Friday, January 24, 2014

Pasir Mandoge dan Kisahku

Mudah-mudahan kau sudah puas membaca kisahku di Hinalang
Meski aku betul-betul merasa masih banyak yang bisa kuceritakan
tentang desa itu, tentang kenanganku di sana. Tapi aku punya kisah lain untukmu.

Ini tentang sebuah perkebunan sawit, tempatku tumbuh sampai menjelang SD
(waktu sekolah, aku sudah 'merantau' ke Pematang Siantar, meski pada saat liburan pasti pulang)
dan tempat adik-adikku tumbuh besar sejak masa kecil mereka.
Di sana kedua orang tuaku menata masa muda kami.

Pasir Mandoge itu sebuah perkebunan sawit yang luas. Papaku mengawali sejarah kami di Afdeling VI, sebuah area terkecil di perkebunan yang masih mewarisi sistem pemerintahan ala Belanda itu.

Ini kawasan yang letaknya berkilo-kilo meter dari pusat atau ibukota perkebunan, yang disebut emplasmen  (ah lupa aku cara menulis kata itu tepatnya). Rumah dinas papa adalah sebuah rumah semi permanen tanpa listrik. Listrik ada beberapa tahun kemudian, melalui genset yang diletakkan jauh dari pondokan, dan menyala hanya pukul 18.00-06.00 WIB. Selebihnya, kami masih mengandalkan petromak atau lampu teplok. 

Kau tahu, ingatan tertua di otakku adalah ingatanku tentang Afdeling VI, ketika suatu hari luka di jari tengah tangan kiriku berdarah lagi. Luka itu terjadi di Hinalang, ketika tanganku terpotong kaleng biskuit saat rebutan dengan anak kecil lainnya. Begitulah kisahnya, kata mamaku.

Afdeling VI begitu jauh, sehingga butuh waktu berjam-jam ke sana dari emplasmen. Biasanya, untuk mencapai pondok itu, kalau tak jalan kaki, kami akan menumpang truk pengangkut buah sawit yang memang beroperasi di sekitar areal perkebunan Afdeling VI.

Pernah suatu ketika aku demam, aku dan mama berjalan kaki ke emplasmen meski tubuhku lemas. Sesampainya di rumah sakit, aku menolak disuntik dan lari ke lapangan. Entah kekuatan dari mana kudapatkan untuk berlari terbirit dari ruang periksa dan kabur ke lapangan sepakbola dekat rumah sakit.

Mama, dokter, dan para perawat mengejar-ngejarku dan aku bisa berkelit. Tapi demi kulihat mama yang kelelahan aku menyerah. Aku minta dia berjanji: "Nyuntiknya jangan di pantat ya, di paha saja." Mama setuju.

Lalu beberapa jam kemudian kisah ini berlanjut di perjalanan kaki pulang ke afdeling dengan aku yang berjalan tertatih-tatih dibimbing mama. Suntikan di paha ternyata lebih sakit dan bikin susah jalan. Itulah risiko yang aku tak tahu. Kelak aku tak takut lagi disuntik di pantat karena itu.

Kalau kami hendak berkunjung ke Pematang Siantar, kota yang kami--orang udik di perkebunan, sebut kota besar,  maka sejak jam 03.00 atau 04.00 kami sudah dibangunkan dan bersiap-siap karena akan ada bis angkutan umum yang datang ke afdeling itu untuk menjemput siapa saja yang hendak bepergian.

Bis di Pasir Mandoge hanya ada beberapa unit dan mereka menyebar ke afdeling-afdeling. Tripnya hanya ada satu kali, pada pagi hari. Lalu pulang dari Siantar pada siang harinya. Kalau terlambat, lupakan acara bepergian. Kecuali punya kendaraan pribadi sendiri. Sedang kami sekeluarga hanya punya sebuah sepeda yang dipakai papa untuk bekerja. Itu sebelum akhirnya papa punya sepeda motor, puluhan tahun kemudian.

Kalau bis tak bisa menjemput, (biasanya kabarnya sampai ke telinga orang tuaku, entah bagaimana caranya) maka warga afdelinglah yang menyusulnya ke emplasmen dengan berjalan kaki. Kami pun pernah. Aku ingat, waktu itu kami berjalan beriringan menyusuri pepohonan sawit yang mulai tinggi dibekap udara dingin pagi.

