Monday, December 31, 2012

Tahun Baru

waktu-waktu akan berlalu, hari ini terkenang, besok lekang.
Sementara masa depan, siapa yang bisa mengira?
Kalau tak takluk, maka esok dikira takdir semata
Padahal, takkan sehelai rambut jatuh ke bumi, tanpa sepengetahuanNya.
Aih, masa-masa menerka..
Bukanlah lebih baik merawat bersahaja? 

Thursday, November 01, 2012

Tentang November

 Ah November
Sekenang pada rasa yang membiru
Setahun lalu

Bergulat dengan bimbang
Atau bergumul dengan sebuah keputusan
Pada akhirnya, November berlalu
dan bimbang lekang bersama hujan

Kini, november seperti deja vu
Hanya tanpa kisah tentang pergumulan
november ini tentang menunggu
tentang hati yang menantikan hujan




Tuesday, September 18, 2012

Maaf Putriku


Ah maaf ya putri,
Tangismu seperti selarik sinar matahari merobek daun
Biarkan ku mengerti
bahwa hasratmu masih berkubang di antara tawa2
dan sepermainan yang tak menjenuhkanmu
Sedang kadang aku
memintamu mendaki barisan angka dan kata
yang membuatmu mengeluh
dengan paksa
Dengan amarah

Sekarang tidak lagi ya sayang..

Ajarlah kami memintamu
dengan cara yang kau suka
Pintalah kami menuntunmu
dengan langkah-langkah
yang membuat kau tertawa
Kanak-kanak kami
Tanda cinta dari langit

7312
kantorku


Wednesday, September 05, 2012

Ingin Pulang

Dan kini, di sinilah aku, terpana dan terjerembab dalam kubang terdalam
Waktu laun, semua kenangan menari-nari
Dan segala yang pernah naik ke awan-awan
Menghantam, dan membuatku tersungkur

Aku sudah lama tersesat di belantara

Waktu tarian Hosana dan dedaunan di pintu kota, waktu Shakkah
Waktu yang lama terbiarkan
Ah, Abba.. aku lelah dan ingin pulang.

Tuesday, August 14, 2012

Bangunan pemimpi

Aku menyadari, selalu,
Sayangku padamu tumbuh ketika kulihat jejak-jejak masa lalu
Dalam setiap denyut nadi dan nafasmu
Pada setiap nada yang mengalun ke surga
Juga musik yang mengiring segala doa

Aku mencintai setiap kenangan itu
Semangatnya, harapannya, mimpinya
tumbuh dari cikal bakal
Meletup lalu membara
kadang sedan, kadang tawa

Semua itu pernah meredup
Bersama perabuan
yang kita larung di samudera
Juga air mata
Yang laun mengering dan sirna
Mestinya tidak
Tapi kulihat, cinta dari sang perabu
tak sehangat penerusnya

Lalu, bagai layang-layang putus
Aku meniti angin entah ke mana
Kutanya pucuk bambu, dia cuma mendesis
Juga pucuk cemara, dia hanya berbisik
Sampai ku tertambat di sini
Padanya kulihat jejak-jejak masa lalu itu

Maka, satu hal saja kupinta
Berikan aku satu tempat sahaja, untuk berdiri
Menapak
Meski kecil, tapi aku tahu, ku bisa menanggung apa saja
Karena kekuatan yang tiba
Lebih kuat dari angin apa juga
Penopang yang menguatkan kakiku
Lebih tangguh dari badai mana juga
Maka, kini, bangunlah pemimpi-pemimpi yang menyepi di ingatan ini


7312
Kantorku





Friday, August 10, 2012

Membenci Kupu-Kupu

Dulu, kau kupu-kupu di taman seindah, yang pupus yang tersudahi
Sejuta harap pada malam-malam kita, di taman itu
Selaksa cerita, juga kerinduan yang tunai pada baris-baris kata

Laun lambat kulihat sosokmu menjauh
Ditelan kabut dini hari yang mengantarmu jadi sosok yang berbeda
Aku sadar, jauh kini. Kupu-kupu sudah bermetamorfosa
entah jadi kupu-kupu apa

Maafkanlah
Kau sudah memilih jalan itu
Maka aku cuma bisa meratapinya
dalam sesak yang menyakitkan

Jalanilah, ambillah
Semestinya itu kebenaranmu
Meski ku tak yakin
dan ini juga kebenaranku
-Seperti dulu engkau-
dan ku (masih) yakin.

Aku ingin membencimu, karena bara amarah ini. Tapi tak bisa.
Kita pernah diajarkan untuk mengasihi, oleh kisah-kisah kuna, cerita-cerita taurat.
Karena dia yang terlebih dulu mencinta kita..pada salib itu.
Masih ingatkah kau? Masih tergetarkah kau?

7312
untuk kupu-kupu

Friday, July 06, 2012

Terkungkung Bah

Dalam sebuah foto,
kulihat kau terkapar dalam kungkungan bah
Rumah dari masa kecilku, terbelah
Tempatku menata perjalanan kanak-kanak,
membangun mimpi
Kini kau remuk, meremah di permukaan amuk sungai tua itu.
Ah, kurasakan teriris hati.
Jadi, beginilah caranya masa lalu dikenang?
Mungkin, nanti sekadar cerita sahaja
Sedang kau, rumah dari masa kecilku,
melarung ke tempatmu mati.

