Monday, January 19, 2009

Perkataan Diam

Jangan kau tanya
Kehangatan macam apa
Yang kunikmati malam itu
Ketika berpaut kita
Pada sebuah masa

Biarkanlah seperti inginku
Memperkatakan dalam diam
Sambil membiarkan
Geletar menjalar
Lalu kita nikmati

Sebab pada awalnya
pinta dari tubir hati
Agar selarik senyum
Tak lekang dari bibirmu
yang cantik

Begitu saja

Lantas,
Meskipun itu jalan kau pilih
Maukah kau
Membiarkanku
menikmati kehangatan malam itu
Untuk kali lain
dan lain?

Sebab tak mau kuberi ia perlambang
Sungguh
Lantaran aku ingin
Perkatakannya dalam diam..
Saja

Camar, 19 Januari 2008

Thursday, January 15, 2009

Gaza

Tangis menyeruak dari desingan peluru
Meratapi bumi yang lantak
Buah hati terkapar, mati
Nestapa menjemput ajal yang beria-ria

Gaza suatu hari
Meluluh pada panasnya sengatan api
Bocah dan ibu termangu
Mencucur air mata dan darah
Tiada terbau

Hentikanlah, tuan!
Pongah dan serakah
Hanya membakar amarah
Meski lekang raga dari jiwa

Cukuplah, tuan!
Seberapa banyak lagi tubuh terberai
Sebelum Anda puas
Lalu tertawa tiada henti

Gaza suatu hari
Meluluh pada hancurnya hati
Bocah dan ibu tergugu
Meratap hari dan hari
Tiada terperi

Tuhan..
Sampai kapan berdiam diri?

=============

Amarah mu boleh tumpah, kawan
Tapi jangan lupa
Kesedihan mereka adalah kesedihan kami
Luka mereka adalah luka kami

Jangan kau memicing mata
Menyempitkan hati
Meluapkan sergah
Lalu abai pada keluh kami

Tak perlu bicara agamamu, pun agamaku
Mereka tak tersedan oleh agamanya
Juga tak meminta tentaramu
Berperang demi mereka
Karena dengan kanak-kanaknya pun
Kepongahan
tak pernah bisa
mengubur semangat mereka

Lupakanlah curiga
Apalagi kalap
Mereka lebih butuh
Cinta dan harap

==============

Kutulis engkau pada bongkah hati terbelah
Nanar menapis selaksa rasa
Kupilihkan satu untukmu
Cinta

Kami mencintamu
Seperti Cinta yang menghujan dari surga
Sampai Cinta yang sama membuatmu bahagia

Kami mencintamu
Gaza


Camar, 15 Januari 2009

Monday, January 05, 2009

Tetirah

Mengharapkanmu di tetirah itu
Sendang sunyi yang membuat kita bersedekap
Bersyukur, mungkin.
Atau barangkali hanya terpana.

Selasar sepi
Kurasakan dari tingkap-tingkap langit
sambil menatang dunia dengan mata
Dari gelisah yang tertahan

Ingin kubawa kau ke sana
Menitiskan setitik saja air mata
Berbagi dengan cerita
Entah apa

Bahkan memelukmu
Dengan degub tertahan
Permaknaan tanpa makna
Biarkan saja begitu, katamu

Tapi di ujung beranda
Aku cuma bisa berharap
Lalu sang tuan masa
Berlalu dengan pongah

Lain kali.

Camar, 5 Januari 2009