Friday, June 30, 2006



This is time to say good bye to White Elephant

Sambungan...

Sorenya kembali ke hotel. Janjian ketemu jam 20.30 lalu berangkat ke pasar Suan Lum. Pasar yang buka malam hari.

Menunggu di kamar adalah kegiatan yang asyik juga. Dari layar lebar plasma itu, bisa nonton babak final NBA. Lumayan juga. Tapi telepon kok nggak berbunyi-bunyi ya? Jangan-jangan nggak jadi. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Ya sudah, akhirnya kurapatkan selimut dan bersiap untuk tidur serta mengubur rasa kecewa karena nggak sempat berbelanja.

Tapi setengah jam kemudian, telepon berbunyi, Agung dan Ronald yang habis dipikir a la Thai di dekat hotel mengajakku keluar dan bergabung dengan Meilita dan Monique (keduanya dari pihak pengundang kami) yang sudah menjelajahi pasar Suan Lum sejak pukul 21.00.

Suan Lum. Pasar ini unik. Bukanya malam sampai menjelang dini hari. Luasnya entah seberapa karena tak sempat menjelajahi semuanya. Tapi suasananya asyik. Banyak turis dan pedagangnya lumayan mengerti bahasa Inggris. Yang tak mengerti cukup mengandalkan kalkulator dan menunjukkan harga. Sisanya terserah Anda! Mau ditawar oke, mau diterima saja juga oke. Harga di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan Khao Sarn.

Di salah satu sudut Suan Lum ada bianglala sebesar yang di Dufan Ancol. Di dekatnya ada foodcourt yang luaaas. Sayang kami tak sempat menikmati makan malam di sini.

Rencananya sih malam itu mau ke Phatpong. Itu lho, tempat hiburan malam esek-esek. Meilita dan Monique sudah mau mengantar demi keamanan kami. (Kata mereka sih, kalau jalan ke sana bareng teman cewek akan lepas dari gangguan preman dan mami-mami para penjaja kenikmatan itu). Ke situ sih rencananya cuma pengen menyaksikan pertunjukan "ajaib" dari cewek-cewek Thai.

Tapi hujan deras yang mengguyur Bangkok membuyarkan rencana itu. "Nggak ada yang bisa dilihat hujan-hujan begini," kata Meilita, manajer Kodak yang cantik itu.

Pulangnya, aku, Agung, dan Ronald menyempatkan diri membeli penganan kecil dari toko 24 jam "7eleven". Sepotong sosis panjang --nyaris setengah meter--ternyata sudah cukup mengenyangkan. Lalu kami kembali ke hotel. Uh, waktunya istirahat sebelum packing barang-barang kembali. Akhirnya dikeluarkan juga tas backpack dari travelbag demi bawaan yang bertambah. :D

Senin (1 Juni 2006)



Ini perjalanan pulang ke Jakarta. Ronald memilih extend dan melancong sendirian ke Phattaya dan Phuket. Agung turun di Singapura, bertemu pacarnya. Aku dan Monique kembali ke Jakarta. Berakhir sudah perjalanan di negeri gajah putih. I promise will comeback Someday!

camar

Friday, June 23, 2006

Hari kedua

Ini sih harinya kerja dan kerja. Selepas sarapan di resto Four Seasons yang mewah, dilanjutkan dengan peluncuran kamera Kodak EasyShare V610 di ballroom. Ini sih acaranya wartawan lokal karena sesi wawancara untuk wartawan Indonesia disediakan khusus setelah acara tersebut.

Sebelum wawancara makan siang nih. Wahhhhh! Ketemu masakan Jepang lagi. Ada sushi dan sashimi yang uenak. Aku nyobain lagi salad pork. Kali ini rasanya jauh lebih enak daripada di Foodloft.

Wawancara dengan Steve Sasson, sang penemu kamera digital, dan petinggi Eastman Kodak dilakukan di lobi. Ditemani alunan piano, mendenting indah. Semua informasi digali demi tulisan nanti. Tapi hati sih sebetulnya nggak sabaran untuk menjelajahi Bangkok lebih jauh.

Akhirnya kesempatan itu tiba. Pukul 16.00 waktu Bangkok, kami pun bertolak ke Kuil Wat Pho di timur, yang bersebelahan dengan Istana Kerajaan Bangkok. Tak banyak sopir taksi yang mau mengantar kami ke sana. Maklum rush hour, semua orang sedang sibuk pulang kantor. Jalanan dipastikan padat dan macet.

Untunglah ada seorang pengemuda taksi yang berusia lanjut. “Mungkin karena sudah tua dia nggak ngejar setoran lagi, makanya mau ngambil sewa ke rute macet,” kata Agung, wartawan Kompas. Kami pun tertawa. Sementara si bapak tua tidak mengerti apa yang kami bicarakan. “No inglis,” katanya waktu kami naik.

Perjalanan ke Wat Pho melewati China Town atau pecinannya Bangkok. Luar biasa. Hilang semua warna-warni Thailand di tempat ini. Semuanya beraksara Cina. Kebanyakan orang Cina.

Lalu setelah 45 menit berlalu dari hotel, kami pun tiba di pintu masuk Wat Pho. Si bapak tua agak keterlaluan juga. Sudahlah tidak bisa bahasa Inggris, malah minta ongkos lebihan. Alhasil, yang tadinya 87 Bhat jadi 100 Bhat. “ Wan handred ya,” katanya seraya tersenyum nakal. Dasar!

Panas menyengat begitu pintu mobil dibuka. Kuil Wat Pho seakan ada di dalam panggangan. Tapi stupa dan gedung-gedung tua yang menjulang membuat rasa gerah terlupakan. Angin yang berhembus semilir membawa udara sedikit sejuk. Di kuil ini ada arca Buddha berbaring alias Reclining Buddha yang terkenal di dunia.

