Tuesday, December 23, 2008

Caramu Mencinta

Bagaimana sesungguhnya caramu mencinta?

Kau ucapkan kata-kata dari roh
Tapi dapatkah kau mengerti tentang cinta?
Mengapa tak kulihat itu
dari gerak-gerikmu?

Kau sorakkan pujian
Kepada surga tangan terentang
Tapi mengapa
Sulit kumerasakan
Ada cinta?

Bilamana kau hidup hanya dalam duniamu
Maka terlempar jauh aku ke tubir
Ketidak-mengertian
Kusangka, cinta akan cukup
Tapi ternyata tidak.

Lantas, untuk apa semua bahasa dan sorakmu?
Untuk apa semua tangis dan sembahmu
Untukmu?
Barangkali iya. Semua cuma untukmu.

Camar

Monday, December 01, 2008

Bunuh

Mudah sekali moncong senjata memuntahkan peluru
ratusan jiwa meregang nyawa
Sementara kau, tertawa
Tempiasan suka, yang laknat kukira

Kau bunuh mereka
Dalam tanya tanpa jawaban
Tertumpah darah
ke bumi di mana mereka lahir
Tanpa mereka pernah mengerti

Kenapa kalian mengantarkan Kematian
Laknat betul
Haram dajah!
Kalian, manusia tanpa hati.

Kabut malam
Dingin sepekat tangis
Sanak tertinggal
Lagi-lagi tiada mengerti

India kau bakar dengan moncong bedilmu
Senyampang dendang kematian
Lelagu maut menitis air mata

Kukira, neraka sebaiknya bagimu
Bukan surga dengan bidadari dan peri
Alangkah nikmatnya, kau tebar duka dan benci
Lalu kau tuai kenikmatan pembenaranmu

Tidak! Itu tidak adil.
Kukira Tuhan tak begitu..

Seandainya boleh.. kudoakan
pintu neraka terbuka lebar untukmu
Agar hangus jiwamu,
Sampai masa tiada, sampai derita tak berkesudahan
Itu lebih pantas!

Sungguh, aku membencimu!

Maafkan aku ya Abba!

Camar, 1 Desember 2008