Untuk memintas jalan, papa mengajak kami menyeberang sungai yang dalam dengan menyeberang sebatang pohon besar yang rebah melintang. Papa menggendongku di pundaknya. Malam itu, aku ingat, aku memandang ke langit dan ku lihat burung gagak terbang berputar-putar di langit dengan suaranya yang mistis (pengertian mistis ini aku mengerti setelah dewasa, mendengarnya dari orang). Bagi orang lain, mungkin itu diartikan sebuah pertanda. Bagi pemikiran kanak-kanakku, waktu itu, suara si burung gagak hanya sebuah pemandangan menarik di langit yang menjemput fajar.

Di afdeling ini aku punya banyak teman. Kebanyakan adalah orang Jawa transmigran. Mereka mengajariku bahasa Jawa yang kasar. Sore hari mereka mengajakku salat di masjid mengaji di Uwa Imam. Pada malam takbiran, biasanya kami akan berkeliling afdeling sambil membawa obor. Keesokan harinya, pada hari salat Idul Fitri, kami akan berkumpul di masjid menikmati makanan lebaran yang enak-enak.

Aku belajar pertama kali di sebuah madrasah kecil di afdeling ini, yang lebih banyak mengajariku melafalkan ayat-ayat Al Quran ketimbang huruf Latin. Tapi papa dan mamaku tak ambil pusing anak-anaknya ikut kegiatan agama Islam.

Aku meninggalkan semua kebiasaan itu ketika pindah dan mulai masuk Sekolah Dasar Kristen beraliran Methodist di Siantar. Sementara adikku, Dasdo Asian namanya, tertinggal di afdeling dan masih terlibat dalam rutinitas itu. Kelak ketika Ian, begitu dia akrab disebut, menikah, dia memutuskan ikut agama istrinya. Kami kecewa, tapi menghormati keputusannya sebagai orang dewasa.

Ketika aku sudah duduk di SD, sekitar kelas III atau IV, papa dimutasi ke emplasmen. Aku sedih. Bukan saja karena harus meninggalkan teman-teman di sana. Tapi juga karena harus meninggalkan tanaman semangka yang kutanam sendiri di belakang rumah dan sudah mulai berbuah. Apa boleh buat.

Rumah dinas papa di emplasmen pun sudah terbuat dari tembok dan lebih luas. Papa pun bertugas di kantor pusat dengan bidang pekerjaan yang lebih baik dan area kerjanya lebih luas. Di sana, papa bisa membeli sepeda motor.

Aku hanya pulang ke emplasmen ini ketika libur panjang sekolah. Temanku tak sebanyak adik-adikku yang bersekolah di sana sampai SMP. Kelak, ketika mereka SMA, mereka menyusulku 'merantau' ke Siantar.


Aku ingat, saban pulang, pasti aku akan mengajak teman-temanku bermain sampai jauh ke perkebunan. Menyusuri sungai-sungai kecil untuk mencari ikan. Atau memecah buah sawit muda dan melahap bagian intinya yang renyah dan gurih, meski kami tahu itu perbuatan terlarang.

Kami juga suka membendung sungai kecil, menguras airnya, lalu menangkap ikan lele atau mujair yang banyak di sana. Juga mengejar udang-udang air tawar yang besar.

Pun ketika bulan puasa, kami akan menghabiskan siang yang panas, dengan berendam di sungai dan memancing atau mencari ikan. Suatu ketika aku mendapat seekor katak hijau yang besar. Aku memboyongnya pulang, mengulitinya, dan menyantapnya dengan adik-adikku.

Kalau tak ada sayur di rumah, mama akan mengajakku ke arah pepohonan sawit, mencari jamur kayu dan pakis muda untuk dijadikan sayur dan urap. Enak sekali urap buatan mama. Tanaman yang tinggal dipetik di kebun sawit bisa diolahnya menjadi sayuran yang maknyos rasanya.

Mamaku juga tahu aku suka sekali terong hijau yang bulat. Maka saban aku pulang, biasanya dia akan membelikanku terong itu, merebusnya, lalu membuatkan sambal cocol yang nikmat dan pedas. Maka aku takkan berhenti sebelum terong, sambal, dan nasi itu tandas.

Papa dan mama juga suka memelihara ayam dan bebek. Kalau ada acara, biasanya kami akan memotong ayam itu dan mama akan mengolahnya dengan menu tradisional batak. Ketika aku SMA, tugas menyembelih ayam itu diserahkan padaku.

