Saturday, February 28, 2009

Rapuh

Aku bergantung pada dahan rapuh
Perasaan terkekang
Pada harap yang terbiar
Terpuruk
Bertanya pada malam
Pada gelap yang sempurna

Mana mungkin teranjur
Jemari ini terluka
Hampir tak bisa meraih
Menuaikan diri
Pada tubir
Lalu ku terhempas

Menyampir asa begitu saja
mana mungkin aku bertanya
Bila bibirku terkunci
Sementara hati
Hanya bisa menggelegak marah
Pada waktu

Seandainya bisa
Tanyakan pada kemarin
Maukah kau diam
Sebelum ku mati?

Tapi mana mungkin?
Sedangkan aku
Nyaris kehabisan waktu
Sebelum kematian itu datang

Camar

Thursday, February 19, 2009

Cinta

Manakah cinta yang lebih dahsyat
Daripada riang tawa dan pelukan
Di tiang pintu itu

Semburat fajar, dari perujung hari
Riak lembut, dari gelora waktu-waktu

Pemanis ia pada pahitnya takdir
Bilamana memang ia berada
Atau ingin ku menafi
Katakanlah saja ia sebuah perjalanan
Sebuah kemestian

Manakah harap yang lebih tinggi
Daripada tumbuh engkau
Pada hari-hari berlalu

Sebuah pegangan menenteramkan
Jalan berbatu, mengguncang hasrat
Sehingga tiba ku di tubir ketakutan

Menarilah melati dari Cintaku
Terus dan tak pernah berhenti
Meski waktu akan merapuhkannya

Aku ingin menikmati saja
Wangimu
Melambung, menghanyut

Sampai nanti
saat tiba perkata, “Pergilah, mencintalah.”
Sedang kami diam di pintu itu
Dengan cinta yang selalu sama..

Camar, 19 Februari 2009

Wednesday, February 11, 2009

Benci

Aku ingin tahu,
tak lelah kah kalian
hidup dalam benci seumur hidup?

"Jangan bergaul dengan mereka!"
"Jangan memakan makanan mereka!"
"Jangan bicara dengan mereka!"
"Jangan cintai mereka!"
"Kalau bisa, bunuh saja mereka!"

Sepagi ini,
ada amarah membuncah
Tapi ketika taurat kurenung
Aku sadar,
Aku hampir saja sama dengan kalian.

Lalu aku sadar
bahwa itu bukan cinta
seperti sebuah perkataan:
"Cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Ya. ya..

Begitulah Cinta sesungguhnya

- Camar -