Tuesday, December 23, 2008

Caramu Mencinta

Bagaimana sesungguhnya caramu mencinta?

Kau ucapkan kata-kata dari roh
Tapi dapatkah kau mengerti tentang cinta?
Mengapa tak kulihat itu
dari gerak-gerikmu?

Kau sorakkan pujian
Kepada surga tangan terentang
Tapi mengapa
Sulit kumerasakan
Ada cinta?

Bilamana kau hidup hanya dalam duniamu
Maka terlempar jauh aku ke tubir
Ketidak-mengertian
Kusangka, cinta akan cukup
Tapi ternyata tidak.

Lantas, untuk apa semua bahasa dan sorakmu?
Untuk apa semua tangis dan sembahmu
Untukmu?
Barangkali iya. Semua cuma untukmu.

Camar

Monday, December 01, 2008

Bunuh

Mudah sekali moncong senjata memuntahkan peluru
ratusan jiwa meregang nyawa
Sementara kau, tertawa
Tempiasan suka, yang laknat kukira

Kau bunuh mereka
Dalam tanya tanpa jawaban
Tertumpah darah
ke bumi di mana mereka lahir
Tanpa mereka pernah mengerti

Kenapa kalian mengantarkan Kematian
Laknat betul
Haram dajah!
Kalian, manusia tanpa hati.

Kabut malam
Dingin sepekat tangis
Sanak tertinggal
Lagi-lagi tiada mengerti

India kau bakar dengan moncong bedilmu
Senyampang dendang kematian
Lelagu maut menitis air mata

Kukira, neraka sebaiknya bagimu
Bukan surga dengan bidadari dan peri
Alangkah nikmatnya, kau tebar duka dan benci
Lalu kau tuai kenikmatan pembenaranmu

Tidak! Itu tidak adil.
Kukira Tuhan tak begitu..

Seandainya boleh.. kudoakan
pintu neraka terbuka lebar untukmu
Agar hangus jiwamu,
Sampai masa tiada, sampai derita tak berkesudahan
Itu lebih pantas!

Sungguh, aku membencimu!

Maafkan aku ya Abba!

Camar, 1 Desember 2008

Monday, November 10, 2008

Rindu

Rindu ini menyeruak pada sebuah mimpi
Ketika tadi malam aku melihatmu
Sebuah gambaran samar, memang

Lamanya waktu berselang
Sedikit banyak membuat memoriku
tentang gambaran dirimu
Menyusut
Kuakui

Tapi, sungguh
Aku rindu
sejak tadi malam
sampai saat ini

Rindu yang membuatku
kembali memutar kenangan lama
Satu per satu
Sampai hati rasa teriris
sebut saja ia bernama penyesalan

Tapi apa boleh buat
Sesaknya hati
dan getirnya rasa
Mesti membuatku lapang dada
Toh perjalanan kita
ada di dua ruang yang berbeda

Hanya saja,
aku ingin memelihara
rindu ini
Barangkali, ada masa ia mengendap
Tapi suatu kali ia melonjak
Aku minta kau izinkan

camar
10 November 2008

Wednesday, October 29, 2008

Titik Itu

Kau tiba di titik itu, katamu.
Pada getar suaramu
Terasa benar
perih yang menggores hatimu

Terpana aku
Pada nyatanya hidup
yang kau hadapi
Ku pernah di sana, kataku dalam hati

Entah bagaimana menggambarkan isi hati ini
Perjalanan waktu kita bersama
Kadangkala membuatku merasa
Ada bagianku di dalam titik itu

Bolehkah?
Layakkah?
Aku tak tahu, sayang.

Bolehkah aku meminta
Kau tak menangis lagi?

Biarkan saja waktu tepekur
Tafakur pada diam
Seperti kita mengacuhkannya
Membuang muka pada tanya
Menafi segala ragu dan ketakutan

Bahwa cakrawala masih menyimpan kejutan
Mentari yang diam, lalu semburat
dengan harapan baru.
Bahwa di kaki langit
Masih ada kekuatan
pada cinta
pada sayang
pada debar-debar dada
Barangkali tak lagi padanya
Tapi sememangnya nyata dan berada
Sehidup kita hari ini

Bolehkah aku meminta
kau tak menangis lagi?

