Friday, January 24, 2014

Pasir Mandoge dan Kisahku

Mudah-mudahan kau sudah puas membaca kisahku di Hinalang
Meski aku betul-betul merasa masih banyak yang bisa kuceritakan
tentang desa itu, tentang kenanganku di sana. Tapi aku punya kisah lain untukmu.

Ini tentang sebuah perkebunan sawit, tempatku tumbuh sampai menjelang SD
(waktu sekolah, aku sudah 'merantau' ke Pematang Siantar, meski pada saat liburan pasti pulang)
dan tempat adik-adikku tumbuh besar sejak masa kecil mereka.
Di sana kedua orang tuaku menata masa muda kami.

Pasir Mandoge itu sebuah perkebunan sawit yang luas. Papaku mengawali sejarah kami di Afdeling VI, sebuah area terkecil di perkebunan yang masih mewarisi sistem pemerintahan ala Belanda itu.

Ini kawasan yang letaknya berkilo-kilo meter dari pusat atau ibukota perkebunan, yang disebut emplasmen  (ah lupa aku cara menulis kata itu tepatnya). Rumah dinas papa adalah sebuah rumah semi permanen tanpa listrik. Listrik ada beberapa tahun kemudian, melalui genset yang diletakkan jauh dari pondokan, dan menyala hanya pukul 18.00-06.00 WIB. Selebihnya, kami masih mengandalkan petromak atau lampu teplok. 

Kau tahu, ingatan tertua di otakku adalah ingatanku tentang Afdeling VI, ketika suatu hari luka di jari tengah tangan kiriku berdarah lagi. Luka itu terjadi di Hinalang, ketika tanganku terpotong kaleng biskuit saat rebutan dengan anak kecil lainnya. Begitulah kisahnya, kata mamaku.

Afdeling VI begitu jauh, sehingga butuh waktu berjam-jam ke sana dari emplasmen. Biasanya, untuk mencapai pondok itu, kalau tak jalan kaki, kami akan menumpang truk pengangkut buah sawit yang memang beroperasi di sekitar areal perkebunan Afdeling VI.

Pernah suatu ketika aku demam, aku dan mama berjalan kaki ke emplasmen meski tubuhku lemas. Sesampainya di rumah sakit, aku menolak disuntik dan lari ke lapangan. Entah kekuatan dari mana kudapatkan untuk berlari terbirit dari ruang periksa dan kabur ke lapangan sepakbola dekat rumah sakit.

Mama, dokter, dan para perawat mengejar-ngejarku dan aku bisa berkelit. Tapi demi kulihat mama yang kelelahan aku menyerah. Aku minta dia berjanji: "Nyuntiknya jangan di pantat ya, di paha saja." Mama setuju.

Lalu beberapa jam kemudian kisah ini berlanjut di perjalanan kaki pulang ke afdeling dengan aku yang berjalan tertatih-tatih dibimbing mama. Suntikan di paha ternyata lebih sakit dan bikin susah jalan. Itulah risiko yang aku tak tahu. Kelak aku tak takut lagi disuntik di pantat karena itu.

Kalau kami hendak berkunjung ke Pematang Siantar, kota yang kami--orang udik di perkebunan, sebut kota besar,  maka sejak jam 03.00 atau 04.00 kami sudah dibangunkan dan bersiap-siap karena akan ada bis angkutan umum yang datang ke afdeling itu untuk menjemput siapa saja yang hendak bepergian.

Bis di Pasir Mandoge hanya ada beberapa unit dan mereka menyebar ke afdeling-afdeling. Tripnya hanya ada satu kali, pada pagi hari. Lalu pulang dari Siantar pada siang harinya. Kalau terlambat, lupakan acara bepergian. Kecuali punya kendaraan pribadi sendiri. Sedang kami sekeluarga hanya punya sebuah sepeda yang dipakai papa untuk bekerja. Itu sebelum akhirnya papa punya sepeda motor, puluhan tahun kemudian.

Kalau bis tak bisa menjemput, (biasanya kabarnya sampai ke telinga orang tuaku, entah bagaimana caranya) maka warga afdelinglah yang menyusulnya ke emplasmen dengan berjalan kaki. Kami pun pernah. Aku ingat, waktu itu kami berjalan beriringan menyusuri pepohonan sawit yang mulai tinggi dibekap udara dingin pagi.

Untuk memintas jalan, papa mengajak kami menyeberang sungai yang dalam dengan menyeberang sebatang pohon besar yang rebah melintang. Papa menggendongku di pundaknya. Malam itu, aku ingat, aku memandang ke langit dan ku lihat burung gagak terbang berputar-putar di langit dengan suaranya yang mistis (pengertian mistis ini aku mengerti setelah dewasa, mendengarnya dari orang). Bagi orang lain, mungkin itu diartikan sebuah pertanda. Bagi pemikiran kanak-kanakku, waktu itu, suara si burung gagak hanya sebuah pemandangan menarik di langit yang menjemput fajar.

