deja vu?
Merentas batas
antara hari ini dan dulu
Di.. aku tak mau ini berakhir

"berbelas kasihanlah
wahai waktu!"
Diamlah barang seketika saja

Berilah kesempatan
sesaat
menghibur hatiku
memupus rinduku
pada sosok sahaja itu
pada pualam wajah itu
pada lembut bicara itu
pada kerisauan
dan gemetar sosok itu

Sebentar aku hanya mau bilang
"Di..
Sahajamu adalah
gambaran terbaik
kenanganku."


7312

Monday, July 25, 2005

KAWAN PERGI

Kabar sampai
sejenak tak percaya
hingga kuhantar tubuh fanamu kawan
ke peraduan dengan bumi
sesaat sahaja
walau rasa sejuta masa

Semasa itu,
berkelebat semua tentang perkawanan kita
adalah rentang cerita
saat kusapu
pualam kulitmu
dengan kagum
Bersahaja engkau
dalam selaksa mina
anugerah
yang membuatmu istimewa
di mata dan hatiku

Kawan
dan perkawanan kita
adalah hadiah terbaik
yang engkau tinggalkan bagiku
sementara menanti
bersua kembali kita
pada saatnya
bumi dan langit bercinta

Dian,...
pelita yang kini redup raganya
namun tak padam nurnya
Memberiku kesadaran
bahwa antara kau dan aku
juga sahabat-sahabat kita
adalah secinta

Dian Rahmasari
berkalang bumi kini
pualam nan memucat wajahmu tadi siang
ada sejumput senyum sekilas
menegurku untuk percaya
bahwa dirimu kini ada di pelukanNya

Selamat jalan kawan,
sahabatku, kekasih hati di dalam Cinta kita padaNya
Biarlah kuhantar ragamu dengan air mata
namun kutinggalkan
Bagi putramu Andrean
Tanda cintamu
untuk kurawat dengan doa
dengan cinta yang sama

Bagi kekasihmu Andreas
untuk kusapa dengan doa
dengan kasih yang sama

Selamat jalan
7312
Untuk Dian Rahmasari (Inggris'95), yang meninggal kemarin
Minggu (24/7). Rekan se-tim musik POSA FSUI. Keyboardist yang sederhana namun menyimpan sejuta talenta.

Friday, July 22, 2005




Sungguh,
tidak enak rasanya jatuh sakit.
Batuk tak henti
pilek, membuat hidung berair terus
Sekarang malah rasanya aku tengah terserang demam

Oh God!
Hari ini musti kerja
tapi pikiran sulit dipusatkan
seluruh badan rasanya sakit
lemah dan letih

Eh ! Kamu nularin aku ya!!!! (Hope someone i mean with, read this!)

Mudah-mudahan bukan Flu Burung...
Tapi masak sih aku bisa tertular?
Ah (menepis prasangka buruk)
Gak mungkin, gila kali yee
Ups.. tolong para pembaca, tolong jangan menyebar gosip
apalagi isu, bahwa aku kena flu burung ya...
Gak mungkin, geetho loh!!!!
even gejalanya nyaris sama dengan flu biasa (kecuali diare yang gak aku alami),
aku haqul yakin, aku cuma kena flu biasa

Maklum perubahan cuaca drastis dari Pulau Jawa dan Sumatera
dan mungkin juga karena selama di kampung, selalu makan daging-dagingan
kurang makan sayur
alhasil kekebalan tubuh menurun deh..

Tapi duh! Suer deh.. ini badan asli! Gak enak banget!

Cam

Wednesday, July 20, 2005



DANAU

Mengalir sampai jauh Danau Tobaku
Biru permukaan
wajahmu sendu pertanda tak kunjung tiba
Sampai kemana kau bawa aku putri cantikku?
Sampai kapan air matamu mengalir
terhina putra
si putra ikan

Danau Kau kucumbu
dalam sesaat kenangan menyergap
Kularung perahu
solu nauli ma goarna
Sejuk banyu
dipeluk berkas mentari
di ufuk Bukit Barisan

Aih putri malu
kecantikan menyirap darah
pemuda tak tahu diri
Merenggut kehormatan
tenggelam dalam kutuk
tangis sepanjang abad

Mengalirkan sampai jauh Danau Tobaku
Kering tiada
meski membuat kuatir
Menyurut sempat
karna durjana si pemilik loba
Direnggutnya kembang-kembang
Lukisan warisan
yang kian pudar

Sintakkon ahu da alogo
Terbangkan aku ke tepian danauku
Sampai habis nafas ini
bersama impian tak habis
hingga kucumbu lagi kamu
di tepian malam itu..
Menyurut amarah
nafas yang memburu lantaran cinta

7312
Sebuah catatan "Semalam di Tuk-tuk, Hotel Romlan 11 Juli 2005"

Ditulis kembali 20 Juli 2005

Thursday, July 07, 2005

Bunda telah tiada

Kudengar kabar itu
Bagai badai
di sejuknya pagi
Bunda telah tiada

Bunda, aku teringat
Betapa engkau tak pernah lelah
menapaki perjalanan hidup
Bahan tanpa sempat banyak bertanya
"Mengapa?"