Camar, 29 Oktober 2008

Friday, October 24, 2008

Kau Ada

Aku ingin memelukmu
Dengan rindu tertahan
Seperti sembilu
Di dahan bambu
Menggoresku
Meski aku ingin
Dan menafi

Ceritakanlah
episode hidup
Yang kini mewarnai waktumu
Pun bila aku ada
(bahkan mungkin tiada)
Serta mengecapnya
meski getir
Asal bisa kulihat kau tersenyum
tak perlu lagi menangis

Terima kasih ku ada, katamu
Terima kasih kau ada, kataku

24 Oktober 2008
Camar

Monday, October 06, 2008

Selamat

Memandangnya dari kejauhan,
membuatku bisa memahami banyak hal
Sekaligus rindu yang tertinggal
Pada apa-apa yang tak lagi kutemukan

Seandainya waktu bisa dikendalikan
Seandainya masa bisa diputar ulang
Barangkali takkan ada penyesalan

Padanya, aku ingin berteriak
“Bilamana kau tak pergi!” Bilamana, Bunda!

Wahai.. mengapa pula aku tergugu?
Bukankah kau, ibu dari ibuku
Rahim yang melahirkan jiwa baruku
Telah berbahagia kini
Bersama Dia dan mereka yang tak lagi merindu

Di sisi lain, aku tercekat.
Maafkanlah bunda ku,
Aku tak lagi tahu
apa lagi yang tersisa dari kenanganmu
Di sana, bersama mereka

Tapi, baiklah.
Waktu telah membawa mereka ke titik ini
26 tahun perjalanan waktu
Ia menggurat banyak
Di kerikil-kerikil yang tertinggal
Walau bagaimana pun

Selamat ulang tahun CLF

Camar

Friday, October 03, 2008

Ampunan

Di antara banyak hari
Adalah yang terbaik
Hari yang penuh pengampunan

Maafkanlah..

Camar, 3 Oktober 2008

Monday, September 01, 2008

Negeri di Awan

Aku memimpikan sebuah negeri di awan..
Seandainya ia membumi,
barangkali bisa kuceritakan padamu
apa artinya kebahagiaan sejati

Tapi bumi itu selayang pandang
Tersembunyi di balik awan
Perlu hati untuk membawanya ke sini
Perlu hati untuk menghadiahkannya untukmu

Sebaiknya memang
kuceritakan saja padamu
Tapi, apa kau bisa mengerti
Sedang aku pun sama merindunya?

Camar

Thursday, August 28, 2008

Hari

mentari berpendaran
dari balik dedaunan berbisik
mana celoteh burung-burung manyar?
mengapa sepi tamanku hari ini?

tapi sungguh
hangatnya terasa membelai wajah
menarikku untuk tertawa
masih ada harap pada
kedatangannya

berpendaranlah ia
dari sela-sela daun bambu
bernyanyi bersama angin
yang membawa ria

ini hari baru
baru kunikmati
tak ingin kubiar ia berlalu
bersemi di taman hati

ini harimu
mauku
hayati
sayangi
agar tak sepi hati
menanti esok

28 Agustus 2008

Tuesday, August 19, 2008

Jarak

Kemana ku bawa keluhan diri
Atau sekedar menatapmu?
Pada jarak aku terpaksa
Terdiam dan tak bisa bicara
Merindu

Friday, August 15, 2008

Serambi Malam

Sembari di serambi ini
Adalah kita duduk saja
Perkatakan tentang apa
Sampai menjemput malam
Waktu untuk beranjak
Dian yang menjelang padam
Orang-orang yang bergegas pulang

Izinkan aku meraba hatimu
Menelisik tubir
yang mungkin kau tutupi
atau mungkin
Sekedar menghindar
dan menolaknya lekas

Lamat ku kadang tak sadar
Membiarkan hati tersamar

Atau, barangkali seperti di serambi
Sembari kita duduk saja
Pada malam bersama bulan dan bintang itu,

Berjanji pada waktu
tiada menghela
Apalagi meminta
Bertiuplah
Meraba sendiri
Tubir hati
Ini kubuka

Camar
15 Agustus 2008
Kantorku

Thursday, August 14, 2008

Pramuka

SELAMAT ULANG TAHUN PRAMUKA INDONESIA

Viva scouting!

Menikmati

Sebidang dada
Mampukah membendung
rasa tertumpah
Bila masih mungkin

Mari..
Hampiri..
Tangisi
Banjiri..
Lalu kita cari
perlambang
pada semua itu..

