Friday, November 24, 2006

DAPATKAH

Dapatkah aku meninggalkanmu?
lalu meniti perjalanan ini sendiri
merengkuh tujuan yang kabur
Meski aku sadar
lelah nanti tubuh ini..

Kau, yang kudekap
berbilang dasa tahun
Perjalananmu
ibarat perjalanan hidupku sendiri
Mencari kebenaran
mencari tempat hati berlabuh
dan menanam impian
tentang esok

Tapi di sinilah aku kini
berhenti pada sebuah titik
tentang sebuah pertanyaan
Dapatkah aku meninggalkanmu
Yang telah membentukku
sedemikian

Bukan kacang lupa kulit
bukan pula merentas kulit bawang
terluka hati nanti
atau air mata yang berderai

Aku hanya lelah
Bagai berdiri tanpa pijakan
sayapku terluka
dan enggan untuk terbang lagi

Dapatkah aku meninggalkanmu?
Entahlah...

-camar- 24 November 2006

Wednesday, November 08, 2006

TERBESAR

Katakan padaku
Di mana cinta terbesar ada..
selain saat diriMu
merendahkan diri
Agar aku bisa mengangkat kepala
dari rasa malu

Katakan padaku
Di mana karya terbesar
sepanjang zaman ada..
selain saat diriMu
mengambil rupaku

Sang Maha Kekal
Menyelusup ke dalam kefanaan
merentang tangan dan terluka
Sang Maha Tinggi
meninggalkan menara gading
dan menyelamatkanku

Tapi mengapa begitu sulit
cinta sesederhana itu untuk dimengerti?
Mengapa terlihat rumit dan menyesakkan dada?

Lalu ada begitu banyak orang, berpaling dariMu
mencari pembenaran melalui seperangkat ritual

Mereka merasa bahwa dosa
--yang bak singa mengaum-aum-- itu
bisa terhapuskan
dengan sejuta macam perbuatan baik

Bukankah Kaulah pengampun dosa
bahkan di saat aku tak sanggup mengampuni diri sendiri?

“Sia-sialah perbuatan baik
Sebab semua orang telah berbuat berdosa
Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.“

Sesungguhnya yang kuperlu bukan membenarkan diri sendiri..
sebab tiada kebenaran dalam diriku.
Maka yang kuperlu adalah dibenarkan olehMu

Bukan karena laku dan rupaku
Sebab rupaku najis dan buruk
Maka yang kuperlu adalah kasih anugerahMu

Sehingga aku takkan pernah kecewa
Saat Kau memilih dari yang terdosa
Sebab akulah itu

Saat Kau mengasihi yang terhina
Sebab akulah itu.

Ah Tuhanku
Inginnya aku berpulanglah
ke taman surga
tempat di mana aku seharusnya berada

Bukan di tengah dunia ini
di mana CintaMu ditinggalkan
di mana CintaMu ditipu daya
di mana CintaMu direkayasa
bahkan olehku sendiri
dan mereka

Tapi hari ini Engkau membuatku tergugu
Merasa sendu pada kenajisanku
Malu pada ketidakberdayaanku

Mengharap Kau menggendongku
Dengan CintaMu
di bukit itu
Dengan darahMu
yang menjejak di kayu itu

Keselamatan
memang semudah memandang Kalvari
dari kedalaman hati
Di sanalah perlambang
perwujudan semua misteri
ketika Engkau berkata kepada kami:
“Aku mengasihiMu”
di tengah sebuah sunyi
dan kami yang berpaling

8 November 2006 -camar-

Monday, October 30, 2006





Pandanglah kami
memberikan cinta terbaik
kasih sayang
dari inti kehidupan
yang bisa kami sadari

Ceritakanlah nanti
saat engkau besar
bahwa kami
membesarkanmu
dengan iman, pengharapan, dan kasih

Agar berbahagia engkau
seperti kami kini
dan nanti

Mewangilah melati kami
semerbak siang dan malam
suka dan duka
juga sedih dan senang kami
Karena engkaulah kecintaanNya
dilahirkan dari anugerah terbaik
tanda kepercayaan
pada kami yang terbatas

Jadilah kecintaanNya
seperti makna
yang terkandung dalam namamu
mekarlah di hadiratNya
mengharumlah di pelataran Surga
Bernyanyi bersama malaikat
membawa pujian tertinggi
bagi yang membentukmu indah
dengan jemari
dan hati
juga rupa dan wajahNya

7312
-camar-, 30 Oktober 2006

Thursday, October 19, 2006

PEREMPUAN PERKASA

Perempuan perkasa kamu
menanggung kesakitan
kutuk warisan masa lalu
Tapi kau lalui
dengan terengah
teriak
mengaduh
Nyaris kehilangan kesadaran
Sungguh perkasamu
Kau tanggung semua
sebagai sebuah takdir
Tak perlu dipertanya

Kau bergelimang
di genangan darahmu sendiri
Bersabar
sembari berusaha
sampai putri lahir
grbha grha terbuka sudah
gerbang kehidupan
si bocah idaman
terkuak menyambut malam melarut

Keringatmu mengucur
nafasmu memburu
selintas melambat
Pertaruhanmu jiwa
yang terlepas

di malam itu
dari rahimmu telah lahir
bocah yang kita peranakkan
dengan cinta dan harapan
Seandainya bisa
berbagilah kesakitan itu denganku
Tapi senyum sekelebat mata
tersungging itu
membuatku kembali sadar,
kau terlahir sebagai perempuan perkasa
juga bocah itu, nanti.

