Thursday, August 28, 2008

Hari

mentari berpendaran
dari balik dedaunan berbisik
mana celoteh burung-burung manyar?
mengapa sepi tamanku hari ini?

tapi sungguh
hangatnya terasa membelai wajah
menarikku untuk tertawa
masih ada harap pada
kedatangannya

berpendaranlah ia
dari sela-sela daun bambu
bernyanyi bersama angin
yang membawa ria

ini hari baru
baru kunikmati
tak ingin kubiar ia berlalu
bersemi di taman hati

ini harimu
mauku
hayati
sayangi
agar tak sepi hati
menanti esok

28 Agustus 2008

Tuesday, August 19, 2008

Jarak

Kemana ku bawa keluhan diri
Atau sekedar menatapmu?
Pada jarak aku terpaksa
Terdiam dan tak bisa bicara
Merindu

Friday, August 15, 2008

Serambi Malam

Sembari di serambi ini
Adalah kita duduk saja
Perkatakan tentang apa
Sampai menjemput malam
Waktu untuk beranjak
Dian yang menjelang padam
Orang-orang yang bergegas pulang

Izinkan aku meraba hatimu
Menelisik tubir
yang mungkin kau tutupi
atau mungkin
Sekedar menghindar
dan menolaknya lekas

Lamat ku kadang tak sadar
Membiarkan hati tersamar

Atau, barangkali seperti di serambi
Sembari kita duduk saja
Pada malam bersama bulan dan bintang itu,

Berjanji pada waktu
tiada menghela
Apalagi meminta
Bertiuplah
Meraba sendiri
Tubir hati
Ini kubuka

Camar
15 Agustus 2008
Kantorku

Thursday, August 14, 2008

Pramuka

SELAMAT ULANG TAHUN PRAMUKA INDONESIA

Viva scouting!

Menikmati

Sebidang dada
Mampukah membendung
rasa tertumpah
Bila masih mungkin

Mari..
Hampiri..
Tangisi
Banjiri..
Lalu kita cari
perlambang
pada semua itu..

Aku tak tahu merasakan apakah
Seandainya ingin, aku mau bicara
Tapi bukankah kebisuan
terkadang lebih bijak?
Lalu kita biarkan waktu mengalir
Mengantar kita ke berbagai titik
Entah apa
Aku ingin menikmatinya saja

Camar
14 Agustus 2008
Kantorku

Friday, August 08, 2008

Motor di Jakarta

Pagi ini maksud hati ingin ke acara Microsoft di Pasific Place, Jakarta. Tapi apa lacur? Sulit sekali mencari parkir sepeda motor di sana.

Seorang satpam yang menjaga portal pusat belanja ini mengatakan: "Parkir di sana aja mas." Tangannya menunjuk kawasan parkir gedung BEJ.

Di depan pelataran parkir ini, penjaga parkir malah mengarahkanku ke tempat parkir lain, yang akan membutuhkan waktu untuk berjalan kaki ke Pasific Place.

"Maaf mas, di sini khusus berlangganan," katanya singkat. Makdikipeh!!

Sialan! Gedung-gedung di Jakarta ini semakin tak nyaman saja untuk pengendara sepeda motor.

Setelah punggawa jalan raya "membuang" sepeda motor ke jalur kiri, kini pengelola gedung yang aku yakin, tak pernah memikirkan kenyamanan para pemilik sepeda motor.

Yang penting, mobil-bil-bil. Sepeda motor? Go to Hell!!

Thursday, August 07, 2008

Sudah Bahagia

Aku sudah bahagia
Kekata terucap
Menilas kemarin
Saat bersisian
Kita menempuh jalan memutar

Simpan debarku
Pada rasa yang tertinggal
Bahagiaku
Semburat cerah
Dari bening pipimu

Bahagiaku?
Adalah bahagiamu, kawan
Kekawan sejati
Tak hidup untuk diri

Bila nanti ada masa
Mengiring langkah kita berdua
Bersisian
Entah pada makna apa

Pada satu harap, kubebankan hati
Menantimu untuk menyelami
Menekur, meski mungkin kau tiada bisa

Entahlah, hadirmu
Seperti setitik warna
Yang lalu menelanjangi diri
Menjadi tiada
Merapuh bersama
Meretas bersama
Mungkin kita bisa tertawa
Meski kita pernah terluka

Aku sudah bahagia
Kekata terucap
Menilas kemarin
Saat bersisian
Kita menempuh jalan memutar
Tiada akhir, aku harap

Camar

Tuesday, August 05, 2008

Sahabat

Sahabat dari masa lalu
Tiba-tiba menyeruak dari hari-hari yang sibuk
Kabut di matanya
Menyentuh sudut hati tertusuk

Kutanya pada diri
Apakah masih ada tempat
Baginya meletakkan kepala
Di dada dan bahu ini?

Sahabat dari masa lalu
Gamang berjalan
Menembus waktu yang tak berpihak

Merengkuh tak sampai
Aku tergugu
Mencari makna
Pada asa yang entah apa

Bila saja bisa,
Ingin kuusap air mata dari pipinya
Membasuhnya dengan senyum
Pada harap dan esok

Malang, titisan itu sudah kering
Telaga matanya
tak lagi menyimpan segara

Sontak aku tertanya:
Aku ini siapa?
Aku cuma sahabatnya

Camar