Bunda menyisakan
setangkup senyum
penuh, tak kau sisakan untuk dirimu
buat kami, buat mereka, buat terunamu
Tiap-tiap hari
Itulah puisi terbaik
sajak hidup
yang kau lukiskan
melalui semua bahasa tubuhmu

Semangatmu Bunda
adalah gambaran abadi
tentang kelemahan yang tak menemukan tempat
untuk menghentikan engkau berjalan
Tentang kekuatiran yang tak menemukan saat

Bunda engkau sendiri
Namun menerabas
semua sisi kehidupan
Getir, kadang
Tapi kulihat
tawamu selalu ada
bahkan di saat
engkau tiba di ambang harapan dan impian

Bundaku pergi
meninggalkan tangis tanpa air mata
Ratap kami
tak hendak kau dengar
"Kalian harus terus berbuat baik
terus menjadi pandu, menjadi bakti"

Duh Bunda
Panduku sejati
Tunas kelapa yang tumbuh di gersangnya dunia
Membawa harap, bagai pucuk muda
Kini engkau sudah pergi
Entah apa ada tunas lain di negeri
Seperti kami
yang lambat laun
melarung dalam hidup
sampai tiada
namun seringnya tak berarti
Maaf Bunda

Bundaku pergi
Kami tetap di sini
menjadi waris
semangat janda setia
namun memandang kami semua
sebagai suami dan putra
memandang kehidupan
sebagai saat memberi makna
memandang takdir
sebagai saat memberi pahala

1 Juli 2005
Bundaku pergi
Pahlawanku
Kecintaanku
Kebanggaanku
Semangatku
Selamat jalan

7 Juli 2005
Selamat berpisah Bunda Bunakim
(wafat jumat 1 Juli 2005 pagi)
Pembina Pramuka UI, andalan Kwarnas, dan pelopor KOWAD dan Paskibraka

Wednesday, June 22, 2005

PRANARYA

Sebait sajak cinta
Pranarya buah hati
Terbaring lirih
di pembaringan pagi

Dia
semburat keajaiban Tuhan
Sayang kalian
dan (tentu saja) sayang kami

Lihat!
Mengerjap mata
si tanpa dosa
Dengan apakah kuhapus
air matamu, kanak-kanak?

Saputkan mendung hari ini sahabat
Sebab tangan Si Pemilik Hidup
adalah peraduan
yang lebih hangat dari tangan ibu

Berikan Pranarya
gempitanya kasih sayang
Ciumilah dia
dengan kehangatan
bagai tak habis

Pranarya, buah cinta
Ketika harap mengambang
Kupu-kupu yang mengepak sayap pertama
Menjawab kerinduan
kembang-kembang taman

Pranarya
Kupu-kupu kalian
dan (tentu saja) kami
Menghantar sajak
malaikat-malaikat surga
Tentang CintaNya
di hidup Pranarya

7312 - kantorku 22 JUni 2005
Untuk Edy Can, Docal, dan si buah hati Pranarya
(Tetap tegar sahabat2ku!)

Tuesday, June 07, 2005

Penjunanku

hari ini aku membaca lagi buah karya manusia
tentang engkau
Bukannya aku meragu
Hanya saja
Aku gemas
Datanglah segera dan bicaralah
Menyingkap kabut
Lalu bawalah kami pulang

Tapi sekedip mata aku sadar
Siapkah aku hari ini?
Ku tanah liat
apakah sudah berbentuk
menjadi sejati?

Pelitaku
apakah tetap kan bersinar
hingga rembang pagi?
saat pelita lain padam
Lalu tertinggal?

Penjunanku
Ajarku berjaga-jaga hari ini...


Kata Yohannes Pembabtis:
30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.
31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa
yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam
bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas
semuanya.
32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang
didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya
itu.
33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa
Allah adalah benar.



7312, kantorku 7 Juni 2005

Saturday, June 04, 2005

Ada tanya terbersit
dari rumpunan galau hati
Kemana jawab dicari?
Bukankah pada diam
Yang menggeliat?

Merona mentari
merentas dini
Harapan yang terbit
Kembang hidup hari ini

Selamat pagi dunia
Perjalananmu hari ini
Adalah tanya yang tersingkap
Meski aku buta
Bukankah lebih baik
membiarkan masa
menempuh perjalanannya sendiri?

Terima kasih sahabat
Sembari meniti waktu hari ini
Dari tepian tarian bocah Kali Code
Kuhantar rindu
temaram lalu kian memesona
Apa kabar mu hari ini?

7312
Thx to be such a nicest friend i ever had

Friday, June 03, 2005

Sepi di Yogyakarta

Ada sepi menyergap
Sejurus juga ada rindu
pada hari-hari silam
Ketika tanya kita tepiskan
Menempuh masa seperti tak habis
membunuh ketakutan
meski tak selalu berhasil

Ada rindu
pada hadirmu
seperti dulu
Melintasi perjalanan
malam yang terbiar

Juga rindu pada sosokmu
Kehendak yang pernah kubiarkan meraja
membuat hari-hari tak lagi biasa
Mungkinkah kini semua bagai tiada?

Dimanakah engkau sekarang?

7312, Yogyakarta 3 Juni 2005

Sunday, May 29, 2005

Akhir pekan lalu aku ulang tahun..
Banyak juga teman yang nyelametin duluan
entah kenapa di FS aku tertulisnya ultah tanggal 12 Mei
BTW, aku senang ada teman-teman yang memberi perhatiannya.

Beberapa juga kecewa karena di hari yang khusus itu aku malah cuti.
Ada yang mengira aku lari dari tanggung jawab menraktir, hehehe
Padahal, (for sure!), itu bukan maksudku
Aku cuma menginginkan hari itu
sebagai saatnya menyendiri (meski sulit juga secara harafiah)

Teng-teng. Begitu jam menunjuk pukul 24.00 WIB, istriku menghadiahi sebuah kecupan
(dan tentu saja sebutir telur, sebuah ibarat lahirnya kehidupan baru)
Siangnya aku berdiam di kamar berjam-jam. Tidur tak habis-habisnya.
Beberapa sms dari teman hadir, kecuali dari Putri :(

Lalu hari sabtu (21/5) aku bersantai ke Mega Mendung dengan teman sekantor.
Berenang setengah harian, sampai kulit melegam
Memimpin games (yang mendapat protes keras lantaran aku ikutan juga dan menang lagi!)
Malamnya mengikuti prosesi pengangkatan beberapa teman.