7312, 19 Oktober 2006
MELATI

Tangismu memecah kebisuan suatu malam
Dari liang kehidupan
tubuhmu menyuruk
Membawa senafas
Selantun biru
Syukur kami malam itu

Anakku engkau
diperanakkan dari cinta
Putriku engkau
diperanakkan dari harapan
jejak kerinduan masa lalu
yang nyaris terkubur waktu

Bila ada tembang terbaik
ingin selalu kulantun
di telinga mungilmu
saban malam, saban engkau terbangun
Karena aku tahu, begitu engkau menyukainya

Bila inilah cinta terbaik
ingin kupercik
Saat kau tertidur
dan saat kau terjaga

Jasmine Abigail
Melati Kecintaan Tuhan
Wangimu semerbak tengah malam itu
Seisi sorga melepasmu dalam haru
ke dalam kehidupan kami
Mengajarkan kami tentang cinta dan mencinta
mempercaya kami merawat jiwa
agar kelak pulang ke tempatnya dulu berada

Terima kasih Tuhan

7312 -- untuk 12 Oktober 2006, ketika Jasmine lahir

Tuesday, October 03, 2006

PUASA

Aku bisa mengerti
bahwa di masa-masa ini
kalian membutuhkan
masa untuk memikirkan diri sendiri
Tapi mengapa justru terasa seperti
mementingkan dan membenarkan diri?

Kau usir kami di balik tirai
kau hela kami ke balik dinding
mengkerut badan
jelalatan mata mencari kesempatan
menghindar
Hanya untuk menikmat
sesuatu yang kami cari sendiri
bukan yang kami curi

Kami ini ibarat pelanduk
tersuruk di balik rimbunan semak
menyembunyikan diri
dari pemangsa..
seperti ketakutan yang sia-sia
Padahal kami ini sebuah eksistensi
seperti kalian juga

Toleransi, katamu
Bukannya kami tak mengerti
Apakah itu senyatanya toleransi
bila kalian memaksa kami
membungkam diri?

“Enyahlah setan-setan
agar kami kusyu berpuasa
Enyahlah kafir-kafir
agar kami meraih kemenangan”

Bukankah kejahatan terjahat ada di dalam diri kita sendiri?
Dia bernama “Akal budi”
yang membuatmu dan kami berbeda dengan binatang
yang hanya punya naluri
Atau tetumbuhan
yang hanya punya hasrat tumbuh alami

Akal budi adalah senjata terkuat
sekaligus titik pertahanan terlemah
bukan musuh dari luar
si setan dan si kafir, kawan!

Maafkan bila aku sedikit menikmati
anugerah makananku siang ini
Sebab cukup sudah aku bersembunyi
seakan munafik, lapar seakan kenyang
padahal aku menatap makanan itu
dengan hasrat tertahan..

Pandanglah aku
menceracap
mendecap, dan
mengecap
kalahkan akal budimu
aku yakin
bagimu tersedia
puasa senyatanya puasa

-camar-

Wednesday, September 27, 2006

GERAK

Dulu, aku masih belum percaya sebuah tesis bahwa bayi di dalam kandungan bisa memahami “dunia” yang ada di luar kulit ibunya. Benarkah? Benarkah dia bisa merasakan kecupanku di perut ibunya? Dapatkah dia mendengar aku berdendang saban malam menjelang tidur?

Mengertikah dia kata-kata yang kubacakan dari buku-buku dongeng kanak-kanak yang kubelikan waktu itu? Pahamkah dia rasa cinta yang kusalurkan lewat elusan, ciuman, dan sapaan pagi, siang, dan malam itu?

Ketidakpercayaan itu berantitesis pada sebuah GERAK. Menjendul, bergeser, mengulet. Di permukaan kulit GERAK bermetamorfosa, dari tubuhnya menjadi bentuk-bentuk di perut istriku. Melonjong, membulat, mengencang, mengendur.

Dia, bayiku, memahami kami dengan GERAKnya. Dia pun mengasihi kami dengan GERAK. Bahasa cinta kami adalah GERAKnya. Bahasa rindu kami adalah GERAKnya.

