Sunday, May 29, 2005

Akhir pekan lalu aku ulang tahun..
Banyak juga teman yang nyelametin duluan
entah kenapa di FS aku tertulisnya ultah tanggal 12 Mei
BTW, aku senang ada teman-teman yang memberi perhatiannya.

Beberapa juga kecewa karena di hari yang khusus itu aku malah cuti.
Ada yang mengira aku lari dari tanggung jawab menraktir, hehehe
Padahal, (for sure!), itu bukan maksudku
Aku cuma menginginkan hari itu
sebagai saatnya menyendiri (meski sulit juga secara harafiah)

Teng-teng. Begitu jam menunjuk pukul 24.00 WIB, istriku menghadiahi sebuah kecupan
(dan tentu saja sebutir telur, sebuah ibarat lahirnya kehidupan baru)
Siangnya aku berdiam di kamar berjam-jam. Tidur tak habis-habisnya.
Beberapa sms dari teman hadir, kecuali dari Putri :(

Lalu hari sabtu (21/5) aku bersantai ke Mega Mendung dengan teman sekantor.
Berenang setengah harian, sampai kulit melegam
Memimpin games (yang mendapat protes keras lantaran aku ikutan juga dan menang lagi!)
Malamnya mengikuti prosesi pengangkatan beberapa teman.

Hari minggu (22/5), sebelum kami berdarma-wisata ke Taman Safari,
aku mendapat kabar, Anggi/Anggraini/Nie, sahabatku, mengalami kecelakaan.
Ada rasa panik dan was-was juga karena pesan pendek selular itu bilang
kondisinya gawat
Sejurus aku berdoa, "Tuhan, Engkau memang yang empunya kehidupan dan aku memang dalam kondisi yang tak pantas berhadapan denganMU karena dosa-dosaku. Tapi tolonglah, kali ini saja, selamatkan dan sembuhkanlah dia."

Perjalanan di Taman Safari pun menjadi kurang nikmat, padahal itu kali pertama buatku.
Sore harinya kami makan di Ciawi, murah dan membikin kenyang. Semua teman terkaget-kaget, semurah itu di kawasan puncak?

Rencananya hari senin (23/5) aku dan istriku akan berpetualang ke luar kota
tentu saja dengan tunggangan setiaku, Kanzen Kelana 110 cc, yang pernah mengantar kami ke Bandung.
Tapi rencana itu batal karena kondisi kantong rupanya tak mengijinkan kami berleha-leha seperti dulu
Maklum sudah bulan tua.

Alhasil, keesokan harinya kami ikut dengan rombongan kuartet "R". Rosi dan suaminya, Ronald. Rubi dan pacarnya, Rosemary, ke Kebun Raya Bogor. Aku memilih tidur siang di bawah pohon rindang, ketika kami mulai menggelar tikar. (tentu saja setelah makan siang nasi uduk dan ayam goreng bekal dari rumah)

Malamnya berlalu di sebuah hotel berbintang di Bogor, aku dan istriku, berdua saja. Seorang teman bertanya, aku jawab itu bulan madu ketiga. Hehehehe
Baru hari rabu (25/5) aku bisa melawat Anggi. Duh, muka, kaki, dan tangannya penuh luka. Dagunya memanjang karena benturan, menghitam karena memar. Keningnya dijahit 12 jahitan, lantaran kaca helm yang pecah. "Sebaiknya beli helm yang bagusan!" kata Anggi sambil tertawa tanpa menaikkan bibir. Lucu juga caranya.

Anggi terlihat surprise melihat istriku.

Itulah, para sahabat camar! Sejumput cerita tentang hari-hari yang berlalu.
Camar ini kini berusia 2... tahun. Perjalanan yang panjang juga sebagai seekor camar
yang sedang belajar terbang. Hari ini aku sudah mulai bekerja lagi.

Seorang rekanku bilang begini di FS,

"teruslah kepakkan sayapmu...
menjelajahi angkasa tanpa batas, melampaui
batas-batas kecepatan...
walau terkadang badai cukup deras menerpa...
walau terkadang penat mendera sendi-sendi
sayapmu...
engkau tidak pernah sendiri...
God loves you and is with you, and I do and am
too...
Sammy"

Thx pak!
Tengkyu juga buat Sari (beloved friend and more), Helda (adikku, hope for sure), Ulfa juga, serta Dinie adik kelasku (aku tunggu traktirannya tanggal 7 Juni).
Teman-teman di FS yang mengejutkan. Mas Dwi SCTV, Jan Piter, dan Nita.
Tak lupa juga untuk camar-camar lain.
(hihihii udah kaya sampul kaset)

CAMAR

Tuesday, May 10, 2005

Cinta yang Rapuh

Aku menyadari cintaku rapuh
Bila genggamanmu kasar
dia akan remuk
berkeping dan sulit ditata

camar

Monday, May 09, 2005



Bagian Sejarah

JAKARTA - Hari ini format baru Koran Tempo resmi diluncurkan ke pasar. Labelnya adalah koran kompak, sebuah pergeseran konsep surat kabar harian broadsheet menjadi format tabloid lima kolom yang lebih mungil, ringkas, dan gampang dibawa.

