Tuesday, October 25, 2005

Biar bagaimanapun, tugas baru di tempat baru tetap saja tak semudah yang dibayangkan orang. Begitulah yang terjadi hampir dua pekan sejak aku menduduki tempat baru di kantor baru. Semua serba baru, termasuk ritme kerja dan rutinitas.

Kadang-kadang aku terhenyak pada keraguan diri sendiri. Rasanya sulit bisa menelurkan sesuatu yang luar biasa bagi institusi in, selain menjalaninya bak sebuah rutinitas baru. "Pas banderol," kata Faisal, seorang temanku di kantor yang lama.

Barangkali Faisal benar. Hanya itulah yang sanggup aku lakukan setakat ini oleh karena berbagai keterbatasan diri sendiri. Seraya berharap suatu ketika ada mujizat Tuhan, bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang bisa diingat, setidaknya untuk kenangan sendiri.

Di sisi lain, aku bersyukur kini tak ada lagi halangan untuk menikmati akhir pekan di bait Allah. Aku pikir, ini jawaban doa yang seringkali aku sampaikan ke langit. Bahwa aku butuh saat-saat itu sebagai momentum yang tak boleh diganggu atau digugat oleh kegiatan dan acara lainnya. Hari itu saatnya persekutuan dengan yang Illahi dan keluarga CLF.

7312, 25 Oktober 2005

Friday, October 14, 2005

HARAPAN

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. (Mazmur 62: 5-8)

Kau kirim itu kemarin, sayang.
Perlambang cinta dan sayangmu
perhatian dan harap

Aku malu, bahwa kadang aku tak seperti
lelaki yang mengenal Tuhan dan harapan
di depan tantangan aku tergugu

Bila aku seorang musafir
maka aku adalah musafir buta
tak bertongkat dan bersepatu
Onak duri, sudah cukup membuatku urung

Bila aku adalah si tukang bangunan
maka aku adalah tukang yang bodoh
kurang perhitungan
dan enggan untuk membuka mata pada tuntunan
Cetakbiru hidup dari sekitab Firman

Aku lelaki yang kurang beriman
Padahal Allah adalah gunung batuku, keselamatan, dan kekuatanku
Di bawah sayapNya tempatku berlindung
Bak rajawali, menopang anaknya dengan nyawa

Sekali lagi Tuhan, maafkanlah lelaki ini
yang merasa takjub pada kasihMU
tertunjuk melalui cinta kekasihku
Yang tadi malam memelukku dengan sayangnya
mengusap rambutku dengan jemarinya
Menyampaikan getar-getar rindu
Kesetiaan yang tak pupus.

7312
14 oktober 2005

Thursday, October 13, 2005

Bimbang

Ucapan selamat mengalir kepadaku setelah aku diberitakan pindah ke majalah mulai senin pekan depan. Satu sisi hati bersyukur kepada Tuhan bahwa aku mendapat kesempatan menjalani suatu etape baru di dalam karirku.

Akan tetapi, sisi hati yang lain diliputi kekuatiran. Apakah aku sanggup? Masalahnya, mulai pekan depan aku bergabung dengan kompartemen Nasional. Kompartemen yang menjadi momok bagi para M-1ers di institusi kami.

"Belum pernah ada M-1 yang lulus dari nasional," kata seorang petinggi padaku beberapa waktu yang lalu, lama sebelum aku mendapat kepastian soal bergabung ke Nasional itu. Saat itu, hatiku berbisik, mudah-mudahan tak masuk Nasional.

Hati boleh berharap, kenyataannya dan keputusannya Nasional adalah pelabuhan awalku di majalah. Keputusan yang teramat mengagetkanku pada hari senin (10/10) yang lalu.

Apa boleh buat. Kenyataan yang ada di depan mata tak terhindarkan sudah. "Selamat!" kata seorang pentolan kompartemen itu. Duh!

Dua tahun aku menjauh dari isu politik dan sebagainya. Awalnya aku di kompartemen olahraga sebelum dipindahkan ke kompartemen internasional.

Alhasil, narasumber dan lobi yang aku bangun sebelumnya sudah tak ada lagi. Seiring bergantinya pemerintahan, berganti pula orang-orang yang ada di departemen-departemen, termasuk DPR.

Walhasil, aku bak memulai dari nol, bak seorang calon reporter yang berburu ke padang tandus. Taruhannya, bertemu dengan buruan gemuk atau mati kelaparan.

Saat ini aku berada di persimpangan meragu dan kuatir. Jalanan di hadapanku penuh dengan kabut, gulita dan membingungkan.

Tadi malam aku berdoa. Tuhan, Engkaulah pelitaku. Aku percaya keajaiban itu masih ada. Semoga

Camar

Monday, October 03, 2005

NYOMAN

Apa kabarmu Nyoman?
Masih sedihkah kau
saat kemarin bom laknat
kembali menggetarkan bumimu
Memecah hati yang merapuh?

Sudah sembuhkah lukamu hari ini?
Sisa-sisa kebiadaban manusia
Yang merasa dirinya TUHAN

Aih, bumimu TUHAN
Dilaknat ciptaanmu sendiri
Atas namaMU, katanya
Atas kehendakMU, katanya

Tapi benarkah DIRIMU sedemikian kejam?
TUHAN yang pemarah
TUHAN mengijinkan
Manusia memusnah manusia yang lain?

Benarkah TUHAN mengajarkan kebencian?
Bukankah KAU yang meminta
"Bila mereka menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu!"
"Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri!"
"Kasihilah orang lain, meski itu musuhmu?"

Tunjukkanlah padaku FirmanMU
(seperti yang mereka punya)
Firman yang mengijinkan
memburai isi tubuh Nyoman
merajam wajah Stefanus
Tunjukkanlah padaku PerkataanMU
(Seperti yang mereka dengar)
Perkataan Restu dan Cinta
Bagi sang penumpah darah

Benarkah pintu surga terbuka bagi mereka?
Setelah mereka puas di atas air mata orang lain
Setelah mereka tertawa di atas luka-luka orang lain
Setelah mereka girang di atas mayat orang lain

---------------------

(Terdiam Aku, anakKu! Melihat manusia
yang di tubuhnya mengalir nafasKu
Bukankah sudah Kukatakan,
Tidak ada seorang manusia pun yang benar? Seorang pun tidak!)

---------------------

Duh TUHAN!
Maafkanlah aku!

Ajarlah aku Mencinta
Meski harus ku pungut
serpihan-serpihan kecilnya
dari antara reruntuhan


7312 - untuk Nyoman di BALI
3 Oktober 2005