Hari minggu (22/5), sebelum kami berdarma-wisata ke Taman Safari,
aku mendapat kabar, Anggi/Anggraini/Nie, sahabatku, mengalami kecelakaan.
Ada rasa panik dan was-was juga karena pesan pendek selular itu bilang
kondisinya gawat
Sejurus aku berdoa, "Tuhan, Engkau memang yang empunya kehidupan dan aku memang dalam kondisi yang tak pantas berhadapan denganMU karena dosa-dosaku. Tapi tolonglah, kali ini saja, selamatkan dan sembuhkanlah dia."

Perjalanan di Taman Safari pun menjadi kurang nikmat, padahal itu kali pertama buatku.
Sore harinya kami makan di Ciawi, murah dan membikin kenyang. Semua teman terkaget-kaget, semurah itu di kawasan puncak?

Rencananya hari senin (23/5) aku dan istriku akan berpetualang ke luar kota
tentu saja dengan tunggangan setiaku, Kanzen Kelana 110 cc, yang pernah mengantar kami ke Bandung.
Tapi rencana itu batal karena kondisi kantong rupanya tak mengijinkan kami berleha-leha seperti dulu
Maklum sudah bulan tua.

Alhasil, keesokan harinya kami ikut dengan rombongan kuartet "R". Rosi dan suaminya, Ronald. Rubi dan pacarnya, Rosemary, ke Kebun Raya Bogor. Aku memilih tidur siang di bawah pohon rindang, ketika kami mulai menggelar tikar. (tentu saja setelah makan siang nasi uduk dan ayam goreng bekal dari rumah)

Malamnya berlalu di sebuah hotel berbintang di Bogor, aku dan istriku, berdua saja. Seorang teman bertanya, aku jawab itu bulan madu ketiga. Hehehehe
Baru hari rabu (25/5) aku bisa melawat Anggi. Duh, muka, kaki, dan tangannya penuh luka. Dagunya memanjang karena benturan, menghitam karena memar. Keningnya dijahit 12 jahitan, lantaran kaca helm yang pecah. "Sebaiknya beli helm yang bagusan!" kata Anggi sambil tertawa tanpa menaikkan bibir. Lucu juga caranya.

Anggi terlihat surprise melihat istriku.

Itulah, para sahabat camar! Sejumput cerita tentang hari-hari yang berlalu.
Camar ini kini berusia 2... tahun. Perjalanan yang panjang juga sebagai seekor camar
yang sedang belajar terbang. Hari ini aku sudah mulai bekerja lagi.

Seorang rekanku bilang begini di FS,

"teruslah kepakkan sayapmu...
menjelajahi angkasa tanpa batas, melampaui
batas-batas kecepatan...
walau terkadang badai cukup deras menerpa...
walau terkadang penat mendera sendi-sendi
sayapmu...
engkau tidak pernah sendiri...
God loves you and is with you, and I do and am
too...
Sammy"

Thx pak!
Tengkyu juga buat Sari (beloved friend and more), Helda (adikku, hope for sure), Ulfa juga, serta Dinie adik kelasku (aku tunggu traktirannya tanggal 7 Juni).
Teman-teman di FS yang mengejutkan. Mas Dwi SCTV, Jan Piter, dan Nita.
Tak lupa juga untuk camar-camar lain.
(hihihii udah kaya sampul kaset)

CAMAR

Tuesday, May 10, 2005

Cinta yang Rapuh

Aku menyadari cintaku rapuh
Bila genggamanmu kasar
dia akan remuk
berkeping dan sulit ditata

camar

Monday, May 09, 2005



Bagian Sejarah

JAKARTA - Hari ini format baru Koran Tempo resmi diluncurkan ke pasar. Labelnya adalah koran kompak, sebuah pergeseran konsep surat kabar harian broadsheet menjadi format tabloid lima kolom yang lebih mungil, ringkas, dan gampang dibawa.

Setelah melalui dua kali percobaan, akhirnya format final (yang digagas sejak setahun yang silam itu) pun sudah ada di tangan publik sejak hari ini.

Pemimpin Redaksi Koran Tempo yang baru diangkat bulan April yang silam, Toriq Hadad, kemarin mengatakan bahwa Koran Tempo telah menandai sejarah jurnalistik Indonesia dengan sebuah catatan penting. Dan kami sebagai awaknya, telah ikut berperan dalam sejarah tersebut.

Bagaimana rasanya menjadi tokoh dalam catatan sejarah? Mungkin tak perlu lagi bertanya kepada Sukarno-Hatta dari sejarah proklamasi, atau Sudirman dari sejarah TNI, atau Ki Hajar Dewantara dari sejarah pendidikan, sebab kami sudah tercatat dalam sejarah jurnalistik Indonesia.

Editorial Koran Tempo hari ini mengatakan bahwa perubahan itu menjadi niscaya sebab kebutuhan pembaca pun sudah mengalami perubahan. Media cetak tak lagi menjadi sumber tunggal informasi di tengah kian terbatasnya waktu. Oleh sebab itu, format baru ini ingin menjawab kebutuhan akan berita-berita yang singkat namun penting. "Seleksi berita dan kelengkapan penyajian adalah kata kunci bagi pembaca," demikian editorial tersebut.

