Monday, October 30, 2006





Pandanglah kami
memberikan cinta terbaik
kasih sayang
dari inti kehidupan
yang bisa kami sadari

Ceritakanlah nanti
saat engkau besar
bahwa kami
membesarkanmu
dengan iman, pengharapan, dan kasih

Agar berbahagia engkau
seperti kami kini
dan nanti

Mewangilah melati kami
semerbak siang dan malam
suka dan duka
juga sedih dan senang kami
Karena engkaulah kecintaanNya
dilahirkan dari anugerah terbaik
tanda kepercayaan
pada kami yang terbatas

Jadilah kecintaanNya
seperti makna
yang terkandung dalam namamu
mekarlah di hadiratNya
mengharumlah di pelataran Surga
Bernyanyi bersama malaikat
membawa pujian tertinggi
bagi yang membentukmu indah
dengan jemari
dan hati
juga rupa dan wajahNya

7312
-camar-, 30 Oktober 2006

Thursday, October 19, 2006

PEREMPUAN PERKASA

Perempuan perkasa kamu
menanggung kesakitan
kutuk warisan masa lalu
Tapi kau lalui
dengan terengah
teriak
mengaduh
Nyaris kehilangan kesadaran
Sungguh perkasamu
Kau tanggung semua
sebagai sebuah takdir
Tak perlu dipertanya

Kau bergelimang
di genangan darahmu sendiri
Bersabar
sembari berusaha
sampai putri lahir
grbha grha terbuka sudah
gerbang kehidupan
si bocah idaman
terkuak menyambut malam melarut

Keringatmu mengucur
nafasmu memburu
selintas melambat
Pertaruhanmu jiwa
yang terlepas

di malam itu
dari rahimmu telah lahir
bocah yang kita peranakkan
dengan cinta dan harapan
Seandainya bisa
berbagilah kesakitan itu denganku
Tapi senyum sekelebat mata
tersungging itu
membuatku kembali sadar,
kau terlahir sebagai perempuan perkasa
juga bocah itu, nanti.

7312, 19 Oktober 2006
MELATI

Tangismu memecah kebisuan suatu malam
Dari liang kehidupan
tubuhmu menyuruk
Membawa senafas
Selantun biru
Syukur kami malam itu

Anakku engkau
diperanakkan dari cinta
Putriku engkau
diperanakkan dari harapan
jejak kerinduan masa lalu
yang nyaris terkubur waktu

Bila ada tembang terbaik
ingin selalu kulantun
di telinga mungilmu
saban malam, saban engkau terbangun
Karena aku tahu, begitu engkau menyukainya

Bila inilah cinta terbaik
ingin kupercik
Saat kau tertidur
dan saat kau terjaga

Jasmine Abigail
Melati Kecintaan Tuhan
Wangimu semerbak tengah malam itu
Seisi sorga melepasmu dalam haru
ke dalam kehidupan kami
Mengajarkan kami tentang cinta dan mencinta
mempercaya kami merawat jiwa
agar kelak pulang ke tempatnya dulu berada

Terima kasih Tuhan

7312 -- untuk 12 Oktober 2006, ketika Jasmine lahir

Tuesday, October 03, 2006

PUASA

Aku bisa mengerti
bahwa di masa-masa ini
kalian membutuhkan
masa untuk memikirkan diri sendiri
Tapi mengapa justru terasa seperti
mementingkan dan membenarkan diri?

Kau usir kami di balik tirai
kau hela kami ke balik dinding
mengkerut badan
jelalatan mata mencari kesempatan
menghindar
Hanya untuk menikmat
sesuatu yang kami cari sendiri
bukan yang kami curi

Kami ini ibarat pelanduk
tersuruk di balik rimbunan semak
menyembunyikan diri
dari pemangsa..
seperti ketakutan yang sia-sia
Padahal kami ini sebuah eksistensi
seperti kalian juga

Toleransi, katamu
Bukannya kami tak mengerti
Apakah itu senyatanya toleransi
bila kalian memaksa kami
membungkam diri?

“Enyahlah setan-setan
agar kami kusyu berpuasa
Enyahlah kafir-kafir
agar kami meraih kemenangan”

Bukankah kejahatan terjahat ada di dalam diri kita sendiri?
Dia bernama “Akal budi”
yang membuatmu dan kami berbeda dengan binatang
yang hanya punya naluri
Atau tetumbuhan
yang hanya punya hasrat tumbuh alami

Akal budi adalah senjata terkuat
sekaligus titik pertahanan terlemah
bukan musuh dari luar
si setan dan si kafir, kawan!

Maafkan bila aku sedikit menikmati
anugerah makananku siang ini
Sebab cukup sudah aku bersembunyi
seakan munafik, lapar seakan kenyang
padahal aku menatap makanan itu
dengan hasrat tertahan..

Pandanglah aku
menceracap
mendecap, dan
mengecap
kalahkan akal budimu
aku yakin
bagimu tersedia
puasa senyatanya puasa

-camar-