Monday, February 05, 2007

REKOR



Ketinggian air di Bendung Katulampa yang terjadi akhir pekan kemarin tercatat sebagai paling tinggi dalam 10 tahun terakhir. Ketinggian air yang mencapai 250 sentimeter, sama seperti yang terjadi tahun 1996 lalu.

Sampai pukul 18.00 wib, ketinggian air di bendung Katulampa 140 sentimeter, dalam kondisi kawasan Puncak masih di rundung hujan gerimis. Jika terjadi hujan besar kembali, diperkirakan ketinggian air akan meningkat kembali.

Banjir..
Banjir kembali menggenangi Jakarta. Bak sebuah akuarium, Jakarta mulai tenggelam lambat laut.

Selain korban yang berjatuhan, penyakit yang bermunculan, --seperti biasa-- orang-orang mulai mencari kambing hitam. Siapa yang patut dipersalahkan?

Gubernur Sutiyoso menyalahkan alam. “Ini siklus lima tahunan, jangan salahkan Jakarta,” katanya takzim.

Tapi benarkah alam sedemikian jahat? Mengapa manusia diberi akal tapi tak bisa menggunakannnya?

Banjir adalah langganan di Jakarta. Bahkan sejak zaman Belanda masih bercokol, Jakarta sudah banjir. Tapi kumpeni itu ternyata lebih panjang akal dari bangsa kita yang katanya sudah merdeka ini.

Sistem tata air Jakarta dibuat sedemikian rupa sehingga debit air yang memang besar bila musim hujan, terutama dari Bogor, bisa di”buang” ke laut tanpa perlu menggenangi Batavia. Kanal-kanal bak coret moret di permukaan kota.. tapi efektif. Bahkan bermanfaat ganda, bisa menjadi sarana rekreasi.

Dulu memang berbeda. Kota Batavia tak sebesar sekarang. Penduduknya juga tak sebanyak sekarang. Kota-kota satelit masih berwujud rawa, hutan, atau situ-situ.

Yang tak berubah adalah manusianya, malah cenderung menurun. Akal jadi pendek, mulai dari pemerintah sampai rakyat kecil. Di pikiran kita semua hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan perut sejengkal.

Rakyat tak punya kesadaran untuk mengelola sampah rumah tangga. Kebiasaan menjadikan sungai dan saluran air sebagai tong sampah raksasa, masih tertanam dalam jiwa.

Pemerintah pun tak punya kebijakan tata kelola lingkungan yang apik. Di satu sisi melarang orang membangun di bantaran kali. Tapi di sisi lain ada saja pejabat yang mengutip upeti dan melanggengkan kesempatan para pemukim bertahan. Asal ada uang, bedeng-bedeng itu boleh bertahan.

Peruntukan lahan pun carut marut. Katanya Jakarta butuh lebih dari 20 persen lahan hijau. Tapi lahan hijau yang ada malah dikanibal, dicukur, dirontokkan, menjadi gedung-gedung bertingkat yang semakin membuat tata kelola air kian ruwet. Daya dukung tanah pun kian rengas karena airnya disedot dengan pompa-pompa air bertenaga super.

Di hulu, hutan dan lahan hijau dicukur, dibotaki. Maka daya serap tanah pun berkurang drastis. Air tak lagi terserap melainkan langsung menggelontor ke sungai. Debit air mau tak mau meningkat lalu terlalu berlebihan. arus yang deras, besar, dan dahsyat itu pun mengalir ke Jakarta dan menenggelamkannya.

Debit air di Katulampa akhir pekan lalu mencapai rekor tersendiri, menjadi yang tertinggi selama sepuluh tahun. Tapi manusia Jakarta dan sekitarnya, tak pernah berpacu mencapai rekor tersendiri. Rekor kota terbersih, kota terhijau, kota teraman dari banjir.

Belanda alias Kumpeni itu sudah pulang ke kampung halamannya. Meninggalkan warisan tata kelola air yang dikubur sebagai sejarah. Padahal kalau mau menengok ke sana, Belanda pulang ke kampungnya yang berada di bawah permukaan laut. Tapi anehnya, mereka tak kebanjiran seperti Jakarta yang ditinggalkan.

Bila saja kita mau belajar, tak hanya bertindak bila sudah kejadian.

Camar

3 comments:

donkeekong said...

ilmu air kan cuma dari tempat tinggi ke tempat rendah. tapi jakarta yg modern masih kalah beradu ilmu.

halo, bang!
victor/iksi 98

camar said...

Hei.. ada victor di sini.. Apa kabar?

anggerik sofea said...

Camar, blog kamu bagus. Saya suka membacanya. Saya telah meletakkan link blog kamu di dalam laman saya. Harap kamu izinkan....