Monday, October 05, 2009

Surat 2

Lalu surat berikutnya:

Jadi setuju ya, aku doain kamu biar cepet punya bayi
perempuan. Tapi di doaku, aku minta yang juga bandel,
jadi bisa lebih berasa kan. hehehe :p

Tgl 12 ini aku tes penerimaan di STF. Sebetulnya aku
nggak terlalu kuatir, tapi masalahnya aku nggak tahu
bahannya apaan, jadi bingung juga musti persiapaan
apaan.

Masalah beda pendapat kan hal yang biasa Ded, apalagi
dalam pernikahan. Kunci keberhasilan dalam pernikahan
hanyalah kedua-duanya punya kemauan untuk terus
mengerti pasangannya dan berubah. That's all. Tanpa
itu, pernikahan jadi susah.

Gimana dengan tulisanmu yang jadi masalah itu? Apakah
sudah selesai? Kadang kalau aku ada masalah kritis
dalam kerjaan, aku berdoa minta Tuhan tolong, dan
sampai detik ini, selalu masalah-masalah itu selesai
dengan cara yang bahkan tidak pernah aku pikirkan.
Tuhan memang ajaib. Semoga kali ini Tuhan juga tolong
kamu sekali lagi.

Take care ya,
lisa


Lisa...

Kesedihan itu sontak menyentak
Saat kisahmu merobek hariku
Kau, seorang sahabat
Kunamakan mu demikian
Oleh karena pertautan hati

Tapi kerap kali terabai
Aku lalai pada kegalauan diri sendiri
Larut pada waktu
yang membunuh hasrat untuk merawat persahabatan

Sampai suatu ketika kabarmu itu datang
Kau pergi
Menembus batas hidup
Menemukan perhentian yang pernah kau bicarakan.

Lelahkah engkau?
Terlukakah engkau?

Kesedihan itu sontak menyentak

Kau, seorang sahabat
Kunamakan mu demikian
Oleh karena pertautan hati.
Tapi ku tak merawatnya.

Maafkan aku Lisa,..

-camar-

Surat 1

Sebuah surat lama di inbox tak sengaja terbaca-baca kembali. Ini salah satunya:

Ded, keputusan itu bukan untuk dipertanyakan, tetapi
untuk dijalani dan terus diyakini, apalagi dalam
urusan married. Keraguan tidak mendatangkan kebaikan
sama sekali, tetapi cuma membuat hati kamu bercabang
dan membuka pintu untuk banyak masalah muncul.
Bukankah semua keputusan selalu punya resiko? Jadi be
tough, dan terus jalan. Bersyukus dan nikmatilah
kehidupan kamu. Aku doain deh biar kamu cepet punya
baby. Mau kan? Pasti kamu tambah seneng :)
Seorang bayi perempuan yang imut dan lucu, tapi
bandel. Good deal, kan? Hehehe :p
Iya deh, aku doain biar kamu punya bayi perempuan
seperti itu.



Ah Lisa.. doamu ternyata ampuh
Aku kini memiliki seorang anak perempuan
Ia imut dan lucu seperti pintamu
Ia juga bandel seperti doamu

Ah Lisa..kesedihanku tak tertahan.

Di surgakah engkau kini? Seperti harapmu?
Bertemukah engkau denganNya, seperti keinginanmu?
Kau lihatkah bayiku?
Bergembirakah kau denganku waktu itu? Dan mungkin hingga kini?


-Camar-

Wednesday, September 02, 2009

Maaf

Tadi malam air matamu terurai
Meski hanya dalam bayangan mimpi

kau tinggalkan getir rasa hati
Pada sesal ia menghakimi
Selaksa tanda seakan tak mengerti

Maafkan aku
Sekian masa ternyata tak bisa memupus rasa bersalah
Saat kutinggalkan kau
Di malam berkabut tanda tanya
Pencarian sesuatu di binar mata
Mestinya waktu itu aku meyakinkan hati
Bahwa ia masih ada di tempatnya

Tapi kubiarkan aku terdiam
Dalam hening yang merobek malam
Lalu melangkah pergi
Tanpa pernah berpaling lagi

Maafkan aku
Sekian waktu ternyata tak mampu
Memupus raut wajahmu dari bayanganku
Sebuah penyesalan
Yang tak pernah bisa kuungkapkan padamu
Meski suatu ketika
Kunikmati lagi binar mata itu
Di saat aku dan kau, tak lagi sendiri.

Maafkan aku..

Camar, 2 September 2009

Wednesday, August 19, 2009

Semasa

Semasa kubertanya,
Sebutuh apa aku padamu?
Apakah serindu hati
Menanti pertemuan senja dan malam

Waktu yang beranjak
Menggurat kisah demi kisah
Pada tertawa
atau air mata
Sehangat jemari
Terpaut

Serindu apa aku padamu
Demi kisah
atau demi waktu?
Apakah barangkali demi Cinta?

