Monday, November 11, 2013

Kebencian Belatung Dungu

Kebencian itu seperti lidah api
Yang merebak bersenda dengan angin
Menjilat ke sana ke sini
Dengan jejak-jejak luka di sepanjang jalan

Jejak yang tak akan pernah sirna
Bila penderitaannya tiada terperi
Sementara kebencian
sebetulnya tiada bersendi

Sampai kapan kalian menebar bara
Dengan kebohongan dan kepalsuan
Yang kalian bungkus dengan rupa
Angka-angka seakan luar biasa?

Atau mungkin kami ini bicara tiada perlu
Karena yang busuk pasti terhidu
Diremahi belatung-belatung dungu.

7312 - dimun 3

Friday, September 20, 2013

Hidup Memilih dan Kemacetan Lalu Lintas

Apa hubungannya antara pilihan hidup dan kemacetan lalu lintas?

Saya memahami relasi itu secara sederhana ketika menyusuri kemacetan lalu lintas dari Margonda, Depok, sampai ke kantor di bilangan Warung Buncit, Jakarta Selatan, hari ini (16/9/13).

Perjalanan ke kantor di awal pekan kali ini terasa lebih berat dari biasanya. Lalu lintas hanya menyisakan sedikit ruang bergerak sejak roda sepeda motorku berbelok dari arah Jalan Juanda, Depok.

Sambil meresapi setiap rasa panas yang menyengat dari langit, berisik suara kendaraan bermotor, dan sesekali suara klakson, pikiran saya mengembara.

Perjalanan ini tiada ubahnya perjalanan kehidupan. Dalam setiap titik kehidupan kita, kita akan diperhadapkan pada berbagai macam pilihan.

Seperti yang saya alami pada beberapa titik perjalanan pagi ini. Pilihannya selalu lurus atau berbelok. Lurus berarti saya harus menyusuri kemacetan atau berbelok, berharap lolos dari kemacetan.

Semuanya ada risiko. Lurus sudah pasti saya akan berhadapan dengan risiko kemacetan panjang, tapi saya perhitungkan sampai ke perempatan lampu merah jalan TB Simatupang saja, dengan jarak tak terlalu jauh.

Sedangkan berbelok, memang ada harapan lepas sedikit dari kemacetan tapi dengan risiko perjalanan jadi tambah jauh dan tidak bebas dari kemungkinan terkena macet di ruas jalan Kebagusan.

Pagi itu saya memilih lurus. Pekan-pekan sebelumnya saya memilih untuk berbelok.

Yang saya pelajari dalam setiap perjalanan itu adalah: ketika memilih sebuah pilihan dengan sadar, maka mestinya tak perlu ada penyesalan ketika apa yang kita hadapi tak sesuai dengan harapan. Bersabar saja karena perjalanan itu pasti ada jalan keluarnya, tinggal masalahnya seberapa lama untuk sampai ke tujuan.

Begitupun dalam hidup. Jalan mana pun yang kita pilih dalam meniti kehidupan, selalu menyisakan berbagai kemungkinan di masa depannya. Bisa berhasil, bisa pula dibilang gagal. Tapi yang saya ingin selalu tanamkan di hati, jangan pernah menyesali setiap keputusan.

Menyesal memang manusiawi. Tapi kadangkala penyesalan tak membuat kita mensyukuri nikmat dan penyertaan yang diberikan Tuhan, bahkan dalam keadaan yang kita anggap paling buruk sekalipun. Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari pilihan demi pilihan, supaya makin berhikmat.

Pagi tadi, saya harus sampai ke kantor dengan tubuh berkeringat karena kemacetan panjang yang luar biasa. Tapi saya tak menyesal tak berbelok ke arah kebagusan, seperti yang biasa saya lakukan. Hari ini, inilah perjalanan yang saya pilih.

Besok, tentu saya akan berhadapan lagi dengan pilihan demi pilihan di setiap persimpangan. Apa yang akan saya pilih besok? Entahlah, biar situasi besok yang menentukan, untuk apa memusingkan pikiran akan hal-hal besok, bukan?

September 16, 2013 at 4:43pm
https://www.facebook.com/notes/deddy-sinaga/hidup-memilih-dan-kemacetan-lalu-lintas/10151950128773694

Friday, August 23, 2013

Hangus

Setelah begitu lama,...

Aku mengerti
Bahwa kebencian adalah warisan
yang menelusup samar
ke dalam benak dan hatimu
Diperkatakan, dibisikkan, dititahkan,
dan dipaksakan, bahkan sejak kau belum bisa mengingat

Ia adalah makanan sehari-hari
mengenyangkan sisi manusiawimu yang banal
dan selalu merasa benar

Kebencian bahkan turun dari perkataan langit, seperti ujarmu
Seakan-akan, aku ini hanya produk gagal dan pantas dibakar di perapian

Tapi, garis sudah diperjelas
Batas sudah ditegakkan dengan amarah, yang kutahu sulit untuk padam
Kebencian, tak lagi tersembunyi
Ia dan dirimu, tak bisa terbedakan

Bagaimana aku bisa mencintaimu, kemudian?
Seperti menggenggam besi penempahan yang membara..
Meski aku tahu, begitulah jalannya

Karena itu, aku ingin mencintaimu
meski itu akan menghanguskan hati
dan tubuhku..