Perubahan koran format broadsheet memang bukanlah yang pertama di jagad jurnalistik dunia. Dipelopori oleh harian The Independent di Inggris, koran kompak kemudian mewabah di Eropa. Inggris pula negara yang mempelopori lahirnya koran broadsheet sejak tahun 1712. Di Asia, Malaysia adalah pelopor saat New Straits Times mencoba menjawab tantangan setelah The Star mulai menyalibnya dalam tiras. "Ketimbang menunggu dan ketinggalan kereta, kami memilih lebih cepat melakukannya," kata bagian akhir editorial edisi perdana itu.

Demikianlah wahai sidang pembaca blog yang terhormat. Sebuah intervensi dalam blog yang biasanya mengejawantahkan puisi ini saya pikir perlu. Demi membawakan anda sebuah kabar, yang telah menjadi catatan sejarah tersendiri. Dan saya, sang camar, adalah bagiannya. Selamat membaca --Sang Camar menyarankan Anda berlangganan :-)

camar

Wednesday, May 04, 2005

Pulang

Tiba saatnya engkau pulang
Ketika semua terasa menjauh
Meninggalkanmu sebuah sepi
semasa yang menguap

Semasa pula kini menyadari
Bahwa sejumput harap
Bukan harga senilai
Dengan kenyataan

"Jonathan Livingstone,
Sadarlah!" kataku

Di depan mata dia ada
Tapi daya tangan tak sampai
Sebab hatinya tertambat
Di balik kabut yang tersaput melambai

Dua hati sudah terpaut
sewaktu tak habis
Dan engkau hanya sebuah titik
Kalau tidak sebuah nadir

"Jonathan Livingstone
Bangunlah dari impian!" Sergahku

Bangunlah hai jiwamu
Bernyanyilah dengan gambus dan kecapi
Tiuplah seruling dan ceracap
Sebab hari ini dijadikan untukmu

Berkidunglah wahai jiwamu
Dengan nyanyian malaikat
Bahwa meski engkau terhina dan tergugu
Cinta untukmu adalah air mancur tak terlaknat

"Aku sudah bangun, tak lagi bermimpi, hei nyanyian surga itu apakah untukku? Ya,... dengan pikiranku aku sudah ada bersamamu, Tuhanku," kata Jonathan Livingstone, tak lagi mencari remah roti di perahu nelayan.

camar
Camar Agung

Sabar-sabarlah anakku
Di tebing jauh aku ada
menantimu tiba
Bayangan sayapmu yang berciuman dengan permukaan laut
Adalah sumber gempitaku

Terbanglah kesini camarku
di tebing jauh kita bercumbuan
Bahwa tiada esok dan kemarin
Hari ini kita bersahaja
dengan cinta yang melahirkanmu
dengan cinta yang menyelamatkanmu
dengan cinta yang membawamu pulang

Berharaplah terus buah hatiku
Meski seperti engkau ada di ambang batas
Atau, bahkan bila luka hatimu
membuatmu patah dan meragu

Akulah Camar Agungmu
Ayah dari ayahmu
Ibu dari ibumu
Tulang dari tulangku
Daging dari dagingku
Mata dari mataku
Hati dari hatiku
Nafas dari hidupku

Terbanglah camar
Kumpulan itu sudah menantimu
Bawalah mereka terbang ke tebing jauh
Tempat kita nanti akan bertemu

(ditulis untuk Camar Agung oleh Camar)
4 mei 2005
Tebing Jauh

Di balik cahaya di kaki langit
Permukaan laut berpendaran
Pelan,
Mengusap wajahku dengan tempias
mendinginkan bara
Meraup hasrat baru

Camar,...
Mengecil sayapnya
Menukik dari ketinggian
Merentas waktu
Meniadakan saat ini dan kemarin
Di tebing jauh dan di sini
Hanya terpisah oleh pikiran

Sayapku lalu mengembang
Menyusuri permukaan
Pelan seperti rajawali
Membiarkan angin membelai bulu-buluku
menelusup memberi kesegaran jiwaku

Tebing jauh tempat berlabuh
Keterasingan yang menyenangkan
Saat-saat aku belajar terbang
Meniti buih ombak kadang kuterhempas
Namun mata Sang Agung
Adalah sahabat terdekat
Yang mengobati luka
Dan mendorongku kembali melayang
sampai kusempurna

Larung-larunglah Cinta itu
Di permukaan laut menuju kaki langit
Tempat Aku dan Sang Agung bercumbuan
Sampai aku menjadi batas di sini dan nanti
Sebelum aku pulang
Membawakan Cinta si buah hati

camar, kantorku 4 mei 2005

Tuesday, May 03, 2005

Ketika belahan hatimu terbang dibawa angin timur
yakinlah bahwa angin barat akan membawanya pulang
Meskipun hanya berupa sepenggal harap tak mati

Berharaplah terus agar engkau bertahan
Harapan itulah yang menumbuhkan keyakinan
Keyakinan yang akan membuatmu tahan uji

Sehingga bila tiba saatnya engkau berhenti
Bukan karena engkau putus asa
Tapi karena engkau sudah melupakan

Walaupun ada air mata
Janganlah kau biar hatimu terluka
Sebab luka akan membuat
tangismu seperti orang yang tak mengenal Tuhan

camar
(especially for P)
Cinta itu bertaburan di udara, seperti bintang tua
Dia tetap ada, meski siang membunuh malam

Cinta itu juga bertebaran di permukaan tanah seperti biji sesawi
Bertumbuh, berakar, dan berbuah

