Friday, December 23, 2011

Besok Natal

Besok Natal, aku masih sibuk belanja. 
Besok Natal, aku masih sibuk mempersiapkan jamuan malam. 
Besok Natal, aku masih sibuk dalam perayaan demi perayaan. 


Natal bukan pesta dan jamuan. 
Natal adalah malam perpisahan. 
Natal adalah ketika bagian terkasihmu direlakan pergi menuju kefanaan. 
Sungguh, karena Cinta sahaja. Maka pada Natal, tak semestinya aku berpesta pora. 



Thursday, November 10, 2011

Selamat Tinggal, Selamat Datang


Seperti bandul raksasa
Menggelantung di kaki
Sehingga langkah tersaruk
dalam perih yang tersirat
Ingin kuungkapkan, tapi
nanti kau bilang aku cengeng
Sedang, aku tak malu bila mau menangis

Tapi baiklah
Mungkin air mata terlalu murah
untuk menceritakan sebuah garis
yang kugores dalam permukaan daun talas
Agar sengkarut bulir air
Menemukan tempat untuk berarti
Atau maukah kau bantu aku
Menorehkan luka di permukaannya
Luka yang tak membikin perih

Maka, di sini
kuseret diri melangkah
Dengan menengadah ke langit
Bahwa pertandaNya sudah tiba
Inilah saatnya
Inilah waktunya
Dengan gumam dalam bisik
meyakinkan hati

Sudah selesai
Tetelestai satu perjalanan
Bermulalah yang lain
Pada mulanya adalah percaya
Maka terpisahlah yang samar dan kabut
dengan terang benderang

Selamat tinggal
Selamat datang

7312, kantorku 10 November 2011

Wednesday, October 26, 2011

Sayangku

Sayangku.. Lipurlah laramu. Demi cinta yg debarnya kupertahankan di gantungan langit.

Ke langit, aku terhujam. Untuk kau nikmati meski kabut menghantam. Aku tetap di sana

Biarkan cinta terawat. Bintang yg tumbuh menjadi kerlap. Indahnya tiada terlewat

Maafkan, jika meragu kau. Dengan hasrat yang terendap kala. Pun hasrat ini tak pernah berganti tempat dengan kehampaan.

Maka biarkanlah kutitian waktu, sampai nanti tiba kugumuli nafasmu dengan waktu yg diam.

Tunggulah, di beranda malam. Sampai tiba nanti beradu siang yg hangat dan tubuh yg panas.

Monday, June 27, 2011

Maafkanlah

Kau memintaku merangkul ingatan,
Meski ia terasa di sekujur badan
Tapi luka hati terpukul kala
Karena kita tak lagi serupa

Maafkanlah..
Enyahkanlah aku dengan cinta
yang wujudnya takkan nyata
Meski kuakui, tergugu
Terhenyak aku dihimpit hasrat

Angin dari lereng Singgalang
masih punya cerita lama
Di naungan pepohonan rimbun
lalu tergerus deras sungai Sianok
jejak yang kita tinggalkan

Masih, semua masih tersimpan sayang
Di sudut terbaik.
Tapi mungkin tak bisa diuras
Karena kita melangkah
Di jalan yang berbeda.

Maafkanlah

Thursday, June 09, 2011

Jejak-Jejak

Sebuah ruang di hati
Seperti sebuah pantai dengan pasir bernas
Di rupanya ada jejak-jejak
Lama terbiar..

Sebelum terkuak ia dari belukar maya
Atau ketika tiba-tiba engkau nyata
Di antara baris-baris kata
Bahkan nada-nada suara

Ruang itu seperti semarak
Jejak-jejak itu bergolak
Kunafi, tapi tiada sanggup
Kupilih bertahan saja

Wahai,
Bagaimana harus kuperlakukan
Jejak-jejak itu?
Tak mungkin kuhapus
Karena ia tertanam dalam
Tak mungkin kuhempas
Karena akan terluka

Berikan saja aku kesepian yang lamat
Semburat hari yang membuat
Aku menyadari
Bahwa perjalanan tak boleh berhenti
Tapi izinkan aku
Menikmati jejak-jejak
Setakat
Sejenak
Seperti semestinya tak sempat

Sungguh, wahai
Aku tak mau menafi belukar nyata
Yang menjadi tiang
Kita hari-hari ini

Camar - kantorku, 9 Juni 2011

Wednesday, June 08, 2011

Kau

Tiba-tiba kau terbit
Dari balik belukar maya
Ketika aku sudah berhenti
Mencari

Terlambatlah ia bila kau
Mencari bentuk warsa lalu
Karena aku tak lagi sama

Tapi, aku yakin
Kau juga sudah berbeda.