23 Agustus 2013, kantorku
7312
 

Thursday, August 01, 2013

Permakluman Hujan

Berat hati ku ingin meminta permakluman hujan
Supaya tak terlalu resah sang malam
Mengarunginya dengan lalai
Seperti meniti lidah api tiada kepedihan

Sangkamu aku menyerah?
Atau tanpa sepengetahuan mereka
Kau menertawakan cerita-cerita itu?

Jangan-jangan ketidaktahuan bebutiran gerimis
Sebelum mendengar gemuruh penghujan malam
Kau manfaatkan, seperti tak bermalu cela

Ke sini, marilah
Akan kugurat di keningmu
pertanyaan-pertanyaan sederhana
tentang hari ini, kemarin, juga nanti

Supaya bisa kau bawa tidur
Agak tak merasa bersalah sang fajar
ketika membangunkanmu
Dengan kehendak yang tersamar

Sedang aku,
tak perlu kau tahu
Kemana aku akan menyapa pagi
Bahkan, aku sudah lupa rasanya

7312
di pojok kantorku
Lt 2 Ged Aldevco


Friday, July 19, 2013

Berarti, Sebelum Mati

dan inilah akhir perjalananmu
penyampai kabar dari jagad maya
sekali berarti, lalu kemudian mati.

(Harian Detik : 15 Desember 2011 - 21 JULI 2013)
Good Bye and Thanks! (Edisi Pagi terakhir)

Tuesday, July 16, 2013

Sebilur demi Sebilur

Bolehkah aku meminta sedikit saja tenaga
Dari segenap yang Kau punya,
seperti janjiMu? 
Sedikit saja, karena kutahu itu lebih dari cukup

Untuk melegakan yang sesak
Mengurai yang terhimpit
Hadiahkan ia lewat hujan, kalau mungkin
Supaya kesejukannya pun
Bisa menenteramkan hati yang lelah

Pada mata langit
Aku meminta, dalam diam yang panjang
Seperti tiada berani
Oleh karena terluka hati
Berharap penyembuhan
Sebulir demi sebulir..
Sebilur demi sebilur
Tolonglah rawat
Seperti Engkau melupakan aku yang kemarin
Meski aku tahu, kemarin pun
Engkau tetap mencintaku
Dan hari ini, Kau masih mencintaku

7312




FINAL

Setelah setahun setengah, akhirnya berakhir sudah riwayatmu. Media tempatku mencurahkan ide dan kreativitas. Kau yang dibangun dengan idealisme harus takluk pada kenyataan pasar. Meski usiamu masih sangat muda.

Tapi memang sejak awal, kita sudah sama-sama mengerti bahwa idealisme itu tak cukup, bukan? Akhirnya, inilah akhir itu.

16 JULI 2013
Tamatnya www.harian.detik.com

Wednesday, June 19, 2013

Tong Kosong

Maka dengarkanlah teriak para pemuncak amarah
Dalam gemerincing tong yang nyaring
Suaranya hanyalah pengganggu malam
Penghina perjalanan yang gemas tak terkira
Lalu merusaklah ia
Berlumur dengan kebencian yang tak punya makna
Dia bilang, dia pahlawan
Kami bilang, dia cuma perusak hari
Langkah yang tercekat
Ketakutan yang melompat
Akhirnya, amarah yang tumpah
Tak lebih, bagai kerikil dalam sepatu

7312

Tuesday, May 14, 2013

Episode Tentang Orang Serakah

(Bagian 1)

Andai keadilan punya mata dan telinga,
Barangkali sudah dihabisinya kalian
Dalam sekali tebas pedangnya

Tapi, kenyataan memang kadang tak bersenda dengan keadilan
Yang adil kita rasa, tak adil bagi mereka
Yang benci kita rasa, yang bahagia bagi mereka

Mungkin kita hanya bisa menunggu
sejumput demi sejumput
keadilan ditegakkan pada mereka
yang bermanis mulut dan muka
Padahal, fasik sungguh
kesaksian hidupnya

Berlindung di balik ayat-ayat surga
Takkan membuat langit membuka telinga
Kalau di hati, pongah dengan cela
Seperti ulat rakus yang menggerogot jiwa

Sudahlah tuan dan puan
Cukuplah berlindung di balik jubah dan janggut
Karena lambat laun, kebenaran
hanya akan membuat kalian termangu
di tubir keperihan yang sangat

(Bagian 2)

Di mana Tuhan?
Mengapa membiarkan
orang-orang serakah ini hidup?

