Wednesday, November 28, 2007

Di Mana

Di mana pernah kulihat wajah renta itu
Tertunduk melangkah
dengan kaki gemetar
Pasi dengan kerut-merut di sekujur tubuh?

Menapak sejengkal demi sejengkal
lorong-lorong itu
Seulas senyum diberi
Bagi siapa saja yang menegur
Atau sekedar tanya
meski dia tahu cuma basa-basi

Di mana pernah ku ingat tubuh ringkih itu
Berdiri di sudut ruang
bersuara lirih
nyaris tak terdengar

Kerap juga tak perduli
pada bisik-bisik gemerisik
atau seru si kurang ajar
yang bikin onar?

Bapak tua guru renta
Di mana pernah kulihat?

Bukankah dari masa laluku
Di antara tiang-tiang koridor
Bilik-bilik kelas nan rapuh
Dari lubang-lubang di dinding
atau gema dinding bisu
Kusam pada warna yang termakan waktu
Sekolahku dulu?

Sepimu kurasa sampai kini
bau kapur putihmu terhidu sampai di sini

Walau kemarin,
Kudengar engkau telah pergi
Membawa kisahmu sendiri
Jadi sejarah atau sekedar melalu?
Biarlah kami tanya pada hati sendiri

Camar, 28 November 2007
Untuk Guru

Monday, November 26, 2007

Pada Samudera

Pada pantai
di mana Ombak tercampak
terderai lamat-lamat
sebelum pulang
menjadi buih

Di manakah cinta terkoyak?
Pada alam yang tak lagi bisa dipercaya?

Pada lautan
di mana kepalsuan terpapar
Di kejauhan indah sungguh
Tapi membuatku hampir muntah
Teralun pada gelombang
Geliat yang tersamar
bila kau tak mendekat

Mungkinkah bersetubuh
antara harapan malam ini
dan kenyataan pagi esok
Ketika diam kaki
Keluh hati
pada bumi yang gonjang
pada tangis anak kami
malam ini

Pada samudera
yang berganti rupa
Ketika cintanya pada pulau dan pantai
dicuri angin gemintang di langit
atau awan-awan yang membawa bencana

Pada malam
hari-hari penantian
Hati yang tak sabar
anak-anak kami yang tak mau mengerti
Atau tungku yang senyap
seperti hati ini

Camar, 26 November 2007

Oleh-oleh dari Buton, Sulawesi Tenggara

Wednesday, September 26, 2007

PUASA

24/09/2007 05:33 Penertiban
FPI Merazia Orang Tidak Berpuasa

Liputan6.com, Bantul: Sekitar 100 anggota Front Pembela Islam (FPI)Ciamis, Jawa Barat, Ahad (23/9), bertindak keras terhadap warung-warung makan yang dianggap tidak menghormati bulan puasa. Tempat-tempat yang dicurigai menjual minuman beralkohol juga tidak luput dari razia.

Massa FPI menjadi beringas saat mengetahui ada tempat makan yang berjualan secara terbuka. Mereka merusak warung itu dan memukul seorang pelanggannya. Sedangkan sang pemilik tak bisa berbuat apa-apa.

Tak hanya itu, seorang pria yang dianggap preman turut dipukuli tanpa alasan yang jelas. Terminal bus Ciamis ikut menjadi sasaran razia. Salah satu warung jamu yang menjual minuman keras didobrak. Satu dus minuman keras diambil dan dihancurkan di depan kios.

Selama razia, praktis tidak ada polisi yang terlihat di lokasi.
Sedangkan warga tak dapat berbuat apa-apa menyaksikan tindakan tersebut. Dihubungi melalui telepon, Kepala Kepolisian Resort Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi Aries Syarief menyatakan, ia menyayangkan adanya kekerasan dalam razia tersebut.