Cinta pun terapung di air seperti jerami
Kebenaran yang tak mungkin tersembunyi

Berpendaran di perut kunang-kunang
dan malam kita pun berkelap kelip

Aku ingin mencintai dengan cinta yang tak biasa
Cinta yang membawamu menikmati siang yang terbunuh
Dia berakar dan berbuah kehidupan
Kebenaran yang terungkap
Seperti pertanda di jalan tanpa arah

Meski mungkin aku akan memandang dari kejauhan
membiarkan waktu memilihkan jawaban
dari pertanyaan yang mestinya
tak perlu terucapkan
Atau meski hatinya berlabuh di perhentian lain

camar
Cintaku bukan di atas kertas
cintaku getaran yang sama
tak perlu dipaksa
tak perlu dicari
karena kuyakin ada jawabnya

Itulah sepenggal lagu "Bukan Cinta Biasa"

Lagu itu begitu saja menginspirasiku pagi ini ketika seorang teman tiba-tiba melemparkan pertanyaan, "Seperti apa wujud Cinta Tak Biasa?" Aku terdiam cukup lama setelahnya. Apakah itu cinta tak biasa?

Tiba-tiba aku merasa kehilangan.

Camar

Monday, May 02, 2005

Nafasku siang ini sesak
bernafas satu-satu
Dadaku sakit
perutku sakit
kepalaku pusing
Tanda-tanda mau sakit nih kayaknya :(
Cinta Menghangus

Hangus,...
Hanguskan aku dengan cintamu
Meski bukan cinta biasa

Lebur,...
Leburkan aku dengan ciumanmu
Meski mungkin impian semalam

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti kayu kepada api
yang menjadikannya debu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada
(dikutip dari Sapardi Djoko Darmono)

Tiadakan dan hanguskanlah aku cintaku
Sampai saat permukaan air berhenti beriak
Kita meniti bersamanya
Terapung, terbawa, hanyut, entah kemana

Tiada dan hanguskanlah aku kekasihku
sampai nyala api itu meredup
Kita membara bersama debunya
terbakar, terbang, tertiup entah kemana

Hangus,...
Hanguskan aku dengan cintamu
meski cinta kita bukan cinta biasa

7312, kantorku 2 Mei 2005

Friday, April 29, 2005

Such a hard day to walk through..
Beraat men!
Persoalan sudah muncul begitu saja
membuat pusing
emosi
Kayaknya gak ada kata cukup yah dalam hidup ini?
Aku merasa
alangkah indahnya bila manusia tak punya keterikatan apa-apa
apakah itu pada kebutuhan hidup
atau pada keinginan demi keinginan

Hai Tuan Anthony de Mello
Benarkah tidak punya ikatan itu juga membuat menderita??
Padahal aku justru merasa sebaliknya..

Wednesday, April 27, 2005

CINTA

Seorang sahabat mengutip Paus Benedictus XVI tentang "Terus mencintai meski harus menderita".

Aku jadi teringat dengan perkataan Yesus, sesaat sebelum Dia pergi ke Taman Getsemani dan ditangkap prajurit Imam Besar.

"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu." (Yohanes 15:12-14)

Tiba-tiba saja aku tertegun, malu sekaligus sedih..
terlalu lama jiwaku terlempar dari dunia yang luar biasa itu.
"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."
Bukankah aku sahabatNya?

kemarin aku gamang
kaki bagai tak berpijak
Entah di bumi mana aku
entah bertudung langit apa aku
Memandang dengan pongah
Menghakimi
Seakan kebenaran itu milik sendiri


Hai engkau jiwaku!
Cinta terbesar
sanggup mengukur dalamnya hati manusia
sanggup membuat perjalanan waktu
lintasannya adalah onak duri
antara kesalahpahaman, sampai sebuah penghakiman
menjadi penuh dengan pujian dan damai sejahtera

Cinta itu,...
Ada di balik senyum saat engkau dibenci
Ada di balik diam saat engkau dicaci
Ada di balik doa yang kau ujarkan hari ini
Untuk mereka, untuk dia, dan untuk sahabat-sahabatmu
Juga untuk seterumu

7312, kantorku 27 april 2005

Monday, April 25, 2005

akhirnya
pagi ini sukses juga mengedit template Blog ini
Ada fitur "bintjang"
yang memungkinkan teman-teman berinteraksi langsung
menanggapi, memuji, atau bahkan mencaci isi blog ini
monggo saja
Biarlah Tuhan yang membalas
semua budi baik, atau bahkan makiannya, :-D

camar

Monday, April 18, 2005

Sebuah rahasia

Seorang adikku bercerita tentang sebuah rahasia
Mungkin mereka sedang jatuh cinta
hanya saja tak berani bicara
Aku cuma bisa tertawa
Berharap cinta itu membuat mereka bahagia

Hai Cinta
Bicaralah tentang kerinduan
saat jarak terentang
sehingga hati berharap pada waktu
berharap pada keyakinan
semoga semua tetap bagai semula

Wahai Cinta
berlabuhlah di hati mereka
Melarung damai
di permukaan dan kedalaman
Sehingga mereka bisa terus berharap

7312, kantorku 18 April 2005

Friday, April 15, 2005

Aku berhenti berharap

Ada yang lalu
ada yang bisu
Aku tergugu
aku pun malu
bahwa aku mungkin terlalu

Di persimpangan kini aku
Apa ini cuma angan?
Bahwa aku sebetulnya
masih berdiri di tebing ini
Di cakrawala yang sama

Bahwa kegilaan
yang membawaku ragaku ke tempat lain
tanpa hati, tanpa perasaan
Aku mungkin camar yang tersesat

7312, kantorku 15 April 2005

Thursday, April 14, 2005

pagi baru saja berlalu
Tapi aku sudah merasa begitu jenuh,...
Rutinitas, mungkinkah membuatku mati?
Hari ini dan kemarin..
Bahkan juga mungkin nanti
Sepertinya nada datar saja,...
Dan bila aku diam
Mungkin saja aku akan mati...

