Wednesday, July 19, 2006

USUS BUNTU

Sumpeh lo! Nggak ada asyik-asyiknya operasi lalu tergolek lemah tiada daya.
Itulah yang kualamai sejak tanggal 3 Juli sampai 6 Juli di RS St Carolus, Jakarta Pusat. Usus buntu yang meradang membuatku harus merelakan perutku dibelek di kamar operasi.

Kalau kalian mulai merasakan sakit di perut kanan bagian bawah, lalu kaki kanan sulit diangkat, buru-buru deh periksa. Jangan seperti aku, yang membiarkan rasa sakit itu. Sampai-sampai usus buntuku sempat pecah dan dokter memerintahkan operasi tanpa ba bi bu.

Hari senin (setelah seminggu menahan sakit) sebetulnya aku cuma pengen periksa. Tapi di hari menjelang siang itu sang dokter langsung memerintahkan: “Kamu puasa ya mulai sekarang!”

Dengan tertatih, dan perut yang lapar, aku mengurus kamar rawat inap di rumah sakit yang pernah jadi lagu jadul itu. Setelah kamar dapat, baru saja berbaring lima menit, suster-suster langsung menyuruhku ganti baju operasi.

Tak ada teman, tak ada keluarga. Aku didorong ke ruang operasi, dibius, lalu lupa segalanya. Sekitar pukul 15.30 WIB, aku baru bisa membuka mata dengan leluasa. Di dekat ranjangku sudah ada istri dan mertua.

Sejenak kemudian, rasa sakit mulai terasa dari perut bawah. Kulirik, sudah ada perban dan sepasang selang yang mengalirkan darah ke kantung penampung. Kantung itu penuh dengan darah segar dan cairan kekuningan.

Kelak aku mengerti bahwa perutku terpaksa ditembus selang untuk membuang cairan bekas operasi dan cairan usus buntu yang sempat pecah.

Dua hari pertama, tubuhku rasanya lemah banget. Buang air kecil belum bisa kulakukan sambil berbaring. Alhasil kupaksakan berdiri meski gemetaran dan mata berkunang-kunang.

Minum pun tak diizinkan apalagi makan karena ususku belum bekerja dengan baik. Buktinya kalau sudah bekerja normal adalah keluarnya gas alias buang angin. Tapi tak seperti yang lain – yang rata-rata cuma butuh tujuh sampai delapan jam-- aku malah butuh dua hari sebelum bisa buang angin. Sungguh penantian yang menyiksa.

Empat hari di rumah sakit, aku berangsur sembuh lalu diperbolehkan pulang. Sampai hari ini proses pemulihan terus berlangsung. Perban sudah dibuka, kecuali bekas selang yang masih sedikit berlubang.

Just wanna thank you to My Lovely God! Dia slalu menjagaku.

--camar--