Setelah melalui dua kali percobaan, akhirnya format final (yang digagas sejak setahun yang silam itu) pun sudah ada di tangan publik sejak hari ini.

Pemimpin Redaksi Koran Tempo yang baru diangkat bulan April yang silam, Toriq Hadad, kemarin mengatakan bahwa Koran Tempo telah menandai sejarah jurnalistik Indonesia dengan sebuah catatan penting. Dan kami sebagai awaknya, telah ikut berperan dalam sejarah tersebut.

Bagaimana rasanya menjadi tokoh dalam catatan sejarah? Mungkin tak perlu lagi bertanya kepada Sukarno-Hatta dari sejarah proklamasi, atau Sudirman dari sejarah TNI, atau Ki Hajar Dewantara dari sejarah pendidikan, sebab kami sudah tercatat dalam sejarah jurnalistik Indonesia.

Editorial Koran Tempo hari ini mengatakan bahwa perubahan itu menjadi niscaya sebab kebutuhan pembaca pun sudah mengalami perubahan. Media cetak tak lagi menjadi sumber tunggal informasi di tengah kian terbatasnya waktu. Oleh sebab itu, format baru ini ingin menjawab kebutuhan akan berita-berita yang singkat namun penting. "Seleksi berita dan kelengkapan penyajian adalah kata kunci bagi pembaca," demikian editorial tersebut.

Perubahan koran format broadsheet memang bukanlah yang pertama di jagad jurnalistik dunia. Dipelopori oleh harian The Independent di Inggris, koran kompak kemudian mewabah di Eropa. Inggris pula negara yang mempelopori lahirnya koran broadsheet sejak tahun 1712. Di Asia, Malaysia adalah pelopor saat New Straits Times mencoba menjawab tantangan setelah The Star mulai menyalibnya dalam tiras. "Ketimbang menunggu dan ketinggalan kereta, kami memilih lebih cepat melakukannya," kata bagian akhir editorial edisi perdana itu.

Demikianlah wahai sidang pembaca blog yang terhormat. Sebuah intervensi dalam blog yang biasanya mengejawantahkan puisi ini saya pikir perlu. Demi membawakan anda sebuah kabar, yang telah menjadi catatan sejarah tersendiri. Dan saya, sang camar, adalah bagiannya. Selamat membaca --Sang Camar menyarankan Anda berlangganan :-)

camar

Wednesday, May 04, 2005

Pulang

Tiba saatnya engkau pulang
Ketika semua terasa menjauh
Meninggalkanmu sebuah sepi
semasa yang menguap

Semasa pula kini menyadari
Bahwa sejumput harap
Bukan harga senilai
Dengan kenyataan

"Jonathan Livingstone,
Sadarlah!" kataku

Di depan mata dia ada
Tapi daya tangan tak sampai
Sebab hatinya tertambat
Di balik kabut yang tersaput melambai

Dua hati sudah terpaut
sewaktu tak habis
Dan engkau hanya sebuah titik
Kalau tidak sebuah nadir

"Jonathan Livingstone
Bangunlah dari impian!" Sergahku

Bangunlah hai jiwamu
Bernyanyilah dengan gambus dan kecapi
Tiuplah seruling dan ceracap
Sebab hari ini dijadikan untukmu

Berkidunglah wahai jiwamu
Dengan nyanyian malaikat
Bahwa meski engkau terhina dan tergugu
Cinta untukmu adalah air mancur tak terlaknat

"Aku sudah bangun, tak lagi bermimpi, hei nyanyian surga itu apakah untukku? Ya,... dengan pikiranku aku sudah ada bersamamu, Tuhanku," kata Jonathan Livingstone, tak lagi mencari remah roti di perahu nelayan.

camar
Camar Agung

Sabar-sabarlah anakku
Di tebing jauh aku ada
menantimu tiba
Bayangan sayapmu yang berciuman dengan permukaan laut
Adalah sumber gempitaku

Terbanglah kesini camarku
di tebing jauh kita bercumbuan
Bahwa tiada esok dan kemarin
Hari ini kita bersahaja
dengan cinta yang melahirkanmu
dengan cinta yang menyelamatkanmu
dengan cinta yang membawamu pulang

Berharaplah terus buah hatiku
Meski seperti engkau ada di ambang batas
Atau, bahkan bila luka hatimu
membuatmu patah dan meragu

