Thursday, October 28, 2010

Petaka Apa Ini?

Meratap mereka,
mengerang pada luka-luka menganga
Bau kematian menyengat sangat
di bukit mengumbar amarah
Sujudnya tak sanggup menahan murka
Sudahlah, cukuplah,
lalu senyap
lalu senyawa hilang diterjang petaka

Di belahan lain pula
Segara mengamuk meluluh lantak
Tak ada tanah untuk berpijak
Tubuh-tubuh mengalah
hati tertawan terpaksa
Menjemput kematian yang sama

Petaka apa ini?
Seru-seru kami ke awan-awan.
Sengat kematian
Terasa sangat di antara hawa panas membara
Di titian buih-buih lautan yang insyaf

Mengapa?
Sampai kapan?

Sedang mereka di sana, tuan-tuan jahanam
Bersedekap dalam kolam harta dan pakansi

Beku hatinya
Buta matanya
Mereka Ngarsa
Tapi tulada tiada

Nasib-nasib kamikah?
Atau kehendak Baginda belaka?

Dengarlah seru kami di awan-awan, Ayahanda.

***

Kami bicara sudah
Ribuan warsa tiada berubah
Tak mampukah kau takjim?
Memberontak pula seakan lupa

***

Mulutku terkunci dalam keheningan yang panjang
Aku terlena, Ayah.
Aku tak bisa bergerak
Mari, aku bicara
Sebutlah itu doa saja.


CAMAR
untuk korban tsunami di Mentawai dan Merapi

Sunday, October 10, 2010

Menguap

Kulihat cintamu menguap, bersama bening embun diterpa fajar..
geletarnya sirna ketika angin tak mau lagi bersenda.
Goyah pertahananku.
Hancur lebur pijakanku.
Meraih angin.
Merengkuh ketiadaan.

Aku tuntas menyisakan tubuh fana.
Kesempurnaan terasa jauh. Mampirpun enggan.
Mari sini. kasihanilah aku.
Tak ada lagi airmata disini.

Berbaikhatilah.
Sebelum kurampas semua rasa
Kutelan sendiri
Lalu aku tak lagi bisa berdiri

Camar -

Monday, October 04, 2010

Di Sebuah Stasiun

Temaram malam
Kami dalam dekapan mimpi
Dari perjalanan yang meletihkan
Dan kerinduan yang belum sampai

Sebuah stasiun,
Belum larut dalam perjalanan waktu
Padahal fajar
Sudah tak sabar
Lintang masih terpaku di langit gelap

Sebuah masa,
Gerung mesin dan derit besi
Mendobrak alam mimpi kami
Tak sempat terbangun
Tak sempat menyapa
Kami didekap
Mimpi yang lain.
Mimpi apa ini? Alam apa ini? Kami tak tahu

Kami cuma terdiam, terlena
Sementara berai tubuh kami
Dan kalian menjerit
menangisi perjalanan kami
Yang berakhir di stasiun itu

Sebuah stasiun,
Kala hari menjelang pagi
Sebuah perhentian
Untuk kami, bukan kalian
Tapi, sungguh mati,
Kami tak mau lebih banyak lagi orang-orang seperti kami
di sini
Bilang pada penguasa duniamu itu.
Bilanglah,
Jangan terlambat lagi

Camar (Untuk tragedi pemalang)

Amarah Menguap

Menilas sisa amarah petang itu
Hiruk pikuk yang laun larut
Ketika tubuh bergelimpang
Berkubang darahnya sendiri

Seruas jalan
Sebaris cerita sejenak
Kucoba menggali kenangan
Dari teriak-teriakmu
Dihantar angin sore itu

Kurasakan semua pelan menguap
dari kesibukan siang ini
Orang-orang tak perduli
Meski mungkin, takkan pernah lupa
Jeritmu, menjelang mautmu

Di sini, seruas jalan
Ketika amarah tumpah
serapah muncrat dari mulut berbau
lalu diam
Ketika bilah pedang ganti bicara
Moncong pistol ganti murka

Menilas sisa amarah petang itu
Lambat melarut
Dalam perjalanan kala yang tak diam
Lalu, semua membisu
Semua bergerak
Robot-robot kita
hanya sejenak tertonggak
Di titik yang semakin samar

Hanya tangis, lamat kudengar
Dari mereka yang meriung di atas liang
Tertimbun tanah merah
Tanya mereka tak pernah berjawab
"Mengapa?"