Pasir Mandoge kami tinggalkan ketika papa pensiun. Tapi adikku Ian dan Roni Ridonal, yang nomor tiga, masih menetap di sana.

Ian benar-benar menetap di bumi Mandoge karena wafat pada 15 Januari 2012 lalu. Ku bilang, biarlah dia dimakamkan di Mandoge, agar tetap ada alasan untuk kami kembali ke daerah itu.

Sedangkan Roni meniti karirnya, menjadi seperti papa, karyawan perkebunan di sana. Meski, sampai kini statusnya masih buruh kontrak atau BL alias buruh lepas. Bertahun-tahun dia menantikan pengangkatan menjadi karyawan tetap. Sejak Pasir Mandoge menjadi bagian dari PTP Nusantara IV (dulu namanya adalah PTP VII) untuk menjadi karyawan tak gampang lagi, begitu kata mama, beberapa hari yang lalu. 

Begitulah Pasir Mandoge, tempat kami tumbuh dan dibesarkan.

Kantorku - 7312

 
 



 

Hinalang dalam Kisahku

Dulu sudah pernah kuceritakan tentang rumah tempatku tumbuh dan besar
Rumah yang wujudnya sudah susah kugambarkan padamu
Sebab ia sudah lenyap
Ia sudah membekas jadi kenangan sahaja.
Dihantam air bah yang marah
Setahun yang lalu.
Ia rumah di Siantar, yang sejuk (entah sekarang)

Sekarang tiba-tiba aku teringat cerita lain
Dari kenangan masa kecilku.
Sebuah kampung di pegunungan Simalungun.
Tempat kelahiran orang tuaku (sekarang menjadi tempat kelahiranku, gara-gara salah tulis di STTB waktu SD) -- Aku sebenarnya lahir di Medan.

Tapi bukan soal tempat kelahiran yang penting. Soal bagaimana kampung bernama Hinalang itu membentuk
cerita-cerita masa kecilku, yang ingin kuceritakan padamu.

Hinalang.. ada yang menyebutnya Kinalang.
Menujunya membutuhkan waktu berjam (dulu) dengan berjalan kaki dari simpang jalan raya..
Sekitar 2 kilometer jauhnya dari jalan raya kabupaten Simalungun.
Di kanan kiri jalan adalah perladangan dengan bau tanah dan rumput yang tak bisa kulupakan.
Di tengah perjalanan kau akan menemukan sebuah gereja.
Dulu gereja ini dibangun dengan kayu yang kokoh. Sekarang ia sudah lebih megah.
Dengan tembok-tembok kokoh yang dingin. Sayang, batu dan semen tak sehangat kayu dari masa lalu.
Tapi warga desa itu lebih suka tembok daripada kayu. Mungkin itu gara-gara modernisasi.
Kalau saja mereka menyadari bahwa kayu itu lebih eksotis
Sehingga tak merobohkan gereja kayu, juga rumah-rumah panggung kayu mereka dulu.
Barangkali Hinalang takkan seperti sekarang.

Tapi jujur, aku tak tahu Hinalang yang sekarang yang penduduknya sudah makin banyak berisi pendatang
 
Hinalang dari masa kecilku, begini kisahnya.
Ketika kakek dan nenek masih hidup. Aku memanggil mereka Ompung dan Inang. 
Dari rumah kayu berpanggungnya di sudut barat, di bawah pohon beringin yang besar.
Saban pagi, bau kayu terbakar di perapian dapur akan membangunkanku
Yang melamun mimpi di atas tikar rotan tua.
Di sana Inang sudah duduk menunggui periuk dan kuali.
Wangi beras merah yang mendidih sangat menggoda.
Biasanya, aku kecil akan langsung duduk di pangkuannya, dengan manja.
"Inang masak apa?" kataku, merapatkan kepalaku di dadanya yang hangat.
Pelan tapi pasti, tubuh pun ikut menghangat karena api perapian.
"Ini lagi menggoreng ikan teri," katanya.
Kau tahu, ikan teri goreng yang disambal dengan cabe hijau buatan Inang, adalah sajian khas
yang tak pernah juga kulupakan rasanya.

Lalu dia akan menciduk air tajin dari beras merah yang mendidih di periuk. Mencampurkan gula, mengaduk, lalu mengangsurkannya padaku. Sarapan pagi itu, secangkir tajin enak, diolah dari beras merah hasil sawah Ompung dan Inang. 