27 September 2006
camar

Friday, August 25, 2006

Inginnya aku mencintaimu
tanpa kemarahan
atau sesal kemudian

-camar-

Friday, August 11, 2006

Aku kangen kamu..

Duh indahnya saat kerinduan itu menyergap
pada saat yang sama dia terjawab
Tapi bilamanakah dia dinamakan rindu?
Bukankah ketika aku tergugu dalam bisu?

Aku kangen kamu..
katamu tadi

camar, 11 Agustus 2006

Monday, August 07, 2006

Tak sabar aku menanti
hadirmu si jantung hati
Dwi wulan nanti

Saban kusentuh grha ibumu
Kau menggeliat
Mencengang aku pada ajaibmu
Setitik kau dari
jadi sebuah jasad fanawi

duhai
sapalah ayahmu ini sayang
dengan keriangan cilik

Sembuhkanlah rindu kami
melihat rupamu
dan hasrat menggebu
membagikan cinta
Meski kau balas nanti dengan tangis di tengah malam
atau rengek bocah-bocah
bahkan kenakalan-kenakalan

Duhai, bintang malam kami
Pendar dinanti
Sebentar lagi mewangi
di taman hati

7312

Wednesday, July 19, 2006

USUS BUNTU

Sumpeh lo! Nggak ada asyik-asyiknya operasi lalu tergolek lemah tiada daya.
Itulah yang kualamai sejak tanggal 3 Juli sampai 6 Juli di RS St Carolus, Jakarta Pusat. Usus buntu yang meradang membuatku harus merelakan perutku dibelek di kamar operasi.

Kalau kalian mulai merasakan sakit di perut kanan bagian bawah, lalu kaki kanan sulit diangkat, buru-buru deh periksa. Jangan seperti aku, yang membiarkan rasa sakit itu. Sampai-sampai usus buntuku sempat pecah dan dokter memerintahkan operasi tanpa ba bi bu.

Hari senin (setelah seminggu menahan sakit) sebetulnya aku cuma pengen periksa. Tapi di hari menjelang siang itu sang dokter langsung memerintahkan: “Kamu puasa ya mulai sekarang!”

Dengan tertatih, dan perut yang lapar, aku mengurus kamar rawat inap di rumah sakit yang pernah jadi lagu jadul itu. Setelah kamar dapat, baru saja berbaring lima menit, suster-suster langsung menyuruhku ganti baju operasi.

Tak ada teman, tak ada keluarga. Aku didorong ke ruang operasi, dibius, lalu lupa segalanya. Sekitar pukul 15.30 WIB, aku baru bisa membuka mata dengan leluasa. Di dekat ranjangku sudah ada istri dan mertua.

Sejenak kemudian, rasa sakit mulai terasa dari perut bawah. Kulirik, sudah ada perban dan sepasang selang yang mengalirkan darah ke kantung penampung. Kantung itu penuh dengan darah segar dan cairan kekuningan.

Kelak aku mengerti bahwa perutku terpaksa ditembus selang untuk membuang cairan bekas operasi dan cairan usus buntu yang sempat pecah.

Dua hari pertama, tubuhku rasanya lemah banget. Buang air kecil belum bisa kulakukan sambil berbaring. Alhasil kupaksakan berdiri meski gemetaran dan mata berkunang-kunang.

Minum pun tak diizinkan apalagi makan karena ususku belum bekerja dengan baik. Buktinya kalau sudah bekerja normal adalah keluarnya gas alias buang angin. Tapi tak seperti yang lain – yang rata-rata cuma butuh tujuh sampai delapan jam-- aku malah butuh dua hari sebelum bisa buang angin. Sungguh penantian yang menyiksa.

Empat hari di rumah sakit, aku berangsur sembuh lalu diperbolehkan pulang. Sampai hari ini proses pemulihan terus berlangsung. Perban sudah dibuka, kecuali bekas selang yang masih sedikit berlubang.

Just wanna thank you to My Lovely God! Dia slalu menjagaku.

--camar--

Friday, June 30, 2006



This is time to say good bye to White Elephant

Sambungan...

Sorenya kembali ke hotel. Janjian ketemu jam 20.30 lalu berangkat ke pasar Suan Lum. Pasar yang buka malam hari.

Menunggu di kamar adalah kegiatan yang asyik juga. Dari layar lebar plasma itu, bisa nonton babak final NBA. Lumayan juga. Tapi telepon kok nggak berbunyi-bunyi ya? Jangan-jangan nggak jadi. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Ya sudah, akhirnya kurapatkan selimut dan bersiap untuk tidur serta mengubur rasa kecewa karena nggak sempat berbelanja.

Tapi setengah jam kemudian, telepon berbunyi, Agung dan Ronald yang habis dipikir a la Thai di dekat hotel mengajakku keluar dan bergabung dengan Meilita dan Monique (keduanya dari pihak pengundang kami) yang sudah menjelajahi pasar Suan Lum sejak pukul 21.00.