Akulah Camar Agungmu
Ayah dari ayahmu
Ibu dari ibumu
Tulang dari tulangku
Daging dari dagingku
Mata dari mataku
Hati dari hatiku
Nafas dari hidupku

Terbanglah camar
Kumpulan itu sudah menantimu
Bawalah mereka terbang ke tebing jauh
Tempat kita nanti akan bertemu

(ditulis untuk Camar Agung oleh Camar)
4 mei 2005
Tebing Jauh

Di balik cahaya di kaki langit
Permukaan laut berpendaran
Pelan,
Mengusap wajahku dengan tempias
mendinginkan bara
Meraup hasrat baru

Camar,...
Mengecil sayapnya
Menukik dari ketinggian
Merentas waktu
Meniadakan saat ini dan kemarin
Di tebing jauh dan di sini
Hanya terpisah oleh pikiran

Sayapku lalu mengembang
Menyusuri permukaan
Pelan seperti rajawali
Membiarkan angin membelai bulu-buluku
menelusup memberi kesegaran jiwaku

Tebing jauh tempat berlabuh
Keterasingan yang menyenangkan
Saat-saat aku belajar terbang
Meniti buih ombak kadang kuterhempas
Namun mata Sang Agung
Adalah sahabat terdekat
Yang mengobati luka
Dan mendorongku kembali melayang
sampai kusempurna

Larung-larunglah Cinta itu
Di permukaan laut menuju kaki langit
Tempat Aku dan Sang Agung bercumbuan
Sampai aku menjadi batas di sini dan nanti
Sebelum aku pulang
Membawakan Cinta si buah hati

camar, kantorku 4 mei 2005

Tuesday, May 03, 2005

Ketika belahan hatimu terbang dibawa angin timur
yakinlah bahwa angin barat akan membawanya pulang
Meskipun hanya berupa sepenggal harap tak mati

Berharaplah terus agar engkau bertahan
Harapan itulah yang menumbuhkan keyakinan
Keyakinan yang akan membuatmu tahan uji

Sehingga bila tiba saatnya engkau berhenti
Bukan karena engkau putus asa
Tapi karena engkau sudah melupakan

Walaupun ada air mata
Janganlah kau biar hatimu terluka
Sebab luka akan membuat
tangismu seperti orang yang tak mengenal Tuhan

camar
(especially for P)
Cinta itu bertaburan di udara, seperti bintang tua
Dia tetap ada, meski siang membunuh malam

Cinta itu juga bertebaran di permukaan tanah seperti biji sesawi
Bertumbuh, berakar, dan berbuah

Cinta pun terapung di air seperti jerami
Kebenaran yang tak mungkin tersembunyi

Berpendaran di perut kunang-kunang
dan malam kita pun berkelap kelip

Aku ingin mencintai dengan cinta yang tak biasa
Cinta yang membawamu menikmati siang yang terbunuh
Dia berakar dan berbuah kehidupan
Kebenaran yang terungkap
Seperti pertanda di jalan tanpa arah

Meski mungkin aku akan memandang dari kejauhan
membiarkan waktu memilihkan jawaban
dari pertanyaan yang mestinya
tak perlu terucapkan
Atau meski hatinya berlabuh di perhentian lain

camar
Cintaku bukan di atas kertas
cintaku getaran yang sama
tak perlu dipaksa
tak perlu dicari
karena kuyakin ada jawabnya

Itulah sepenggal lagu "Bukan Cinta Biasa"

Lagu itu begitu saja menginspirasiku pagi ini ketika seorang teman tiba-tiba melemparkan pertanyaan, "Seperti apa wujud Cinta Tak Biasa?" Aku terdiam cukup lama setelahnya. Apakah itu cinta tak biasa?

Tiba-tiba aku merasa kehilangan.

Camar

Monday, May 02, 2005

Nafasku siang ini sesak
bernafas satu-satu
Dadaku sakit
perutku sakit
kepalaku pusing
Tanda-tanda mau sakit nih kayaknya :(
Cinta Menghangus

Hangus,...
Hanguskan aku dengan cintamu
Meski bukan cinta biasa

Lebur,...
Leburkan aku dengan ciumanmu
Meski mungkin impian semalam

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti kayu kepada api
yang menjadikannya debu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada
(dikutip dari Sapardi Djoko Darmono)

Tiadakan dan hanguskanlah aku cintaku
Sampai saat permukaan air berhenti beriak
Kita meniti bersamanya
Terapung, terbawa, hanyut, entah kemana

Tiada dan hanguskanlah aku kekasihku
sampai nyala api itu meredup
Kita membara bersama debunya
terbakar, terbang, tertiup entah kemana

Hangus,...
Hanguskan aku dengan cintamu
meski cinta kita bukan cinta biasa

7312, kantorku 2 Mei 2005