Selanjutnya, dia akan menyuruhku menjemput Ompung di warung kopi. Entah itu tradisi atau bukan. Biasanya, Ompung dan kaum laki-laki dewasa di desa itu selalu berkumpul di warung kopi. Sekadar menikmati obrolan pagi, sebelum beranjak ke sawah atau ladang.

Kulihat di sebuah meja di warung yang sederhana, Ompung sedang berbincang dengan beberapa orang.
O iya, Ompung ku yang sudah tua, sangat dihormati di sana, sebab Ompungku adalah Kepala Kampung.
Biasanya, dan selalu begitu, Ompung akan memintaku menyalami teman-teman mengobrolnya dan memperkenalkanku kepada mereka. "Sudah besar ya anak si Nukman ini," begitu kata mereka, menyebut nama papaku, anak sulung Ompungku.

Biasanya pula, mereka masih punya hubungan saudara denganku, entah dari Ompung, atau dari mamaku.
Ketika nanti ketemu dengan mereka lagi, aku akan bersusah payah mengingat siapa mereka dalam silsilah keluargaku. Aku mengaku kalah, kalau sudah bicara soal mengingat silsilah dan keluarga ini. "Ini Tulang atau Ompung atau Mangkela ya?" kataku selalu, di dalam hati, sambil malu-malu.

Setelah Ompung tiba di rumah, yang terletak di pojok desa, di bawah sebuah pohon beringin besar, kami akan bersiap berangkat ke ladang. Arahnya, bisa ke timur atau ke barat, tergantung mana sawah atau ladang yang akan digarap hari itu. Aku biasanya tak bisa menebak.

Suatu ketika mereka mengajakku ke ladang yang jauh, ke arah timur, menyongsong matahari. Bapanggiku, Syamsul Sinaga namanya (Sekarang dia sudah tinggal di Depok), akan langsung menjemput kerbau dan memasang kuk-nya di gareta. Semacam dokar di Pulau Jawa.

Di gareta itu perjalanan lambat tapi pasti dimulai. Kadang kudengar bapanggi ku itu berteriak, sesekali ia melecut si kerbau dengan bambu tipis. Tapi hanya sedikit kecepatan bertambah. Selebihnya lambat. Tapi asyik. Sering aku tertidur lagi di dalam bak gareta. Udara sejuk dan angin sepoi sungguh menggoda mata untuk kembali memejam.

Suatu ketika, bapanggi Syamsul (Kau tahu, ini bapanggi yang paling dekat denganku. Papaku punya tiga adik laki-laki --orang Simalungun menyebutnya bapanggi, satu namanya Amir dan satu lagi Anus. Keduanya kini sudah almarhum.) mengajakku menggembalakan kerbau di ladang Ompung yang berada dekat gereja yang kuceritakan tadi.


Setelah tali kerbau ditancapkan ke tanah, bapanggi membantu ompung di ladang. Sementara aku kecil dibiarkan bermain-main dengan si kerbau. Kau tahu, biasanya aku tak takut dengan si kerbau dan suka menungganginya, meski tak berani sendiri. Biasanya dengan si bapanggi.

Saat itu, aku iseng menggoyang-goyangkan tanduk si kerbau saat dia sedang makan rumput. Eh, si kerbau rupanya tak suka. Dia pun langsung menandukku, tepat di perut. Aku terlempar. Setelah itu aku gemetar ketakutan sambil menahan sakit di perut, yang untungnya tak terluka. Tak kuceritakan kejadian itu pada siapapun, sampai saat ini. Baru kau yang tahu. Sejak itu, aku tak suka kerbau itu.

Aku juga teringat, bapanggi itu pernah mengajakku ke hutan dan memetik markisa masam dan yang manis. Pernah juga dia mengajakku menjerat burung pipit.

Aku juga punya Tulang kandung. Tulang itu adalah adik mama yang laki-laki. Dengannya pun aku suka diajak pergi ke ladang, ke sawah, atau ke hutan untuk memetik buah dan berburu babi. Pernah dia membuatkanku sarang burung dari batang sanggar, semacam tumbuhan ilalang.

Pernah juga dia datang ke Pematang Siantar, tempatku bersekolah, dan mengantarkan burung Ambaroba atau Cucak Rawa yang ditangkapnya sendiri, untuk kupelihara. Juga suatu ketika dia mengantarkan burung kenari, yang juga dijeratnya sendiri. Tulang itu tahu aku senang memelihara binatang, meski kurang telaten. Kecuali anjing, aku kurang rajin merawat binatang yang lain.