Di afdeling ini aku punya banyak teman. Kebanyakan adalah orang Jawa transmigran. Mereka mengajariku bahasa Jawa yang kasar. Sore hari mereka mengajakku salat di masjid mengaji di Uwa Imam. Pada malam takbiran, biasanya kami akan berkeliling afdeling sambil membawa obor. Keesokan harinya, pada hari salat Idul Fitri, kami akan berkumpul di masjid menikmati makanan lebaran yang enak-enak.

Aku belajar pertama kali di sebuah madrasah kecil di afdeling ini, yang lebih banyak mengajariku melafalkan ayat-ayat Al Quran ketimbang huruf Latin. Tapi papa dan mamaku tak ambil pusing anak-anaknya ikut kegiatan agama Islam.

Aku meninggalkan semua kebiasaan itu ketika pindah dan mulai masuk Sekolah Dasar Kristen beraliran Methodist di Siantar. Sementara adikku, Dasdo Asian namanya, tertinggal di afdeling dan masih terlibat dalam rutinitas itu. Kelak ketika Ian, begitu dia akrab disebut, menikah, dia memutuskan ikut agama istrinya. Kami kecewa, tapi menghormati keputusannya sebagai orang dewasa.

Ketika aku sudah duduk di SD, sekitar kelas III atau IV, papa dimutasi ke emplasmen. Aku sedih. Bukan saja karena harus meninggalkan teman-teman di sana. Tapi juga karena harus meninggalkan tanaman semangka yang kutanam sendiri di belakang rumah dan sudah mulai berbuah. Apa boleh buat.

Rumah dinas papa di emplasmen pun sudah terbuat dari tembok dan lebih luas. Papa pun bertugas di kantor pusat dengan bidang pekerjaan yang lebih baik dan area kerjanya lebih luas. Di sana, papa bisa membeli sepeda motor.

Aku hanya pulang ke emplasmen ini ketika libur panjang sekolah. Temanku tak sebanyak adik-adikku yang bersekolah di sana sampai SMP. Kelak, ketika mereka SMA, mereka menyusulku 'merantau' ke Siantar.


Aku ingat, saban pulang, pasti aku akan mengajak teman-temanku bermain sampai jauh ke perkebunan. Menyusuri sungai-sungai kecil untuk mencari ikan. Atau memecah buah sawit muda dan melahap bagian intinya yang renyah dan gurih, meski kami tahu itu perbuatan terlarang.

Kami juga suka membendung sungai kecil, menguras airnya, lalu menangkap ikan lele atau mujair yang banyak di sana. Juga mengejar udang-udang air tawar yang besar.

Pun ketika bulan puasa, kami akan menghabiskan siang yang panas, dengan berendam di sungai dan memancing atau mencari ikan. Suatu ketika aku mendapat seekor katak hijau yang besar. Aku memboyongnya pulang, mengulitinya, dan menyantapnya dengan adik-adikku.

Kalau tak ada sayur di rumah, mama akan mengajakku ke arah pepohonan sawit, mencari jamur kayu dan pakis muda untuk dijadikan sayur dan urap. Enak sekali urap buatan mama. Tanaman yang tinggal dipetik di kebun sawit bisa diolahnya menjadi sayuran yang maknyos rasanya.

Mamaku juga tahu aku suka sekali terong hijau yang bulat. Maka saban aku pulang, biasanya dia akan membelikanku terong itu, merebusnya, lalu membuatkan sambal cocol yang nikmat dan pedas. Maka aku takkan berhenti sebelum terong, sambal, dan nasi itu tandas.

Papa dan mama juga suka memelihara ayam dan bebek. Kalau ada acara, biasanya kami akan memotong ayam itu dan mama akan mengolahnya dengan menu tradisional batak. Ketika aku SMA, tugas menyembelih ayam itu diserahkan padaku.

Pasir Mandoge kami tinggalkan ketika papa pensiun. Tapi adikku Ian dan Roni Ridonal, yang nomor tiga, masih menetap di sana.

Ian benar-benar menetap di bumi Mandoge karena wafat pada 15 Januari 2012 lalu. Ku bilang, biarlah dia dimakamkan di Mandoge, agar tetap ada alasan untuk kami kembali ke daerah itu.

Sedangkan Roni meniti karirnya, menjadi seperti papa, karyawan perkebunan di sana. Meski, sampai kini statusnya masih buruh kontrak atau BL alias buruh lepas. Bertahun-tahun dia menantikan pengangkatan menjadi karyawan tetap. Sejak Pasir Mandoge menjadi bagian dari PTP Nusantara IV (dulu namanya adalah PTP VII) untuk menjadi karyawan tak gampang lagi, begitu kata mama, beberapa hari yang lalu. 

Begitulah Pasir Mandoge, tempat kami tumbuh dan dibesarkan.

Kantorku - 7312

 
 



 

No comments: