Monday, January 28, 2008

Pak Tua Mangkat

Hari menjelang magrib
Pak Tua ngantuk..
Istri manis menunggu..
istirahatlah..

Pak tua sudahlah..
Engkau sudah terlihat lelah.. o ya..
Pak tua...

Sekelumit lagu yang pernah ngetop pada era 1900-an itu tiba-tiba menggema saat kabar kematian Soeharto tiba di ponselku. Sulit menggambarkan perasaan yang timbul sesaat setelah kabar itu datang.

Yang jelas, seorang anak manusia sudah berpulang.
Entah dimana jiwanya kini berada,
Di dunia kematian? Atau dibawa ke samping Tuhan
Hanya Tuhan yang tahu

Soeharto? Bagaimana merunut gambarannya dalam hidupku?

Dulu,
Sosok itu pernah memenuhi ruang pikiran kanak-kanakku
baik dan mengagumkan.
Bapak pembangunan, kata buku-buku sekolahku.

Sosok yang sama kemudian memenuhi ruang hati remajaku
Hati yang membara, dalam kemarahan
Tangan terkepal, mulut berteriak lantang
“Turunkan Soeharto!” “Turunkan Soeharto!”

Kemarahan kami berbayar lunas
nyawa meregang
darah tertumpah
Harga untuk sebuah reformasi (tepat sehari setelah ulang tahunku)
Darah yang kemudian terlupakan
Tak pernah jadi pahlawan!

Lalu kematian Soeharto?
Entah bagaimana menggambarkan perasaan ini, ketika kabar itu datang. Aku sedikit bingung.

Tapi, sontak aku tersadar.
Itu cuma sebuah kenyataan tentang perjalanan hidup seseorang
Tak lebih dan kurang.
Seperti kelak aku dan kau.

Seperti saat iring-iringan jenazah berlalu di udara Jakarta
Lalu bersemayam di bumi Astana Giribangun..
Berlalu pulalah kisahnya.
Kisah, seorang manusia bernama Soeharto.
Begitu saja.
Seperti kelak aku dan kau

Sebelum lagu Pak Tua habis dari anganku
Aku berlalu dan melangkah..
Membimbing jemari mungil, sang penerus hidupku
“Masa lalu biar berlalu, nak!” kataku berbisik di telinganya.

Masa bapak itu sudah habis..
Kisahnya sudah tuntas
Biarkan buku sejarah dan kenangan
yang menyimpannya, sampai kemudian punah usang.

“Tapi kaulah masa kini dan masa depanku,” kataku lagi pada gadis kecil itu, Sebelum kaki kami melangkah pergi, bersisian meski sesekali dia tersandung.

Kami pun tertawa.

Camar

Thursday, January 03, 2008

Natal

Natal itu adalah kemiskinan

Sebab Natal terjadi di kandang kumuh
Bukan di istana Herodes
atau bait-bait suci para Imam
yang berbalut tembok-tembok megah

Natal bukan di ruang gerlap gemerlap pusat perbelanjaan
Bak-bak bertumpuk menawarkan potongan harga

Bukan di ruang-ruang suci gereja megah
Dengan pondok aneh
Pondok kayu tapi palsu
Teronggok sepi di pojokan
Dengan boneka terbalut kain wangi

Bukan di ruang-ruang rumah
Pohon plastik warna-warni di ruang tamu
Lampunya kerlap-kerlip
Dan sisipan salju kapas nan lucu

Natal bukan pula hidangan enak di permukaan meja
Harum memancing lapar dan selera

Natal itu adalah kemiskinan
Pertandanya sebuah kandang berbau kotoran
Hitam, coklat, dan pupus
Lampin penutup pun sederhana
Bahkan, yang terbuang dari yang tak diinginkan

Natal hadir dalam kesunyian
Malam penuh penolakan
Sekedar tempat membaringkan tubuh nan letih
Kaki berselaput debu
Sebuah perjalanan panjang ayah dan ibu

Tak ada gemerlap lampu kerlap-kerlip
Atau gemintang hiasan warna-warni
Pun lagu-lagu semarak
yang membuat hari Natal begitu berisik

Sedikit wewangian dan kemewahan
adalah hadiah-hadiah dari trio orang bijak
dari jauh membawa sukacita

Natal adalah kemiskinan
Saat sang Penguasa
mengambil rupa seorang hamba
Sang Pemilik Hidup
Mengambil tubuh serba terbatas
Menyusu pada tetek ibu
Merangkak pada lutut
Bahkan berbuang hajat di popoknya

Tapi yang miskin itulah yang membawa damai
Bukan damai senyap haru dan tenang

Tapi damai dari seteru
Damai dari kutuk
Damai dari yang terusir
Berdamai kembali dengan Tuhan
Setiap orang tak lagi menjadi seteru-Nya

Lewat kemiskinan Natal,
setiap orang berhak pulang ke Taman Eden
Menikmati kekayaan baru
Kekayaan yang tak dapat dibandingkan dengan apapun

Kekayaan itu adalah pengampunan
Kekayaan itu adalah kesempatan
Kekayaan itu adalah harapan
Kekayaan itu adalah pemulihan
Kekayaan itu adalah hidup yang kekal

Maka benarlah kata Firman:
“Berbahagialah mereka yang miskin
Sebab merekalah empunya Kerajaan Surga”

Selamat Hari Natal!

Dari Sorga, damai telah hadir di Bumi

- Camar -