Tulang Maruli, begitu aku memanggilnya. Kelak setelah dia menikah dan punya anak, aku memanggilnya Tulang Bona, seperti nama anak pertamanya. Sekitar setahun yang lalu Tulang ku itu pun wafat dalam usia yang relatif muda, menurutku.

O iya, kau perlu tahu Ompung dari mamaku. Aku tak terlalu mengenalnya karena dia wafat tepat sebelum aku masuk SD. Tapi aku mengenalnya sebagai orang pintar, yang didatangi orang-orang untuk berobat. Ketika dia sudah tiada, Tulang Maruli beberapa kali memperlihatkan totem atau patung kayu yang disimpan ompung di dalam peti besi. Aku tak tahu di mana peti dan isinya itu sekarang. Sejak belajar dan lulus sebagai sarjana Arkeologi, aku tertarik untuk memintanya dan menyimpannya sebagai barang antik. Tapi tak pernah kuutarakan niat itu, bahkan sampai Tulang itu wafat.

Di Hinalang pun dulu selalu ada pesta panen. Biasanya kami sekeluarga Ompung dari papa akan berangkat pagi-pagi ke sawah di lembah yang tak terlalu jauh dari kampung. Di sana para dewasa akan memanen padi, sementara anak-anak akan bermain-main di sawah atau bondar, sungai kecil di tepi persawahan. Setelah panen selesai, kami akan menangkap ikan mas yang dipelihara di sawah. Ikan yang tertangkap akan dibakar dan dinikmati dengan bumbu bur-bur yang agak pedas, saat makan siang. Nikmat sekali.

Kalau Natal, orang Hinalang akan berkumpul di gereja yang kuceritakan tadi. Kami akan menikmati syahdu suasana natal dengan pohon pinus yang ditebang dari hutan dan dihiasi lilin-lilin, serta berpenerangan lampu petromaks. Maklum saat itu listrik belum masuk ke desa Hinalang.

Ketika Paskah, pada hari Minggu jam 03.00 kami akan berduyun-duyun ke pekuburan dengan membawa obor, senter, dan petromaks. Di sana pendeta sudah menunggu dan kebaktian paskah akan dimulai, di tengah suasana gelap dan udara yang sangat dingin. Tapi aku tak pernah takut pada pekuburan.

Masih ada banyak cerita dari desa Hinalang yang kukenang. Tapi sulit rasanya mengungkapkan satu per satu. Desa itu memang bukan tempatku lahir dan tumbuh besar. Tapi di sana, jejak-jejak masa laluku terawat benar. Paling tidak dalam ingatan yang sabar.

Kantorku - 7312
  







Wednesday, January 22, 2014

Sinabung

Kai kabarna kerina, saudaraku di sekitar Sinabung. Tetaplah mejuah-juah, meski sedang terundung duka. Bersyukur dan lekas bangkit, meski terasa pahit.

Biar sang tuan belum menunjukkan batang hidung. Hati kalian jangan lekas tersinggung. Bukankah kita dicipta untuk berdiri di atas kaki sendiri? Tak perlu benci atau merasa sepi.

Pemerintahan kita adalah atas diri sendiri. Kekuasaan kita adalah atas keluarga sendiri. Lebih baik membuat anak-anak kita belajar menatap ke langit tanpa nanar dan melihat ke bumi dengan semangat terpendar.

7312

Wednesday, January 15, 2014

Pongah Sebelum Meratap

aku tak takut,
Meski nubuatan tentangmu
menyebut engkau sebanyak pasir di tepi laut

Pun jika kami
mengerucut, sampai sejumput

Karena memang
kini masanya
menyunting Emas
dari bebatuan

Sebelum masa menjemput impian
di dunia baru yang dijanjikan

Pongahlah
karena kelak
kalian akan tergugu
Bersoraklah
sebelum kelak
kalian meratap
Tanpa masa

Di sini, aku menanti
Meski ku sadar
tak layak perilaku diri
Dosa dan dosa
sepekat tabir sepi
dan rasa takut
sangat tak terperi

Maafkan..