Situasi berbeda di Bantul, Yogyakararta, saat laskar Front Jihad
Islam merazia tempat maksiat dan lokasi penjualan minuman keras, pekan silam. Ketika itu, aparat Polres Bantul bertindak keras dan meminta razia dihentikan. Alasannya, warga sipil tidak berwenang menggelar razia [baca: Sweeping Front Jihad Indonesia Dibubarkan Polisi].(BOG/ Tim Liputan 6 SCTV)

+++++

Aih-aih.. gemas benar. Sekelompok orang yang menyatakan dirinya berpuasa, memaksa orang menghormati puasa mereka, dengan cara kekerasan pula. Begitukah puasa yang sesungguhnya? Sembari menahan lapar dan haus, mengumbar kemarahan dan benci, bersembunyi di balik takbir: "Allah Maha Besar!!"

Maha Besar Allah yang diserukan sembari memukul wajah orang sampai berdarah
Maha Besar Allah yang digemakan sembari menendang perut orang sampai tahinya cerai merai
Maha Besar Allah yang dilafalkan sembari menghancurkan mata pencaharian orang
Maha Besar Allah yang diucapkan sembari membakar sumber penghidupan orang.

Aduh! Allah ku diam saja pada kekerasan demi kekerasan
Pada sesumbar demi sesumbar
Pada Caci demi maki

Tapi.....
Allah ku atau bukan Allahku?

Sebab Allahku sesungguhnya berkata:
"Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri?"

Sedang mereka?

Mereka hanya mencintai "sesama" mereka sendiri..
Mereka hanya mencintai "kaum" mereka sendiri..
Mereka hanya menghargai "ummat" mereka sendiri..

Di luar mereka?
Adalah kafir menjijikkan
Sama seperti anjing
Yang lolongannya tiada terperi
dengan bibir berdarah
Rumah yang terbakar
Hati yang remuk redam

Di luar mereka?
Adalah binatang laknat
Tikus-tikus comberan
yang berdecit di ujung maut
Tangis tiada berujung
Hati yang hancur luluh


-camar-

Thursday, September 20, 2007

Kangen Band

Bila kesenian menjadi Caci Maki maka Kangen Band pun jadi keki.

Begitulah. Anak-anak Lampung yang terlebih dahulu terkenal melalui VCD bajakan itu akhirnya mendapatkan hujatan terparah dalam karirnya.

Sebuah lagu RAP anonim (penyanyinya nyerocos dengan permainan rima ditingkahi musik bingar) telah menghujat mereka:

“This is love song
Specially for Kangen Band
Yo amit-amit
Baru sekali ini kejadian seumur hidup
Ada sampah jadi perhatian
You know Kangen Band
yang personelnya udik
I said Kon***
Sama Kangen Band Nge****
Nge**** sama Kangen Band 4x”

Ini bukan makian pertama.

Sebelumnya David Naif yang sontoloyo itu juga sudah lebih dulu mencela dengan gayanya yang norak bin sengak:

: “Tega bener, mau dikemanain musik Indonesia. Kangen Band, please deh, jangan band kayak gitu lagi yang dikeluarin,” katanya dalam sebuah acara beberapa waktu lalu.

F**K You All!

******
Catatan: NAIF dibentuk di Institut Kesenian Jakarta dan pencipta lirik RAP yang jorok bin dodol itu juga “kabarnya” berasal dari Institut yang sama. WHAT'S THIS?

******

Ada yang bilang, kesenian adalah sebuah ekspresi. Kalau begitu, sah-sah saja dong bagi setiap orang untuk berekspresi, termasuk Kangen Band.

Barangkali para personelnya pun tak pernah bermimpi bahwa mereka akan mencapai ketenaran seperti sekarang. Mereka tak pernah membayangkan bahwa musik mereka yang Melayu itu akan membawa mereka ke ibukota dengan sedikit kemewahan. Jauh dari bayangan para bekas buruh, tukang sayur, dan anak-anak kampung itu.

Tapi begitulah! Musik dan kesenian telah membawa mereka mencicipi hingar bingar Jakarta dan bertahan hidup di dalamnya. Plus secuil kemewahan. Rumah beton dan mobil. Uang dan popularitas. Masuk akal, toh mereka tak korupsi apalagi membajak.

Is it a mistake? Come on Guys!

Kangen Band adalah contoh bagaimana kesenian membuat apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Kesenian telah menjadi sebuah miracle. Saya kira, dengan contoh perjuangan sekelompok anak muda itu, siapapun pantas mendapatkannya.

