Friday, February 18, 2005

Not My Will but Yours

Suatu malam di kaki bukit
peluh menjadi darah
di wajah
yang tak menyirat ketampanan

Malam itu bicara
tentang hati yang nyaris patah
di muka 'sang pemilik kehendak mula-mula'

hati yang nyaris patah itu berteriak
"Bila mungkin, enyahkanlah cawan ini!"

Teriak dibalas diam
Malam itu senyap,
bahkan bebunyian penghuni hutan
serentak lenyap

Tapi lirih bagai syair malu-malu
hati yang patah berubah tegar
"Not My Will but Yours!"

Bagiku,
itulah doa terbaik sepanjang zaman
Doa pasrah di depan kematian
Sebab yang utama
memberi hidup demi setia

KehendakMulah yang jadi
bukan kehendakku.

7312, 18 Februari 2005 09.30 kantorku

Monday, February 14, 2005

Pesan Cinta Blogger Indonesia


src="http://vrs.priyadi.net/vrs.png" alt="Valentine Untuk Roy Suryo" width="234" height="60" />



Internet, 14 Februari 2005

Sehubungan dengan berbagai komentar KRMT Roy Suryo Notodiprojo akhir-akhir ini di berbagai media, kami, komunitas blog Indonesia berkesimpulan bahwa beliau kekurangan informasi atau bahkan menerima informasi yang tidak benar tentang blog. Kami sendiri memandang bahwa blog adalah hasil dari evolusi bertahun-tahun di Internet, yang semakin menunjukkan bahwa Internet adalah wadah nyata untuk saling menghubungkan orang-orang di dunia nyata.

Kami juga yakin bahwa KRMT Roy Suryo sebagai seorang manusia tentulah sangat membutuhkan kasih sayang dari orang lain. Oleh karena itu, kami, komunitas blog Indonesia pada bulan penuh cinta ini sepakat untuk mendedikasikan hari Valentine tahun 2005 khusus untuk KRMT Roy Suryo Notodiprojo.

Salam hangat selalu serta penuh perhatian dan kasih sayang dari kami untuk KRMT Roy Suryo Notodiprojo di Hari Kasih Sayang ini.

Tertanda

Komunitas Blog Indonesia

ps. Bagi rekan-rekan sesama blogger yang ingin ikut berpartisipasi, silakan lihat undangan acara ini.

Tuesday, February 01, 2005

Abba kusebut engkau bapa

Perancang lahirku
pembentuk ragaku
satu sel pun tak luput dari matamu

Lahirku adalah harumu
teriakku adalah bahagiamu
Geliatku adalah sorakmu
Sorot mataku adalah tawamu

Pun
Ketika berlari aku meninggalkanmu
atau bilamana aku membuang muka
mencibir engkau
kala aku berdosa
dan membuat air mata menetes
di sudut matamu

cintamu bagai air tercurah
tak lebih banyak atau kurang
oleh sebab lakuku

sayangmu bagai embun sejuk
tak menguap dan kering
oleh sebab aku

Abba, kupanggil engkau bapa
ketika engkau mau
menyebut aku anakmu.

7312, kantorku, 25 Januari 2005 11.15 WIB