Wednesday, April 13, 2005

sekuntum itu berlalu
membau tertinggal dalam sepi
Bisu hati pada ragu
ada yang hilang dari lubuk hati

Mawar dia kembang taman hati
semasa meski tak dapat diterka
laun melambat bagai bias
Atau hujan tempias di muka pasi

bunga dan idaman
Memadu di sukma
berebut tempatnya bertaut
aku sadar, yang tersisa hanya luka
nanti

Sejuta maaf
dan sebait rindu

Selaksa keliaran
dan sebentuk naluri

membias dan meredup
bagai kabut yang menepi
pada kehangatan malam
dari larik cahaya rembulan

entah besok dia membara
bersama bintang renta
sang suryakala

Lalu kita tempuh bentangan masa
bersama tekad melupakan
rindu menepiskan
hasrat menafikan

Bahwa malam masih kan datang
dan besok masih akan menjelang
Sebagaimana sekarang kita pulang
Pada kenyataan yang tak berbilang

7312, kantorku 12 April 2005

Tuesday, April 12, 2005

Engkau tidak pernah memiliki sesuatu
Engkau hanya memegangnya sebentar
Kalau engkau tidak dapat melepaskannya,
Engkau terbelenggu olehnya

Apa saja hartamu
Harta itu harus kau pegang dengan tanganmu
Seperti engkau memegang air

genggamlah erat erat
dan harta itu lepas

Akulah itu sebagai milikmu
dan engkau mencemarkannya
Lepaskanlah
Dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya

Dikutip atas seijin penulisnya, Putri. [katanya ditulis hari senin (11/4)]

Monday, April 11, 2005

Melihat dengan hati

Bila matamu
Tak lagi bisa melihat yang ada
Maka lihatlah dengan hati
sehingga engkau akan mengerti
Bahwa yang tak terlihat
sering lebih berarti

Mata orang dewasa
melihat bentuk
lalu menghakimi

Kadang mereka mengamini
entah sadar atau tidak
Mencari ketiadaan dari yang fana
Mencari keseimbangan
dari yang kasat mata

Aku ingin memiliki
mata kanak-kanak
Mencari kedalaman
dari yang sederhana

Mungkin mereka lebih mengerti arti cinta
karena mereka memandang
dengan mata dari surga

Sebelum dosa menjadikan mereka mangsa
sebelum dosa membuat mereka dewasa
Lalu akhirnya sama saja dengan kita

Sahabatku..
Kemarin kupandangi engkau
dengan sejumput kenangan masa kecil
sehingga aku bisa mengerti
bahwa engkau sudah memilih

Sebelum kusadari
bahwa engkau telah menyentuh
sesuatu di dalam hati
Mungkin engkau datang dari masa lalu
mengenalmu bagai kemarin
Lama..
Terkenang..
dan masih..

7312, kantorku 11 April 2005

Monday, April 04, 2005

Selamat jalan bapa
Kulihat engkau terbaring kemarin
jasad yang menyimpan banyak cerita

Dunia menangis untukmu
Seakan tak ada batas-batas
apalagi sekat keyakinan
Seperti kembali ke hasrat purba
bahwa kita hanyalah manusia
korban kesombongan
yang membuat kita semua berdosa

Selamat jalan bapa
Mata kami tak bisa mengukur
hati Bapa di surga tentangmu
Tapi dunia bilang
Engkaulah sosok terbaik

Selamat jalan bapa..

7312, kantorku 4 April 2005
Untuk Paus Yohannes Paulus II yang meninggal kemarin

Friday, April 01, 2005

Jikalau,...

Setan: "Jikalau Engkau Anak Allah,...
Ubahlah batu ini menjadi roti
Lompatlah dari bubungan Bait Allah ini
karena malaikat-malaikat akan menatang Engkau
dengan tangan mereka
sehingga kakiMu tak terantuk pada batu
Itu pun jikalau Engkau Anak Allah,..."

Setan menambahkan: "Atau,... sujud saja menyembah padaku
dan aku akan memberikan seluruh bumi ini kepadaMu
sebab Allah telah menyerahkannya kepadaku,..."

Dialog diatas terjadi ketika Yesus selesai berpuasa 40 hari
tanpa makan dan minum (As human being, Dia lapar)
Lalu iblis mencobai Dia di padang gurun.

Di sudut lain, tiga tahun lebih kemudian
Seorang prajurit yang ikut menyesah
dan memukuli Yesus sejak dari pengadilan Pilatus
sampai ke bukit Tengkorak, berkata persis seperti ucapan iblis:
"Jikalau Engkau Mesias, turunlah dari salib itu!"
Juga seorang pesakitan di sebelah salib Yesus berkata sama.
"Jikalau Engkau seorang Raja, mestinya Engkau turun dari salib itu."

Dua ribuan tahun kemudian,...
Saat kebenaran menjadi sumir
saat orang semakin rabun
membedakan mana kehendak manusia
dan mana kehendak Tuhan
Mereka masih mencobai Tuhan
"Jika Yesus adalah Mesias atau Tuhan itu sendiri,...
Mestinya Dia turun saja dari salib, atau menolak didera sampai mati seperti itu,
sungguh mengerikan! Dan seperti itulah Kekristenan, mengerikan!"