Camar (untuk tragedi Ampera)

Monday, September 06, 2010

Gerimis September

Adakah yang lebih indah daripada gerimis bulan september?
Ketika kuusap wajahku dengan kesejukan yang lekat.

Semasa tampak mereka karam dalam hiruk yang sesak. Sedang di sini.. diperjalanan yang tak terasa seperti sebuah perjalanan lalu, waktu terasa melambat.

Mungkin, tak ada gerimis yang lebih indah, terlebih bila kunikmati bersamamu.

- Camar -

Thursday, September 02, 2010

Lupa Ingatan

Di sana berdiri congkak tuan dan nyonya lupa ingatan,
yang ingin membangun menara bagi dirinya mengangkang.

Di sana si pejantan duduk malu-malu, dengan kaki cemong tak bertaji.
Dicemooh.

Di sana pemegang gada pula sibuk mengencangkan baju dengan perut membuncit.

Lalu di sini, kami membunuh diri dengan kematian yang laun.

-Camar-

Wednesday, July 28, 2010

Seandainya

Seandainya, Tuhan..
Aku bisa sepertiMu
Menghentikan kefanaan
Barang sejenak
Lalu menata keping-keping
Di jejak masa lalu
Yang tertinggal samar

Tapi ketika aku menyadari
Betapa lemahnya kefanaan ini
Mungkin aku akan berontak
Dan ingin menjadi Tuhan.

Aku bersyukur, Tuhan
Di dalam kelemahan yang fana itu
Lekat kusadari
Betapa aku sangat membutuhkanmu
Menggendongku
Menyusuri pantai menuju senja
Meniti tubir kehidupan
Yang kerap membuatku terjerumus

Kepingan-kepingan tercerabut
Dari pegangan sejarah
Sedari semula mencengkeramku
Dalam kepahitan yang semu
Seperti tempias hujan
Di antara terik mentari

Maka aku, berseru
Aku butuhMu

- Camar -

Monday, June 07, 2010

Sampai Dimana Kita?

Sampai dimana kita tadi?

Sudahkah tiba pada perbincangan
tentang pandangan nanar
pada bedil yang menggonggong risau
Menghidu bau mesiu
Menerobos tenggorokan, menyakitkan hati?

Sontaknya debu menyergap
Nafas-nafas yang memburu
Dan parau mencari-cari
makna tentang kemerdekaan
Pada sepelempar batu
Bukan Daud, mereka itu.
Bukan pula Goliath, lawan mereka itu.

Dari Rafah ke Gaza
Dari amarah ke hati yang gelisah

Pupur perempuan yang lamur
Susu bocah yang berlumpur
Tiada bisa menenangkan
Si buyung yang terbungkus lampin
Meratap dalam tangis
Berkepanjangan

Sampai dimana kita tadi?

Sudahkah kita sepakat
Bahwa ratap Gaza bukan tentang agamamu?
Bukan semata tentang teriak kitabmu?

Ketika kau parau menuding
Parau mencaci
Tapi luput bersangka baik
Bahwa kemanusiaanlah itu
Yang terinjak-injak hancur
Di bumi penuh susu dan madu (dulu)

Sebagaimana mesti bicara tentang manusia
Maka kita akan bicara tentang aku, kau, dan mereka
Tentang cinta, tentang rasa baik
Tentang harapan, dan kekuatan

Tentang menggandeng tangan
Bukan menjadikan seteru
Seperti di sini
Di tempat dimana kita
adalah sama-sama manusia, semestinya manusia
Bila kau pun merasa kami adalah manusia
Bila pun tidak...
Tak apa, sebab untuk kalian masih ada cinta

Camar

Tuesday, June 01, 2010

Mendekati Akhir

Sepertinya kita sudah mendekati akhir
Perjalanan bumi tua yang nyaris terkubur
Pada waktu yang menghentak
Perang, kelaparan, pembunuhan
Benci, kesumat, dan nista

Sampai di mana aku kini?
Masihkah aku berlari-lari
pada mahkota
Yang membuat segala sesuatu seperti sampah?
Atau aku beriringan dengan mereka
Menuju tubir kematian?