Aku tak tahu merasakan apakah
Seandainya ingin, aku mau bicara
Tapi bukankah kebisuan
terkadang lebih bijak?
Lalu kita biarkan waktu mengalir
Mengantar kita ke berbagai titik
Entah apa
Aku ingin menikmatinya saja

Camar
14 Agustus 2008
Kantorku

Friday, August 08, 2008

Motor di Jakarta

Pagi ini maksud hati ingin ke acara Microsoft di Pasific Place, Jakarta. Tapi apa lacur? Sulit sekali mencari parkir sepeda motor di sana.

Seorang satpam yang menjaga portal pusat belanja ini mengatakan: "Parkir di sana aja mas." Tangannya menunjuk kawasan parkir gedung BEJ.

Di depan pelataran parkir ini, penjaga parkir malah mengarahkanku ke tempat parkir lain, yang akan membutuhkan waktu untuk berjalan kaki ke Pasific Place.

"Maaf mas, di sini khusus berlangganan," katanya singkat. Makdikipeh!!

Sialan! Gedung-gedung di Jakarta ini semakin tak nyaman saja untuk pengendara sepeda motor.

Setelah punggawa jalan raya "membuang" sepeda motor ke jalur kiri, kini pengelola gedung yang aku yakin, tak pernah memikirkan kenyamanan para pemilik sepeda motor.

Yang penting, mobil-bil-bil. Sepeda motor? Go to Hell!!

Thursday, August 07, 2008

Sudah Bahagia

Aku sudah bahagia
Kekata terucap
Menilas kemarin
Saat bersisian
Kita menempuh jalan memutar

Simpan debarku
Pada rasa yang tertinggal
Bahagiaku
Semburat cerah
Dari bening pipimu

Bahagiaku?
Adalah bahagiamu, kawan
Kekawan sejati
Tak hidup untuk diri

Bila nanti ada masa
Mengiring langkah kita berdua
Bersisian
Entah pada makna apa

Pada satu harap, kubebankan hati
Menantimu untuk menyelami
Menekur, meski mungkin kau tiada bisa

Entahlah, hadirmu
Seperti setitik warna
Yang lalu menelanjangi diri
Menjadi tiada
Merapuh bersama
Meretas bersama
Mungkin kita bisa tertawa
Meski kita pernah terluka

Aku sudah bahagia
Kekata terucap
Menilas kemarin
Saat bersisian
Kita menempuh jalan memutar
Tiada akhir, aku harap

Camar

Tuesday, August 05, 2008

Sahabat

Sahabat dari masa lalu
Tiba-tiba menyeruak dari hari-hari yang sibuk
Kabut di matanya
Menyentuh sudut hati tertusuk

Kutanya pada diri
Apakah masih ada tempat
Baginya meletakkan kepala
Di dada dan bahu ini?

Sahabat dari masa lalu
Gamang berjalan
Menembus waktu yang tak berpihak

Merengkuh tak sampai
Aku tergugu
Mencari makna
Pada asa yang entah apa

Bila saja bisa,
Ingin kuusap air mata dari pipinya
Membasuhnya dengan senyum
Pada harap dan esok

Malang, titisan itu sudah kering
Telaga matanya
tak lagi menyimpan segara

Sontak aku tertanya:
Aku ini siapa?
Aku cuma sahabatnya

Camar

Tuesday, June 03, 2008

Edan

Edan benar
Sudah gaharu cendana pula
Sudah memukul, berlagak pula

Dan para penegak hukum itu
cuma termangu
Entah apa yang ada di pikirannya

Diam tidak
bertindak pun tidak
Wajarlah bila mereka semakin melunjak

Entah sampai kapan
negeri ini dihuni orang-orang
Yang merasa paling benar dan paling suci
Paling berhak pula menghakimi

Sedihnya
Mereka yang berhak menghakimi
Yang berhak mengadili
Cuma diam terpaku

Belum..
Belum anak cucu mereka yang dianiaya
Belum kerabat mereka yang disiksa
Belum..

Bila sudah..
Barangkali semua sudah terlambat

Camar

Monday, June 02, 2008

Jubah

Katakan padaku
Cinta apa yang kau bawa
Dengan tongkat tergenggam ganas di tangan kiri
dan belati terhunus marah di tangan kanan?