Jikalau,...

Sungguh menyedihkan, melihat manusia yang adalah ciptaan
ingin mendikte cara Penciptanya bekerja. "Jikalau Tuhan,..."
Mungkin saya dan kita berpikir,
"Seandainya saat itu Yesus turun dari salib, apakah yang terjadi?"
Mungkinkah saat itu seluruh manusia yang hadir saat penyaliban langsung bertobat
dan percaya bahwa Dia adalah Allah?

Saya pikir sebaliknya!
Mengapa?
Bila Yesus turun dari salib itu, maka wibawa Tuhan akan ambruk
sebab Tuhan seperti "menjilat ludahNya sendiri".
Yesus turun, maka berarti iblis menang. "Satu sama!"
"Lihat Allah, tak mungkin manusia bisa diselamatkan! Hahahahaha"
Dan tentu saja, iblis tambah senang sebab semakin banyaklah sahabatnya di neraka.

Sebab itulah Yesus menjawab, "Hai iblis! Jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu"
"Hai Setan! ada Firman yang berkata bahwa manusia tidak hidup hanya dari roti saja, melainkan dari Firman yang keluar dari mulut Tuhan sendiri!"
"Hai Biang Kejahatan dan kebinasaan! Hanya kepada Tuhanlah engkau harus menyembah!"

Itulah sebabnya ketika di atas salib, diantara amis darahnya sendiri, serta rasa sakit tak tertahankan, Yesus tak mengutuk, malah berkata
yang tak mungkin diucapkan manusia biasa (Haleluya, itulah tanda bahwa Dialah Tuhan)
"Ampunilah mereka Bapa, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

...

Lalu saat semuanya berakhir dan Yesus bangkit
sempurnalah sudah
Iman yang percaya pun tak sia-sia
Bahwa kematian telah kehilangan makna

...

Jikalau,...
"Hai! Jangan mencobai Tuhan Allahmu!!"


7312, kantorku 1 April 2005

Thursday, March 31, 2005

Elegi untuk Nias

Eli.. Eli.. Lama Sabakhtani
Allahku.. Allahku..
Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Belum lelap kami
Ketika malam menjadi jahanam
Bumi menari
Dan tarian itu menginjak tubuh kami

Mimpi luput pula
Bersalin rupa
Menjadi lolongan pahit dari hati
Allah.. Allahku..
Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Baru saja jiwa kami terpanah
Oleh kasihMU
yang teruras di bukit tengkorak berdarah
Lalu malam menghantar jiwa-jiwa saudara kami
ke bukit kematian
Allahku.. Allahku..
Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Berilah kami jawab dari tanya
Agar tak habis asa ini
supaya tak lemah jiwa ini
Sehingga tak mati kasih ini

Sampai kami mengerti benar
Makna Doa Teragung di Taman itu
Yaitu bebas dari kehendak diri
adalah lepas dari keterbatasan manusiawi
"Not my will, but Yours!"

Allahku.. Allahku..
Lepaskanlah kami dari kutuk
Agar tetap kami bersyukur
Meski maut bertemu muka
sampai tak gentar kami berkata
"Tetelestai"

7312, kantorku 31 maret 2005

Monday, March 28, 2005

Kemarin seorang pemimpin kami mengundurkan diri.
Tak ada debat, apalagi jawaban pada pertanyaan:
"Mengapa?"

Tapi kejadian itu hanya sebuah ekses
dari sekian panjang cerita..
bicara tentang keterbukaan pikiran
bicara tentang kebebasan berpendapat
bicara tentang kritisisasi
Yang dibungkam
atas nama Suara Tuhan

Benarkah kritis artinya sakit jiwa?

Itulah yang terjadi
itulah yang keluar dari mulut
seorang Chiang,
yang mustinya berhati seluas lautan

Maka tanda tanyaku adalah:
"Bila setiap orang yang berbeda pendapat dikatakan sakit jiwa
maka siapa sebetulnya yang sakit jiwa?"

Wahai Tuhan
Semalam aku bertanya
Apakah yang sedang terjadi?
Dan kini aku masih bertanya
Apakah yang sedang terjadi?

7312, kantorku 28 maret 2005

Tuesday, March 15, 2005

Lautan pekat itu membelitku
Bagai seekor ular berbisa
Menelan bulat-bulat
Sebelum mengunyah dalam diam

Di tempatku membuang waktu
Tak ada tempat berpijak yang aman
setiap langkah
adalah bibir kejatuhan
Lalu tenggelam tanpa daya

Lautan itu manusia kehilangan malu
Lautan itu situasi bicara pengingkaran
Lautan itu eksistensi menjadi sumir

Di belahan lain ada banyak yang bicara idealisme
Tapi saksikanlah
Di dalam lautan itu
banyak yang bicara tentang pencarian
Mereka, para pelayar
melego jangkar dan meraup ikan-ikan
"lembar rupiah" yang datang
dipaksa maupun tidak
yang ikhlas maupun yang penuh takut
Itu nafasnya.. tak ada bedanya
media terbesar sampai ecek-ecek

Duh
daya ini hampir habis..
mungkin sebentar lagi aku putus asa

7312, kantorku 20.20 WIB





Friday, February 18, 2005

Not My Will but Yours

Suatu malam di kaki bukit
peluh menjadi darah
di wajah
yang tak menyirat ketampanan

Malam itu bicara
tentang hati yang nyaris patah
di muka 'sang pemilik kehendak mula-mula'

hati yang nyaris patah itu berteriak
"Bila mungkin, enyahkanlah cawan ini!"