(Bagian 3)
Kalau Aku tak tinggal diam
Barangkali, sudah terjungkal balik dunia
Tapi, manusia punya hasrat memilih
Sedang aku sudah menyediakan jalan
Sederhana, tapi terasa sangat sulit
Kalau tak begitu,
Mudah saja jadi yang percaya
Lalu, surgaku tak lagi punya harga
Mahal sekali, sejatinya ia sungguh
Makanya tak bisa kuobral percuma
Karena itu, lekaslah sadar
Sebelum kesabaranku pudar

7312
Kantorku

Wednesday, April 17, 2013

Won't Give Up

I won't give up,..

Even life seems unfair,
to see you go, my lovely dear

Even if i have to cry,
even if i shout your name to the sky

in the hardest time
to remember the moments we name

I won't give up.. and wont give my love up
Even since I see you lay
and my turn to wait in the coming day
 
(a time to remember, Jan 15th 2013)

Tuesday, April 16, 2013

Ledakkan Bom Cinta Saja

Kau tumpahkan lagi amarahmu
Dalam ledakan nyata di kaki-kaki para pelari
Runtuh mereka berkalang bumi
Sedang anak-anaknya menangis menantikan kabar

Entah bagaimana hatimu
Melihat tanganmu menciptakan kematian
Atau akalmu
Melihat hasratmu menciptakan penderitaan

Tertawakah kau kini? Atau beria-ria saat ribuan jiwa
Kehilangan tempat mereka berpijak
Keberanian mereka melayang
Keinginan mereka sudah lekang?

Kalau kemarahan yang kau umbar
Jelas, kau berhasil
Tapi sampai kapan, kemarahan tunai?
Karena di balik amarah yang tumpah
Ada dendam baru yang tercipta
Lalu sampai kapan kesengsaraan ini dipelihara?

Maukah kau belajar membom dengan cinta demi cinta?
Karena gelegarnya mengguncang dendam
Geloranya melembutkan hati
Karena meledakkan cinta,
Sesungguhnya akan membuatmu mengerti

7312
Untuk bom yang meledak di Boston, AS

  


 

 


Monday, April 15, 2013

Bahagiakah Kau Di Sana Adikku?

Musik ini mengantarkan kenanganku tumpah
Untunglah, tanpa air mata
Atau kesedihan yang menyesakkan

Tapi, yang kuingat
Bagaimana dirimu hidup dalam hasrat
Serta cerita-ceritamu
Baik yang kupinta,
Atau yang kau uraikan sendiri
Penawar rasa rindu kita

Kini, tak mungkin lagi cerita-cerita itu ada
Selain bisu tempatmu berbaring di sana
Juga pepohonan tua,
Yang tumbuh sedari saat kita masih kanak-kanak

Bagaimana aku harus memupus
kerinduan yang sangat ini?
Tapi tidak!
Bukankah aku sudah berjanji
Merawat kenanganku akanmu
Dengan kerinduan yang sama.

(Bahagiakah kau di sana, adikku?)

7312
Kantorku


Tuesday, January 29, 2013

Lupa Bersyukur, Maaf

Kehidupan dan kematian
Membuatku seperti berjarak denganmu
Sehingga aku lalai
Memandang setiap kejadian yang datang
dan mengingat, setiap kenangan yang berlalu
Sembari mengucapkan syukur

Maafkan aku
Yang membiarkan langkah-langkah menjauh
dari setapak jalan berliku
yang sudah lama kau bangunkan untukku
Untuk kita lalui bersama,

Kadang, kita beriringan
Kadang, kau menggendongku
Di saat bebatuan dan onak
Membuat telapak kakiku terluka
Begitulah ketika hidup
terasa menyakitkan

Tapi di mana aku kini?
Melaju seperti perahu tanpa layar
juga tiada dayung dan tenaga
Tanpa arah kecuali kematian yang pasti

Maafkanlah
Aku yang lupa bersyukur
mengungkapkan terima kasih sangat
Untuk semua hal yang sampai saat ini ku ada
Demi cinta tanpa syaratmu
Juga penyertaan
dan semua kebutuhan yang Kau sediakan
Terima kasih

7312
Kantorku
29 Januari 2013



Monday, January 14, 2013

Dik, Jangan Pergi

Aku mendengar rintihmu, ceracaumu yang tak jelas, adikku sayang.
Tabahlah, semangatlah.
Tak inginkah kau lihat kehidupan yang tumbuh di sekitarmu?
Tak inginkah kau meniti setiap jejak hidup kita, mengingat sedari kita kecil, lalu mengarungi setiap waktu sampai kita menjadi tua?
Maukah kau bersabar dan tak pergi?