Suan Lum. Pasar ini unik. Bukanya malam sampai menjelang dini hari. Luasnya entah seberapa karena tak sempat menjelajahi semuanya. Tapi suasananya asyik. Banyak turis dan pedagangnya lumayan mengerti bahasa Inggris. Yang tak mengerti cukup mengandalkan kalkulator dan menunjukkan harga. Sisanya terserah Anda! Mau ditawar oke, mau diterima saja juga oke. Harga di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan Khao Sarn.

Di salah satu sudut Suan Lum ada bianglala sebesar yang di Dufan Ancol. Di dekatnya ada foodcourt yang luaaas. Sayang kami tak sempat menikmati makan malam di sini.

Rencananya sih malam itu mau ke Phatpong. Itu lho, tempat hiburan malam esek-esek. Meilita dan Monique sudah mau mengantar demi keamanan kami. (Kata mereka sih, kalau jalan ke sana bareng teman cewek akan lepas dari gangguan preman dan mami-mami para penjaja kenikmatan itu). Ke situ sih rencananya cuma pengen menyaksikan pertunjukan "ajaib" dari cewek-cewek Thai.

Tapi hujan deras yang mengguyur Bangkok membuyarkan rencana itu. "Nggak ada yang bisa dilihat hujan-hujan begini," kata Meilita, manajer Kodak yang cantik itu.

Pulangnya, aku, Agung, dan Ronald menyempatkan diri membeli penganan kecil dari toko 24 jam "7eleven". Sepotong sosis panjang --nyaris setengah meter--ternyata sudah cukup mengenyangkan. Lalu kami kembali ke hotel. Uh, waktunya istirahat sebelum packing barang-barang kembali. Akhirnya dikeluarkan juga tas backpack dari travelbag demi bawaan yang bertambah. :D

Senin (1 Juni 2006)



Ini perjalanan pulang ke Jakarta. Ronald memilih extend dan melancong sendirian ke Phattaya dan Phuket. Agung turun di Singapura, bertemu pacarnya. Aku dan Monique kembali ke Jakarta. Berakhir sudah perjalanan di negeri gajah putih. I promise will comeback Someday!

camar

Friday, June 23, 2006

Hari kedua

Ini sih harinya kerja dan kerja. Selepas sarapan di resto Four Seasons yang mewah, dilanjutkan dengan peluncuran kamera Kodak EasyShare V610 di ballroom. Ini sih acaranya wartawan lokal karena sesi wawancara untuk wartawan Indonesia disediakan khusus setelah acara tersebut.

Sebelum wawancara makan siang nih. Wahhhhh! Ketemu masakan Jepang lagi. Ada sushi dan sashimi yang uenak. Aku nyobain lagi salad pork. Kali ini rasanya jauh lebih enak daripada di Foodloft.

Wawancara dengan Steve Sasson, sang penemu kamera digital, dan petinggi Eastman Kodak dilakukan di lobi. Ditemani alunan piano, mendenting indah. Semua informasi digali demi tulisan nanti. Tapi hati sih sebetulnya nggak sabaran untuk menjelajahi Bangkok lebih jauh.

Akhirnya kesempatan itu tiba. Pukul 16.00 waktu Bangkok, kami pun bertolak ke Kuil Wat Pho di timur, yang bersebelahan dengan Istana Kerajaan Bangkok. Tak banyak sopir taksi yang mau mengantar kami ke sana. Maklum rush hour, semua orang sedang sibuk pulang kantor. Jalanan dipastikan padat dan macet.

Untunglah ada seorang pengemuda taksi yang berusia lanjut. “Mungkin karena sudah tua dia nggak ngejar setoran lagi, makanya mau ngambil sewa ke rute macet,” kata Agung, wartawan Kompas. Kami pun tertawa. Sementara si bapak tua tidak mengerti apa yang kami bicarakan. “No inglis,” katanya waktu kami naik.

Perjalanan ke Wat Pho melewati China Town atau pecinannya Bangkok. Luar biasa. Hilang semua warna-warni Thailand di tempat ini. Semuanya beraksara Cina. Kebanyakan orang Cina.

Lalu setelah 45 menit berlalu dari hotel, kami pun tiba di pintu masuk Wat Pho. Si bapak tua agak keterlaluan juga. Sudahlah tidak bisa bahasa Inggris, malah minta ongkos lebihan. Alhasil, yang tadinya 87 Bhat jadi 100 Bhat. “ Wan handred ya,” katanya seraya tersenyum nakal. Dasar!

Panas menyengat begitu pintu mobil dibuka. Kuil Wat Pho seakan ada di dalam panggangan. Tapi stupa dan gedung-gedung tua yang menjulang membuat rasa gerah terlupakan. Angin yang berhembus semilir membawa udara sedikit sejuk. Di kuil ini ada arca Buddha berbaring alias Reclining Buddha yang terkenal di dunia.