Seolah kekuatiran menghimpitku
Kesesakan menikam dada
Sampai aku di titik nadir
Pada kesadaran lama
Yang selama ini terabaikan
Maafkanlah aku ya..
Tolonglah.

Camar
Awal Juni 2010

Friday, April 23, 2010

Teruras

Teruras sudah sebuah rasa
Pada sebuah malam panjang
pertemuan dua cerita
Sesungguhnya ia sama..

Tapi tak perlu bertanya pada waktu
Sebab itu tak mungkin kembali
Memutar sebuah roda perjalanan
Memuaskan rasa yang terpendam
Tak perlu

Biarkan ia jadi sebuah cerita
Semata-mata cerita
Pada petilasan jalan berlanjut
Pada akhir yang sudah kita rajut
Tak hendak pulang

Tapi terima kasih
Untuk rasa yang teruras itu
Pada akhirnya..

7312, kantorku

Wednesday, April 21, 2010

Hilang

Hilangkah engkau?
Ketika laun engkau mengayuh perahu
Menjauh tepian,
di tempat kita pernah sama-sama berdiri
Kau lambaikan tangan
"Takkan ada yang berubah"
Katamu,..

Tapi terlanjur aku melepasmu
Membiarkan kau bawa perasaan itu
Menjauh
Memapas kabut
Sampai tak kulihat sosokmu
Kecuali suara yang sama,...
"Takkan ada yang berubah"
Katamu lagi.

Tapi mengapa, aku tak lagi percaya?
Maafkan, adikku.

7312, 21 April 2010. Kantorku

Tuesday, March 09, 2010

Apa yang Bisa Kulakukan Untukmu?

Apa yang bisa kulakukan untukmu?
Mengerang engkau
Di tubir rasa sakit
Yang membuat duniamu gelap

Bagaimana aku bisa menyentuhmu?
Ketika lemah tubuhmu
Tanpa daya menatih
Terpuruk di atas pembaringan itu

Bentangan segara memisahkan kerinduanku padamu
Pada tawa dari masa kecil
Luput kuperhatikan sampai ketika kita menjadi dewasa
Sampai ketika kemarin, aku menangis untukmu

Ah adikku
Lelaki yang tak mau menyatakan sakitmu
Lalu terhempas engkau
Di atas pembaringan itu sampai tak sanggup berdiri

Katakan dengan apa aku membuang rasa takut kehilanganmu?

Seandainya tanganku mengandung kekuatan memindah gunung
Sudah kupinta lebih dari yang kita rasa
Untuk membuatmu bisa kembali tertawa
Tapi berdosa aku adikku
Berlaksa
Hingga takutku bahwa Tuhan justru memalingkan muka
Lalu aku cuma bisa berteriak dalam diam yang menyiksa

Dapatkah cinta itu menyembuhkanmu, sayangku?
Cukupkah?

7312, kantorku
Untuk adikku, Ian. Cepat sembuh sayang.

Tuesday, March 02, 2010

Wajah baru Tempo Interaktif



Setelah bertahun-tahun, akhirnya Tempo Interaktif (tempointeraktif.com) menampilkan wajah baru. Lebih segar.
Mudah-mudahan ini jadi hal yang bermanfaat dalam bisnisnya.

Tuesday, February 02, 2010

Dua

Dua momentum

Satu tentang rasa yang tertumpah
Kenangan yang tercerabut dari tempatnya
Kehangatan yang lenyap begitu saja
Ketika aku terpana
pada sosok di halaman maya
Pencarian terhenti
Tapi aku kehilangan getarnya
Yang kuyakin, dia pun begitu
Ah, tak demi masa lalu

Dua tentang kabar
Tak bisa kugambarkan
Gejolak apa yang ada di dalam hati
Ketika sebuah kabar merah
hinggap di halaman maya itu
Sepatutnya aku ikut bersuka
Bersama pemilik alis indah
Yang hanyut bersama orang
Hanya sepatah
Tapi aku tak bisa berkisah lagi
Maaf

Dua kabar
Dua cerita
Dua yang menguap
Pada kesibukan hari ini..

Camar, 7312

Portal Interaktif untuk Pelayanan Rumah Sakit

Kasus perseteruan Prita Mulyasari dan Rumah Sakit Omni International Serpong saya kira takkan terjadi seandainya saja ada komunikasi yang intens dan timbal balik antara rumah sakit dan pasien selaku konsumennya.