Camar

Saturday, July 18, 2009

Porak Poranda Bumi Kami

Kembali tangan-tangan Nista
Memporak-poranda bumi kita
Pongah di balik topeng memuakkan

Tiada miris pada jeritan
Tangis dan teriak
Luka menganga
Tubuh menghangus
Kebisuan sangat
Meledak menjadi bau menyengat

Kutukan apa ini
Bumi kami terpuruk
Pada manusia-manusia serakah
Jiwa-jiwa terpongah

Penyakit apa ini
Tanah kami tersuruk
Pada tangan-tangan sembilu
Wajah-wajah penebar pilu

Aku tak mengerti
Nilai apa yang sepadan dengan bencana itu?
Katakan padaku
Harga berapa yang kalian tawar, untuk membeli semua itu?

Sungguh,
aku tak mengerti
Kecuali nanar pada tangis-tangis
Orang-orang yang kehilangan
Kecuali tergugu pada kesedihan sangat
Orang-orang yang tersengat

Sampai kapan?

Camar, untuk Bom di Mega Kuninganb
Mal Depok, 18 Juli 2009

Kembalikan Sekolah Kami

Dengan cara apa kurawat kenangan di gedung tua itu?
Bila tanpa bicara ia akan menjadi sebuah sisa-sisa?

Tangan-tangan kukuh membenamkannya
Ke dalam perjalanan waktu yang sombong
Seakan kemajuan zaman
Tak lebih dari sehasrat perut

Kudengar jeritan mereka
Kaum putih abu-abu
Terhimpit seng suram
Berteriak parau
Di siang yang kelabu

“Kembalikan sekolah kami!”

Kenangan mungkin tak cukup untuk merawat sebuah gedung tua
Tapi keinginan belajar tentu lebih dari cukup
Untuk mengharapkan si gedung tua tetap ada di tempatnya..

Maka di sinilah kami berteriak
Pada pemilik perut sehasrat nista
Pemilik duit serakah belaka, CIH!

Dengan tangan terkepal
Tinju menembus langit
Tanpa air mata
Tanpa penyesalan

“Kembalikan sekolah kami!”

camar untuk SMA Negeri 4 P.Siantar yang tergusur ruislag jadi hotel dan mal.
Mal Depok

Tuesday, March 31, 2009

R-I-N-D-U

Aku rindu

Pada sebuah masa
Bertiup angin petang
Cerita yang terujar
Menafi waktu dan keadaan

Juga padamu

Camar, 31 Maret 2009

Friday, March 27, 2009

Teriakmu

Kudengar teriakmu
Menyelusup dari keindahan yang sirna
Sekejap malam
Menabur kematian

Sungguh tiada kukira
Permukaan yang tenang
Gemericik tepian
maupun senda burung-burung siang
Menyimpan amarah terpendam,

Kau tumpahkan pada fajar menjelang
Kau telan tak pandang siapa
Di saat mereka
sedang larut dalam lelapnya

Teriak-teriakan itu laun parau
Menangisi jasad-jasad diam
Mungkin tak sempat menitip pesan
apalagi berkata cinta

Camar
untuk Situ Gintung, Jumat 27 Maret 2009

Monday, March 16, 2009

Ulang Tahun

Seandainya bisa..
Aku ingin perayaan itu ada
Lalu melupakan sejenak
Kenyataan yang ada

Tapi yang nyata itu
terlalu menyakiti hati
Hingga ku tak yakin
Bagaimana kita bisa beria-ria?

Tapi walau bagaimana pun,
Selamat ulang tahun adikku..
Teruras sudah rasa itu kemarin
Hari ini aku ingin kau tertawa

Camar
Untuk Roni

Saturday, February 28, 2009

Rapuh

Aku bergantung pada dahan rapuh
Perasaan terkekang
Pada harap yang terbiar
Terpuruk
Bertanya pada malam
Pada gelap yang sempurna

Mana mungkin teranjur
Jemari ini terluka
Hampir tak bisa meraih
Menuaikan diri
Pada tubir
Lalu ku terhempas

Menyampir asa begitu saja
mana mungkin aku bertanya
Bila bibirku terkunci
Sementara hati
Hanya bisa menggelegak marah
Pada waktu

Seandainya bisa
Tanyakan pada kemarin
Maukah kau diam
Sebelum ku mati?