Ketika memandangnya, ada rasa kagum pada arsitektur dan kekayaan budaya Thailand ratusan tahun silam. Arca dan sebagian gedung itu terbuat dari emas. Orang-orang pun menaruh hormat pada peninggalan budaya itu. Tak ada vandalisme. Turis-turis ramah dan mau saja meletakkan sepatunya di rak yang tersedia. Tak ada yang mau mengotori peninggalan kebudayaan itu.

Bersambung

Friday, June 02, 2006

Pada Sebuah Kota (HARI PERTAMA)

Awal pekan lalu aku berkesempatan berkunjung ke Bangkok, Thailand.
Perjalanan pertama meninggalkan Indonesia.. rasanya sukar dilukiskan
Matahari belum memperlihatkan wujudnya
ketika aku melangkahkan kaki meninggalkan rumah, diiringi lambaian kekasihku
Pagi yang dingin, tapi aku tak ingin melepas waktu ini walau sedetikpun
Bagiku perjalanan ini sangat berharga

Pada sebuah kota
Matahari sudah di atas kepala ketika kaki menjejak di Bangkok.
Panas, jauh lebih panas dari Jakarta
Amat jarang aku memahami perkataan orang di sekitar
kecuali “Sha wat dee”.. alias “hallo” atau “salam”.

Dari Jakarta aku sudah membekali diri dengan dua kalimat penting
“Chuay Dhuay” atau “Tolong”
dan “Chan lhong thaang” atau “Aku nyasar nih!”... :D
Tetapi sedikit kosa kata Inggris rupanya sudah cukup
untuk membawaku menjelajahi Bangkok yang panas dan macet itu.

Senin (29/5) di Kuil Brahma Erawan, 100 meter dari hotel kami, Four Seasons Hotel.
Ratusan orang berkerumun, memanjatkan doa. Kudengar orang-orang berbisik
soal peringatan 60 tahun naik Raja Thailand naik tahtanya.
Wangi dupa terasa semerbak di tengah berisiknya lalu lintas kota. Juga ditingkahi kereta api listrik Skytrain.

Ugh, harinya mal nih.
Meski sudah kutegaskan berkali-kali bahwa kami emoh jalan-jalan ke mal,
tapi ujung-ujungnya tetap saja mal menjadi pembuka kegiatan di sini. “Central” namanya. Tak jauh dari kuil Erawan.
Untung saja foodcourtnya “Foodloft” menyediakan penganan asli Thailand yang menarik, asam manis dan pedas. Maka tak kusia-siakan kesempatan ini. Memanjakan lidah dengan jamuan yang khas itu. Sepiring nasi ketan, sepiring salad pork (tahu kan?) dengan aroma bawang, sereh, dan cabe yang kental, sepiring pork (lagi-lagi) panggang, serta sepinggan kecil sambal masak nan pedas.

Minumnya? Uhm, segelas “iced thai tea” paduan susu dan teh manis, rasanya menyegarkan. Minuman yang rasanya persis “teh tarik” dari Malaysia itu.

Membunuh waktu, teman-temanku memilih menjelajahi seluruh tubuh mal yang mirip dengan Pasaraya Grande itu. Tapi aku nongkrong di sebuah sofa lantai empat. Menikmati semua pemandangan yang tersaji, berbagai rupa orang yang berlalu lalang sembari memutar radio lokal (yang banyak tak kumengerti bahasanya) di handphone.

Dari Central perjalanan dengan kaki dilanjutkan ke MBK, mal yang mirip dengan ITC di sini. Segalanya ada. Menyusuri jalanan yang mulai sepi di malam hari dan orang-orang kantoran yang baru pulang. Mendaki jembatan penyeberangan serta menyaksikan betapa taatnya orang sana tak menyeberang di jalanan.

Juga, mencoba membedakan mana pria dan wanita di balik tubuh dan wajah cantik yang berlalu lalang. Soalnya, waria Thailand tak kalah cantik dan seksi dengan wanitanya, kata seorang teman. Hehehehe

Perjalanan malam ini berakhir di Khao Sarn. Seruas jalan yang ditutup bagi kendaraan pada malam hari, karena diperuntukkan bagi para turis. Panjangnya tak lebih dari 200 meter, lebih pendek dari Malioboro di Yogyakarta dan lebih nyaman dari Jalan Jaksa di Jakarta.

Ratusan orang lalu lalang di sepanjang jalan. Seluruh ras ada di sini. Tumpah ruah dalam keriuhan suasana dan musik yang berdentam dari bar dan restoran yang bertabur. Juga panggilan para penjaja dari kios-kios kecil mereka. “kam hi se, cip se”, katanya dalam dialek setempat.