Coba yakinkan aku
Rahmat bagi sekalian alam apa yang kau agungkan
Saat kau berteriak sesumbar
dan dari mulutmu menyembur pedasnya serapah

Sayang apa yang kalian utarakan
saat tangan dan kaki kalian bicara
Bahkan di tubuh perempuan dan kanak-kanak itu?

Sayang, cinta, dan rahmat semacam apakah, wahai kaum-kaum berjubah?

Sungguh, rupamu tak melahirkan segan
Kecuali takut dan sedan.
Sungguh, tak kami lihat di sana ada cinta.
Bahkan, mungkin sesungguhnya memang tiada.

Camar (untuk kasus Monas, Minggu 1 Juni 2008)

Monday, May 26, 2008

Bang

“Seandainya tempat ini masih ada, mencari makan tidak akan sesulit ini.” Ucapan bernama keluh kesah ini muncul dari mulut seorang Fitri, kurang lebih enam tahun lalu.

Fitri. Ia bukan perempuan luar biasa. Perempuan berpupur ini hanyalah seorang penjaja diri di bekas komplek prostitusi Kramat Tunggak.

Sebuah tugas jurnalistik telah menghantarku ke komplek itu di suatu hari, menjelang malam yang larut. Dua botol bir dan kacang asin, menemani obrolan kami sampai jauh malam, sebelum aku pamit.

”Mau kembali ke kapal, besok sudah harus berlayar,” kataku sekenanya. Jujur, aku hampir kehabisan akal saat Fitri memaksa aku tinggal lebih lama dan melanjutkan obrolan di tempat lain.

Sebetulnya kisah ini sudah mengendap begitu lama di ingatan. Ia muncul kembali setelah aku tertumbuk pada sebuah obituari. Ali Sadikin berpulang.

Kramat Tunggak dan Ali Sadikit adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itulah sosok yang membangun komplek yang dulu berpagar beton tinggi mengangkang itu.

Di tangan Bang Ali—demikian pensiunan Marinir itu akrab dipanggil, pelacuran dilegalisasi dan dilokalisasi. Demikian pula dengan perjudian.

Olehnya, Jakarta pun menggeliat dengan duit-duit yang mengalir dari bisnis “haram” itu. Rakyat menikmati Jakarta yang bak lampu Aladin, bersolek seusap tangan.

Banyak orang yang mencela dan mencemooh Bang Ali. Tapi, di Kramat Tunggak aku bisa sedikit memahami alam pemikirannya. Pelacuran bukanlah persoalan gampang, sebab ia sudah ada sejak manusia ada.

Bagi Bang Ali, lebih baik pelacuran itu dilokalisasi. Agar ia tak menyebar ke tempat lain. Dan agar ia pun bermanfaat bagi banyak orang.

Di Kramat Tunggak ada ribuan orang yang menangguk rupiah untuk kehidupannya. Mulai dari para penjaja kenikmatan, sampai mereka yang bergantung pada bisnis makanan, penginapan, dan sebagainya.

Saat Kramat Tunggak digusur, ada banyak orang yang bersujud syukur. Tapi ada banyak orang pula yang merasakan dunia seperti terbalik. Mereka kocar kacir, seperti beras tumpah dari tampah.

Tak hanya kehilangan mata pencaharian, itu juga menyebabkan persoalan-persoalan lain. Para penjaja kenikmatan tak lagi terkontrol. Bibit penyakit kelamin pun mengancam tak terkendali lantaran tak ada lagi yang memeriksakan kesehatan secara rutin,

Itu baru satu di antara segunung persoalan, bak tiada habisnya.

Pada akhirnya, Kramat Tunggak pun berlalu, sebagaimana Bang Ali berlalu bersama waktu. Ia menyerah di saat rakyat negeri ini bertabur harap pada sebuah kebangkitan bersama, sebelum terkubur lagi bersama harga BBM yang menjulang.

Ia berpulang di saat negeri ini mulai kehilangan sosok-sosok pemimpin yang bisa menyelami perasaan rakyatnya. Ia menjadi contoh yang berbeda, yang sayangnya, tak sempat kita nikmati lebih lama.

Ia berpulang ke suatu tempat yang sudah menantinya. Tapi kota yang ditinggalkannya, sedang berjalan ke tempat, yang entah di mana ujungnya. Ke bentuk, yang entah apa rupanya.