7312
  

 

Friday, January 03, 2014

Perjalanan Menelusur Kenangan

25 Desember 2013

Perjalanan menelusuri lorong kenangan

Dari sinilah waktu dipuntir
Depok - Tegal - Jogja

Seputar demi seputar, menilas waktu
Perjalanan panjang tiada terasa
Ketika tawa dan canda kalian
Mengisi ruang-ruang waktu kita
Sejauh perjalanan
Depok - Tegal - Jogja

26 Desember 2013

Jogja - Menjejak jejak lama

Inilah kota kenangan
tua dan sarat dengan cerita
Kutilas lagi dengan cara berbeda
Sementara kalian menunggu
dengan keceriaan yang tak berkurang
Ah, Jogja
Kucari jejak-jejak lama di sana
Ada yang samar
ada yang terlalu jelas
Tapi kulihat
Jogja ku tak lagi sederhana

27 Desember 2013
Jogja - Tawang Mangu - Madiun

Ah, mendaki bersamamu ke puncak
Seperti merenda waktu-waktu lama
Tawang Mangu
Tempat kita memadu cinta
Dulu dan dulu lagi
Kulihat masih sama
Seperti hari ini kita menyusurinya
mendaki sampai ke titik
yang belum pernah tergapai

Cemoro Sewu

Pintu hati yang terbuka
di gerbang-gerbang pinus dan cemara
Wewangian kaki gunung Lawu
tempat ku menitip rindu
Sepermula perjalanan ke padang edelweiss..

Ngadisari - Bromo

Permaklumkanlah
Bila malam ini aku tak bisa memicing mata
Hawa dingin yang menggigit
Terlalu mudah untuk mengurai masa lalu
Di sini, dulu, waktu kurengkuh
Bumi dengan perjalanan sewaktu
dan kudaki lerengmu
dengan nafas yang tak lagi sama
Mana kanak-kanak dulu?
Sudahkah mereka meraih mimpinya?

28 Desember 2013
Bromo - Bukit Cinta - Padang Savana - Pasir Berbisik

Aih, fajar yang malu-malu
mengapa tak sudi menampakkan muka
pada kanak-kanak yang penasaran ini?
Tak bolehkah mereka mempunyai kisahnya sendiri
di lereng yang pertama mereka jangkau
dengan nafas terengah?
Sayang sekali
Mereka harus pulang dengan sejuta tanda tanya
Seperti apa matahari itu terbit, sayang?

28 Desember 2013
Bromo - Malang - Batu

Sepeminum teh di warung baso President
Sebuah sepersinggahan waktu
inikah tempat yang digunjing orang?
Kami, penikmatnya
Tergugu saja

Lalu berakhir di sebuah perhentian malam
Penginapan tua, dengan hawa menggigit


29 Desember 2013

Batu - Kediri - Tulungagung - Wonogiri - Jogja

Beginilah perjalanan menembus lereng berbukit
Sungai mengular, menopang tebing-tebing belantara
Menakjubkan hati
Seperti terlempar ke lorong waktu
menembus ruang bumi yang entah di mana
Sebelum tiba kembali di kota tua Jogja
Menyusuri waktu-waktu lambat
di Malioboro

30 Desember 2013

Parangtritis

Inilah deburmu, samuderaku
menyapu kaki anak-anakku
mereka terkikik dan terharu
Pesona yang tersimpan di pengalamannya
kenangannya
Impiannya


30-31 Desember 2013
Parangtritis - Purworejo - Bandung Selatan - Ranca Upas

Ah, di sinilah kita anak-anakku
Menghabiskan waktu menanti pergantian tahun
Bermandi udara dingin dan tempias gerimis sore
Di dalam tenda yang merapatkan tubuh kita
Seperti dulu

Dan kita nikmati pula jilatan-jilatan api unggun
yang menghangatkan tubuh dan hati
ku gumam lagu lama:

"Di tengah-tengah hutan, di bawah langit biru
Tenda terpancang ditiup sang bayu
Api menjilat-jilat menerang rimba raya
membawa kenangan dalam impian
Dengarlah dengar, sayup-sayup
suaramu merdu memecah malam
Jauhlah dari kampung
menurut kata hati, guna bakti pada ibu pertiwi".

1 Januari 2014
Kita pulang,
kembali ke rumah cinta
Tempat kita merajut kembali waktu-waktu
membangun semua mimpi-mimpi
dan kalian bertumbuh
kami pun menua


7312
dari perjalanan Jawa Barat-Jawa Tengah-Jawa Timur