Inilah sudut Thailand yang memanjakan para backpackers. Pengananan dan akomodasi nan murah. Plus hiburan malam yang terjangkau, mau pijit hanya 250 bhat untuk dua jam, hotel hanya seratusan bhat semalam. Yang lain (....)? Uhm, bukan di sini pusatnya, tapi di Patphong. “Wah.. tergoda nih ke sana!”

Lalu malam beranjak dini hari di sebuah bar dengan musik yang berisik. Berempat kami memesan pitcher bir, tapi yang datang dalam bentuk wadah tower, setengah meter tingginya dengan keran. Untunglah rasa binya pun enak, empat gelas tak terasa di kepala yang mulai mengantuk.

Malam berakhir di Four Seasons, ditemani udara sejuk dan musik jazz dari selayar lebar plasma yang tergantung di dinding. ZZZZ

Monday, May 22, 2006

Menembus angka ketiga

aku termangu
mencoba meresapi
setiap detik yang berdentang
sampai akhirnya tiba di sebuah perhentian
sejenak saja
sekejap saja
tapi bagai melemparku dalam perjalanan panjang
Apakah cukup panjang?
entahlah!

Ku termangu di hadapan tiga butir telur
sebuah perlambang
sebuah pertanda
inkarnasi
Juga sebuah titik balik
berpaling ku cari-cari jalinan masa lalu
semua berkelebatan seperseribuan detik
terlalu singkat
Bahkan untuk tertawa atau menangis pun
aku tak sempat

ketika hati tiba-tiba mengeluh
bahwa perjalanan panjang
Ku pandangi diri
belum jadi apa-apa

Apakah harapan terlalu sederhana?
Barangkali keinginan terlalu lemah
Sehingga waktu bagaikan sekepal pasir
tercecer demi waktu lalu habis tanpa sisa

Aku merasa tidak
Barangkali memang aku belum jadi apa-apa
di mata dunia

Tapi setidaknya aku mengerti
bahwa hidupku berharga di MataNya
Meski singkat
kadang berpaut pada yang nista
atau lemah pada kefasikan
Tetapi CintaNya
membuat harap tak mati
Karenanya aku kini hidup

"Aku mau hidup seribu tahun lagi" ("Aku" by Chairil Anwar)

"Selamat ulang tahun" kunyanyikan untukku sendiri
di tengah malam
di hadapan tiga butir telur
tiga butir titik balik
dengan harapannya sendiri

7312, untuk 20 Mei 2006

Tuesday, March 28, 2006

Badai atau Sepoi Kau Tetap

Pemandangan menggetarkan
bagai selaksa
mereka tersentak dan terhentak
jauh di lubuk hati
berbagai pinta
terujar
entah lewat air mata atau jerit tangis
Tubuh bergetar
berbahasa tiada mengerti
ada yang terjungkal
atau terjerembab

Di mimbar
tarian, musik, lagu, dan kotbah
bercampur baur bersama histeria
Kesejukan dimana?
mustahillah bila mencarinya

Lalu di suatu tempat lain
dalam diam
tubuh lunglai pada harap
tangis tercekat di tenggorok
tepekur pada kebisuan
Musik pun bagai enggan mengurai nada
Bila pun ada
cuma sebuah akustikasisasi
keluar dari nada paling murni
bukan sulapan amplifier
atau getar loudspeaker
Dalam hening itu
harap diujar
bagai angin sepoi
Kesejukan ada
tiada mustahil bila kau cari

Pertanyaan segenap orang percaya
kini berkisar antara "mana yang kau pilih"
Badai atau sepoi
hingar atau senyap?

entah mereka lupa pada kebenarannya
Bahwa bukan soal senyap atau bingar
bukan soal injili atau karismatisasi
Melainkan soal Dia sendiri
Adakah dipermulia?
Adakah ditanya?
Adakah dipercaya?

Sebab bila tidak
yang histeria hanya tabir
yang sendu pun hanya hipokrisi

Dimana aku?
yang terhanyut dalam yang fana
luput bersyukur
pada cinta sejati
di bukit kematian

Lengah menggeliat
pada keadaan
Lalu tersungkur
di lembah berlumpur

Maafkan aku...

7312, 28 Maret 2006

Friday, March 17, 2006

Empat Hari Tiga Malam
Mataram - Sumbawa - Lombok


Jumat, 10 Maret 2006

Perjalanan malam Mataram-Sumbawa Besar berakhir di sebuah peraduan, Hotel Tambora, Sumbawa Besar. Letihnya tubuh terlunasi lelap tak seberapa. Selat Mataram yang tertinggal dalam gelap, terlupa dalam tidur.

Sabtu, 11 Maret 2006

Pagi belum mengumpul jiwa. Pukul 06.00 WITA, kupacu Kijang Biru dengan kecepatan tinggi menuju Timur. Orang-orang sudah mulai menggeliat. Garis-garis pembatas jalan bagai berlarian, saling berkejaran dengan pepohonan yang tertinggal. Warnanya putih memantul dari sinar lampu mobil yang belum kumatikan.

