Wednesday, July 27, 2005




Hari ini melambat
dalam kenangan
setangkup penuh
kawan sejalan

Terkenang aku
pada sebuah perjalanan
aku dan kau
menyusuri dua kota
Berbicara tentang mu
dan aku
Sampai engkau tertidur

Di..
Aku masih merasakan terpaan angin sejuk itu
aku masih merasakan hangatnya baju rajutanmu
yang kau pinjamkan saat itu
pun
aku masih terkejut
akan cerewetnya dirimu

Di...
inikah deja vu?
Merentas batas
antara hari ini dan dulu
Di.. aku tak mau ini berakhir

"berbelas kasihanlah
wahai waktu!"
Diamlah barang seketika saja

Berilah kesempatan
sesaat
menghibur hatiku
memupus rinduku
pada sosok sahaja itu
pada pualam wajah itu
pada lembut bicara itu
pada kerisauan
dan gemetar sosok itu

Sebentar aku hanya mau bilang
"Di..
Sahajamu adalah
gambaran terbaik
kenanganku."


7312

Monday, July 25, 2005

KAWAN PERGI

Kabar sampai
sejenak tak percaya
hingga kuhantar tubuh fanamu kawan
ke peraduan dengan bumi
sesaat sahaja
walau rasa sejuta masa

Semasa itu,
berkelebat semua tentang perkawanan kita
adalah rentang cerita
saat kusapu
pualam kulitmu
dengan kagum
Bersahaja engkau
dalam selaksa mina
anugerah
yang membuatmu istimewa
di mata dan hatiku

Kawan
dan perkawanan kita
adalah hadiah terbaik
yang engkau tinggalkan bagiku
sementara menanti
bersua kembali kita
pada saatnya
bumi dan langit bercinta

Dian,...
pelita yang kini redup raganya
namun tak padam nurnya
Memberiku kesadaran
bahwa antara kau dan aku
juga sahabat-sahabat kita
adalah secinta

Dian Rahmasari
berkalang bumi kini
pualam nan memucat wajahmu tadi siang
ada sejumput senyum sekilas
menegurku untuk percaya
bahwa dirimu kini ada di pelukanNya

Selamat jalan kawan,
sahabatku, kekasih hati di dalam Cinta kita padaNya
Biarlah kuhantar ragamu dengan air mata
namun kutinggalkan
Bagi putramu Andrean
Tanda cintamu
untuk kurawat dengan doa
dengan cinta yang sama

Bagi kekasihmu Andreas
untuk kusapa dengan doa
dengan kasih yang sama

Selamat jalan
7312
Untuk Dian Rahmasari (Inggris'95), yang meninggal kemarin
Minggu (24/7). Rekan se-tim musik POSA FSUI. Keyboardist yang sederhana namun menyimpan sejuta talenta.

Friday, July 22, 2005




Sungguh,
tidak enak rasanya jatuh sakit.
Batuk tak henti
pilek, membuat hidung berair terus
Sekarang malah rasanya aku tengah terserang demam

Oh God!
Hari ini musti kerja
tapi pikiran sulit dipusatkan
seluruh badan rasanya sakit
lemah dan letih

Eh ! Kamu nularin aku ya!!!! (Hope someone i mean with, read this!)

Mudah-mudahan bukan Flu Burung...
Tapi masak sih aku bisa tertular?
Ah (menepis prasangka buruk)
Gak mungkin, gila kali yee
Ups.. tolong para pembaca, tolong jangan menyebar gosip
apalagi isu, bahwa aku kena flu burung ya...
Gak mungkin, geetho loh!!!!
even gejalanya nyaris sama dengan flu biasa (kecuali diare yang gak aku alami),
aku haqul yakin, aku cuma kena flu biasa

Maklum perubahan cuaca drastis dari Pulau Jawa dan Sumatera
dan mungkin juga karena selama di kampung, selalu makan daging-dagingan
kurang makan sayur
alhasil kekebalan tubuh menurun deh..

Tapi duh! Suer deh.. ini badan asli! Gak enak banget!

Cam

Wednesday, July 20, 2005



DANAU

Mengalir sampai jauh Danau Tobaku
Biru permukaan
wajahmu sendu pertanda tak kunjung tiba
Sampai kemana kau bawa aku putri cantikku?
Sampai kapan air matamu mengalir
terhina putra
si putra ikan

Danau Kau kucumbu
dalam sesaat kenangan menyergap
Kularung perahu
solu nauli ma goarna
Sejuk banyu
dipeluk berkas mentari
di ufuk Bukit Barisan

Aih putri malu
kecantikan menyirap darah
pemuda tak tahu diri
Merenggut kehormatan
tenggelam dalam kutuk
tangis sepanjang abad

Mengalirkan sampai jauh Danau Tobaku
Kering tiada
meski membuat kuatir
Menyurut sempat
karna durjana si pemilik loba
Direnggutnya kembang-kembang
Lukisan warisan
yang kian pudar

Sintakkon ahu da alogo
Terbangkan aku ke tepian danauku
Sampai habis nafas ini
bersama impian tak habis
hingga kucumbu lagi kamu
di tepian malam itu..
Menyurut amarah
nafas yang memburu lantaran cinta

7312
Sebuah catatan "Semalam di Tuk-tuk, Hotel Romlan 11 Juli 2005"

Ditulis kembali 20 Juli 2005

Thursday, July 07, 2005

Bunda telah tiada

Kudengar kabar itu
Bagai badai
di sejuknya pagi
Bunda telah tiada

Bunda, aku teringat
Betapa engkau tak pernah lelah
menapaki perjalanan hidup
Bahan tanpa sempat banyak bertanya
"Mengapa?"

Bunda menyisakan
setangkup senyum
penuh, tak kau sisakan untuk dirimu
buat kami, buat mereka, buat terunamu
Tiap-tiap hari
Itulah puisi terbaik
sajak hidup
yang kau lukiskan
melalui semua bahasa tubuhmu

Semangatmu Bunda
adalah gambaran abadi
tentang kelemahan yang tak menemukan tempat
untuk menghentikan engkau berjalan
Tentang kekuatiran yang tak menemukan saat

Bunda engkau sendiri
Namun menerabas
semua sisi kehidupan
Getir, kadang
Tapi kulihat
tawamu selalu ada
bahkan di saat
engkau tiba di ambang harapan dan impian

Bundaku pergi
meninggalkan tangis tanpa air mata
Ratap kami
tak hendak kau dengar
"Kalian harus terus berbuat baik
terus menjadi pandu, menjadi bakti"

Duh Bunda
Panduku sejati
Tunas kelapa yang tumbuh di gersangnya dunia
Membawa harap, bagai pucuk muda
Kini engkau sudah pergi
Entah apa ada tunas lain di negeri
Seperti kami
yang lambat laun
melarung dalam hidup
sampai tiada
namun seringnya tak berarti
Maaf Bunda

Bundaku pergi
Kami tetap di sini
menjadi waris
semangat janda setia
namun memandang kami semua
sebagai suami dan putra
memandang kehidupan
sebagai saat memberi makna
memandang takdir
sebagai saat memberi pahala

1 Juli 2005
Bundaku pergi
Pahlawanku
Kecintaanku
Kebanggaanku
Semangatku
Selamat jalan

7 Juli 2005
Selamat berpisah Bunda Bunakim
(wafat jumat 1 Juli 2005 pagi)
Pembina Pramuka UI, andalan Kwarnas, dan pelopor KOWAD dan Paskibraka