Thursday, March 31, 2005

Elegi untuk Nias

Eli.. Eli.. Lama Sabakhtani
Allahku.. Allahku..
Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Belum lelap kami
Ketika malam menjadi jahanam
Bumi menari
Dan tarian itu menginjak tubuh kami

Mimpi luput pula
Bersalin rupa
Menjadi lolongan pahit dari hati
Allah.. Allahku..
Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Baru saja jiwa kami terpanah
Oleh kasihMU
yang teruras di bukit tengkorak berdarah
Lalu malam menghantar jiwa-jiwa saudara kami
ke bukit kematian
Allahku.. Allahku..
Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Berilah kami jawab dari tanya
Agar tak habis asa ini
supaya tak lemah jiwa ini
Sehingga tak mati kasih ini

Sampai kami mengerti benar
Makna Doa Teragung di Taman itu
Yaitu bebas dari kehendak diri
adalah lepas dari keterbatasan manusiawi
"Not my will, but Yours!"

Allahku.. Allahku..
Lepaskanlah kami dari kutuk
Agar tetap kami bersyukur
Meski maut bertemu muka
sampai tak gentar kami berkata
"Tetelestai"

7312, kantorku 31 maret 2005

Monday, March 28, 2005

Kemarin seorang pemimpin kami mengundurkan diri.
Tak ada debat, apalagi jawaban pada pertanyaan:
"Mengapa?"

Tapi kejadian itu hanya sebuah ekses
dari sekian panjang cerita..
bicara tentang keterbukaan pikiran
bicara tentang kebebasan berpendapat
bicara tentang kritisisasi
Yang dibungkam
atas nama Suara Tuhan

Benarkah kritis artinya sakit jiwa?

Itulah yang terjadi
itulah yang keluar dari mulut
seorang Chiang,
yang mustinya berhati seluas lautan

Maka tanda tanyaku adalah:
"Bila setiap orang yang berbeda pendapat dikatakan sakit jiwa
maka siapa sebetulnya yang sakit jiwa?"

Wahai Tuhan
Semalam aku bertanya
Apakah yang sedang terjadi?
Dan kini aku masih bertanya
Apakah yang sedang terjadi?

7312, kantorku 28 maret 2005

Tuesday, March 15, 2005

Lautan pekat itu membelitku
Bagai seekor ular berbisa
Menelan bulat-bulat
Sebelum mengunyah dalam diam

Di tempatku membuang waktu
Tak ada tempat berpijak yang aman
setiap langkah
adalah bibir kejatuhan
Lalu tenggelam tanpa daya

Lautan itu manusia kehilangan malu
Lautan itu situasi bicara pengingkaran
Lautan itu eksistensi menjadi sumir

Di belahan lain ada banyak yang bicara idealisme
Tapi saksikanlah
Di dalam lautan itu
banyak yang bicara tentang pencarian
Mereka, para pelayar
melego jangkar dan meraup ikan-ikan
"lembar rupiah" yang datang
dipaksa maupun tidak
yang ikhlas maupun yang penuh takut
Itu nafasnya.. tak ada bedanya
media terbesar sampai ecek-ecek

Duh
daya ini hampir habis..
mungkin sebentar lagi aku putus asa

7312, kantorku 20.20 WIB