Perlahan, nada-nada lembut dari Josh Groban, membuat ujung jemariku bersapa dengan setir. "Perte.... Perte...."

Sesekali Mas Supriyanto Khafid, kontributor kami di Mataram, mengajakku bicara tentang apa saja. Percakapan kami seperti sebuah musikalisasi, diiringi orkestra pengiring Groban dan tarian serta paduan suara bumi Sumbawa. Kuda-kuda mulai meringkik dan sapi mendengus. Uap nafasnya aroma yang tak tercium dari balik kaca mobil.

Matahari mulai mengintip dari ufuk Timur.

Perlahan cahayanya mengintip dari balik pegunungan. Anak-anak sekolah tampak bergegas di jalanan. Kukendalikan mobil dengan hati-hati karena terkadang mereka menyeberang tanpa aba-aba.

Pengangkutan umum seperti dokar yang ditarik kuda mulai berseliweran. Kupapasi mereka yang wajahnya belum puas dari impian semalam. Namun panggilan hidup membuatnya menepis bahasa daging.

Matahari telah menggeliat. Menerobos menyilaukan dari balik kaca. Kututupi dengan pelindung cahaya di atas kepala. Namun mata tetap harus menyipit. Berlomba dengan perhatian pada ruas jalan yang mulai rusak.

"Benar tidak ini jalan ke Bima?" kata Mas Khafid, kepada seorang penduduk karena tak yakin jalan yang kami lintasi adalah jalan lintas provinsi Sumbawa Besar-Bima. Jalan lintas yang bak kubangan batu. Tubuh terguncang-guncang menambah penat.

Kepenatan bak musnah seketika saat di depan mata permadani biru terhampar menyejukkan. Teluk Sumbawa dibingkai hutan lebat, sabana, dan stepa. Sesekali berpapas dengan burung elang yang bermain di tepian jalan, bagai bercanda dengan kelompok-kelompok monyet.

Jalanan membelok tajam, menurun curam, dan menanjak tinggi adalah bayaran pemandangan ajaib itu. Namun tak kupedulikan. Sebab jarang menemukan laut biru bersih dan pantai berpasir putih, jauh dari sampah, bersih dari limbah minyak, dan bebas bebauan busuk seperti ini. Di sini yang adalah bau amis laut, bau harum rerumputan pagi, dan paduan suara kepak-kepak burung aneka jenis.

Tengah hari puncak Gunung Tambora mulai terlihat di kejauhan, meski menyamar di balik awan memutih. Sementara di Utara, Timur dan Baratnya laut masih membiru. Di utara, Pulau Satonda memancing perhatian.

Perjalanan kini tambah berat. Kerusakan jalan mulai panjang. 90an kilometer jalur dari Dompu ke Calabai, setengahnya adalah jalan berbatu.

Batas jalan tak lagi di tengah. Setiap kendaraan cenderung mengikuti ruas jalan baru yang terbentuk di bahu-bahu jalan. Debu mengebul tebal. Kunyalakan pendingin udara mobil dengan sedikit kuatir memandang jarum penunjuk bensin yang mulai merapat titik "Empty".

Dua jam dari tengah hari kami tiba di Desa Pancasila, 35 kilometer di barat Gunung Tambora. Sejuk di tengah perkebunan kopi yang lebat. Mobil dan Mas Khafid kutinggalkan di Desa ini. Perjalanan kulanjutkan dengan motor sewaan yang setangnya tak lurus dan pemandu yang tak ahli mengendalikan arah. Alhasil aku mencium tanah dua kali. Untunglah tak terluka.

Setengah jam perjalanan, perjuangan menembus jalan tikus dan tanjakan curam serta menyeberangi sungai nan deras berakhir di Desa Tambora. Desa kecil yang berpenghuni sedikit. Dengan bantuan kepala dusun, Sulaiman namanya, perjalanan menuju situs penggalian dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus semak dan ilalang berduri selama sepuluh menitan.

Tangan yang mulai tergores ilalang tak kupedulikan sampai kami tiba di bekas penggalian yang kondisinya mengenaskan serta --tentu saja-- mengecewakan. Tak ada apapun di permukaan tanah. Semuanya tertimbun karena penggali sebelumnya (vulkanolog dari Mataram dan Rhode Island Amerika Serikat) tak meninggalkan pelindung, apalagi data yang memuaskan.

Setelah mengumpulkan gambar serta mencatat sedikit gejala yang terlihat, aku pulang dengan perasaan gemas. Perjalanan jauh melelahkan, berakhir di bekas galian tanpa arti. Tak ada "Kota Pompeii dari Timur" yang didengung-dengungkan di berbagai media massa itu. Tak ada benda-benda galian yang kabarnya dibawa ke Amerika Serikat dengan dokumen yang tak jelas. Di mataku, inilah penjarahan bumi Indonesia atas nama ilmu pengetahuan.