7312

FOTO: metrosiantar.com

Thursday, July 05, 2012

Sembilan Warsa

Sembilan warsa sudah
Kita meniti perjalanan
Tak mudah
Tapi tak juga susah
karena cinta membuatnya
Sederhana

Aku tahu
Berbilang waktu
kadang ada lembah menurun
Ketika kau menghujam hatiku
Atau tepian curam
saat hati terluka dalam tanya tak berjawab

Tapi aku mengerti,
Seperti tarian hujan malam ini
Kerinduan bumi senantiasa hangat
sehingga setiap tetesnya tak pernah sia-sia

Karena aku selalu mau mencintaimu,
sepermula jejak di tebing Lawu waktu itu
Memetikkanmu kembang abadi
sambil menitip doa pada pucuk-pucuk bambu

Sehingga janji serta tangis kita dulu
Selalu membuatku selalu merasa
Kaulah yang terpilih untukku
sebagaimana aku juga untukmu

Untuk kekasih dan istriku.. happy birthday and our anniversary

Wednesday, July 04, 2012

Sengat

Kerinduanku menyengat,
seperti lidah api yang menghanguskan bara.
Sejenak dalam impian, butiran-butiran kenangan tercurah
dari gerimis menjadi hujan.

Ku tak tahan dan berteriak
dengan suara tanpa nada. Dalam diam berkubang sesal.
Tapi siapa kuasa melawan waktu?

Maafkanlah
Kurasakan kerinduan sangat
Ketika kau mengajakku bercerita
Tentang kita, tentang masa lalu, tentang badai yang baru saja berlalu.

Dari alam khayal
Aku berharap, seandainya..
Tapi tidak akan kuteriakkan
dengan nada
Melainkan dengan nanar mata
menatapmu dari jauh
Menyaksikan hidupmu
dari pertalian yang samar
berjalanlah terus,
Jangan pernah berbalik, karena sesal pasti akan melukaiku.

Sementara cinta kurasakan
sudah hangus
Pada bara yang terjilat api

7312
Sesuatu di Siantar

Monday, June 11, 2012

Sajak Bulan Juni

Mana masa tempatku menitipkan sajak bulan Juni?
Sedang kau hisap semua, seperti akar-akar pohon yang kehausan
Yang tersisa cuma kenangan samar, sebentar tersaput fajar pagi

Aku ingin menari, sejak hujan turun
sampai ketika mereka tak sanggup menelan
Dibiarkannya bumi kita kehilangan muka
Seperti cinta yang meluap

Ah, kala
Izinkanku menatapnya berlalu
Sebentar sahaja
Lalu akan kubiarkan kau memilikiku
Sejak dari rahimnya

di sini kutitipkan sajak bulan juni
sajak penuntas kesendirian
Beria-ria bersama hujan
yang sebijak cakrawala
datang dan pergi
Meninggalkan pagi

Ah, kala
Izinkan ku berdiam
Setakat sahaja
Lalu kubiarkan kau ambil kisahku
Sejak dari bermula

7312, kantorku
11 Juni 2012

Thursday, June 07, 2012

Hujan

Hujan ini mengingatkanku pada tangismu
Susah benar mengingat kapan persisnya dia selalu berhenti
Kadang gerimis, kadang terasa seperti badai

amarah, kerap membuatku menyesal.

Tapi, aku selalu tahu
Aku selalu merindukan tangismu
Juga tawamu, juga celotehmu di bibirmu yang tipis
Karena aku tahu, segalanya tentangmu, adalah cintaku

Menangis saja bila kau merasa kesedihanmu akan jadi seperti hujan bulan Juni
Mudah-mudahan tak jadi badai di hatiku
Meski tak perlu kau kuatir, gerimis atau badai,
Cinta yang kupunya untukmu, tetap.

Beristirahatlah dulu, melatiku. Malam ini.
Sebentar lagi aku pulang, memelukmu dalam diam.

7312, kantorku

Wednesday, March 14, 2012

Sampai Kapan Cinta?

-- Sampai kapan? Cinta
* Sampai memutih rambutmu
* Sampai bibirmu kelu di ujung nafas
* Sampai tenagamu sirna dari belulang tua
* Sampai kau tak mampu lagi berkata, selain menyebut namaKu
-- Mau kah Kau menjagaku, sampai ketika saat itu tiba dan aku tersenyum, bukan meradang dan terhimpit sesal?
* Mau..
-- Karena itu, hari ini. Tolong maafkan aku.
* Baiklah, bukankah kemarin-kemarin selalu begitu?
-- Ya, aku tau. Aku memang bebal. Tapi, detik ini juga. Maafkanlah aku.
* Baiklah. Sudah. Dari tadi, bahkan, sebelum kau bertanya.
-- Terima kasih. Sungguh. Juga seperti sebelumnya, karena kutahu Engkau pasti begitu.
(bicaradalamdiam, 14 Maret 2011) Buncit-75