Tapi kesenian pula yang membuat mereka kini dicaci maki. Musik mereka dikata kampungan. Tampang mereka yang tak semulus Ariel Peter Pan, Bams Samsons, atau David “sontoloyo” Naif, itu juga dikata udik. Haram Jadah BETUL!!

Tak layak menjadi bintang? Buktinya sebaliknya man! Penjualan album mereka fenomenal, tanpa perlu sensasi kawin-cerai, gonta-ganti pacar, dan cela sana-sini. Mereka telah menjadi bintang dengan cara yang adil.

Dulu, saya mengira kesenian musik Indonesia sudah membumi betul dengan kian kondangnya musik dangdut dan melayu. Ternyata saya mulai keliru. Sekat-sekat itu ternyata masih ada.

Masih ada kelas-kelas udik dan tak udik. Kelas begituan dan tak begituan.

Padahal, saya kira, musik yang udik dan begituan itulah yang justru lebih mendekati disebut sebagai musik Indonesia. Mereka lahir dari peradaban bangsa ini, berkembang dari ekspresi kebudayaan dan local genius nenek moyang.

Musik dangdut dan melayu bukanlah musik contekan para musisi jalanan dari kampungnya Uncle Sam atau “kemasan ulang” musik-musik rock 'n roll era 1970-an.

Ah, mudah-mudahan David cuma salah ngomong atau lagi depresi karena albumnya tak sepopuler Kangen.

Atau, saya berharap pencipta lagu RAP itu cuma gelisah karena musiknya tak terlalu diterima luas. Apalagi dengan lirik yang jorok dan justru jauh lebih kampungan (anak-anak kuliahan ngakunya berpendidikan tapi otaknya bodong).

Alangkah indahnya mendengar musik yang lahir dari hati, lahir dari jiwa, lahir dari talenta, dan lahir dari kerendahan hati dan kesantunan.

Camar

Wednesday, September 12, 2007

Kumal di Kolong Langit


Cintakah mereka
pada lelaki kumal tak berbaju
mengonggok seperti kotoran
Terhimpit di bawah jalan-jalan mengapung
Semaraknya tiada
Apalagi gemintang kehidupan
Suram pula tingkap-tingkap rumahnya
Menebar bau busuk
Comberan pembuangan
sempadan rumah-rumah mereka

Lelaki kumal menjerit kelu
Dalam diam bersendawa
kesakitan yang terhujam di dasar perutnya
Menguap dari kerongkongan
seperti sembelit tak diharapkan

Lantas besok mereka hengkang
Meniti tepian sungai amburadul terkutuk
Apa bedanya dengan sampah?
Gusuran tak berguna
perut-perut mereka?

Tembilang berbilang tangis
Ganco-ganco berbalas rintih
Mana lagi suara-suara?
Bukankah sudah meninggalkan raga
sejak kemarin
tatkala bumi dan manusia
menolak mereka
Lelaki kumal tak berbaju
dan keluarganya.

7312, kantorku 12 September 2007

Monday, July 16, 2007

Pergi

Terasa sepi tanpamu di sudut halaman itu
Kau yang kerap tak berbaju
Menafi deraan penyakit di tubuhmu
Sebelum terkapar kau
Pada suatu siang, pekan lalu.

Abang, saudara, dan sahabatku
Menyerah pada jemputan maut
Berbilang darah, membasahi kausmu yang kumal

Meski kupaksa hati ini
Untuk percaya
Tapi masih terselip
Sejuta mengapa

Malam-malam berlalu tanpamu di teras putih itu
Menyapu lantai dengan tanganmu yang kukuh
Tak ada hadirmu
atau sekedar bayangan
Harapku terkulai pada kenangan
Semata

Selamat jalan, Koko
Abang, sahabat, dan saudaraku

-Camar-
Untuk Bang Sony, yang meninggal dunia pada 13 Juli 2007

Monday, July 09, 2007

Nak

Nak, bila kelak engkau mengerti

cinta telah tersimpan
semenjak tubuhmu bersalut garbha
Setitik engkau
sebuncah cinta ini

Lalu kusaksikan
bagaimana perempuan dari langit itu
“menetaskanmu” ke bumi
menjadi seseorang

Sebentuk engkau
selaksa cinta ini

Hingga kini
perjalanan hari-hari
mengiringi kehidupanmu
kerap terluput, sayang

Dan gundah hati
bila tak kulihat cinta yang sama di matamu

Nak, maafkanlah..
Mungkin cinta saja tak cukup..

