Friday, January 14, 2005

Apa kabar tanah rencong?

Pagi ini, sudahkah engkau lahap sarapanmu
Meski itu cuma sepiring mie instant
berkuah dengan rasa yang mungkin bosan kau kecap

Tengku dan Teuku cilik?
Sudah berangkatkah kau sekolah
Di gedung maya beratap langit
dudukmu hanya beralas terpal
dindingnya bau mayit-mayit

Ayahanda dan bunda?
Sudahkah kalian menyapa pagi
berharap apa hari ini
pada hari-hari yang tak lagi sama
selepas bertemu muka
dengan keajaiban bumi
bersentuhan dengan misteri illahi
yang mungkin, tak kalian mengerti

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,
apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
(Yakobus 1:2-4)

7312, kantorku, 10.40 WIB




Thursday, January 06, 2005

Nyanyian Kematian Pagi Hari

Pagi itu maut bernyanyi
Di utara dan di barat
Aromanya anyir
Mencium ujung nyiur
yang berhenti bergoyang
lantaran kehilangan akar berpijak

Nyanyian maut adalah lagu duka
Anak-anak kehilangan ibu dan bapak
atau orang tua yang kehilangan anak
Sanak dan handai tercerai berai
Lagu duka, nyanyian pagi itu

Pagi itu, tak perlu berlama-lama
Luluh lantak negeriku
Perang mesiu tak membuatnya luluh
anyir darah pertempuran belum pernah membuatnya menyerah
Tapi hempasan air sekejap
sudah cukup membuatnya lumat

Pagi cerah telah berubah menjadi laknat
Ratusan ribu jiwa terhempas
Negeri kita dan negeri mereka
Tubuh-tubuh dikerubung lalat
Satu demi satu luluh dan menjadi tiada
Berpulang ke bumi, tempatnya lahir
dan tempatnya terbunuh

Ah Tuhan,
Andai saja aku mengerti
apa yang ada di dalam hatiMu
Sehingga Dikau membiarkannya begitu
Tiada Tuan mencegah ombak itu
atau setidaknya menghelanya ke tempat nan jauh
Tuan biarkan dia bersandar
di pelabuhan hati kami yang kini terkoyak

"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak
berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang
tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari
kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di
dalam Allah yang menyelamatkan aku.
ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki
rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.
(Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)" (Habakuk 3: 17-19)

Aku berharap
Bencana itu tak membuang jauh harapku padaMu
luka-luka itu tak memupus impianku
Bahwa, meski bencana ada padaku
Aku tetap percaya padaMu

Aku tetap percaya padaMu
Bahwa Dikau tak memberi cobaan
yang melebihi kekuatan kami

7312, kantorku, 6 Januari 2005. Untuk bencana tsunami di Aceh dan SUMUT