Friday, March 27, 2009

Teriakmu

Kudengar teriakmu
Menyelusup dari keindahan yang sirna
Sekejap malam
Menabur kematian

Sungguh tiada kukira
Permukaan yang tenang
Gemericik tepian
maupun senda burung-burung siang
Menyimpan amarah terpendam,

Kau tumpahkan pada fajar menjelang
Kau telan tak pandang siapa
Di saat mereka
sedang larut dalam lelapnya

Teriak-teriakan itu laun parau
Menangisi jasad-jasad diam
Mungkin tak sempat menitip pesan
apalagi berkata cinta

Camar
untuk Situ Gintung, Jumat 27 Maret 2009

1 comment:

Dana K said...

Bagus mas..

kebetulan saya org ciputat, tapi gak sempt bisa bikin puisi ttg stu gintung..