Friday, September 30, 2005

Pergi

Kutinggalkan kalian
dengan enggan
Berbilang cerita
Hari-hari bersamamu

Pun kau
Kupu-kupu kecil
bersayap mungil
merajuk
pada keinginan
yang tak bisa terpuaskan

Aku menjelang
Hari-hari baru
tempat yang baru
dan barangkali
cerita yang pun baru

Tapi yakinlah
aku hanya meninggalkan kalian
dengan jarak yang terentang
tak jauh memang
Pun meski hari-hari tak lagi sama
Bukankah tak mudah hati berubah?
seperti hatiku

Kupu-kupu kecilku
terbanglah kau
Menjadi besar
bersama kesendirian yang baru
meski membuatmu pernah meragu

Tapi jangan pernah
dewasakan dirimu
Hingga memandang hanya yang terlihat mata
Kupu-kupu kecil
memandang dengan hati bocah
melihat jauh dengan hati
kebenaran yang tersembunyi

Aku di sana
pasti akan kembali
meski hanya dengan sebaris doa
pun kerinduan

7312
Menjelang ke Proklamasi
30 September 2005
Pangeran Kecilmu

Andai aku punya
seorang pangeran kecil
seperti milikmu
Aku bisa mengerti
perasaanmu

Barangkali kini aku hanya bicara
dengan sebuah umpama
"Andaikan saja"

Tapi sobat
Hatiku menyimpan bahagia
Setidaknya, kau tidak tergugu
lalu tersungkur pada keadaan
Bahwa pangeran kecilmu
ternyata punya kekuatan
melebihi kekuatan kita sendiri

Itulah kepintarannya
tawanya, candanya, sorot matanya
lincahnya, tangisnya, dan doanya

Pangeran kecilmu
pun dapat menjadi tempat bergantung
mencurahkan kasih sayang
menemukan bahu yang lebih kuat
dari lelaki manapun
Sebab yang terlemah, justru yang terkuat
yang rapuh, justru yang terbaik
Sebab kau akan menjaganya
dengan cinta
yang bahkan tak bisa kau beri dan dapatkan
dari lelaki manapun

7312
30 september 2005

Monday, September 26, 2005

Aku Hanyalah Manusia

Andaikan aku seorang sejarawan
Akan ku buka selubung tanya
akan ku obrak-abrik selaput bimbang
yang dialami begitu banyak manusia

Sejarah butuh bukti
itulah sebabnya akan kugali peradaban kuno
ku beberkan cerita masa lalu
bagai sinetron masa kini
tanpa perlu dramatisasi

Andai aku orang pintar
Akan kutuliskan kitab baru
kitab kebenaran
TentangMu seutuhnya

Sehingga tak lagi ada serapah
Atau upaya membalikkan diri ini,
memunggungiMu Tuhan

--Andai gereja,
tidak kehilangan makna di bumi--
Gereja telah menjadi tahta
sekumpulan monark baru bertameng kitab suci
sehingga pemimpinnya patut disembah dan dipuja

Gereja adalah aku, tubuh ini, jiwa ini, bersemayamnya RohMu
sedari aku ada, hingga tubuh fana ini musnah

Tapi aku hanya manusia biasa
Tuduhan mereka, kadang menggentarkanku
Pernyataan mereka, kadang menggoncang imanku
Mana yang benar? Siapa yang benar?
Bibirku kelu, lidahku kaku
Pikiranku buntu

Tuhan, benarkah aku?
Bahwa aku hanya manusia yang berpikir sederhana
"Mencinta itu lebih baik
daripada sekedar menjabarkannya
Mengasihi itu lebih baik
daripada sekedar bertanya"

Diam tepekur dihadapanMu
Lebih baik daripada mencaci maki orang
Menyumpah serapah agama orang
"Agamamu itu penuh kebohongan!"

TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah (Mazmur 14:2)

Aih, Tuhan! aku semakin mengerti
Bahwa manusia tetaplah sama

Mereka yang mendirikan Menara Babel
adalah juga kami yang meninggikan hati kini
Mereka yang melaknat diri di Sodom dan Gomorah
Adalah juga kami yang bersenda dengan dosa kini

Engkau menciptakan kami dengan akal budi
Tapi kami tak mencariMu

Sampai kemudian aku mengerti oleh kenyataan:
Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap? (Yesaya 2:22)

Manusia adalah sampah
Bukahkah dosa sebabnya?
Tapi hanya cintaMulah yang membuat "sampah" itu berharga
CintaMulah yang membuat "sampah" menjadi permata
agar layak diam di hadiratMu
CintaMulah Yesus
Cintakulah Dia
Seperti Dia mencintaku

Tuhan, matikanlah aku dengan iman ini
Daripada dengan benci di hati
Kuburlah aku dengan cinta ini
Pada mereka kini

7312 --
26 September 2005
(Ditulis setelah membaca isi mailbox seorang teman--maaf ya de)

Friday, September 16, 2005

PENABUR CINTA

Aku penabur Cinta
Cintaku sesederhana sebuah kata
Hanya perlu kau raba
dengan hatimu
agar kau percaya

Tapi cintaku bukanlah batasan-batasan
dalam ikatan-ikatan fana
Cinta berahi, cinta mereka, cinta dunia

Bagiku cinta adalah cinta
sesederhana kata
sesederhana mata
sesederhana hati

Biar tak sakit hati
Pada kenyataan maupun penyesalan
Bahwa cinta tak harus memiliki
Sebab Cinta tak hendak memiliki
Cinta tak mati, ketika pecinta mati
Cinta bukanlah budak sang masa, seperti kita

Jangan kau terluka, bila tak ada kau dapat
Biarkan Cinta selalu memberi
Sebab Cinta tak menyesal, meski ditinggalkan

Sebab cinta
sesederhana kata
sesederhana mata
sesederhana hati

Mari lihat
cintaku disemai
bagai musim menabur
Di ladang-ladang hati
tak hendak menunggu sabar
hingga tiba musim menuai

aku dilahirkan bukan untuk menuai
cinta yang kutabur
biarkan dia tumbuh
bersama mentari dan rembulan
aku hanya menanti saat akhir tiba
di pintu dia memanggil
"Mari masuk pecintaku, engkaulah yang kunanti."

7312, kantorku 16.50 WIB 14 September 2005