Bisa jadi ia kelak adalah kota megah bertabur bintang-bintang. Tapi bisa jadi pula ia akan tinggal reruntuhan belaka, seperti tembok Kramat Tunggak itu.

CAMAR

Thursday, April 17, 2008

Sahabat Pergi

Seorang teman pergi (lagi)

Kabar itu tiba
Menyentak dini hariku yang sibuk
“Ded, gw gak tau lo udah denger kabar ini atau belum. Lisa Lukman sudah meninggalkan kita semua, wafat kemarin 14 apr 08 jam 3 subuh”.

Jantungku seperti berhenti berdetak
Sedih, haru, terkejut,
bercampur seperti
adonan mati yang tak bisa diperikan

Lisa,
sahabatku itu
Perempuan yang selalu hadir di pesan instannya:
Gadis kecil di depan jendela

Suatu kali mengejutkanku
di ruang maya
setelah lama tak terdengar kabarnya
Masih ceria dia
masih sama nada suaranya
tapi pertanyaannya membuat heran:
“Gue mau menyepi Ded, kemana ya?”
Entah beban apa yang ditanggungnya..

Tapi malam itu aku tak punya jawab
Komunikasi yang terputus membuatku tak berani banyak bicara
Malu
Selaku sahabat, lalai aku bertanya kabar
Sepertinya dia ingin banyak bercerita
Tapi keadaan membawanya pergi terburu

Kini semua bak terlambat
Gadis itu sudah menutup daun jendela selamanya
Air mata pun tak bisa menjawab sesal

Maaf, sahabatku sayang
Kuyakin kau sudah bertemu Dia yang kau rindu
Sosok yang membuatmu selalu tegar
Kala kau tergugu
Berbahagialah

Camar pada Lisa
Kebayoran, 01.00 WIB

Tuesday, April 08, 2008

In Loving Memory

Dari gegap ramai orang-orang di gedung menjulang
Sosokmu tiba membayang..
Bertahun sudah engkau pulang
Ke tempat di mana kini engkau bahagia

Hari ini.. dulu..
Tangis itu membuncah
Saat tubuh kakumu terbujur
Hati bertanya: mengapa?

Tapi, kini tak ada ratap untukmu
Sebab ku yakin, bahagia telah jadi milikmu
Sedang kami, tergugu pada tubuh fana ini

Ibuku, gembalaku,
Penunjuk jalanku
Yang menarikku dari jurang gelap
Membawaku terbang ke angkasa
Belajar terbang
dan terbang sebagai hidup
Chiang.. yang membuatku menjadi jonathan.

Ah, ibuku
tangisku dulu
Adalah saat kusadari
tak ada lagi orang
yang memiliki hati
seluas hatimu
Kau satu-satunya Chiang bagiku
dan kini kau pergi
meninggalkan ketiadaan

Tapi, hidup mesti berlanjut bukan?
Meski tak ada lagi chiang..
bahkan--seorang pun tak bisa menggantimu- -
Tapi aku adalah jonathan
Di belakangku ada camar-camar lain
Menanti untuk belajar terbang
Aku mesti terbang di atas sayapku sendiri

Bila berlindung
Satu-satunya adalah pada kepak sayap Dia
Chiang kita yang sesungguhnya. .
bukan lagi pada manusia

camar

7 April 2008

Bogor

Monday, January 28, 2008

Pak Tua Mangkat

Hari menjelang magrib
Pak Tua ngantuk..
Istri manis menunggu..
istirahatlah..

Pak tua sudahlah..
Engkau sudah terlihat lelah.. o ya..
Pak tua...

Sekelumit lagu yang pernah ngetop pada era 1900-an itu tiba-tiba menggema saat kabar kematian Soeharto tiba di ponselku. Sulit menggambarkan perasaan yang timbul sesaat setelah kabar itu datang.

Yang jelas, seorang anak manusia sudah berpulang.
Entah dimana jiwanya kini berada,
Di dunia kematian? Atau dibawa ke samping Tuhan
Hanya Tuhan yang tahu

Soeharto? Bagaimana merunut gambarannya dalam hidupku?

Dulu,
Sosok itu pernah memenuhi ruang pikiran kanak-kanakku
baik dan mengagumkan.
Bapak pembangunan, kata buku-buku sekolahku.

