Thursday, September 20, 2007

Kangen Band

Bila kesenian menjadi Caci Maki maka Kangen Band pun jadi keki.

Begitulah. Anak-anak Lampung yang terlebih dahulu terkenal melalui VCD bajakan itu akhirnya mendapatkan hujatan terparah dalam karirnya.

Sebuah lagu RAP anonim (penyanyinya nyerocos dengan permainan rima ditingkahi musik bingar) telah menghujat mereka:

“This is love song
Specially for Kangen Band
Yo amit-amit
Baru sekali ini kejadian seumur hidup
Ada sampah jadi perhatian
You know Kangen Band
yang personelnya udik
I said Kon***
Sama Kangen Band Nge****
Nge**** sama Kangen Band 4x”

Ini bukan makian pertama.

Sebelumnya David Naif yang sontoloyo itu juga sudah lebih dulu mencela dengan gayanya yang norak bin sengak:

: “Tega bener, mau dikemanain musik Indonesia. Kangen Band, please deh, jangan band kayak gitu lagi yang dikeluarin,” katanya dalam sebuah acara beberapa waktu lalu.

F**K You All!

******
Catatan: NAIF dibentuk di Institut Kesenian Jakarta dan pencipta lirik RAP yang jorok bin dodol itu juga “kabarnya” berasal dari Institut yang sama. WHAT'S THIS?

******

Ada yang bilang, kesenian adalah sebuah ekspresi. Kalau begitu, sah-sah saja dong bagi setiap orang untuk berekspresi, termasuk Kangen Band.

Barangkali para personelnya pun tak pernah bermimpi bahwa mereka akan mencapai ketenaran seperti sekarang. Mereka tak pernah membayangkan bahwa musik mereka yang Melayu itu akan membawa mereka ke ibukota dengan sedikit kemewahan. Jauh dari bayangan para bekas buruh, tukang sayur, dan anak-anak kampung itu.

Tapi begitulah! Musik dan kesenian telah membawa mereka mencicipi hingar bingar Jakarta dan bertahan hidup di dalamnya. Plus secuil kemewahan. Rumah beton dan mobil. Uang dan popularitas. Masuk akal, toh mereka tak korupsi apalagi membajak.

Is it a mistake? Come on Guys!

Kangen Band adalah contoh bagaimana kesenian membuat apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Kesenian telah menjadi sebuah miracle. Saya kira, dengan contoh perjuangan sekelompok anak muda itu, siapapun pantas mendapatkannya.

Tapi kesenian pula yang membuat mereka kini dicaci maki. Musik mereka dikata kampungan. Tampang mereka yang tak semulus Ariel Peter Pan, Bams Samsons, atau David “sontoloyo” Naif, itu juga dikata udik. Haram Jadah BETUL!!

Tak layak menjadi bintang? Buktinya sebaliknya man! Penjualan album mereka fenomenal, tanpa perlu sensasi kawin-cerai, gonta-ganti pacar, dan cela sana-sini. Mereka telah menjadi bintang dengan cara yang adil.

Dulu, saya mengira kesenian musik Indonesia sudah membumi betul dengan kian kondangnya musik dangdut dan melayu. Ternyata saya mulai keliru. Sekat-sekat itu ternyata masih ada.

Masih ada kelas-kelas udik dan tak udik. Kelas begituan dan tak begituan.

Padahal, saya kira, musik yang udik dan begituan itulah yang justru lebih mendekati disebut sebagai musik Indonesia. Mereka lahir dari peradaban bangsa ini, berkembang dari ekspresi kebudayaan dan local genius nenek moyang.

Musik dangdut dan melayu bukanlah musik contekan para musisi jalanan dari kampungnya Uncle Sam atau “kemasan ulang” musik-musik rock 'n roll era 1970-an.

Ah, mudah-mudahan David cuma salah ngomong atau lagi depresi karena albumnya tak sepopuler Kangen.

Atau, saya berharap pencipta lagu RAP itu cuma gelisah karena musiknya tak terlalu diterima luas. Apalagi dengan lirik yang jorok dan justru jauh lebih kampungan (anak-anak kuliahan ngakunya berpendidikan tapi otaknya bodong).

Alangkah indahnya mendengar musik yang lahir dari hati, lahir dari jiwa, lahir dari talenta, dan lahir dari kerendahan hati dan kesantunan.

Camar

1 comment:

Nanang said...

wah saya setuju dengan mas, masalahnya klo bnyk band-band baru dicaci dan dihujat akan berpengaruh kepada band-band yang masih blm populer laennya.

Mereka pasti berhati-hati untuk menciptakan lagu, karena terlalu terkekang mungkin hasilnya jg kurang alami dari dalam nurani mereka.