Wednesday, November 28, 2007

Di Mana

Di mana pernah kulihat wajah renta itu
Tertunduk melangkah
dengan kaki gemetar
Pasi dengan kerut-merut di sekujur tubuh?

Menapak sejengkal demi sejengkal
lorong-lorong itu
Seulas senyum diberi
Bagi siapa saja yang menegur
Atau sekedar tanya
meski dia tahu cuma basa-basi

Di mana pernah ku ingat tubuh ringkih itu
Berdiri di sudut ruang
bersuara lirih
nyaris tak terdengar

Kerap juga tak perduli
pada bisik-bisik gemerisik
atau seru si kurang ajar
yang bikin onar?

Bapak tua guru renta
Di mana pernah kulihat?

Bukankah dari masa laluku
Di antara tiang-tiang koridor
Bilik-bilik kelas nan rapuh
Dari lubang-lubang di dinding
atau gema dinding bisu
Kusam pada warna yang termakan waktu
Sekolahku dulu?

Sepimu kurasa sampai kini
bau kapur putihmu terhidu sampai di sini

Walau kemarin,
Kudengar engkau telah pergi
Membawa kisahmu sendiri
Jadi sejarah atau sekedar melalu?
Biarlah kami tanya pada hati sendiri

Camar, 28 November 2007
Untuk Guru

Monday, November 26, 2007

Pada Samudera

Pada pantai
di mana Ombak tercampak
terderai lamat-lamat
sebelum pulang
menjadi buih

Di manakah cinta terkoyak?
Pada alam yang tak lagi bisa dipercaya?

Pada lautan
di mana kepalsuan terpapar
Di kejauhan indah sungguh
Tapi membuatku hampir muntah
Teralun pada gelombang
Geliat yang tersamar
bila kau tak mendekat

Mungkinkah bersetubuh
antara harapan malam ini
dan kenyataan pagi esok
Ketika diam kaki
Keluh hati
pada bumi yang gonjang
pada tangis anak kami
malam ini

Pada samudera
yang berganti rupa
Ketika cintanya pada pulau dan pantai
dicuri angin gemintang di langit
atau awan-awan yang membawa bencana

Pada malam
hari-hari penantian
Hati yang tak sabar
anak-anak kami yang tak mau mengerti
Atau tungku yang senyap
seperti hati ini

Camar, 26 November 2007

Oleh-oleh dari Buton, Sulawesi Tenggara