7312

Sunset




Matahari tenggelam
ditemani semilir angin
meniup ujung rambutku
Menusuk kulitku

Ombak bertabur cahaya keemasan
di horison bumi bersetubuh dengan mentari
Sinarnya berpendar
Menyambut malam yang pekat
dan rembulan yang menunggal
di langit

Sunset di Kupang
Ketika Cinta membuatku merindu

7312, Pantai Kupang, 1 Juni 2007

Wednesday, June 06, 2007

Kenangan

Bau kenangan
tercium di udara yang pekat
biru kelam

Kisah yang lalu
merentas waktu
di secarik kertas
maya

Kita bersekutu
tawa kita sama
tangis kita sama

Sebelum kita
pergi satu per satu
entah di mana kini semua

Bau kenangan
terhidu di tanah yang gersang
merindu

camar, 6 Juni 2007, kantorku

Wednesday, April 18, 2007

Bhineka

Bhineka

Perjalanan ini akhirnya menemukan titik
Sebuah perhentian
dari lenguh yang panjang

Tapi kami tidak terduduk dan berbalik kawan
Hanya merentang jarak
dan tak menggapai
seperti kalian yang juga enggan

Kita hanya tak lagi setaut..
kalian di sana, kami di sini..
Di jalan yang sama..
arah yang sama
dan ujung perjalanan yang juga sama..

Mengapa harus merasa jalanmulah satu-satunya:
Yang tak biasa, terjal, berbatu dan tepiannya curam?
Jangan-jangan pula merasa
Itulah kebenaran yang esa..

Tak kau lihatkah bahwa jalan kami pun
sama tak biasa, terjal, berbatu, dan curamnya?

Mengapa enggan menoleh ke kanan atau ke kiri
Sebab di sana ada begitu banyak seiring..

Camar

Friday, March 02, 2007

Kubur Yesus?


Setelah novel dan film Da Vinci Code--sebuah fiksi belaka--, kini muncul lagi serangan terhadap kekristenan berbentuk klaim penemuan peti mati Yesus, Maria Magdalena, dan putra (?) mereka di satu sudut kota Yerusalem.

Klaim itu dicetuskan pembuat film dokumenter dari Discovery Channel melalui sebuah film 90-menitan bertajuk "The Lost Tomb of Jesus". Film ini disutradarai Simcha Jacobovici, seorang wartawan. Produsernya adalah James Cameron, yang pernah membesut film Titanic.

Discovery Channel mengklaim mereka telah mempelajari sepuluh peti batu yang dipakai untuk menyimpan belulang, dari sebuah situs di Talpiot, Israel, pada tahun 1980. Dari aksara dan penelitian DNA sejumlah temuan di dalamnya disimpulkan bahwa kotak itu adalah tempat bersemayamnya mayat Yesus, Maria Magdalena, dan putra mereka.

Penanggalan temuan itu diperkirakan 2000 tahun lebih. "Bukti-bukti itu mendorong konsekuensi yang besar sekali," kata Jane Root, Presiden Discovery Channel.

Akhir bulan lalu Pendeta Rob Schenck, dari Dewan Kependetaan Nasional Amerika Serikat, mengatakan temuan film itu, "Tak lebih dari pertunjukan sirkus modern."

"Paling buruk, ini benar-benar penipuan."

CAMAR | DIKUTIP DARI NATIONAL GEOGRAPHIC NEWSLETTER

***

Tiba-tiba aku teringat waktu melakukan reportase di Gunung Tambora, Sumbawa Besar, pada tahun 2006. Temanya soal temuan bekas-bekas kerajaan Tambora yang musnah saat gunung itu meletus ratusan tahun lalu.

