Wednesday, September 26, 2007

PUASA

24/09/2007 05:33 Penertiban
FPI Merazia Orang Tidak Berpuasa

Liputan6.com, Bantul: Sekitar 100 anggota Front Pembela Islam (FPI)Ciamis, Jawa Barat, Ahad (23/9), bertindak keras terhadap warung-warung makan yang dianggap tidak menghormati bulan puasa. Tempat-tempat yang dicurigai menjual minuman beralkohol juga tidak luput dari razia.

Massa FPI menjadi beringas saat mengetahui ada tempat makan yang berjualan secara terbuka. Mereka merusak warung itu dan memukul seorang pelanggannya. Sedangkan sang pemilik tak bisa berbuat apa-apa.

Tak hanya itu, seorang pria yang dianggap preman turut dipukuli tanpa alasan yang jelas. Terminal bus Ciamis ikut menjadi sasaran razia. Salah satu warung jamu yang menjual minuman keras didobrak. Satu dus minuman keras diambil dan dihancurkan di depan kios.

Selama razia, praktis tidak ada polisi yang terlihat di lokasi.
Sedangkan warga tak dapat berbuat apa-apa menyaksikan tindakan tersebut. Dihubungi melalui telepon, Kepala Kepolisian Resort Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi Aries Syarief menyatakan, ia menyayangkan adanya kekerasan dalam razia tersebut.

Situasi berbeda di Bantul, Yogyakararta, saat laskar Front Jihad
Islam merazia tempat maksiat dan lokasi penjualan minuman keras, pekan silam. Ketika itu, aparat Polres Bantul bertindak keras dan meminta razia dihentikan. Alasannya, warga sipil tidak berwenang menggelar razia [baca: Sweeping Front Jihad Indonesia Dibubarkan Polisi].(BOG/ Tim Liputan 6 SCTV)

+++++

Aih-aih.. gemas benar. Sekelompok orang yang menyatakan dirinya berpuasa, memaksa orang menghormati puasa mereka, dengan cara kekerasan pula. Begitukah puasa yang sesungguhnya? Sembari menahan lapar dan haus, mengumbar kemarahan dan benci, bersembunyi di balik takbir: "Allah Maha Besar!!"

Maha Besar Allah yang diserukan sembari memukul wajah orang sampai berdarah
Maha Besar Allah yang digemakan sembari menendang perut orang sampai tahinya cerai merai
Maha Besar Allah yang dilafalkan sembari menghancurkan mata pencaharian orang
Maha Besar Allah yang diucapkan sembari membakar sumber penghidupan orang.

Aduh! Allah ku diam saja pada kekerasan demi kekerasan
Pada sesumbar demi sesumbar
Pada Caci demi maki

Tapi.....
Allah ku atau bukan Allahku?

Sebab Allahku sesungguhnya berkata:
"Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri?"

Sedang mereka?

Mereka hanya mencintai "sesama" mereka sendiri..
Mereka hanya mencintai "kaum" mereka sendiri..
Mereka hanya menghargai "ummat" mereka sendiri..

Di luar mereka?
Adalah kafir menjijikkan
Sama seperti anjing
Yang lolongannya tiada terperi
dengan bibir berdarah
Rumah yang terbakar
Hati yang remuk redam

Di luar mereka?
Adalah binatang laknat
Tikus-tikus comberan
yang berdecit di ujung maut
Tangis tiada berujung
Hati yang hancur luluh


-camar-

Thursday, September 20, 2007

Kangen Band

Bila kesenian menjadi Caci Maki maka Kangen Band pun jadi keki.

Begitulah. Anak-anak Lampung yang terlebih dahulu terkenal melalui VCD bajakan itu akhirnya mendapatkan hujatan terparah dalam karirnya.

Sebuah lagu RAP anonim (penyanyinya nyerocos dengan permainan rima ditingkahi musik bingar) telah menghujat mereka:

“This is love song
Specially for Kangen Band
Yo amit-amit
Baru sekali ini kejadian seumur hidup
Ada sampah jadi perhatian
You know Kangen Band
yang personelnya udik
I said Kon***
Sama Kangen Band Nge****
Nge**** sama Kangen Band 4x”

Ini bukan makian pertama.

Sebelumnya David Naif yang sontoloyo itu juga sudah lebih dulu mencela dengan gayanya yang norak bin sengak:

: “Tega bener, mau dikemanain musik Indonesia. Kangen Band, please deh, jangan band kayak gitu lagi yang dikeluarin,” katanya dalam sebuah acara beberapa waktu lalu.