Sosok yang sama kemudian memenuhi ruang hati remajaku
Hati yang membara, dalam kemarahan
Tangan terkepal, mulut berteriak lantang
“Turunkan Soeharto!” “Turunkan Soeharto!”

Kemarahan kami berbayar lunas
nyawa meregang
darah tertumpah
Harga untuk sebuah reformasi (tepat sehari setelah ulang tahunku)
Darah yang kemudian terlupakan
Tak pernah jadi pahlawan!

Lalu kematian Soeharto?
Entah bagaimana menggambarkan perasaan ini, ketika kabar itu datang. Aku sedikit bingung.

Tapi, sontak aku tersadar.
Itu cuma sebuah kenyataan tentang perjalanan hidup seseorang
Tak lebih dan kurang.
Seperti kelak aku dan kau.

Seperti saat iring-iringan jenazah berlalu di udara Jakarta
Lalu bersemayam di bumi Astana Giribangun..
Berlalu pulalah kisahnya.
Kisah, seorang manusia bernama Soeharto.
Begitu saja.
Seperti kelak aku dan kau

Sebelum lagu Pak Tua habis dari anganku
Aku berlalu dan melangkah..
Membimbing jemari mungil, sang penerus hidupku
“Masa lalu biar berlalu, nak!” kataku berbisik di telinganya.

Masa bapak itu sudah habis..
Kisahnya sudah tuntas
Biarkan buku sejarah dan kenangan
yang menyimpannya, sampai kemudian punah usang.

“Tapi kaulah masa kini dan masa depanku,” kataku lagi pada gadis kecil itu, Sebelum kaki kami melangkah pergi, bersisian meski sesekali dia tersandung.

Kami pun tertawa.

Camar

Thursday, January 03, 2008

Natal

Natal itu adalah kemiskinan

Sebab Natal terjadi di kandang kumuh
Bukan di istana Herodes
atau bait-bait suci para Imam
yang berbalut tembok-tembok megah

Natal bukan di ruang gerlap gemerlap pusat perbelanjaan
Bak-bak bertumpuk menawarkan potongan harga

Bukan di ruang-ruang suci gereja megah
Dengan pondok aneh
Pondok kayu tapi palsu
Teronggok sepi di pojokan
Dengan boneka terbalut kain wangi

Bukan di ruang-ruang rumah
Pohon plastik warna-warni di ruang tamu
Lampunya kerlap-kerlip
Dan sisipan salju kapas nan lucu

Natal bukan pula hidangan enak di permukaan meja
Harum memancing lapar dan selera

Natal itu adalah kemiskinan
Pertandanya sebuah kandang berbau kotoran
Hitam, coklat, dan pupus
Lampin penutup pun sederhana
Bahkan, yang terbuang dari yang tak diinginkan

Natal hadir dalam kesunyian
Malam penuh penolakan
Sekedar tempat membaringkan tubuh nan letih
Kaki berselaput debu
Sebuah perjalanan panjang ayah dan ibu

Tak ada gemerlap lampu kerlap-kerlip
Atau gemintang hiasan warna-warni
Pun lagu-lagu semarak
yang membuat hari Natal begitu berisik

Sedikit wewangian dan kemewahan
adalah hadiah-hadiah dari trio orang bijak
dari jauh membawa sukacita

Natal adalah kemiskinan
Saat sang Penguasa
mengambil rupa seorang hamba
Sang Pemilik Hidup
Mengambil tubuh serba terbatas
Menyusu pada tetek ibu
Merangkak pada lutut
Bahkan berbuang hajat di popoknya

Tapi yang miskin itulah yang membawa damai
Bukan damai senyap haru dan tenang

Tapi damai dari seteru
Damai dari kutuk
Damai dari yang terusir
Berdamai kembali dengan Tuhan
Setiap orang tak lagi menjadi seteru-Nya

Lewat kemiskinan Natal,
setiap orang berhak pulang ke Taman Eden
Menikmati kekayaan baru
Kekayaan yang tak dapat dibandingkan dengan apapun

Kekayaan itu adalah pengampunan
Kekayaan itu adalah kesempatan
Kekayaan itu adalah harapan
Kekayaan itu adalah pemulihan
Kekayaan itu adalah hidup yang kekal

Maka benarlah kata Firman:
“Berbahagialah mereka yang miskin
Sebab merekalah empunya Kerajaan Surga”

Selamat Hari Natal!

Dari Sorga, damai telah hadir di Bumi

- Camar -