Teriak dibalas diam
Malam itu senyap,
bahkan bebunyian penghuni hutan
serentak lenyap

Tapi lirih bagai syair malu-malu
hati yang patah berubah tegar
"Not My Will but Yours!"

Bagiku,
itulah doa terbaik sepanjang zaman
Doa pasrah di depan kematian
Sebab yang utama
memberi hidup demi setia

KehendakMulah yang jadi
bukan kehendakku.

7312, 18 Februari 2005 09.30 kantorku

Monday, February 14, 2005

Pesan Cinta Blogger Indonesia


src="http://vrs.priyadi.net/vrs.png" alt="Valentine Untuk Roy Suryo" width="234" height="60" />



Internet, 14 Februari 2005

Sehubungan dengan berbagai komentar KRMT Roy Suryo Notodiprojo akhir-akhir ini di berbagai media, kami, komunitas blog Indonesia berkesimpulan bahwa beliau kekurangan informasi atau bahkan menerima informasi yang tidak benar tentang blog. Kami sendiri memandang bahwa blog adalah hasil dari evolusi bertahun-tahun di Internet, yang semakin menunjukkan bahwa Internet adalah wadah nyata untuk saling menghubungkan orang-orang di dunia nyata.

Kami juga yakin bahwa KRMT Roy Suryo sebagai seorang manusia tentulah sangat membutuhkan kasih sayang dari orang lain. Oleh karena itu, kami, komunitas blog Indonesia pada bulan penuh cinta ini sepakat untuk mendedikasikan hari Valentine tahun 2005 khusus untuk KRMT Roy Suryo Notodiprojo.

Salam hangat selalu serta penuh perhatian dan kasih sayang dari kami untuk KRMT Roy Suryo Notodiprojo di Hari Kasih Sayang ini.

Tertanda

Komunitas Blog Indonesia

ps. Bagi rekan-rekan sesama blogger yang ingin ikut berpartisipasi, silakan lihat undangan acara ini.

Tuesday, February 01, 2005

Abba kusebut engkau bapa

Perancang lahirku
pembentuk ragaku
satu sel pun tak luput dari matamu

Lahirku adalah harumu
teriakku adalah bahagiamu
Geliatku adalah sorakmu
Sorot mataku adalah tawamu

Pun
Ketika berlari aku meninggalkanmu
atau bilamana aku membuang muka
mencibir engkau
kala aku berdosa
dan membuat air mata menetes
di sudut matamu

cintamu bagai air tercurah
tak lebih banyak atau kurang
oleh sebab lakuku

sayangmu bagai embun sejuk
tak menguap dan kering
oleh sebab aku

Abba, kupanggil engkau bapa
ketika engkau mau
menyebut aku anakmu.

7312, kantorku, 25 Januari 2005 11.15 WIB

Friday, January 14, 2005

Apa kabar tanah rencong?

Pagi ini, sudahkah engkau lahap sarapanmu
Meski itu cuma sepiring mie instant
berkuah dengan rasa yang mungkin bosan kau kecap

Tengku dan Teuku cilik?
Sudah berangkatkah kau sekolah
Di gedung maya beratap langit
dudukmu hanya beralas terpal
dindingnya bau mayit-mayit

Ayahanda dan bunda?
Sudahkah kalian menyapa pagi
berharap apa hari ini
pada hari-hari yang tak lagi sama
selepas bertemu muka
dengan keajaiban bumi
bersentuhan dengan misteri illahi
yang mungkin, tak kalian mengerti

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,
apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
(Yakobus 1:2-4)

7312, kantorku, 10.40 WIB




Thursday, January 06, 2005

Nyanyian Kematian Pagi Hari

Pagi itu maut bernyanyi
Di utara dan di barat
Aromanya anyir
Mencium ujung nyiur
yang berhenti bergoyang
lantaran kehilangan akar berpijak

Nyanyian maut adalah lagu duka
Anak-anak kehilangan ibu dan bapak
atau orang tua yang kehilangan anak
Sanak dan handai tercerai berai
Lagu duka, nyanyian pagi itu

Pagi itu, tak perlu berlama-lama
Luluh lantak negeriku
Perang mesiu tak membuatnya luluh
anyir darah pertempuran belum pernah membuatnya menyerah
Tapi hempasan air sekejap
sudah cukup membuatnya lumat

Pagi cerah telah berubah menjadi laknat
Ratusan ribu jiwa terhempas
Negeri kita dan negeri mereka
Tubuh-tubuh dikerubung lalat
Satu demi satu luluh dan menjadi tiada
Berpulang ke bumi, tempatnya lahir
dan tempatnya terbunuh

Ah Tuhan,
Andai saja aku mengerti
apa yang ada di dalam hatiMu
Sehingga Dikau membiarkannya begitu
Tiada Tuan mencegah ombak itu
atau setidaknya menghelanya ke tempat nan jauh
Tuan biarkan dia bersandar
di pelabuhan hati kami yang kini terkoyak

"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak
berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang
tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari
kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di
dalam Allah yang menyelamatkan aku.
ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki
rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.
(Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)" (Habakuk 3: 17-19)

Aku berharap
Bencana itu tak membuang jauh harapku padaMu
luka-luka itu tak memupus impianku
Bahwa, meski bencana ada padaku
Aku tetap percaya padaMu

Aku tetap percaya padaMu
Bahwa Dikau tak memberi cobaan
yang melebihi kekuatan kami

7312, kantorku, 6 Januari 2005. Untuk bencana tsunami di Aceh dan SUMUT