Tapi mana mungkin?
Sedangkan aku
Nyaris kehabisan waktu
Sebelum kematian itu datang

Camar

Thursday, February 19, 2009

Cinta

Manakah cinta yang lebih dahsyat
Daripada riang tawa dan pelukan
Di tiang pintu itu

Semburat fajar, dari perujung hari
Riak lembut, dari gelora waktu-waktu

Pemanis ia pada pahitnya takdir
Bilamana memang ia berada
Atau ingin ku menafi
Katakanlah saja ia sebuah perjalanan
Sebuah kemestian

Manakah harap yang lebih tinggi
Daripada tumbuh engkau
Pada hari-hari berlalu

Sebuah pegangan menenteramkan
Jalan berbatu, mengguncang hasrat
Sehingga tiba ku di tubir ketakutan

Menarilah melati dari Cintaku
Terus dan tak pernah berhenti
Meski waktu akan merapuhkannya

Aku ingin menikmati saja
Wangimu
Melambung, menghanyut

Sampai nanti
saat tiba perkata, “Pergilah, mencintalah.”
Sedang kami diam di pintu itu
Dengan cinta yang selalu sama..

Camar, 19 Februari 2009

Wednesday, February 11, 2009

Benci

Aku ingin tahu,
tak lelah kah kalian
hidup dalam benci seumur hidup?

"Jangan bergaul dengan mereka!"
"Jangan memakan makanan mereka!"
"Jangan bicara dengan mereka!"
"Jangan cintai mereka!"
"Kalau bisa, bunuh saja mereka!"

Sepagi ini,
ada amarah membuncah
Tapi ketika taurat kurenung
Aku sadar,
Aku hampir saja sama dengan kalian.

Lalu aku sadar
bahwa itu bukan cinta
seperti sebuah perkataan:
"Cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Ya. ya..

Begitulah Cinta sesungguhnya

- Camar -

Monday, January 19, 2009

Perkataan Diam

Jangan kau tanya
Kehangatan macam apa
Yang kunikmati malam itu
Ketika berpaut kita
Pada sebuah masa

Biarkanlah seperti inginku
Memperkatakan dalam diam
Sambil membiarkan
Geletar menjalar
Lalu kita nikmati

Sebab pada awalnya
pinta dari tubir hati
Agar selarik senyum
Tak lekang dari bibirmu
yang cantik

Begitu saja

Lantas,
Meskipun itu jalan kau pilih
Maukah kau
Membiarkanku
menikmati kehangatan malam itu
Untuk kali lain
dan lain?

Sebab tak mau kuberi ia perlambang
Sungguh
Lantaran aku ingin
Perkatakannya dalam diam..
Saja

Camar, 19 Januari 2008

Thursday, January 15, 2009

Gaza

Tangis menyeruak dari desingan peluru
Meratapi bumi yang lantak
Buah hati terkapar, mati
Nestapa menjemput ajal yang beria-ria

Gaza suatu hari
Meluluh pada panasnya sengatan api
Bocah dan ibu termangu
Mencucur air mata dan darah
Tiada terbau

Hentikanlah, tuan!
Pongah dan serakah
Hanya membakar amarah
Meski lekang raga dari jiwa

Cukuplah, tuan!
Seberapa banyak lagi tubuh terberai
Sebelum Anda puas
Lalu tertawa tiada henti

Gaza suatu hari
Meluluh pada hancurnya hati
Bocah dan ibu tergugu
Meratap hari dan hari
Tiada terperi

Tuhan..
Sampai kapan berdiam diri?

=============

Amarah mu boleh tumpah, kawan
Tapi jangan lupa
Kesedihan mereka adalah kesedihan kami
Luka mereka adalah luka kami

Jangan kau memicing mata
Menyempitkan hati
Meluapkan sergah
Lalu abai pada keluh kami

Tak perlu bicara agamamu, pun agamaku
Mereka tak tersedan oleh agamanya
Juga tak meminta tentaramu
Berperang demi mereka
Karena dengan kanak-kanaknya pun
Kepongahan
tak pernah bisa
mengubur semangat mereka

Lupakanlah curiga
Apalagi kalap
Mereka lebih butuh
Cinta dan harap

==============

Kutulis engkau pada bongkah hati terbelah
Nanar menapis selaksa rasa
Kupilihkan satu untukmu
Cinta

Kami mencintamu
Seperti Cinta yang menghujan dari surga
Sampai Cinta yang sama membuatmu bahagia

Kami mencintamu
Gaza


Camar, 15 Januari 2009

Monday, January 05, 2009

Tetirah

Mengharapkanmu di tetirah itu
Sendang sunyi yang membuat kita bersedekap
Bersyukur, mungkin.
Atau barangkali hanya terpana.

Selasar sepi
Kurasakan dari tingkap-tingkap langit
sambil menatang dunia dengan mata
Dari gelisah yang tertahan

Ingin kubawa kau ke sana
Menitiskan setitik saja air mata
Berbagi dengan cerita
Entah apa

Bahkan memelukmu
Dengan degub tertahan
Permaknaan tanpa makna
Biarkan saja begitu, katamu

Tapi di ujung beranda
Aku cuma bisa berharap
Lalu sang tuan masa
Berlalu dengan pongah

Lain kali.

Camar, 5 Januari 2009