Sabtu malam di Dompu kuhabiskan dengan istirahat di sebuah hotel kecil di tengah kota. Mencoba membayar kekesalan dengan tidur panjang. Besok perjalanan masih jauh, pulang ke Mataram dengan jalur yang sama, pemandangan yang serupa, dan barangkali dengan kepenatan yang sama.

Minggu, 12 Maret 2006


Perjalanan pulang dengan rute dan kepenatan yang sama terbayar dengan kejadian ala rantai makanan. Di suatu tempat yang berbatas dengan pantai, tiba-tiba seekor biawak besar menyeberang jalan. Ku perlambat laju mobil dan mempersiapkan kamera. Namun apa lacur? Sedetik kemudian seekor elang tiba-tiba mengepak sayap dari tepian jalan. Mencoba menyambar si biawak yang bergegas. Gagal! Pun aku yang gagal mengabadikan momentum itu. Kesal!

Kamera kusiapkan kemudian. Berharap menemukan adegan yang menarik. Tapi nihil sampai aku menyeberang kembali dari Sumbawa Besar menuju Mataram.

Perjalanan melelahkan kuakhiri di Pantai Senggigi, Lombok. Tergiur cerita orang tentang pantai nan eksotis itu, aku tak perduli meski tarif hotelnya jauh di atas budget kantor. Toh, di hotel-hotel sebelumnya aku bisa berhemat. Sayang, aku tiba waktu malam sudah larut. Kubaringkan tubuh di kasur yang empuk, di tengah kesunyian yang tiba-tiba menyergap.

Senin, 13 Maret 2006

Senggigi memang eksotis. Pantainya bersih. Lautnya biru. Serta kesunyian yang menyenangkan. Sarapanku santai di restoran, berharap waktu tak segera berlalu. Perjalanan dari kamar menuju restoran ini, suara burung gagak besar di dahan pohon kelapa yang tinggi adalah warna lainnya.

Kunikmati setiap kerat roti, setiap teguk jus jeruk, dan setiap suapan nasi goreng (maruk yak?), dengan pelan, mencoba bersanding dengan debur ombak di tepian pantai. Di kejauhan perahu-perahu nelayan warna-warni, bak sedang lomba perahu layar.

Lalu kumanjakan kaki dengan pasir pantai. Kuhibur mata dengan kebiruan laut. Kuhela nafas di hembusan angin beraroma khas. Andai kata tak ada kemarin, hari ini, dan besok. Sudah kubiarkan aku melarut dalam semua itu.

Siang itu pula kutinggalkan Nusa Tenggara Barat. Membelah langit dengan si burung besi, menatap laut dan hamparan bumi yang menjauh. Ada cinta yang tertinggal di sana. Cinta pada bumi, laut, ombak, gunung, dan Elang yang merindukan biawak.

16 Maret 2006
Ditulis dari kantor

Thursday, February 23, 2006

Garba Grha

Sebentukmu pipih kosong
Sepintas gulita dan mengundang tanya
ku terdiam takjub
Kau garbagrha
Ruang hidup cinta kami

Kucari sosoknya
setitik tak ternyata
Hanya gulita
sebentuk pipih kosong
Tujuh minggu katanya

Aih.. kekasihku
bila dia tiba?
Tak sabar daku menunggu
sampai keajaibannya menyapa

Kau, sebentuk pipih gulita
Harapan yang cemas
gelisah dan gulana
Bila kan kutemukan
detak jantungnya
pelipur lara kami?

Kunanti dia
Sang kekasih
belahan hati dan jiwa
bertumbuhlah
dewasalah
Agar tunai sudah rindu kami
padanya

7312, 23 Februari 2006

Tuesday, January 17, 2006

Dapatkah kulupakan kenangan masa lalu?
Bukankah itu cinta terbaik yang kita punya?
Hangat
dan merindu sangat?

Sesungguhnya dia tak lekang sayang.
Hanya tertutup ilalang
kecewa dan putus asa
rinduku bak kabut
merunduk malu pada pagi
Lalu menguap bersama mentari

air matamu telah meluluhkan malu
setakat mengerti
bahwa cinta ini tak pernah mati

Tetapi maafkanlah aku
bila aku membutuhkan waktu
menyembuhkan diri bersama perjalanannya
Karena aku terbiasa olehnya

Aku mencintamu
bukan dengan kata
atau pesan singkat
Tapi dengan hati
jauh di dasarnya
Bila kau cari
mungkin kecewamu
Lihatlah dengan hati
sayang...

7312, 17 Januari 2006

Wednesday, January 04, 2006

Hambar
tawar
beku
bisu
Diam
enggan
----
masihkah ada cinta, sayang?
menghambar
menawar
membeku
membisu
berdiam
mengenggan
----
Maafkanlah aku

7312, 4 Januari 2006