Dunia teknologi informasi sudah menyediakan ruang yang sedemikian tak terbatas untuk mewujudkan hal tersebut. Apalagi kita ada di era Web 2.0, dimana komunikasi di jagad maya tak lagi terjadi satu arah.

Ide saya adalah pihak rumah sakit mesti mendesain sebuah portal yang bisa diakses oleh para pelaku rumah sakit dan para pasien dan konsumen lainnya. Sepanjang ia masih memegang kartu pasien yang masih berlaku.

Portal ini adalah sebuah ruang interaksi maya antara pasien dan pihak rumah sakit, jadi seperti sebuah jejaring sosial. Di sini tertuang berbagai macam informasi dan data yang relevan serta yang bisa diakses oleh konsumen.

Di portal akan ada beberapa kanal, yaitu:

1.Kanal Rekaman medis.
Kanal ini hanya bisa diakses oleh pihak rumah sakit yang berhak dan si pasien sendiri (dengan pintu keamanan sehingga takkan memungkinkan orang yang tak berhak untuk mengaksesnya). Dengan rekam medis ini dokter bisa secara langsung melakukan observasi kapanpun dan dimanapun dibutuhkan, bahkan saat konsultasi tatap muka dengan melakukan beberapa klik di layar. Terkait dengan rekam medis ini, rumah sakit bisa memanfaatkan layanan SMS Broadcast untuk mengirimkan reminder soal jadwal konsultasi berikutnya maupun hasil tes laboratorium misalnya.

2.Kanal informasi dan promosi. Misalnya program paket perawatan terjangkau, paket medical check-up murah, paket perawatan kulit, dan sebagainya. Kanal ini juga terhubung dengan layanan SMS Broadcast sehingga informasi apapun yang diupdate di dalamnya bisa langsung dikirimkan ke konsumen secara sepihak. Pihak rumah sakit juga memanfaatkan Corporate Mail untuk mengirimkan informasi ini ke konsumen dan pasien.

3.Kanal Database dan profil: Seperti sebuah profil account jejaring sosial. Ia berisi informasi dan data pasien atau konsumen. Tak hanya bisa diakses dan diupdate oleh pihak rumah sakit, database ini pun bisa diakses oleh pasien sehingga bila ada perubahan data, misalnya pindah alamat dan sebagainya, bisa langsung diupdate.

4.Kanal Forum Diskusi: Agar kasus Prita tak terulang, pada kanal ini dimungkinkan pasien atau konsumen dan pihak rumah sakit membicarakan isu apapun yang relevan. Di kanal ini pihak rumah sakit juga bisa mendengarkan keluhan dan aspirasi konsumennya. Sebaliknya, konsumen juga bisa mendapatkan tanggapan dari pihak rumah sakit secara cepat.

5.Kanal Konsultasi: Di kanal ini, pasien bisa berkonsultasi dengan spesialis yang diinginkan. Untuk konsultasi ini tentu takkan gratis sifatnya, mengingat konsultasi adalah sumber pendapatan rumah sakit juga. Nah, mekanisme pembayaran ini akan terkait dengan Smart Card yang akan dibahas pada bagian berikut.

Setelah ada portal dan kanal-kanalnya, rumah sakit akan membekali pasiennya dengan kartu pasien yang berfungsi sebagai sebuah Smart Card. Artinya, ia tak lagi sekadar kartu identitas pasif. Kartu pasien ini memiliki masa aktif per tahun yang mesti diperbaharui oleh konsumen bila tetap ingin berinteraksi dengan rumah sakit langganannya.

Smart Card ini akan berisi kode angka yang unik umtuk tiap pasien atau konsumen sebagai password untuk masuk ke portal dan mengakses informasi dan beraktivitas di portal tersebut. Tak hanya kode, saat seorang pasien login akan ada beberapa pintu keamanan sehingga portal tak diakses oleh orang yang tak berhak dan tak bertanggung jawab. Misalnya, ditanyakan nama ibu kandung, dan sebagainya.

Smart Card juga bisa berfungsi sebagai deposit pembayaran yang bisa diisi ulang secara cash maupun autodebet dari tabungan maupun kartu kredit. Dengannya, pasien atau konsumen bisa membayar parkir sampai membayar ongkos konsultasi online.

Demikian idenya.