F**K You All!

******
Catatan: NAIF dibentuk di Institut Kesenian Jakarta dan pencipta lirik RAP yang jorok bin dodol itu juga “kabarnya” berasal dari Institut yang sama. WHAT'S THIS?

******

Ada yang bilang, kesenian adalah sebuah ekspresi. Kalau begitu, sah-sah saja dong bagi setiap orang untuk berekspresi, termasuk Kangen Band.

Barangkali para personelnya pun tak pernah bermimpi bahwa mereka akan mencapai ketenaran seperti sekarang. Mereka tak pernah membayangkan bahwa musik mereka yang Melayu itu akan membawa mereka ke ibukota dengan sedikit kemewahan. Jauh dari bayangan para bekas buruh, tukang sayur, dan anak-anak kampung itu.

Tapi begitulah! Musik dan kesenian telah membawa mereka mencicipi hingar bingar Jakarta dan bertahan hidup di dalamnya. Plus secuil kemewahan. Rumah beton dan mobil. Uang dan popularitas. Masuk akal, toh mereka tak korupsi apalagi membajak.

Is it a mistake? Come on Guys!

Kangen Band adalah contoh bagaimana kesenian membuat apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Kesenian telah menjadi sebuah miracle. Saya kira, dengan contoh perjuangan sekelompok anak muda itu, siapapun pantas mendapatkannya.

Tapi kesenian pula yang membuat mereka kini dicaci maki. Musik mereka dikata kampungan. Tampang mereka yang tak semulus Ariel Peter Pan, Bams Samsons, atau David “sontoloyo” Naif, itu juga dikata udik. Haram Jadah BETUL!!

Tak layak menjadi bintang? Buktinya sebaliknya man! Penjualan album mereka fenomenal, tanpa perlu sensasi kawin-cerai, gonta-ganti pacar, dan cela sana-sini. Mereka telah menjadi bintang dengan cara yang adil.

Dulu, saya mengira kesenian musik Indonesia sudah membumi betul dengan kian kondangnya musik dangdut dan melayu. Ternyata saya mulai keliru. Sekat-sekat itu ternyata masih ada.

Masih ada kelas-kelas udik dan tak udik. Kelas begituan dan tak begituan.

Padahal, saya kira, musik yang udik dan begituan itulah yang justru lebih mendekati disebut sebagai musik Indonesia. Mereka lahir dari peradaban bangsa ini, berkembang dari ekspresi kebudayaan dan local genius nenek moyang.

Musik dangdut dan melayu bukanlah musik contekan para musisi jalanan dari kampungnya Uncle Sam atau “kemasan ulang” musik-musik rock 'n roll era 1970-an.

Ah, mudah-mudahan David cuma salah ngomong atau lagi depresi karena albumnya tak sepopuler Kangen.

Atau, saya berharap pencipta lagu RAP itu cuma gelisah karena musiknya tak terlalu diterima luas. Apalagi dengan lirik yang jorok dan justru jauh lebih kampungan (anak-anak kuliahan ngakunya berpendidikan tapi otaknya bodong).

Alangkah indahnya mendengar musik yang lahir dari hati, lahir dari jiwa, lahir dari talenta, dan lahir dari kerendahan hati dan kesantunan.

Camar

Wednesday, September 12, 2007

Kumal di Kolong Langit


Cintakah mereka
pada lelaki kumal tak berbaju
mengonggok seperti kotoran
Terhimpit di bawah jalan-jalan mengapung
Semaraknya tiada
Apalagi gemintang kehidupan
Suram pula tingkap-tingkap rumahnya
Menebar bau busuk
Comberan pembuangan
sempadan rumah-rumah mereka

Lelaki kumal menjerit kelu
Dalam diam bersendawa
kesakitan yang terhujam di dasar perutnya
Menguap dari kerongkongan
seperti sembelit tak diharapkan

Lantas besok mereka hengkang
Meniti tepian sungai amburadul terkutuk
Apa bedanya dengan sampah?
Gusuran tak berguna
perut-perut mereka?

Tembilang berbilang tangis
Ganco-ganco berbalas rintih
Mana lagi suara-suara?
Bukankah sudah meninggalkan raga
sejak kemarin
tatkala bumi dan manusia
menolak mereka
Lelaki kumal tak berbaju
dan keluarganya.

7312, kantorku 12 September 2007