Tiba di sana aku rupanya keduluan tim dari Discovery Channel yang sudah mengubek-ubek tempat itu, lantas membuat sebuah film dokumenter yang judulnya kira-kira tentang lenyapnya Kerajaan Tambora.

Ketika menyaksikan film itu, penontonnya pasti langsung terbawa suasana bahwa demikianlah kenyataan yang kini terkubur tiga meter lebih di bawah tanah itu. Tapi ketika melihat cara mereka bekerja dan bagaimana mereka membuat kesimpulan demi kesimpulan, aku cuma bisa mengelus dada. Sungguh naif dan memaksa.

Bagaimana bisa bercerita tentang Kerajaan Tambora dari temuan sepetak tinggalan yang sudah menjadi arang dan sisa-sisa keramik dan peralatan? Mana keramik-keramik berharga itu mereka bawa pergi ke Amerika sono tanpa ijin resmi dan lolos saja dari imigrasi kita.

Tak urung kesimpulan mereka membuat berang Arkeolog Indonesia, karena sungguh cara mereka bekerja jauh dari metoda penelitian yang diakui Arkeologi sebagai ilmu. (Begini-begini saya juga lulusan Arkeologi lho)

Lalu apa hubungannya dengan temuan "Kuburan Yesus"?

Saya kira, apa yang disampaikan Discovery adalah sebuah kesimpulan memaksa yang mereka tak pikirkan dampaknya. Sebuah serangan lagi terhadap iman kekristenan. Benarkah Yesus menikah dan punya anak—seperti juga yang dicetuskan dalam Da Vinci Code?

Sebuah kesimpulan yang patut dipertanyakan kesahihannya. Bila memang mereka melakukan penelitian DNA, tentu saja mereka harus mencocokkan DNA temuan di peti batu dengan DNA kerabat Yesus yang masih tersisa saat ini. Apakah ada? Bagaimana mereka bisa melacak setelah generasi itu terentang 2000 tahun lebih?

Tapi terlepas dari semua itu, apakah kekristenan akan hancur dengan temuan itu? Ugh! Not so easy man! Christianity born and grown thousand of years. Diserang dengan berbagai cara pun, kekristenan tetap hidup dan bertumbuh. Serangan terhadap keimanan ini bukanlah kali pertama. Berbagai pihak sudah melakukannya, bahkan tak lama setelah Yesus bangkit.

Lihat kisah di Injil Matius:
28:11 Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. 28:12 Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu
28:13 dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.
28:14 Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara
dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."
28:15 Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada
mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.


Begitulah:

Kata Yesus dalam Yohannes 16:20: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita."

CAMAR

Wednesday, February 07, 2007

PEREMPUAN LANGIT

Perempuan hadiah terbaik dari Langit
Maafkanku
membiarkanmu tumbuh
Luput dari mata

Kudengar celotehmu
dalam bahasa kanak-kanak
Tak perlu kualih bahasa
Karena tak perlu kata
untuk bicara cinta

Kuserap tangismu
dengan daya terbesar
agar tak lunglai
hati untuk mengenang
Saban kau bangun
lalu kembali lelap
di ujung puting susu ibumu

Perempuan anugerah Langit
Ampuni
bilamana tak cukup masa
untuk melihatmu tertawa
juga menangis.

Tapi bukankah cinta
tak berdinding batas?
Pun cintaku
Terbang dibisik angin
menembus tembok-tembok
Hanyut dilarung badai
menempias lorong-lorong
Agar sampai ke rumah
tempatmu sedang tertidur siang ini
“Engging..” katamu..
Puih..puih.. serumu
Juga air mata
dan geliat
serta tubuhmu yang berguling
tengkurap

Ah anakku

-Camar-

Monday, February 05, 2007

REKOR



Ketinggian air di Bendung Katulampa yang terjadi akhir pekan kemarin tercatat sebagai paling tinggi dalam 10 tahun terakhir. Ketinggian air yang mencapai 250 sentimeter, sama seperti yang terjadi tahun 1996 lalu.

Sampai pukul 18.00 wib, ketinggian air di bendung Katulampa 140 sentimeter, dalam kondisi kawasan Puncak masih di rundung hujan gerimis. Jika terjadi hujan besar kembali, diperkirakan ketinggian air akan meningkat kembali.

