Saturday, July 18, 2009

Porak Poranda Bumi Kami

Kembali tangan-tangan Nista
Memporak-poranda bumi kita
Pongah di balik topeng memuakkan

Tiada miris pada jeritan
Tangis dan teriak
Luka menganga
Tubuh menghangus
Kebisuan sangat
Meledak menjadi bau menyengat

Kutukan apa ini
Bumi kami terpuruk
Pada manusia-manusia serakah
Jiwa-jiwa terpongah

Penyakit apa ini
Tanah kami tersuruk
Pada tangan-tangan sembilu
Wajah-wajah penebar pilu

Aku tak mengerti
Nilai apa yang sepadan dengan bencana itu?
Katakan padaku
Harga berapa yang kalian tawar, untuk membeli semua itu?

Sungguh,
aku tak mengerti
Kecuali nanar pada tangis-tangis
Orang-orang yang kehilangan
Kecuali tergugu pada kesedihan sangat
Orang-orang yang tersengat

Sampai kapan?

Camar, untuk Bom di Mega Kuninganb
Mal Depok, 18 Juli 2009

Kembalikan Sekolah Kami

Dengan cara apa kurawat kenangan di gedung tua itu?
Bila tanpa bicara ia akan menjadi sebuah sisa-sisa?

Tangan-tangan kukuh membenamkannya
Ke dalam perjalanan waktu yang sombong
Seakan kemajuan zaman
Tak lebih dari sehasrat perut

Kudengar jeritan mereka
Kaum putih abu-abu
Terhimpit seng suram
Berteriak parau
Di siang yang kelabu

“Kembalikan sekolah kami!”

Kenangan mungkin tak cukup untuk merawat sebuah gedung tua
Tapi keinginan belajar tentu lebih dari cukup
Untuk mengharapkan si gedung tua tetap ada di tempatnya..

Maka di sinilah kami berteriak
Pada pemilik perut sehasrat nista
Pemilik duit serakah belaka, CIH!

Dengan tangan terkepal
Tinju menembus langit
Tanpa air mata
Tanpa penyesalan

“Kembalikan sekolah kami!”

camar untuk SMA Negeri 4 P.Siantar yang tergusur ruislag jadi hotel dan mal.
Mal Depok