Maka, tersedialah jalan
Tempat kita melangkah
Menelusuri bumi maya
Barangkali suatu kala
Kita bisa berjumpa

Camar -

Tuesday, March 01, 2011

Jonathan dan Sayap Patah

Di titik ini kuhempaskan perasaan
dalam gemeretak gigi
Amarah yang menggelegak
Dalam dada yang hampir meledak

Mencari nafas panjang
Demi seruas jalan panjang
Yang entah mengapa
Seperti tiada berujung pangkal

Entah apakah aku masih sanggup melangkah
Atau paling tidak berdiri
Pada kaki goyah
Gementar oleh fakta suram
hari ini

Mungkin inilah waktunya
meninggalkan harapan dan mimpi
di tempat ini
Lalu beranjak

Jonathan, oh Jonathan
sayapmu patah
Terluka dan tertatih
Meniti muka bumi yang tak ramah

Mengepak sayap
namun tiada angin
Untuk mengangkat tubuh ke angkasa
Hampir habis tenaga
Sebelum kulihat bebatu
menyambut tubuh terhempas

Jonathan oh Jonathan
tak bisa terbang lagi

Camar – 7312
Kantorku, 1 Maret 2011

Tuesday, February 08, 2011

Amarah di Kaki Sindoro

Satu hari lagi amarahmu tumpah
Kaum berjubah
yang pongah merasa jadi wakil tahta
Pada simbol, bumi, dan grha

Simbol itu memang benda mati
Dengan takjim, ia akan berdiri lagi di sana
Tapi ia sesungguhnya bermakna,

Bumi dan grha itu hanya wahana
Dalam diam, tiga fajar ia akan mengangkang di sana
Sesungguhnya, ia pun bermakna

Mereka prasad, tempat pencerahan kami
dalam diamnya, kami menikmati haribaan Dia
yang meminta kami mengelus dada
Dan mempercakapkan kalian
Bersama harapan yang tiada akhir.

tolong
tempiaskanlah wajahmu pada embun dari puncak Sindoro
Di mana di kakinya kita merapal doa
Pada langit yang sama

dan resapi bayu sejuk dari lereng Sumbing
Di antara alas dan damar, kita bersyukur
pada alam yang sama

Sesungguhnya kita menuju pada alam yang sama
Kematian
Bukankah tak pernah bisa kita pahami?
Kecuali bila kita duduk diam, menekur diri
Pada Tuhan sendiri..

tak maukah kau meniti jalan kematian
Dengan memandang kami sebagai manusia
Sekali ini saja
Sekali ini sahaja.

Camar
8 Februari 2011
untuk kerusuhan Temanggung

Tuesday, January 18, 2011

Eli Eli, Gendong Aku (Lagi)

Air mata mengapung di permukaan impian tadi malam
Kehilangan sangat ketika pelukmu terasa menjauh
Kesadaran bangkit dan penyesalan menyeruak
Kulihat langkahku menjauh dari jejak-jejakmu

Parau aku berteriak
Sedanku larut pada malam yang masih kelam
Jangan, janganlah tinggalkan aku.

Eli, Eli,
Aku mencarimu dalam ketakutan yang sangat
Lama Sabakhtani..
Jangan, jangan membiarkanku di jalan sesat ini..
Gendong, gendonglah aku seperti yang lalu
Seperti jejak di bibir pantai
Hanya ada jejakmu.

Getir hati pada kesadaran
Terlambatkah?
Atau kau masih memberiku kesempatan
Laun kurasa tanganmu menghapus butir-butir air mata itu

Camar, kamarku 18 Januari 2011