Ketika memandangnya, ada rasa kagum pada arsitektur dan kekayaan budaya Thailand ratusan tahun silam. Arca dan sebagian gedung itu terbuat dari emas. Orang-orang pun menaruh hormat pada peninggalan budaya itu. Tak ada vandalisme. Turis-turis ramah dan mau saja meletakkan sepatunya di rak yang tersedia. Tak ada yang mau mengotori peninggalan kebudayaan itu.

Bersambung

Friday, June 02, 2006

Pada Sebuah Kota (HARI PERTAMA)

Awal pekan lalu aku berkesempatan berkunjung ke Bangkok, Thailand.
Perjalanan pertama meninggalkan Indonesia.. rasanya sukar dilukiskan
Matahari belum memperlihatkan wujudnya
ketika aku melangkahkan kaki meninggalkan rumah, diiringi lambaian kekasihku
Pagi yang dingin, tapi aku tak ingin melepas waktu ini walau sedetikpun
Bagiku perjalanan ini sangat berharga

Pada sebuah kota
Matahari sudah di atas kepala ketika kaki menjejak di Bangkok.
Panas, jauh lebih panas dari Jakarta
Amat jarang aku memahami perkataan orang di sekitar
kecuali “Sha wat dee”.. alias “hallo” atau “salam”.

Dari Jakarta aku sudah membekali diri dengan dua kalimat penting
“Chuay Dhuay” atau “Tolong”
dan “Chan lhong thaang” atau “Aku nyasar nih!”... :D
Tetapi sedikit kosa kata Inggris rupanya sudah cukup
untuk membawaku menjelajahi Bangkok yang panas dan macet itu.

Senin (29/5) di Kuil Brahma Erawan, 100 meter dari hotel kami, Four Seasons Hotel.
Ratusan orang berkerumun, memanjatkan doa. Kudengar orang-orang berbisik
soal peringatan 60 tahun naik Raja Thailand naik tahtanya.
Wangi dupa terasa semerbak di tengah berisiknya lalu lintas kota. Juga ditingkahi kereta api listrik Skytrain.

Ugh, harinya mal nih.
Meski sudah kutegaskan berkali-kali bahwa kami emoh jalan-jalan ke mal,
tapi ujung-ujungnya tetap saja mal menjadi pembuka kegiatan di sini. “Central” namanya. Tak jauh dari kuil Erawan.
Untung saja foodcourtnya “Foodloft” menyediakan penganan asli Thailand yang menarik, asam manis dan pedas. Maka tak kusia-siakan kesempatan ini. Memanjakan lidah dengan jamuan yang khas itu. Sepiring nasi ketan, sepiring salad pork (tahu kan?) dengan aroma bawang, sereh, dan cabe yang kental, sepiring pork (lagi-lagi) panggang, serta sepinggan kecil sambal masak nan pedas.

Minumnya? Uhm, segelas “iced thai tea” paduan susu dan teh manis, rasanya menyegarkan. Minuman yang rasanya persis “teh tarik” dari Malaysia itu.

Membunuh waktu, teman-temanku memilih menjelajahi seluruh tubuh mal yang mirip dengan Pasaraya Grande itu. Tapi aku nongkrong di sebuah sofa lantai empat. Menikmati semua pemandangan yang tersaji, berbagai rupa orang yang berlalu lalang sembari memutar radio lokal (yang banyak tak kumengerti bahasanya) di handphone.

Dari Central perjalanan dengan kaki dilanjutkan ke MBK, mal yang mirip dengan ITC di sini. Segalanya ada. Menyusuri jalanan yang mulai sepi di malam hari dan orang-orang kantoran yang baru pulang. Mendaki jembatan penyeberangan serta menyaksikan betapa taatnya orang sana tak menyeberang di jalanan.

Juga, mencoba membedakan mana pria dan wanita di balik tubuh dan wajah cantik yang berlalu lalang. Soalnya, waria Thailand tak kalah cantik dan seksi dengan wanitanya, kata seorang teman. Hehehehe

Perjalanan malam ini berakhir di Khao Sarn. Seruas jalan yang ditutup bagi kendaraan pada malam hari, karena diperuntukkan bagi para turis. Panjangnya tak lebih dari 200 meter, lebih pendek dari Malioboro di Yogyakarta dan lebih nyaman dari Jalan Jaksa di Jakarta.

Ratusan orang lalu lalang di sepanjang jalan. Seluruh ras ada di sini. Tumpah ruah dalam keriuhan suasana dan musik yang berdentam dari bar dan restoran yang bertabur. Juga panggilan para penjaja dari kios-kios kecil mereka. “kam hi se, cip se”, katanya dalam dialek setempat.

Inilah sudut Thailand yang memanjakan para backpackers. Pengananan dan akomodasi nan murah. Plus hiburan malam yang terjangkau, mau pijit hanya 250 bhat untuk dua jam, hotel hanya seratusan bhat semalam. Yang lain (....)? Uhm, bukan di sini pusatnya, tapi di Patphong. “Wah.. tergoda nih ke sana!”

Lalu malam beranjak dini hari di sebuah bar dengan musik yang berisik. Berempat kami memesan pitcher bir, tapi yang datang dalam bentuk wadah tower, setengah meter tingginya dengan keran. Untunglah rasa binya pun enak, empat gelas tak terasa di kepala yang mulai mengantuk.

Malam berakhir di Four Seasons, ditemani udara sejuk dan musik jazz dari selayar lebar plasma yang tergantung di dinding. ZZZZ