Banjir..
Banjir kembali menggenangi Jakarta. Bak sebuah akuarium, Jakarta mulai tenggelam lambat laut.

Selain korban yang berjatuhan, penyakit yang bermunculan, --seperti biasa-- orang-orang mulai mencari kambing hitam. Siapa yang patut dipersalahkan?

Gubernur Sutiyoso menyalahkan alam. “Ini siklus lima tahunan, jangan salahkan Jakarta,” katanya takzim.

Tapi benarkah alam sedemikian jahat? Mengapa manusia diberi akal tapi tak bisa menggunakannnya?

Banjir adalah langganan di Jakarta. Bahkan sejak zaman Belanda masih bercokol, Jakarta sudah banjir. Tapi kumpeni itu ternyata lebih panjang akal dari bangsa kita yang katanya sudah merdeka ini.

Sistem tata air Jakarta dibuat sedemikian rupa sehingga debit air yang memang besar bila musim hujan, terutama dari Bogor, bisa di”buang” ke laut tanpa perlu menggenangi Batavia. Kanal-kanal bak coret moret di permukaan kota.. tapi efektif. Bahkan bermanfaat ganda, bisa menjadi sarana rekreasi.

Dulu memang berbeda. Kota Batavia tak sebesar sekarang. Penduduknya juga tak sebanyak sekarang. Kota-kota satelit masih berwujud rawa, hutan, atau situ-situ.

Yang tak berubah adalah manusianya, malah cenderung menurun. Akal jadi pendek, mulai dari pemerintah sampai rakyat kecil. Di pikiran kita semua hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan perut sejengkal.

Rakyat tak punya kesadaran untuk mengelola sampah rumah tangga. Kebiasaan menjadikan sungai dan saluran air sebagai tong sampah raksasa, masih tertanam dalam jiwa.

Pemerintah pun tak punya kebijakan tata kelola lingkungan yang apik. Di satu sisi melarang orang membangun di bantaran kali. Tapi di sisi lain ada saja pejabat yang mengutip upeti dan melanggengkan kesempatan para pemukim bertahan. Asal ada uang, bedeng-bedeng itu boleh bertahan.

Peruntukan lahan pun carut marut. Katanya Jakarta butuh lebih dari 20 persen lahan hijau. Tapi lahan hijau yang ada malah dikanibal, dicukur, dirontokkan, menjadi gedung-gedung bertingkat yang semakin membuat tata kelola air kian ruwet. Daya dukung tanah pun kian rengas karena airnya disedot dengan pompa-pompa air bertenaga super.

Di hulu, hutan dan lahan hijau dicukur, dibotaki. Maka daya serap tanah pun berkurang drastis. Air tak lagi terserap melainkan langsung menggelontor ke sungai. Debit air mau tak mau meningkat lalu terlalu berlebihan. arus yang deras, besar, dan dahsyat itu pun mengalir ke Jakarta dan menenggelamkannya.

Debit air di Katulampa akhir pekan lalu mencapai rekor tersendiri, menjadi yang tertinggi selama sepuluh tahun. Tapi manusia Jakarta dan sekitarnya, tak pernah berpacu mencapai rekor tersendiri. Rekor kota terbersih, kota terhijau, kota teraman dari banjir.

Belanda alias Kumpeni itu sudah pulang ke kampung halamannya. Meninggalkan warisan tata kelola air yang dikubur sebagai sejarah. Padahal kalau mau menengok ke sana, Belanda pulang ke kampungnya yang berada di bawah permukaan laut. Tapi anehnya, mereka tak kebanjiran seperti Jakarta yang ditinggalkan.

Bila saja kita mau belajar, tak hanya bertindak bila sudah kejadian.

Camar

Thursday, January 25, 2007

Bintang Cilik

Kesini, putri
Hampiri papa dengan senyum
Pun tangis
Andai gundah hatimu

Memandangmu dengan rindu
Pada lentik bulu mata
pada senyum terbaik
Pada tawa
Bocah cilik
Bintang kecil kami

Cinta tersedia untukmu sayang
dari segenap hati kami